
Tak terasa, hari ini sudah seminggu dari acara kelulusan. Suara Dayu sudah terdengar memanggil namaku dari depan rumah. Pagi ini dia datang untuk menjemputku. Namun tak seperti hari biasanya, tak ada bunyi dentingan klakson kali ini. Ya, kami memang tidak akan menggunakan sepeda ontel itu karena jarak perjalanan yang akan ditempuh hari ini lebih jauh yaitu ke daerah kecamatan.
Setelah berpamitan pada ibu dan bapak, aku segera menemui Dayu. Dengan memikul tas punggung masing-masing kami pun mulai beranjak. Tas punggung itu berisi berkas-berkas untuk pendaftaran SMA dan bekal makanan serta minuman selama perjalanan.
Pertama, kami akan berjalan kaki dulu menuju jalan utama tempat angkutan umum lewat. Perjalanan kaki ini tentu melewati beberapa dusun.
Langkah kami seketika menapak pelan saat melewati rumah berdinding bata penuh dan bercat kuning itu. Rumah Tuan Besar memang menjadi rumah termegah di desa ini, tapi rumah yang tengah kami lewati adalah satu-satunya rumah yang tak menggunakan papan sebagai dindingnya. Itulah rumah pak Sugeng, Sang Kepala Desa.
Rumah itu tampak ramai, banyak orang berlalu lalang sembari membawa berbagai peralatan. Terlihat tenda sudah berdiri di halaman rumah. Dekorasi pun mulai tertata. Demikianlah memang karena besok di rumah itu akan berlangsung sebuah acara pernikahan.
Pernikahan putra kepala desa, Seno dengan sahabat kami, Menik.
Pandanganku tajam menatap pelaminan itu, mataku mulai memanas, mungkin warnanya sudah memerah karena marah dan sedih. Dayu yang menyadari hal itu segera menarik tanganku untuk berjalan lebih cepat.
"Ayo, La, nanti kita terlambat!" seru Dayu.
Aku pun menurut meski ekor mataku masih terus tertuju pada rumah itu.
Pip ... pip ... pip ....
Terdengar bunyi klakson mobil dari belakang. Setelah menoleh, kami pun menyingkir lebih ke pinggir. Mobil hardtop itu pun lewat. Namun, saat berada di samping kami, jalannya memelan. Seorang gadis yang duduk di samping sopir memunculkan kepalanya dari jendela mobil.
"Heh orang miskin! Ini bukan jalan punya nenek moyang kalian! Kalau jalan kaki itu ya di pinggir. Sudah miskin belagu lagi!"
Belum juga sempat kubalas, mobil itu sudah melaju lebih kencang. Menyisakan rasa geram di dadaku.
"Siapa gadis sombong itu?" rutukku.
"Itu kayaknya putri pak Handoko karena mobil yang dipakainya adalah mobil yang biasa dipakai pak Handoko," ujar Dayu.
"Siapa pak Handoko?" tanyaku.
"Salah satu petinggi di perusahaan tuan besar. Pak Handoko sering mendatangi area persawahan memakai mobil itu. Saya beberapa kali melihatnya saat mengantar makanan untuk bapak ke sawah," jawab Dayu.
"Oh ... Pak Handoko itu bukan warga asli desa kita kan, Yu?" tanyaku lagi.
"Iya, aslinya dari desa seberang, tapi sudah lama bekerja di PT Prasinta. Rumah asli mereka di desa seberang, di sini tinggal di perumahan yang disediakan oleh perusahaan."
"Oh ... pantas saya tidak begitu mengenal. Terutama gadis itu, kelihatannya seumuran dengan kita, tapi saya tidak mengenalinya," ujarku.
"Gadis sesombong itu pastilah takkan mau bersekolah di desa kita meski ayahnya mencari nafkah di sini," sahut Dayu.
"Coba saja kalau dia satu sekolah dengan kita, pasti kesombongannya itu sudah kuberi pelajaran," ucapku sembari menggosok-gosok telapak tangan.
Aku dan Dayu kemudian terkekeh sembari membayangkannya. Selepas itu kami pun melanjutkan perjalanan.
***
Setelah hampir satu jam perjalanan dengan angkutan umum, tibalah kami di terminal kecamatan. Dari situ kami turun dan kembali naik angkutan umum yang akan mengantarkan menuju satu-satunya sekolah menengah atas negeri yang ada di kecamatan ini.
