
Lapangan sekolah tampak ramai. Tim bola voli putra sedang berlatih dalam rangka pertandingan voli antar-SMA se-kabupaten. Aku dan Dayu pun turut penasaran untuk melihat bagaimana pola permainan tim yang dikapteni oleh Endaru itu.
Dari tepi luar lapangan terlihat jelas bagaimana setiap lompatan sang ketua OSIS selalu menimbulkan riuh para penonton. Baik saat melakukan servis, blok ataupun smash, dia tetap saja terlihat mempesona. Semua siswi pasti berdecak kagum, tak terkecuali diriku.
Perhatianku masih fokus padanya. Saat ini bola melambung tinggi dari arah tim sebelah, persis mengarah pada Endaru. Dengan sigap sang kapten melompat dengan mengangkat tangan kanannya.
Buk! Smash tajam dilepaskan oleh Endaru. Tapi ... tampaknya pukulan itu terlalu keras karena bola melesat jauh hingga keluar lapangan. Aku masih terhipnotis dengan pukulan indah itu sampai-sampai tak sadar bila kulit bundar nan keras itu telah mendarat di jidatku.
Bruk! Bintang-bintang terasa berputar-putar di sekitar penglihatanku hingga akhirnya lenyap menyisakan gelap seiring pekikan Dayu memanggil namaku.
***
"Maafkan saya ...." ucap pria yang diidolakan oleh banyak siswi itu.
"Tidak apa-apa, Kak ...." jawabku polos.
"Apa kamu masih pusing?" tanyanya.
"Sedikit," sahutku.
Binar-binar matanya menyiratkan rasa penyesalan dan kekhawatiran, aku bisa merasakannya. Begitulah Endaru kini berada di sisi tempat tidur UKS, menungguiku sejak pingsan tadi.
Ya, memang ... terkena bola yang melaju kencang itu rasanya sangat menyakitkan. Tapi bila akhirnya seperti ini, semua siswi pasti saat ini mau berada di posisiku.
"Minumlah ini," ujar Endaru sembari menyerahkan segelas air padaku.
"Terima kasih, Kak," ucapku sembari menyambut pemberiannya.
"Saya akan mengantarmu pulang. Tadi, saya sudah meminta izin pada guru yang mengajar di kelasmu. Sepertinya kamu belum bisa mengikuti jam pelajaran dulu," ucapnya lagi.
Perkataannya menyadarkanku bila Dayu tak ada di sini. Ya, pastilah Kak Endaru sudah menyuruhnya untuk kembali mengikuti pelajaran di kelas.
Endaru tersenyum lalu berkata, "Saya juga sudah minta izin," ujarnya.
Sesaat kemudian, pria itu sudah membantuku untuk bangkit dari tempat tidur. Tasku pun sudah berada di situ. Setelah meraihnya, aku mulai berjalan dengan sedikit tertatih karena kepala yang masih pening.
Saat melangkah keluar UKS, aku merasa sedikit oleng. Namun seketika terasa ada tangan yang menahan tubuhku.
Aku menoleh, wajah tampan Endaru kini begitu dekat di sisiku. Satu tanganku kini telah tersampir melingkari pundaknya.
Oh Tuhan ... jantungku memacu begitu cepat. Desir-desir darah bergemuruh di pembuluhnya.
Apakah aku sedang jatuh cinta? Sepertinya iya ... inilah cinta pertamaku.
Saat tengah menikmati suasana ini, aku menyadari bahwa beberapa pasang mata tengah mengintai gerak-gerik kami. Di samping dinding UKS itulah posisi mereka. Riuh suara bisik-bisik empat gadis yang sedang mengintip itu terdengar olehku dan Endaru.
"Sedang apa kalian di situ?" sergap Endaru.
"Eng ... anu ... itu, Kak. Aduuhhh ... perut saya sakit, Kak. Apakah di UKS ada obat sakit perut?" Rany muncul dari bilik persembunyian, diikuti ketiga kawannya.
"Cari saja di kotak P3K," sahut Endaru sembari kembali memapahku untuk kembali berjalan.
"Oh ... tapi nama obatnya apa, Kak?" Pertanyaan Rany kembali membuat Endaru menghentikan langkah.
"Kapsul yang belang hitam merah," ujar Endaru.
Setelah itu ia benar-benar mengajakku untuk berlalu. Sementara Rany dan teman-temannya tampak cemberut dan menyinyirkan bibir. Aku masih sempat melihat raut kekesalan Rany. Setelah ini, aku yakin bila dia akan mencari perkara lagi denganku.
***