
Seluruh rangkaian acara telah selesai. Acara penutupan adalah bersalam-salaman. Semua murid menyalami para guru. Tentu diiringi derai air mata.
Dalam kerumunan itu tiba-tiba kurasakan seseorang menarik lenganku. Aku menoleh untuk melihat siapakah sosok itu.
"Pak Yudha?" gumamku.
"Bisa ikut saya sebentar?" tanyanya.
"Kemana, Pak?"
"Ikutlah saja."
Aku pun beranjak mengikuti langkahnya. Ada rasa penasaran juga dengan ajakan pak Yudha ini. Setelah keluar dari aula, pak Yudha terus melangkah hingga ke area belakang aula, dekat toilet sekolah.
"Darla ...." ucapnya.
"Untuk apa Bapak mengajak saya ke sini?" tanyaku.
"Apakah setelah ini kamu akan lanjut ke SMA?"
Pertanyaan pak Yudha membuatku bengong sesaat karena bingung dengan maksudnya.
"Tentu saja, Pak," jawabku.
"Mengapa tidak menikah saja?"
Kali ini pertanyaannya membuat mataku terbelalak.
"Maksud Bapak apa?" tanyaku kemudian.
"Menikahlah denganku ...."
Ucapan pak Yudha terasa seperti petir di siang bolong ini. Pak Yudha, guru olahraga itu sedang melamarku. Artinya ... ucapan Dayu dan Menik bahwa pak Yudha menyukaiku itu benar.
"Bapak sedang bercanda atau sedang sakit?" tanyaku perlahan.
"Saya serius. Saya suka sama kamu. Saya ingin menjadikanmu istri. Lagipula ... kebanyakan gadis di desa ini menikah di usia muda, setamat SMP," ujarnya.
"Pak ... bukankah tadi Bapak mendengarkan ucapan saya sewaktu mewakili Menik? Saya akan lanjut SMA, Pak," balasku.
"Baiklah ... bila memang kamu mau lanjut SMA, saya akan menunggumu tiga tahun lagi. Tapi, selama masa itu kita bertunangan."
Aku kembali terdiam. Mengapa pak Yudha bisa menyukaiku hingga bersedia menunggu hingga aku tamat SMA? Bukankah aku ini siswi yang selalu membuat masalah.
"Mengapa saya?" tanyaku lirih.
"Kamu berbeda. Walaupun terlihat badung, tapi saya tahu kamu gadis yang luar biasa. Dan ... kamu juga menarik bagiku," tandasnya.
"Hah?! Mengapa bisa selama itu?" tanyanya kaget.
"Tiga tahun SMA dan minimal empat tahun kuliah. Setelah itu saya harus bekerja dan meniti karir dulu untuk membahagiakan ibu dan bapak. Dan ... saya yakin Bapak tidak akan bisa menunggu selama itu karena usia Bapak semakin menua. Jadi ... saran saya agar Bapak mencari wanita yang bersedia menikah dengan Bapak saja. Maaf ...."
Saat mengucapkan kata 'maaf' aku menunduk. Setelahnya, kubalikkan badan sembari terus menunduk. Kemudian berjalan meninggalkan pak Yudha yang masih terpaku di tempatnya.
Namun, alangkah terkejutnya diriku setelah beberapa langkah melalui belokan kurasakan tubuhku seperti menabrak seseorang.
"Aduh!" pekikku.
"Kalau berjalan, lihatlah ke depan!" seru orang yang kutabrak itu.
Aku pun mengangkat wajah. Astaga! Dia .... Pria yang kutabrak adalah tuan muda itu.
"M- ma, maaf, T- Tuan. Mengapa juga Anda bisa berada di sini?" gumamku.
"Jalan ini menuju ke toilet. Aku mau ke sana tapi terpaksa harus berhenti karena ada yang sedang berpacaran," ucapnya.
Ya Tuhan ... dia mengira aku dan pak Yudha sedang berpacaran di situ. Tapi terserah dia saja. Biar sajalah dia berjibaku dengan alam pikirannya. Dan tidak penting juga bagiku untuk memberi penjelasan padanya.
Tanpa menjawabnya lagi aku kembali berjalan dengan langkah yang lebih cepat. Namun, baru saja melewatinya sedikit, kudengar suaranya bergumam.
"Mengapa menolak cintanya?"
Hah?! Berarti ... tuan muda itu mendengarkan percakapanku dengan pak Yudha tadi.
"Itu bukan urusan Anda, Tuan," jawabku perlahan.
"Gadis yang jahat!" desisnya.
"Apa? Tak sadarkah bila diri Anda lebih jahat, Tuan?" tantangku.
Pantas saja aku naik pitam. Dia mengatakan diriku jahat karena menolak cinta pak Yudha. Sementara dia lupa perbuatannya padaku, berulang kali memberikan hukuman sadis.
"Apa?! Aku jahat?"
"Iya! Hukuman yang Anda berikan pada saya terlalu jahat! Dan dengarkanlah ini, Tuan, saya berharap setelah ini tidak akan bertemu dengan Anda lagi supaya saya bisa melupakan hukuman-hukuman yang pernah Anda berikan pada saya."
"Apa kamu yakin tidak akan pernah bertemu denganku lagi?" tanyanya.
"Sangat yakin, Tuan. Dan saya bersumpah untuk hal itu. Saya akan melupakan semua hal tentang Anda!"
Kali ini langkah kakiku tak tertahan lagi. Berlalu meninggalkan pria yang benar-benar tak ingin kutemui lagi itu.
***