DARLA

DARLA
Ratapan Menik



Panas terik mentari tak menghalangi kaki kami untuk terus mengayuh pedal sepeda. Usai acara kelulusan tadi, aku dan Dayu sepakat untuk langsung menuju rumah Menik. Penyebab Menik tak datang di acara tadi harus kami cari tahu. Selain itu kami juga akan mengantarkan hadiah dan ijazahnya.


Sepeda kami telah berhenti di halaman rumah Menik. Di situ juga sedang terparkir sebuah mobil kijang kapsul. Mobil itu sering berseliweran di desa ini, dan semua warga tahu bila itu adalah mobil Pak Sugeng, Kepala Desa Suraloka.


"Yu, ini kan mobil Pak Kades," ucapku pada Dayu sembari mengamati mobil itu.


"Iya, La. Tapi ... untuk apa Pak Kades ke sini?" gumam Dayu.


"Kita masuk saja, yuk," ajakku.


Sampai di depan pintu, aku dan Dayu mengucap salam. Di ruang tamu rumah Menik itu tengah duduk beberapa orang yang menjawab salam kami dengan raut wajah yang agak terkejut.


Seperti dugaan kami, si pemilik mobil memang sedang berada di situ. Namun, ia tak datang sendiri. Istri dan putra sulungnya, Seno, juga datang. Bapak dan ibu Menik juga berada di ruang tamu itu. Aku bisa melihat bila keadaan bapak Menik memang sedang tak sehat. Sesekali ia batuk dan menahan nyeri.


Kedatangan keluarga kepala desa itu memang mengundang pertanyaan di benakku. Terlebih mendapati kehadiran Seno. Anak kepala desa yang terkenal suka membuat keonaran di desa ini. Dia dan teman-temannya sering menenggak minuman keras yang berakhir dengan keributan. Tak jarang ia juga mengganggu anak perempuan yang kebetulan lewat di depannya.


Itulah yang pernah terjadi pada Menik beberapa waktu silam. Saat itu Menik hendak mengantar makanan untuk bapaknya yang bekerja di sawah milik Pak Sugeng, kepala desa itu. Di jalan, Seno menghadangnya, meminta Menik untuk menjadi pacarnya dan menemaninya jalan-jalan ke kota. Tak dipungkiri, Menik memang gadis yang manis dan pemalu. Banyak pemuda desa yang terpikat pada wajah dan perilakunya. Tak seperti diriku yang sering dijuluki 'cantik-cantik serigala' oleh para pemuda itu.


Saat itu Menik menolak, lalu melawan bahkan menampar pipi Seno yang memaksanya. Setelah ada kesempatan, Menik segera berlari menyelamatkan diri. Tentu saja, setelahnya Menik bercerita padaku dan Dayu. Naik pitam mendengar hal itu, aku berniat melabrak Seno. Namun Menik melarang dengan alasan bapaknya adalah pekerja di lahan sawah milik bapak Seno.


Mendapati Seno ada di hadapanku saat ini seketika membuat taring-taring dan cakar-cakarku ingin menerjangnya. Tapi tidak, tujuanku ke sini adalah bertemu Menik. Lagipula sekeluarga itu tampak sudah berdiri hendak berpamitan.


"Menik ada, Bu?" tanyaku pada ibu Menik.


"Ada di kamarnya. Masuk saja ke dalam," sahut ibu Menik.


Aku dan Dayu pun bergegas menuruti petunjuk ibu Menik. Menuju kamar Menik yang bersisian dengan dapur. Tak ada pintu di kamar itu, hanya selembar gorden usang yang menutupinya, sehingga kami dapat masuk tanpa harus mengetuk pintu.


Di dalam kamar itu, kami mendapati Menik sedang meringkuk di sudut tempat tidurnya. Tatapannya seakan kosong dengan air mata yang tergenang di pelupuknya.


"Nik ... Nik ... ada apa denganmu?" ucapku sembari mengguncang tubuh Menik.


