DARLA

DARLA
Tuntutan Keadilan



Aksi kejar-kejaran ini mengundang perhatian beberapa orang yang lewat. Putra Kepala Desa Suraloka dikejar dengan sebilah parang oleh seorang gadis dengan wajah yang berkucur darah.


"Ya ampun ... itu kan Seno anak pak Kades. Dan ... gadis itu ...."


"Astaga itu kayak putrinya pak Darmo."


Suara orang-orang itu terdengar di tengah deru angin yang tertabrak dalam laju lariku.


Seno masuk ke alun-alun desa. Sebuah lapangan tempat warga biasa berkumpul atau mengadakan sebuah perhelatan. Hujan deras telah menyisakan tanah yang basah dan berlumpur.


Pria itu tampak mulai kelelahan. Langkahnya melemah. Saat menoleh dan menyadari diriku semakin dekat, tubuhnya gemetar. Jalannya mulai sempoyongan hingga akhirnya tubuhnya terjatuh di tanah becek itu.


Gerakan merangkak mundur dilakukannya seiring langkah kakiku yang semakin maju. Sorot mataku tajam mencengkramnya.


Aku bagaikan seorang dewi perang kini. Menggelora dalam ambisi untuk menumpas musuh dengan senjata di tangan. Serupa putri Dewa Agni yang terlahir dari api yang menyala-nyala dalam kemarahanku.


Riuh suara orang banyak mulai terdengar, menyeruak masuk ke hamparan alun-alun. Suara-suara itu bagai sebuah tiupan terompet pujian bagiku.


Hari ini mereka akan melihat, saat seorang wanita mengangkat senjata, berapa banyak musuh yang akan tumbang. Tapi musuh utamaku ... bukanlah Seno! Melainkan ketidakadilan yang akan kutuntut untuk diluruskan hari ini.


"Berhenti!" Suara itu terdengar lantang.


Seketika meredam riuh semua orang yang telah berkumpul di situ. Aku dapat merasakan bahwa sosok yang datang dari arah belakangku adalah orang yang sangat berpengaruh di desa ini. Terbukti dari bunyi tapakan kakinya yang dapat terdengar jelas dalam bergemingnya semua orang.


Tak lama kemudian dua orang datang menghampiri Seno yang masih terpaku berlumur lumpur di tanah.


"Seno ... kamu tidak apa-apa, Nak?" Kedua orang yang adalah Pak Kades dan istrinya itu membantu Seno berdiri.


Sang ibu memeluk erat tubuh putranya. Sungguh, hatiku sangat sakit melihat adegan itu. Mereka terlihat bahagia karena masih dapat memeluk putranya dalam keadaan bernyawa. Lalu bagaimana dengan bapak dan ibu Menik?


"Apa yang kamu lakukan gadis muda? Tak taukah kamu bila perbuatanmu yang telah mengancam nyawa seseorang itu melanggar hukum?" Suara lantang dari belakang kembali terdengar.


Perlahan, aku menoleh.


Sesaat kemudian aku tersenyum sinis, "Anda sudah di sini, Tuan Besar?"


"Keributan yang kamu lakukan pasti akan sampai di telingaku. Sudah seringkali kukatakan pada seluruh warga desa ini, jangan coba-coba membuat keonaran di Suraloka bila tak mau berurusan denganku," ucap Sang Tuan Besar dengan suara beratnya.


"Anda-luar-biasa-Tuan," desisku sembari menatapnya tajam.


"Jangan lancang pada ayahku!" Suara seseorang yang berada di samping tuan besar membuatku berpaling padanya.


"Lancang?" desisku padanya.


"Kamu memang gadis yang sangat badung. Tak jera juga setelah berulang kali kuberi hukuman atas kenakalanmu," ucap pria yang adalah putra tuan besar itu.


"Saya tidak pernah mau berurusan dengan Anda ataupun dengan ayah Anda. Tapi kali ini, saya harus melakukan ini agar seluruh warga Desa Suraloka bisa berkumpul di sini. Termasuk seluruh aparat desa, dan juga Anda ... Tuan Besar yang mulia ...." Aku bergumam lantang.


