DARLA

DARLA
Getaran SMA



Semenjak hari itu pikiranku tak tenang. Melakukan apapun wajah Menik selalu terbayang. Sungguh, naluri ini tak mungkin salah mendeteksi. Sesuatu pasti terjadi pada sahabatku itu.


Langkah kupercepat setelah keluar dari toilet sekolah. Aku hendak menyusul Dayu yang sudah lebih dulu menuju perpustakaan. Dalam setiap tapakan, bayang-bayang luka lebam Menik masih saja mengintai hayalku.


Bruk!


Astaga, aku menabrak seseorang.


Perlahan kuangkat kepala, memandang lekat wajah orang yang baru kutubruk.


"Jalan sambil mikir apa sih, Neng?" ucap orang itu.


Glek ... aku menelan liur. Orang yang kutabrak adalah Endaru.


"Ma- maaf, Kak ... saya terburu-buru mau ke perpustakaan," ucapku perlahan.


"Biar buru-buru, pandangan harus tetap ke depan dong," sahutnya.


"I- iya ... saya permisi, Kak," ucapku sembari melangkah hendak pergi.


"Tunggu!" serunya.


Aku kembali berpaling padanya.


"Ya ...."


"Namamu Darla, kan?" tanyanya.


Aku mengangguk. Jantung ini berdegup tak karuan. Bagaimana dia bisa tahu namaku. Bukankah hanya murid populer yang memungkinkan untuk dikenalnya? Apalagi untuk ukuran murid baru sepertiku.


"Kamu dari SMP Suraloka yang terkenal badung itu?" ungkapnya lagi.


Ya ampun! Bagaimana aku bisa lupa bahwa sewaktu SMP nama 'Darla' menggema seantero sekolah. Tapi ... siapakah yang mempromosikan kepopuleran namaku itu pada sang ketua OSIS ini?


"I- iya, Kak. Tapi ... sekarang saya sudah tidak badung lagi kok. Sa- saya mau belajar sungguh-sungguh .... To- tolong jangan laporkan saya ke guru BK," ucapku lirih.


"Hah? Siapa yang mau melaporkan kamu ke guru BK? Saya hanya mendengar cerita dari saudara sepupu saya yang juga warga Desa Suraloka, satu sekolah sama kamu waktu SMP," ujarnya menerangkan.


"Ooo ... si- siapa saudara sepupu Kakak itu?" tanyaku masih tergagap karena malu.


"Namanya Dodik, kamu kenal kan?"


Glek ... glek ... glek!


Kali ini aku menelan liur seperti menelan segelas air minum. Bagaimana mungkin lelaki setampan ini bisa punya hubungan kekeluargaan dengan Dodik yang ... ah rasanya aku tak mampu mengingat bentuk teman sekelas yang jarang mandi itu.


"Dodik? Iya dia teman sekelas saya, Kak," jawabku pelan.


"Ya, tapi sayang sekali, Dodik memilih tidak lanjut SMA tahun ini karena mau membantu bapaknya mengurus ternak dulu," ujar Endaru lagi.


"Oh .... Em ... saya mau ke perpustakaan dulu ya, Kak. Teman saya sudah menunggu di sana," ucapku.


"Oh oke ...."


***


Sesampai di perpustakaan segera kuhampiri Dayu. Napasku masih sedikit tersengal saat menghempaskan pantat ke kursi di sampingnya.


"Kok lama sih, La? Terus ... kok ngos-ngosan begitu?" Dayu mengamatiku dengan ekspresi penuh selidik.


"Tadi ... saya menabrak kak Endaru, Yu," sahutku.


"Hah?! Yang benar, La? Terus dia tidak kenapa-kenapa kan?"


"Ya ampun, Yu ... kok yang kamu khawatirkan malah dia sih?" protesku.


"Kan yang nabrak kamu, La ...."


"Iya juga ya .... Tapi, tau tidak Yu, kak Endaru tau namaku." Ucapanku membuat Dayu ternganga.


"Kok bisa, La?


"Ternyata ... kak Endaru itu sepupuan sama Dodik, teman SMP kita."


Kali ini ucapanku membuat Dayu menjadi patung. Tangannya menunjuk, mulutnya terbuka, tapi semua organ tubuhnya itu diam.


Beberapa menit kemudian ....


"La ... kalau suatu hari nanti kak Endaru bilang suka sama kamu, jawaban kamu bagaimana?" tanya Dayu sembari membolak-balik buku di hadapannya.


"Kan saya sudah bilang tidak mau membayangkan yang tidak mungkin," sahutku, juga sembari membaca buku yang kupegang.


"Sama tuan muda kamu bilang tidak mungkin, sama kak Endaru juga tidak mungkin. Terus yang mungkin untuk jadi pasangan kamu itu siapa?" ujar Dayu dengan nada gemas.


"Tuan muda? Jangan sebut-sebut nama itu lagi, Yu. Saya sudah melupakan om-om jahat itu," ujarku.


"Kamu sangat membencinya?" Dayu menoleh padaku.


"Sangat! Pria tak punya hati nurani, menghukum gadis kecil sepertiku sesuka hatinya. Sudah, jangan sebut lagi tentang dia!"


"Tapi saya tetap berharap kamu berjodoh dengannya," goda Dayu.


"Sama seperti saya berharap kamu berjodoh dengan pak Yudha?" balasku.


"Ih ... apaan sih, La?" gerutunya.


"Ya, makanya ... kamu sih ....!" celotehku.


"Iya- iya ...."


Aku dan Dayu terkekeh. Mendapati gadis ini masih berada di sisiku untuk tertawa bersama cukup melegakan perasaan yang sedang gulana. Namun bagaimanapun, kehadiran Menik masih sangat kunantikan untuk kembali mengisi perjalanan hidup agar semakin berwarna.


Apakah keinginan itu akan terwujud atau hanya akan menjadi asa yang terhalang bentangan status? Menik sudah menjadi seorang istri. Statusnya tak sama lagi dengan kami.


Entahlah ....