Menyadari kehadiran diriku dan Dayu di kamarnya, Menik pun tersentak dan dengan cepat memeluk tubuhku.


"La ... saya takut, La .... Saya bingung ...." Air mata Menik tumpah di pundakku.


"Ada apa, Nik?" Dayu ikut mendekat dan mengusap punggung Menik.


Sesaat kemudian Menik melepaskan pelukannya. Ia menatap sendu padaku dan Dayu.


"Mengapa tadi kamu tak datang ke sekolah, Nik? Apa kamu sedang sakit?" tanyaku lagi.


Menik menggeleng, "Bukan, La ...."


"Lalu mengapa kamu menangis, Nik?" tanya Dayu.


"Darla ... Dayu ... kalian berdua harus berjanji padaku untuk melanjutkan cita-cita kita. Kalian harus terus sekolah, minimal tamat SMA. Jangan tambah jumlah anak perempuan yang harus putus sekolah. Dahulu pernah ada ibu Prasinta yang melakukan gebrakan di desa kita, ia bersekolah sampai ke kota, mengubah citra perempuan desa. Kuharap perjuangannya dapat kalian teruskan ...." Kedua bola mata indah milik Menik tampak semakin menyendu, seolah menyimpan pilu yang tak terperi.


"Apa maksudmu dengan kalian, Nik? Bukankah kita bertiga sudah berikrar untuk selalu bersama? Kita, Nik. Kita! Kita bertiga akan terus melanjutkan sekolah." Aku menghentak.


Menik kembali menggeleng. Bulir-bulir bening di matanya kembali bergulir.


"Saya akan menikah, La ...." Suara Menik memarau seiring senggukan tangisnya yang kembali pecah.


"Apa? Menikah?" Aku dan Dayu berkata serempak.


Sontak saja kami kaget mendengar kata itu. Menikah? Bagaimana bisa Menik menikah sementara selama ini kami tahu bila ia tak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Lagipula ... mengapa Menik harus menangis semiris ini bila pernikahan ini atas keinginannya sendiri. Tidak! Pasti ada sesuatu tak beres sedang terjadi pada Menik dan keluarganya.


"Menikah dengan siapa, Nik? Kenapa bisa?" tanya Dayu. Sepertinya ia pun tampak ingin segera tahu. Ia pasti memikirkan hal yang sama denganku.


Menik menyandarkan tubuhnya pada kepala dipan tua itu. Seakan mengisyaratkan sebuah kepasrahan. Pasrah pada takdir yang sedang terjadi padanya, juga pasrah akan reaksi diriku dan Menik dengan nama yang akan disebutkannya.


"Seno ...." lirih Menik.


"Sakit bapak sudah terlampau lama, hutang pada Pak Kades tak kunjung terbayar. Bapak sudah mengambil panjar untuk mengolah sawah miliknya. Sudah empat bulan bapak tak bisa bekerja. Jualan sayur ibu tak seberapa. Mana mungkin saya bisa lanjut sekolah dalam keadaan seperti ini. Saya anak tertua, ada tanggung jawab yang harus kuemban." Menik berucap dengan sorot mata yang menerawang.


"Lalu ... mengapa menikah dengan Seno?" tanyaku perlahan.


"Beberapa waktu yang lalu Pak Kades datang menagih janji. Menanyakan kapan bapak bisa mengerjakan sawahnya lagi. Bapak masih sakit, dia kembali meminta waktu. Tapi ... Pak Kades tak terima, katanya dia akan merugi. Lalu ... beliau menawarkan sesuatu untuk melunasi hutang itu ...."


"Tawaran?" Kali ini Dayu yang bertanya.


Menik mengangguk, "Tawaran untuk menikahkanku dengan anaknya, Seno."


Dayu membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Sedangkan aku mencengkeram seprai tempat kedua tanganku bertumpu.