Sesampai di SMA itu kami segera menuju barisan antrian. Antrian panjang tak menghalangi semangat kami untuk mendaftar. Sembari memeluk map masing-masing, aku dan Dayu masih setia berdiri di tengah himpitan pendaftar lainnya.
Tiba-tiba riuh suara beberapa orang yang datang membuat kami menoleh.
"Minggir ... minggir ...!"
Kuperhatikan orang-orang yang berada di barisan belakang membuka jalan untuk empat orang wanita yang berjalan menuju loket pendaftaran.
"Heh! Masih berdiri saja si situ! Cepat buka jalan!" seru seorang di antara mereka pada Dayu yang berdiri di belakangku.
"Lho, kan sudah jelas disuruh mengantri. Kok kalian malah mau menyerobot?" ujar Dayu pada mereka.
"Eh ... berani ya kamu? Apa tidak tahu siapa temanku ini?" ucap salah seorang tadi sembari menunjuk satu temannya yang berdiri di belakangnya.
Wajah yang ditunjuk pun menyembul. Seorang gadis yang memakai rok mini dengan rambut terkuncir dua sedang berdiri melipat tangan.
Samar-samar wajah gadis itu seperti pernah kulihat. Namun, saat aku masih menerka-nerka, gadis itu sudah merampas map yang dibawa oleh Dayu dan membuangnya ke tanah.
"Hei ... kenapa membuang mapku?" protes Dayu.
"Dasar gadis bodoh! Sudah dari tadi dibilang supaya menyingkir!" Gadis itu membentak Dayu.
Dayu pun beranjak hendak memungut mapnya, tapi dengan cepat aku menarik tangannya.
"Jangan ambil, Yu! Biar dia yang ambil," ucapku pada Dayu.
Dayu pun menurut, dan kembali berdiri di sisiku. Sementara para pendaftar lainnya hanya memandangi kami tanpa suara.
"Ambil!" seruku pada gadis itu.
"Apa?!" tanyanya sembari berkacak pinggang.
"Apa pendengaranmu terganggu?" tanyaku menyindirnya.
"Kamu berani ya sama saya? Apa kamu belum tahu siapa saya? Eh, tunggu! Kalian berdua dari Desa Suraloka kan? Yang tadi pagi jalan kaki itu? Oh ... iya benar, itu kalian. Dasar orang-orang miskin, mau coba-coba melawan ya?!" Gadis itu menantang.
Rupanya dia adalah gadis sombong yang tadi pagi lewat dengan mobil dan sopirnya itu. Bagus sekali, kebetulan bertemunya lagi, biar sekalian kuberi pelajaran.
"Siapapun kamu, saya tidak takut! Sekarang cepat ambil map itu atau-"
Gadis itu memotong ucapanku, "Atau apa? Berani sekali kamu mengancam saya! Oke, dengar ini! Namaku Rany, putri pak Handoko, Manajer Pemasaran si PT Prasinta, perusahaan milik tuan besar di Desa Suraloka. Kamu tahu kan bagaimana pengaruh perusahaan itu di desamu?"
"Itu artinya saya punya kekuasaan di sini. Jadi sekarang menyingkirlah dari hadapanku!" bentak gadis itu.
"Kalau saya tidak mau?"
"Teman-temanku akan menyeretmu!" jawabnya.
"Coba saja!"
Ketiga temannya pun menuju ke arahku. Sementara Dayu mendekat padaku dan mencoba menarik tanganku.
"La, sudah, La. Ayo mengalah saja," bisik Dayu.
Aku menepis tangan Dayu, mendorongnya untuk mundur. Sementara itu, ketiga kawan gadis itu sudah bersiap menyerangku.
Dua orang sudah berhasil memegangi tanganku, dan salah seorang sedang mengangkat tangannya hendak menampar pipiku. Namun, tak mungkin kubiarkan itu terjadi. Dengan cepat kuangkat kaki kanan lurus ke atas untuk menampik tangannya. Setelah itu dengan sedikit putaran kakiku telah mendorong tubuh gadis itu tersungkur di tanah.
Saat kedua orang yang memegang tanganku itu ternganga, aku menghentakkan pegangan mereka hingga terlepas dari tubuhku. Dan satu persatu kudorong tubuh mereka hingga ikut tersungkur bersama temannya tadi.
