DARLA

DARLA
Maaf ... Paman!



#DARLA


Mentari pagi menyembul dari balik bukit. Cerah menyinari alam. Riuh suara hewan ternak yang sudah keluar dari kandangnya. Pun suara langkah pejalan dan decitan kayuh sepeda penduduk desa yang berlalu lalang.


Kring ... kring ... kring ....


"Darla ... La ... Darla ...." Terdengar riuh suara pekikan dua orang memanggilku dari depan rumah disertai dentingan klakson sepeda ontel mereka.


"Ya!!!" seruku sembari bergegas keluar rumah.


Segera kunaiki sepeda ontelku dan mulai mengayuhnya bersama mereka. Menik dan Dayu, teman sekolahku.


Namaku Darla Prisha. Saat ini usiaku lima belas tahun. Menuju enam belas tahun tepatnya. Sebentar lagi akan menamatkan jenjang sekolah menengah pertama.


Setiap hari, sepeda ontel lah yang menjadi alat transportasi kami menuju sekolah. Beruntung jalanan di desa ini mulus sehingga kaki kami tak perlu terlalu pegal mengayuh.


Hamparan sawah dan kebun terbentang di setiap sisi jalan yang kami lewati. Dari situlah sumber mata pencaharian sebagian besar warga desa di ini. Termasuk keluargaku.


Walau hidup pas-pasan, tinggal di desa ini tetaplah berasa tinggal di surga. Terlebih berbagai sarana desa telah terpenuhi. Masyarakat pun hidup tenteram dan damai.


Inilah desaku, Desa Suraloka.


Semua itu tak lepas pula dari campur tangan seseorang yang berpengaruh di desa ini. Warga desa menyebutnya Tuan Besar. Ia memiliki perusahaan besar di desa ini. Perusahaan itulah yang menampung seluruh hasil pertanian dan perkebunan sehingga masyarakat tak perlu bersusah-susah menjual hasil panennya.


"Ayo, Nik, Yu, kejar saya! seruku pada Menik dan Dayu sembari mengayuh sepeda lebih kencang.


"Awas kamu, La! Pasti kukejar!" seru Dayu.


"Aduh, kalian jangan cepat-cepat dong! Jangan tinggalkan saya!" keluh Menik.


Aku dan Dayu terkekeh dan terus mengayuh sepeda, berbalapan. Tak mempedulikan Menik yang tertinggal di belakang.


"Akan kulambung kau La. Tunggu saja!" teriak Dayu.


"Ayo coba kalau bisa!" tantangku seraya mempercepat kayuhan kakiku.


Aku menoleh ke belakang, "Ha-ha-ha ... tak bisa kan?"


"La! Awas, La!" Dayu dan Menik memekik sembari menghentikan laju sepeda mereka.


Criiittt!!!


Bunyi decitan rem mobil.


Naas, aku terlambat menoleh ke depan. Ban sepedaku sudah membentur bagian depan mobil sedan itu.


Bruk! Aku tersungkur di tanah tertindih sepedaku sendiri.


Menik dan Dayu spontan turun dari sepeda mereka dan berlari menghampiriku. Menik segera mengangkat sepeda dari tubuhku, sementara Dayu membopong tanganku untuk bangkit.


"Aduh, Neng ... kalau naik sepeda itu hati-hati lah! Jangan kejar-kejaran begitu. Bapak tadi jadi bingung, untung cepat menginjak rem. Kalau tidak bisa benar-benar tertabrak kamu." Seorang bapak yang turun dari kursi kemudi menghampiri kami.


"Ma- maaf, Pak," sahutku.


"Iya, Pak, hanya lecet sedikit saja," ujarku.


"Bagaimana, Pak Diman?" Seorang pria turun dari kursi belakang mobil.


Langkahnya menapak ke arah kami.


"Oh, tidak apa-apa, Tuan. Neng ini sudah saya beritahu agar lain kali berhati-hati kalau naik sepeda," sahut bapak tadi.


"Kalian ini mau ke sekolah, kan?" tanya pria itu pada kami bertiga.


Kami bertiga mengangguk serempak.


"Kalau begitu fokuslah ke sekolah. Jangan malah bermain di jalanan. Selain bisa terlambat, itu juga bisa membahayakan diri kalian," tuturnya lagi.


"I- iya, maaf, Paman," gumamku.


"Apa? Paman?" Pria itu menaikkan alisnya.


Menik dan Dayu menyenggol lenganku.


Kembali kuperhatikan pria itu, tampaknya bukan seperti pria desa. Penampilannya sangat rapi, pakaian dan sepatunya bagus. Mungkin dia dari kota.


"Maaf, Om," ucapku lagi. Panggilan 'om' biasa digunakan oleh orang kota, pikirku.


"Hah? Om?!" Pria itu kembali berseru.


Kali ini Menik dan Dayu mencubit pinggangku.


"Aw!" pekikku.


"Jangan panggil seperti itu!" bisik Dayu.


"Dia kan lebih tua dari kita, Yu. Usianya sama seperti paman kita," balasku pelan pada Dayu.


"Tuan Muda, La." Kali ini Menik yang berbisik, tapi suaranya terlalu pelan hingga aku tak mendengar jelas. Apalagi dia berbicara dengan mengatupkan hampir seluruh bibirnya.


"Apa? Tidak jelas, Nik," bisikku pada Menik.


"Tuan Muda." Menik mengulangi.


Tapi tetap saja, suaranya yang terlalu pelan masih tak terdengar jelas olehku. Mungkin juga dia takut bila ucapannya terdengar oleh pria itu.


"Panggil dia Tuan Muda." Kali ini Dayu yang membisiki, tapi juga dengan suara yang terlampau pelan.


"Panggil apa, Yu?" tanyaku ulang.


"Darla, panggil dia Tuan Muda!" Menik dan Dayu memekik bersamaan.


***