"Apa maumu?" tanya Tuan Besar.


"Menuntut keadilan!"


Sorot mataku beradu tajam dengannya. Tuan Besar menatapku tanpa berkedip.


"Keadilan apa? Tak pernah sekalipun ada warga yang mengeluh tentang ketidakadilan di desa ini," tuturnya lagi.


"Hari ini ... seluruh warga Desa Suraloka, termasuk Anda ... akan menjadi saksi. Saya akan membunuh pria itu!" pekikku sembari berbalik menunjuk ke arah Seno dengan parang.


"Kenapa? Apa salahnya?" hentak Tuan Besar.


Aku kembali berpaling pada Tuan Besar.


"Salahnya? Bukan ... ini bukan hanya salahnya ...," ucapku lirih, "tapi juga salah aparat desa ini, dia ... Sang Kepala Desa!" teriakku sembari menunjuk pada pak Sugeng. "Dan juga salah Anda, Tuan!" Aku menoleh tajam pada Tuan Besar.


"Jelaskanlah perlahan ...." desis Tuan Besar.


"Menik ... sahabatku adalah seorang gadis periang sebelum putra Kepala Desa itu menikahinya. Dia murid yang cerdas. Peraih lulusan terbaik di SMP yang acara kelulusannya Anda hadiri. Bukankah murid cerdas itu semestinya menjadi aset desa ini, Tuan?"


"Lanjutkan ...." guman Tuan Besar.


"Kepala Desa adalah aparat tertinggi di desa ini. Bukankah seharusnya tugasnya adalah melindungi warganya? Melindungi aset desanya dalam sumber daya manusia yang bernilai seperti Menik? Tapi tidak ... dia justru memanfaatkan ketidakberdayaan orang tua Menik untuk memenuhi keinginan biadab dari putranya. Mereka memaksa Menik menikah dengan putra mereka dengan ancaman hutang orang tuanya, warga desa yang semestinya dibantu karena sakit dan sudah tak bisa bekerja lagi .... Mereka memaksa anak di bawah umur untuk menikah!" Napasku memburu di kalimat terakhir.


"Karena itu kau ingin membunuhnya?" tanya Tuan Besar.


Aku menggeleng pelan. "Dakwaan saya belum selesai, Tuan ...."


"Kekerasan dalam rumah tangga."


"Apa?!" Mata Tuan Besar membesar.


"Penganiayaan secara fisik dan batin selalu diterima oleh Menik sejak awal pernikahannya. Dan mereka ... orang tua lelaki biadab itu mengetahuinya!" Aku kembali menunjuk ke arah Kepala Desa dan keluarganya. "Kepala Desa yang seharusnya melindungi warganya itu justru tak mampu melindungi menantunya sendiri," lanjutku.


Pak Sugeng beserta istri dan putranya tampak gemetar. Tak kusangka iblis-iblis yang sudah merenggut kehidupan Menik bisa selemah ini.


"Di mana Menik sekarang?" Suara Tuan Besar membuatku kembali menoleh padanya.


Mendengar pertanyaan itu, mataku sedikit berembun. Aku menghembuskan udara lewat mulut. Pertanda sedang berusaha menenangkan diri.


"Menik ... Menik yang malang telah pergi bersama bayi yang sedang dikandungnya." Aku berucap sembari beringsut turun dan bersimpuh di tanah.


"Tidak!" Seseorang memekik sembari berlari ke arahku.


Seseorang yang baru datang dan menerobos kerumunan. Seseorang yang kukenali. Dayu.


"Kamu bilang apa, La?" Menik dan bayinya pergi? Pergi kemana, La?" Suara Dayu memarau, isak tangisnya tak terbendung.


Dayu ikut bersimpuh bersamaku. Aku memeluknya. Dayu terus meringis dalam air mata yang mengalir membasahi wajahnya. Sementara aku ... tak setetes pun air mata kubiarkan jatuh.


Aku kembali berdiri dan memandang Tuan Besar. Masih dengan menggenggam parang di tanganku.