"Dia seorang kepala desa. Seharusnya ... saat melihat ada warganya yang sedang sakit dan kesusahan, dia membantu. Bukannya malah menambah penderitaan mereka. Menik masih di bawah umur, enam belas tahun, dia tahu itu. Menik adalah murid yang pintar, yang semestinya didukung oleh aparat desa sepertinya untuk terus melanjutkan pendidikan. Tapi mengapa dia malah menukar masa depan Menik dengan hutang orang tuanya?" Aku bergumam.


"Seno ingin membalas dendam padaku. Itu yang pernah diucapkan saat aku menolak dan menampar pipinya. Dia pasti memanfaatkan kelemahan bapak dan ibu untuk menikahiku," ucap Menik lirih.


"Tidak, Nik! Itu tidak akan terjadi! Kita harus mencari cara untuk bisa menghentikan pernikahan itu," ujarku.


"Tidak, La ... tidak ada yang bisa kita lakukan," sahut Menik.


"Mengapa tidak ada?" rutukku.


"Jangan memperkeruh keadaan, kumohon!" balas Menik.


"Ma- maksud kamu bagaimana, Nik? Apa kamu akan pasrah?" Dayu bersuara.


Menik beringsut turun dari tempat tidur. Kemudian meraih tanganku dan Dayu.


"Ikut saya," ucapnya.


Aku dan Dayu menurut, mengikuti alur langkah Menik. Pertama ia menuju ke depan kamar bapaknya. Sesaat disingkapnya tirai gorden yang menjadi pintu kamar itu.


"Lihatlah, itu bapakku. Jangankan untuk bekerja, bangun untuk duduk saja ia tak mampu berlama-lama," tutur Menik.


Setelah itu dia kembali menarik tanganku dan Dayu menuju ke dapur. Di sana ketiga adik Menik sedang makan. Adik pertamanya perempuan berusia sepuluh tahun, yang kedua dan ketiga laki-laki masing-masing tujuh dan lima tahun. Singkong rebus adalah menu makanan yang sedang mereka santap.


"Lihatlah, itu ketiga adikku yang masih kecil. Jalan mereka masih panjang, haruskah terhenti karena keegoisanku dengan melanjutkan sekolah?"


Belum sempat aku dan Dayu berbicara, Menik kembali memboyong kami menuju halaman belakang rumah.


"Dan itu ... ibuku. Setiap subuh sudah harus bangun untuk mencari sayur-sayuran yang tumbuh di empang atau tepi sawah, lalu menjualnya ke pasar. Hasilnya? Bahkan untuk membeli seliter beras pun tak cukup," ucap Menik sembari menunjuk ke arah wanita yang sedang membelah-belah kayu bakar di pojok halaman.


Menik kemudian berbalik dan kembali berjalan menuju ruang tamu. Sesampai di sana dihempaskan pantatnya pada kursi kayu panjang yang berdenyit saat diduduki.


Aku dan Dayu mengikuti. Pun kini melakukan hal yang sama, duduk di sisi kiri dan kanannya.


"Dengan menerima tawaran pernikahan itu, saya telah membantu mengurangi beban mereka. Hutang bapak lunas. Nafkah yang akan saya terima sebagai istri bisa saya sisihkan untuk mereka." Menik kembali berbicara. Sorot matanya menatap jauh keluar rumah.


"Kamu menyerah, Nik?" tanyaku pilu.


"Tak ada pilihan, La. Saya harus menghadapi ini," jawab Menik sendu.


Aku dan Dayu memeluk tubuh Menik. Tubuh kami bertiga kini berguncang karena isak tangis.


"Sekali lagi berjanjilah ... terutama kamu, La, berjanjilah untuk berubah. Jangan nakal lagi ... fokuslah belajar." Suara Menik terdengar di sela-sela senggukannya.


Aku tak bisa berucap lagi. Hanya mengeratkan pelukanku. Benar kata Menik, tak ada yang bisa kami lakukan. Keluargaku dan Dayu pun sama tak berdayanya dengan keluarganya. Orang tua kami hanyalah pekerja di lahan persawahan dengan penghasilan pas-pasan.


Inikah takdir untuk ratapan kemiskinan? Lemah, tak berdaya dan pasrah.


***