
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Membungkus pakaian tuan muda itu dengan rapi di dalam sebuah kantong plastik. Sengaja kuberi tahu Menik dan Dayu kemarin agar menyinggahi lebih pagi, hari ini.
Suara panggilan kedua sahabatku itu akhirnya terdengar dari luar. Setelah berpamitan pada ibu, aku bergegas menemui mereka dan berlalu mengayuh sepeda ontel kami.
Di depan gerbang rumah besar itu sepeda kami berhenti. Aku segera turun, berjalan menuju pos penjaga.
"Pak, ini pakaian milik tuan muda, tolong disampaikan padanya," ucapku pada seorang pria yang berada di situ.
Pria itu tampak bingung, namun aku tak mempedulikannya. Tanpa berlama-lama, aku segera berbalik. Kembali menuju ke tempat Menik dan Dayu menunggu, di salah satu sisi tembok pagar rumah itu.
"Sudah, ayo kita pergi," sahutku.
Namun, saat hendak mengayuh sepeda, penglihatanku teralih ke sebuah pohon kersen yang ada di halaman samping rumah. Pohon itu terlihat dari pagar jeruji besi yang ada di antara tembok.
Buah-buah dari pohon kersen itu sudah tampak memerah, ranum sekali. Namun sepertinya tak ada yang memakannya, terlihat dari banyaknya buah yang berhamburan di tanah sekitar pohon itu.
"Nik, Yu, coba lihat pohon kersen itu," ucapku.
"Iya, La, buahnya banyak sekali," sahut Dayu.
"Seandainya pohon itu ada di halaman rumah kita, pasti tak satu pun buahnya yang jatuh ke tanah," timpal Menik.
Kami hanya dapat memandang sembari menelan liur, membayangkan rasa manis dari buah kersen itu melewati tenggorokan.
"Sudah ah, ayo ke sekolah!" Seruan Dayu pun membuat kami mengalihkan pandangan dari pohon itu dan kembali mengayuh sepeda menuju sekolah.
***
Sore ini kami bertiga sudah berada di rumah Menik. Tujuan pertemuan ini adalah untuk menimba ilmu dari Menik, si juara kelas. Pelajaran ekonomi masih menjadi kendala bagiku. Dan Menik berjanji akan mengajari aku dan Dayu saat ini.
"Jadi rumus dasar neraca itu adalah harta sama dengan hutang ditambah modal," papar Menik.
"Harta itu apa saja, Nik?" tanya Dayu.
"Harta terbagi dua, harta lancar dan harta tetap. Harta lancar itu tersiri dari uang kas dan bank, piutang dan persediaan barang. Nah, kalau harta tetap seperti bangunan dan kendaraan," jelas Menik.
"Lalu bagaimana denganku yang hanya memiliki keluarga, Nik?" sahutku.
"Maksudnya gimana, La? tanya Menik bingung.
"Buatku harta yang paling berharga kan keluarga, Nik," ucapku sembari terkekeh.
"Darla!" Menik dan Dayu menghardik, membuatku kembali terdiam.
"Iya, La. Kasihan kan Menik sudah capek-capek mengajari kita." Dayu turut berceloteh.
"Iya ... iya. Maaf. Ayo lanjut lagi deh, kali ini serius deh," gumamku.
"Ya, sudah sekarang coba buat jurnal untuk transaksi ini, La. Tuan A menjual barang dagangannya sebesar seratus ribu rupiah." Menik berkata sembari menunjuk soal yang ada di bukunya.
Entah mengapa mendengar Menik menyebutkan kata 'tuan' seketika mengingatkanku pada pohon kersen di halaman rumah Tuan Besar. Sebuah ide pun terlintas di pikiranku.
"Nik, Yu ... belajarnya sudah dulu, ya."
"Lho, kenapa, La? Kamu kan belum paham to?" tanya Menik heran.
"Setelah ini, janji deh ... saya akan belajar sungguh-sungguh. Saya akan menghapal semua pelajaran di luar kepala," ucapku meyakinkan.
"Di luar kepala? Artinya tidak ada yang dihapal dong, La," ujar Dayu.
"Aduh ... maksudnya ya benar-benar hapal," gumamku.
"Terus sekarang kalau belajarnya selesai, mau ngapain lagi?" tanya Menik.
"Nah! Sini ... sini ...." Aku menggoyangkan jari-jari mengarahkan mereka untuk mendekat padaku.
Setelah saling berpandangan, Dayu dan Menik pun memajukan badan mereka.
"Mau makan kersen tidak?" bisikku.
"Ambil di mana?" tanya Dayu dengan suara berbisik juga.
"Rumah tuan besar."
"Apa?!" Kali ini suara Dayu dan Menik yang berbarengan terdengar lantang.
"Sssttt," desisku menenangkan mereka.
"Tidak salah, La?" tanya Dayu pelan.
Aku menggeleng, "Let's go!"
***