
Kini mobil sudah melaju memasuki jalan desa dan berhenti di rumah Bu Bidan. Aku segera turun untuk memberi tahu padanya. Kami pun mengangkat tubuh Menik dan mendudukkannya di jok samping sopir dengan posisi bersandar pada tubuh Bu Bidan. Sedangkan aku, duduk di bak belakang mobil sembari memegangi botol infus Menik melalui jendela kecil yang ada di belakang atas jok. Sepertinya sang pemilik mobil memang sengaja membuat jendela mobil itu dapat digeser untuk membuka dan menutup.
Satu jam perjalanan harus ditempuh untuk menuju rumah sakit kabupaten. Beruntung setengah perjalanan hujan mereda. Angin yang menerpa tubuhku setidaknya lumayan mengeringkan pakaian yang tadi basah kuyup.
Sesampai di rumah sakit, tepatnya di depan ruang UGD, aku segera turun memanggil petugas rumah sakit. Tentu dengan terlebih dahulu menyerahkan botol infus pada Bu Bidan.
Beberapa paramedis segera menghampiri, mengeluarkan tubuh Menik dari mobil lalu menempatkannya di atas ranjang dorong.
"Dia sedang hamil. Dia mengalami pendarahan!" seru Bu Bidan pada mereka.
"Segera panggil dokter obgyn," ujar seorang wanita yang berpakaian dokter pada rekannya yang berpakaian perawat.
Perawat itu segera berlalu, sementara dokter itu melakukan pemeriksaan tekanan darah. Sepertinya dia adalah dokter jaga yang berstatus dokter umum.
"Tujuh puluh per lima puluh," ucapnya kemudian pada seorang perawat lainnya yang sedang mencatat.
"Berapa usia kandungannya?" tanya dokter itu pada bu bidan.
"Masih trimester pertama. Tepatnya belum saya pastikan karena pasien datang dalam keadaan tak sadar," sahut Bu Bidan.
"Tekanan darahnya sangat rendah, sepertinya dia sudah kehilangan banyak darah, perlu dilakukan transfusi darah," ucap sang dokter lagi.
Tak lama kemudian seorang wanita berbaju dokter lainnya datang. Mungkin beliaulah yang dimaksud dokter obgyn. Setelah dokter itu datang, tirai ditutup, hanya Bu Bidan yang diperbolehkan masuk, sedangkan aku diharuskan menunggu di luar.
Tak lama kemudian, tirai dibuka, para perawat mendorong ranjang Menik menuju ruangan lain.
"Mau dibawa kemana, Bu?" tanyaku oada Bu Bidan.
"Ke ICU," sahutnya sambil ikut mengiringi para perawat dan dokter itu.
Aku pun mengikut di belakang. Takkan kutinggalkan Menik sedikit pun.
Setelah memasuki ruang ICU, pintu kembali ditutup. Kali ini Bu Bidan pun sudah tak diperkenankan masuk. Kami menunggu di luar. Tapi aku tak mungkin bisa tenang bila hanya duduk. Di pintu itu ada bagian kaca yang bisa menampakkan bagian dalam ruangan. Aku memilih mengintip melalui kaca itu, melihat bagaimana dokter dan para perawat memasang berbagai peralatan di tubuh Menik.
"Bagaimana, Sus?" sergah Bu Bidan.
"Pasien membutuhkan transfusi darah. Hasil pemeriksaan, golongan darah pasien adalah O, sementara saat ini stok darah O kosong. Jadi harus ada yang mendonorkan darah sekarang," ucapnya.
"Golongan darah saya A, Sus," sahut Bu Bidan.
"Suster ... ambil darah saya saja. Ambillah sebanyak yang diperlukan asal Menik bisa diselamatkan," ujarku menyela.
"Berapa umurmu?" tanyanya.
"Enam belas tahun," jawabku.
"Tidak bisa. Umur minimal untuk menjadi pendonor adalah tujuh belas tahun," ujarnya.
"Walaupun umur saya enam belas tahun, saya kuat kok, Sus. Ayo ambil saja darah saya, kumohon ...."
"Mbak ... sudah saya bilang tidak bisa. Itu sudah ketentuan dunia kesehatan," sahutnya.
Sejurus kemudian ia kembali masuk ke dalam dan menutup pintu.
"Darah ... darah ... saya harus mencari darah." Aku berucap dengan tubuh yang bergetar.
Bu Bidan berusaha memeluk untuk menenangkanku.
"Mari kita berdoa agar segala yang terbaik diberikan kepada Menik. Apaun itu ...." Bu Bidan berucap lirih.
Suaranya yang menyengau menandakan bahwa dirinya pun sedang menahan perih yang terjawab dari isak tangisnya kini. Sedangkan aku, tak setetes pun air mata kubiarkan jatuh dari pelupuk mata.
Aku tak boleh menangis.
***