
Bel panjang pertanda jam pelajaran berakhir telah berbunyi. Siswa-siswi mulai berhamburan keluar dari kelas masing-masing.
Saat sedang memasukkan alat tulis ke tas, buku milik Menik terjatuh ke lantai dalam posisi membuka. Aku segera membungkuk untuk mengambilnya. Namun saat sorot netra jatuh pada tulisan di lembar yang terbuka, aku memutuskan untuk tidak memasukkannya ke dalam tas dulu.
Kata per kata mulai kubaca dengan napas tertahan. Sebuah makna tersirat sedang mengarti di dalam otakku. Menik ... apakah dia sedang mengandung dan nyawanya sedang terancam?
"Tidak!" Aku memekik.
Dayu yang sedang merapikan bukunya terperanjat. "Kenapa, La?" tanyanya.
"Lihat ini, Yu. Kita belum membaca yang ini kan?" ucapku seraya menyerahkan buku itu pada Dayu.
Ia meraihnya. "Tuhan sudah meniupkan satu nyawa di dalam rahimku. Apakah Ia akan menjaganya untuk tetap hidup atau membiarkannya lenyap bersamaku. Jiwa dan ragaku sudah tak sanggup ...." Dayu melafalkan isi tulisan itu.
"Apa kamu memikirkan hal yang sama denganku, Yu?" tanyaku padanya.
Dayu mengangguk, "Iya, La ... Menik sedang hamil tapi ...."
"Tapi ia merasa nyawanya dan nyawa bayinya sedang terancam." Aku menyambung ucapan Menik.
"Artinya ...." Dayu berucap sambil memandangku.
Sedetik kemudian kami sudah menghambur keluar ruangan lalu berlari menuju gerbang sekolah. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggil namaku.
"Darla, tunggu!"
Aku dan Dayu menghentikan lari. Sesaat kemudian menoleh ke arah suara itu.
"Kak Endaru ...." desisku.
Endaru melangkah mendekat padaku. "Bisa kita bicara sebentar?" ucapnya setelahnya.
"A- apa itu, Kak?" tanyaku.
Endaru menarik tanganku untuk berjalan beberapa langkah, menjauh dari Dayu. Sejenak pemuda tampan itu menatapku tanpa kedip. Sorot matanya memancarkan aura yang yg tak biasa. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Kamu ... mau jadi pacarku?" Ungkapan tanya itu melesat dari bibirnya.
Aku tertegun sejenak. Mencoba meyakinkan diri apakah ini mimpi atau sungguhan.
"Darla ...." Endaru kembali bergumam.
Menyadarkanku dari lamunan.
"Sa- saya ... em ... Kakak serius?"
"Iya, saya suka sama kamu. Lalu ... apa jawabanmu?" tegas Endaru lagi.
Astaga! Bukankah kami tadi berniat segera pulang untuk menemui Menik?
"Kak ... bisakah saya menjawabnya besok? Saya ada urusan penting sekarang."
Tanpa menunggu persetujuannya aku segera berbalik, berlari pada Dayu dan menarik tangannya untuk ikut berlari bersamaku. Masih sempat kulihat wajah bingung Endaru atas sikapku itu.
Maaf Kak Endaru, kali ini Menik lebih penting!
***
Sesampai di jalan desa, aku dan Dayu terus berlari menuju rumah kepala desa. Kebetulan sekali, seorang wanita baya sedang berada di depan rumah. Beliau adalah pembantu di rumah itu. Wajahnya tampak gelisah melihat kesana-kemari.
"Mbok, Menik ada?" tanyaku padanya.
Wanita itu menoleh pada kami. "Kalian teman-teman Non Menik?" tanyanya.
"Iya, Mbok. Kami mau bertemu dengannya," sahutku.
Beliau merunduk, sinar matanya menyendu. Jari-jemarinya saling mengusap, menandakan ada kegugupan yang sedang disembunyikan.
"Mbok ...." Dayu memanggilnya.
"Eh ... anu, Neng. Itu ... Mbok juga bingung," sahutnya.
"Bingung kenapa, Mbok? tanya Dayu.
"Non Menik tidak ada di dalam rumah. Mbok tadi mau mengantarkan makanan di kamarnya tetapi Non Menik tidak ada, lalu mencarinya di seluruh ruangan pun tak ada. Ini Mbok mencarinya di luar. Sebentar lagi Den Seno akan pulang, bisa-bisa Mbok akan kena marah kalau tahu Non Menik menghilang." Wanita baya itu berucap lirih.
Aku dan Dayu saling berpandangan. Dari ucapan wanita itu, artinya Menik kabur dari rumah itu. Berarti selama ini dia dikurung alias menjadi tawanan suaminya sendiri.
Apa mungkin ... hukuman itu diberikan setelah kedatangan kami ke rumah ini untuk bertemu dengannya waktu itu? Karena semenjak hari itu, pagar rumah ini selalu digembok di siang hari saat kami lewat sepulang sekolah.
"Pak Sugeng dan Ibu apa tidak ada, Mbok?" tanyaku.
"Bapak dan Ibu sedang pergi ke kota, sore nanti baru kembali. Non Menik pergi saat tak ada siapa-siapa di rumah. Tadi Mbok lagi sibuk masak di dapur," ungkapnya.
"Baiklah, Mbok. Kami pergi dulu," ucapku.
"Neng ... tolong kalau ketemu Non Menik, bilanglah agar segera pulang," ujar Mbok lagi.
Aku dan Dayu hanya mengangguk lalu bergegas pergi.
***