DARLA

DARLA
Ulang Tahun



Setelah kejadian hari itu, aku benar-benar bertekad untuk tidak melakukan hal-hal yang berhubungan dengannya lagi. Setiap hukuman yang diberikan oleh tuan muda itu sangat menyiksa. Berdiri di tengah lapangan sampai pingsan dan duduk sebagai objek lukisan sampai keram, kurasa sudah cukup untuk mengetahui bahwa dia adalah seseorang yang kejam. Mencari perkara yang berhubungan dengannya hanya akan merugikan diriku sendiri.


Detik, menit, jam dan hari terus berlalu. Hari ini hanya tinggal sebulan dari ujian nasional. Hari ini juga adalah peringatan ulang tahunku yang ke-enam belas. Menik dan Dayu yang tiba-tiba datang ke rumahku di hari Minggu ini dengan membawa sebuah rantang makanan, akhirnya mengingatkan hari kelahiranku itu.


"Aduh ... kok kalian bisa ingat, sih? Saya sendiri malah lupa," ujarku sembari memeluk tubuh mereka satu per satu setelah muncul di dalam kamarku sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


"Namanya saja Darla si pelupa," ujar Dayu.


"Ayo, sekarang kita buka rantangnya," sahut Menik.


Kami pun duduk bersila di lantai kamarku, membentuk segitiga dengan rantang itu sebagai titik tengahnya. Dayu dan Menik menyuruhku membuka penutup rantang itu. Dan setelah terbuka tenyata isinya adalah tiga butir telur rebus dan beberapa potong singkong rebus.


"Telur itu dari ayam peliharaanku dan kurebus sendiri," ucap Dayu.


"Dan singkong itu kucabut dari belakang rumahku dan juga merebusnya sendiri," sahut Menik.


"Dan semua ini spesial untuk kamu, La," timpal Dayu lagi.


Sejenak terdiam, memandangi kedua sahabatku itu satu per satu. Hingga kedua pelupuk mataku terasa berembun.


"Terima kasih, Yu, Nik, kalian berdua memang sahabat sejatiku," ucapku seraya menggenggam masing-masing satu tangan mereka.


Kedua gadis itu mengangguk. Binar-binar ketulusan terpancar dari netra mereka.


"Sekarang, kita berdoa dulu, La. Mengucap syukur dan permohonan sebelum kita memakan ini," ujar Menik.


Kami bertiga kini sudah menengadahkan telapak tangan dan memejamkan mata, hingga beberapa menit kemudian sama-sama mengucapkan kata 'amin' dan mengusap wajah.


"La ... kamu mau tahu tidak, saya berdoa apa untukmu?" tanya Dayu.


"Apa, Yu?" tanyaku.


"Saya berdoa semoga kelak kamu mendapatkan jodoh seorang pria kaya supaya perayaan ulang tahunmu tidak lagi cuma makan telur dan singkong rebus," ujar Dayu dengan penuh keseriusan.


Namun berbeda dengannya yang menampakkan ekspresi sungguh-sungguh, aku malah tertawa.


"Lho ... kok malah tertawa, La? Doaku ini sungguh-sungguh, lho," keluh Dayu.


"Bagaimana saya tidak tertawa, Yu ... kamu terlihat prihatin dengan perayaan ulang tahunku yang seperti ini, sementara waktu itu kita merayakan ulang tahunmu hanya dengan makan jagung bakar," sahutku.


Sontak saja hal itu membuat kami bertiga tertawa bersama.


"Terus kalau doa kamu apa, Nik?" tanyaku pada Menik kemudian.


"Doaku? Emm ... kamu benar-benar mau tahu, La?" tanyaku.


"Tentu saja, Nik," jawabku.


"Doaku adalah supaya Darla tidak lagi menjadi gadis yang bandel, fokus belajar dan cita-citanya menjadi sarjana bisa tercapai," gumam Menik.


"Yah ... kalau sudah tak bandel lagi, sudah tak seru dong, Nik ...." gerutuku.


"Darla! Ayolah ... kamu harus janji untuk berubah. Jangan jadi Darla yang usil lagi, biarkan seluruh dunia mengenalmu sebagai Darla yang cerdas. Anggap saja ... ini permintaanku yang terakhir ...." sahut Menik.


"Memangnya kamu mau ke mana, Nik? Kok jadi permintaan terakhir sih?" ujarku.


"Kalau sebuah permintaan dianggap sebagai yang terakhir, biasanya yang diminta akan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh," ucap Menik.


"Baiklah! Tapi ... saya tidak mau ini jadi permintaan terakhirmu karena kamu tidak akan kemana-mana. Kita akan selalu bersama kan, Nik?" tanyaku seraya menggenggam tangannya.


"Iya, kita akan selalu bersama ...." Menik berucap seraya tangan satunya meraih tangan Dayu.


Aku pun turut meraih satu tangan Dayu yang lainnya. Kami bertiga saling berpegangan tangan dengan tatapan mata yang berbinar.


"Lalu, permohonanmu sendiri apa, La?" tanya Dayu.


"Saya ... em ... karena saya tak tahu doa yang kalian ucapkan, jadi permohonanku adalah agar Tuhan mengabulkan apapun yang kalian berdua sebutkan dalam doa," ucapku perlahan.


Menik dan Dayu saling berpandangan lalu serempak menoleh padaku.


"Darla ... Darla ...!"


Gelak tawa pun kembali terjadi. Riuh menggelegar di dalam kamarku. Membuat hari pertambahan usiaku ini semakin istimewa. Bagiku, Menik dan Dayu adalah hadiah paling berharga yang dikirimkan Tuhan untukku.


Telur dan singkong rebus itu pun tuntas terlahap ke dalam perut kami. Tentu saja rasanya sangat lezat karena dimakan bersama-sama dengan penuh kebahagiaan.


***