DARLA

DARLA
Hukuman



Di tepi sawah itu ada pendopo milik Pak Jono. Di belakangnya ada air pancuran yang langsung mengalir dari gunung. Di situlah aku dan pria yang tercebur ke sawah tadi membersihkan diri.


Kami telah menempati masing-masing satu keran air. Aku hanya perlu membersihkan tangan, kaki dan wajah. Sedangkan dia, seluruh pakaiannya kotor terkena lumpur.


Sesaat setelah sama-sama mencuci muka, pandangan kami saling bertemu.


"Ternyata kamu lagi! Gadis badung!" hardik pria itu setengah kaget.


Mungkin saja tadi dia belum mengenali wajahku yang bermasker lumpur.


Mendengar hardikannya aku segera memalingkan wajah. Mempercepat gerakan membersihkan tangan dan kaki. Namun, rasa penasaran dengan apa yang dilakukannya lagi membuatku kembali melirik ke arahnya.


"Astaga! Apa yang Paman lakukan?" Aku berseru sembari menutup mata dengan telapak tangan.


Bagaimana aku tak kaget, pria itu sudah membuka kemeja putihnya. Dan ... kini dia sedang bertelanjang dada.


"Memangnya aku kenapa?" ujarnya sembari berjalan ke arahku.


Aku membuka sedikit mata. Seketika tersentak menyadari dirinya akan semakin dekat padaku.


Tanpa berpikir panjang, aku segera membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin.


Bruk! Ah ... aku menabrak seseorang.


"Aduh, Neng ... Neng! Apa kamu memang tidak bisa berjalan dengan pelan?" sahut pria yang sedang tersungkur di tanah.


"Ya ampun, Pak. Maaf Pak, tadi saya ketakutan ... ada hantu di belakang situ," ucapku sembari berusaha menarik tangan pria itu untuk berdiri.


"Mana ada hantu siang bolong begini?" gerutunya sambil mengebas-ngebas pantatnya.


"Ada, Pak. Hantunya seram sekali," sahutku.


"Terus Tuan Muda masih di sana?" tanyanya.


Aduh! Rupanya bapak ini mau mencari pria itu. Kulihat tangannya sedang menenteng sebuah plastik, sepertinya berisi pakaian.


Bapak ini kan ... sopir pria tadi. Kalau tidak salah sih!


Namun, dari pada mengingat-ingat dan menebak-nebak lebih baik segera menghilang dari tempat ini. Tanpa mempedulikan pertanyaannya, kulanjutkan langkah dengan cepat ke arah depan pendopo.


"Neng! Eh si Eneng, ditanya malah kabur." Masih kudengar gerutu si Bapak.


Dengan nafas tersengal kuhampiri Menik dan Dayu di pendopo itu.


"Nik, Yu ... ayo kita pergi!"


"Tidak bisa, La," sahut Menik.


"Lho, memangnya kenapa?" tanyaku.


"Kita disuruh menunggu," jawab Menik.


"Iya, kalian tunggu sampai Tuan Muda berganti pakaian. Setelah itu kalian ikut bersamanya." Suara Pak Jono dari belakang membuatku menoleh.


"Untuk apa, Pak?" tanyaku.


"Karena kalian sudah berbuat kenakalan dan bolos dari sekolah, Tuan Muda akan menghukum kalian," jawab Pak Jono.


"Hah? Memangnya dia kepala sekolah?" gerutuku.


"Kalau tidak menurut, Bapak akan laporkan perbuatan kalian ke orang tua kalian. Mau?" ancam Pak Jono.


Ya ampun! Daripada perbuatanku ini diketahui bapak dan ibu, lebih baik aku menerima hukuman saja.


Walau dengan wajah memelas, aku pun bergabung dengan Menik dan Dayu. Duduk di bangku panjang menunggu Sang Tuan Muda.


"Nyaris! Tapi saya kabur. Lagian tadi dia mau berbuat yang tidak-tidak," sahutku.


"Hah?! Berbuat yang tidak-tidak bagaimana, La?" tanya Dayu lagi.


"Coba bayangkan ... dia membuka bajunya di depanku. Ih ... dia pikir bentuk badannya itu bagus apa?" gumamku dengan ekspresi geli.


"Wow! Buka baju, La? Padahal bentuk badannya?" cecar Dayu penasaran.


"Padahal ... ya memang bagus sih," gumamku pelan.


"Idiiihhh ...." Menik mencubit pinggangku.


"Berarti kamu beruntung dong, La. Sudah melihat bentuk tubuh Tuan Muda. Kapan lagi ada kesempatan seperti itu?" Dayu menggodaku.


"Beruntung apaan? Geli tau!"


"He-he-he ... he-he-he ...." Kami bertiga terkekeh.


Sampai kedatangan pria yang sedang menggulung lengan kemeja panjangnya membuat kami terdiam.


"Wow!!!" Menik dan Dayu berdecak kagum.


Aku menengok ke kiri dan kanan. Memperhatikan ekspresi wajah mereka. Mata dan mulut menganga.


Dengan cepat kucubit pipi mereka.


"Aduh ... Darla!" Menik dan Dayu menggerutu.


"Ayo!" ujar Tuan Muda.


Kami bertiga saling memandang.


"Ayo kemana, Paman?" tanyaku.


Kali ini Menik dan Dayu yang mencubit pahaku.


"Aw!!! Apaan sih?" desisku pada mereka.


"Tuan Muda, La" bisik mereka berdua.


Aku memukul kepala sendiri. "Aduh ... kepala ini isinya apa sih, kok lupa terus ya!"


"Sekarang kembali ke sekolah. Kalian naik sepeda, tapi aku akan menggiring dengan mobil. Kalian tidak akan bisa kabur," lanjut Tuan Muda.


"Tuan ... kalau kami kembali ke sekolah sekarang, pasti akan ketahuan bila habis membolos. Dan ... kami pasti akan dihukum," tuturku.


"Justru itu tujuanku, kalian harus dihukum!" seru Tuan Muda.


Kedatangan sopir Tuan Muda dengan membawa kantong plastik membuat sebuah ide terlontar dari mulutku. Itu pasti pakaian kotornya tadi.


"Tuan ... bagaimana kalau hukumannya diganti saja. Biar saya membawa pulang pakaian kotor Tuan dan mencucinya sampai bersih bersinar, cling!" seruku sambil mengedipkan sebelah mata.


Tuan Muda tampak berpikir sejenak. Tak lama kemudian ia kembali bersuara.


"Baiklah, Pak serahkan pakaian kotorku padanya."


"Baik, Tuan," sahut sopirnya.


"Yesss!" seruku seraya menerima kantong plastik itu.


"Mencuci baju itu hukuman tambahan. Hukuman utamanya tetaplah kembali ke sekolah," ujat Tuan Muda sembari menyedekapkan tangannya.