"Aduh, kok kalian kalah sih? Ayo berdiri!" Gadis yang bernama Rany tadi menghardik teman-temannya.
Ketiga gadis yang tumbang tadi pun kembali berdiri. Namun sepertinya mereka enggan untuk menyerangku lagi. Terlihat dari keragu-raguan di wajah mereka.
"Eh, kok pada diam saja, sih? Ya sudah, biar saya sendiri yang melawannya," ujar Rany lagi.
Dia pun maju hendak mencakar wajahku, tapi dengan cepat kutangkap tangannya dan memutar ke arah punggungnya.
"Aw! Aduh ... sakit tau! Lepaskan cepat!" ucapnya sembari meringis kesakitan.
"Akan saya lepaskan kalau kamu mau mengambil map itu dan menyerahkannya pada Dayu lagi," ancamku.
"Ih ... malas amat!" gerutunya.
Aku pun menguatkan pelintiran tangannya.
"Aww!!! Iya-iya, tapi lepaskan dulu!" serunya.
"Awas kalau kamu melanggar! Saya bisa melakukan yang lebih parah dari ini!" Aku kembali mengancam.
Rany mengangguk pelan. Aku melepaskan tangannya. Perlahan ia mulai menunduk untuk memungut map itu, lalu menyerahkannya pada Dayu.
"Sekarang minta maaf padanya!" perintahku lagi.
"Apa?!"
"Minta maaf atau ....!" Aku mengganti kata-kata dengan kepalan tangan yang kuangkat padanya.
Gadis itu terbelalak, "Iya-iya!" Wajahnya kemudian berpaling pada Dayu, "Maaf."
Dayu hanya menjawab dengan anggukan kecil.
"Sekarang mengantrilah di belakang! Jangan menyerobot lagi!" titahku lagi.
Gadis itu memanyunkan bibirnya. Aku kembali membalikkan badan, kembali ke posisi antrianku.
Namun, baru beberapa detik, kurasakan seseorang mendorong tubuhku. Tumpuan kaki yang tak mampu bertahan dari serudukan itu membuat tubuhku kini terhuyung dan ambruk membentuk paving blok.
Karena mendarat dengan kedua lengan dan lutut, luka lecet pun tak terelakkan. Sepanjang lengan hingga siku terkelupas. Celana panjang yang kupakai pun sobek di bagian lutut.
"La!" Dayu memekik dan menghampiri. Membantuku untuk berdiri.
"Kamu tidak apa-apa, La?" tanyanya penuh kekhawatiran.
Aku tak menjawab, hanya kembali menatap Rany. Tajam. Dengan cepat tubuhku beranjak hendak menerjangnya, tapi Dayu menahanku.
"Jangan, La! Sudah, La!" serunya sembari memelukku dari belakang.
Rany sudah mundur beberapa langkah, tak lama ia berteriak, "Pak ... Pak Satpam, tolong ...."
Seorang pria berseragam petugas keamanan datang dengan berlari ke arah kami.
"Ada apa di sini ribut-ribut?" tanyanya.
"Ini, Pak, gadis ini mau memukuli saya," ujar Rany dengan mimik wajah memelas.
"Apa?! Kamu ini datang mau daftar sekolah atau mau jadi jagoan?" Penjaga sekolah itu menghardikku.
"Saya mau mendaftar, Pak, tapi dia mengganggu," jawabku.
"Tidak, Pak. Dia yang mengganggu, tanya saja pada teman-temanku. Tadi mereka dihajar sama dia, disuruh mundur dari tempat antrian. Dia datang-datang mau main serobot saja. Harusnya antrian dia paling belakang, Pak," ujar Rany lagi.
"Ya sudah! Sekarang kamu mundur ke belakang!" perintah satpam itu padaku.
Saat hendak menjawab lagi, Dayu meremas tanganku. Seolah hendak menyampaikan agar aku diam. Tak lama kemudian Dayu menarik tanganku untuk pindah ke posisi paling belakang.
Aku memang berjalan mengikuti Dayu, tapi mataku tentu tak lepas dari Rany. Sementara gadis itu kini cengar-cengir dengan ekspresi mengejekku.
Awas kamu, Rany, ini belum berakhir!
***