"Menik sedang mengandung saat Seno menghajarnya hingga babak belur yang menyebabkan ia kehilangan bayinya dan akhirnya kehilangan nyawanya sendiri."


"Innalilahi wa innailaihi raji'un ...." Terdengar suara riuh orang-orang yang ada di situ saling bergumam.


"Tuan ... kami tak tahu bila Menik sedang mengandung cucu kami. Bila kami mengetahuinya, tentu kami tak akan membiarkan hal ini terjadi padanya dan bayinya ...."


"Diam!" Tuan Besar menghardik Pak Sugeng yang hendak membela diri. "Di mana ...."


Tuan Besar menghentikan ucapannya saat sebuah bunyi yang semakin mendekat terdengar.


Suara sirine ambulans membelah sunyi dan terus berlalu melewati alun-alun desa. Tujuannya pastilah rumah orang tua Menik. Semua orang terpaku memandangi kendaraan pengangkut jenazah itu lewat hingga benar-benar tak tampak lagi.


"Jadi ... kamu melakukan ini untuk ...."


"Menuntut keadilan!" Aku memotong ucapan Tuan Besar.


"Sebutkan tuntutanmu ...." gumam Tuan Besar.


Aku menatap lekat mata Tuan Besar. Hal yang mustahil dilakukan oleh seluruh warga desa ini, apalagi seorang anak sepertiku.


"Pertama ... agar di Desa Suraloka tidak akan pernah lagi terjadi pernikahan di bawah umur dengan paksaan." Aku berhenti sejenak, mengitari pandanganku pada semua warga yang berdiri mengelilingi lapangan alun-alun ini.


"Kedua ... agar semua anak di bawah umur harus dilindungi bahkan sejak ia masih berada di dalam kandungan ibunya ...." lanjutku.


Pandanganku masih mengitari seluruh orang saat aku kembali berucap. " Ketiga ... agar para wanita di desa ini dilindungi dari segala jenis kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga."


"Keempat ...," Aku kembali menjatuhkan pandangan pada Tuan Besar, "saya menuntut Anda untuk menjatuhkan hukuman pada Kepala Desa dan keluarganya atas pelanggaran dan kejahatan mereka. Pak Sugeng tidak layak menjabat kepala desa, dan putranya harus dijebloskan ke penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," tuntasku.


Sejenak kemudian aku melangkah maju mendekat pada Tuan Besar. Berjalan dengan parang yang masih di tangan. Beberapa orang tampak berusaha mendekat untuk melindunginya, namun kulihat tangan Tuan Besar menampik dan memberi kode agar mereka mundur.


Sesampai di hadapannya kuulurkan kedua tangan dengan memposisikan parang yang kubawa berada di atas kedua telapaknya.


"Ambillah ini, Tuan. Kuserahkan barang bukti perbuatanku ini pada Anda. Setelah Anda mengabulkan tuntutan saya, Anda pun berhak menghukum saya. Silakan melaporkan perbuatan saya pada polisi. Saya tidak akan kemana-mana, Anda dapat menemukan saya di rumah orang tua saya. Nama saya Darla, putri Pak Darmo dan Ibu Laila."


Setelah mengucapkan itu aku menunduk, meletakkan parang itu di bawah kaki Tuan Besar. Sejurus kemudian aku telah berbalik darinya, melangkah pergi.


Di tengah langkah kaki, sayup-sayup kudengar Tuan Besar bergumam, "Prasinta ...."


"Mengapa Ayah menyebut nama ibu?" Suara seseorang yang kuyakini sebagai Tuan Muda menyahut.


"Ayah melihat jiwa perjuangan ibumu dalam sorot mata gadis itu," gumam Tuan Besar lirih.


"Darla ...."


Namaku disebut oleh pria itu. Tuan muda yang kubenci. Tapi aku tak peduli. Tak perlu menjadikannya alasan untuk kembali menoleh. Aku terus melanjutkan maju, meninggalkan tempat itu.


Terlebih ... dua orang yang datang dari arah depan seakan menjadi magnet yang membuat langkah kakiku semakin cepat menghampiri mereka. Bapak dan ibu.


***