DARLA

DARLA
Hukuman Tambahan



Sesampai di rumah, aku langsung menuju ke sumur untuk mencuci pakaian kotor milik tuan muda yang kubawa tadi.


"Pulang-pulang kok langsung mencuci, La?" teriak ibu dari dapur.


"Iya nih, Bu, seragam Darla kotor."


Ya, seragam sekolah yang kupakai tadi memang sudah kotor jadi sekalian kucuci bersamaan dengan pakaian tuan muda tadi.


Namun, setelah menjemur semua pakaian itu, tiba-tiba terdengar suara pekikan ibu.


"Darla ... itu pakaian siapa?"


Ya ampun! Terang saja ibu histeris melihat pakaian lelaki yang bukan milik bapak tergantung di jemuran.


"Bu ... itu ... anu ... tadi waktu pulang sekolah, pas lewat sawah, ada orang yang jatuh di sawah. Terus Darla dan teman-teman menolongnya lalu mencarikan pakaian ganti. Dan pakaian kotornya Darla bawa pulang untuk dicuci. Setelah kering, akan Darla kembalikan lagi," jawabku berkelit.


"Tapi ... sepertinya itu pakaian bagus. Memangnya siapa orang itu, Darla?" tanya ibu lagi.


"Itu ... emm ... temannya pak Jono, Bu. Mungkin dari kota, jadi nanti bajunya saya kembalikan ke pak Jono saja," jawabku lagi.


"Kalau begitu biar Bapak saja yang memberikannya pada pak Jono saat ke sawah besok," ujar ibu.


"Hah?! Eh ... anu, Bu, tidak usah. Biar Darla saja yang mengantarkan. Bapak kan ke sawah mesti bawa banyak peralatan, nanti pakaian itu malah tercecer," sahutku.


Ibu hanya mendengus lalu beranjak masuk ke dalam rumah lagi.


Hufffhhh!


***


Malam ini ibu sudah selesai menyiapkan makan malam. Kami bertiga sudah duduk mengelilingi meja makan. Ikan lele yang dibawa pulang oleh bapak dari sawah tadi menjadi lauk yang menemani nasi kami.


Mendengar nama itu disebut oleh bapak, seketika membuat nafsu makanku berkurang.


"Oh iya kan Tuan Muda sudah kembali dari luar negeri," sahut ibu.


"Iya, mulai saat ini, Tuan Muda yang akan memimpin perusahaan," ucap bapak lagi.


"Berarti tadi Tuan Muda lama di persawahan, Pak?" tanya ibu lagi.


"Iya sejak pagi sampai siang. Pak Diman sopir beliau dan pak Jono yang menemani berkeliling persawahan," jawab bapak.


"Pak Jono?" sergah ibu.


"Iya, kan pak Jono salah satu pemilik lahan pertanian di desa ini," sahut bapak.


"Kalau pak Jono menemani tuan muda, lalu bagaimana dengan teman pak Jono yang dari kota itu?" Ibu setengah berpikir.


Mendengar perkataan ibu, sontak aku tersedak. Kuteguk air putih untuk mengembalikan alur nafasku yang tertahan. Juga sebagai penutup makan malamku.


"Darla duluan ya, Bu, Pak. Mau ke kamar mengerjakan tugas," ucapku sembari berdiri dan pergi dengan tergesa.


Di dalam kamar, kupandangi kemeja dan celana panjang pria yang sengaja kugantung agar tak kusut. Besok pagi aku akan mampir ke rumah Tuan Besar sebelum ke sekolah untuk mengembalikannya. Lebih cepat lebih baik agar hukuman dari tuan muda itu segera berakhir.


Beruntung tadi makanan di piringku sudah habis sehingga ada alasan untuk segera beranjak dari meja makan. Bila tidak, bisa saja ibu dan bapak mengetahui bila siang tadi aku bolos sekolah. Dan juga mengetahui insiden tuan muda yang jatuh ke sawah.


Bagaimanapun juga, kenakalanku di sekolah tak boleh diketahui oleh mereka. Selain dapat menyakiti hati mereka, juga bisa menggagalkan niatku untuk meraih mimpi. Bila bapak dan ibu sampai mengira bahwa aku tak serius bersekolah, jangankan untuk kuliah, melanjutkan ke SMA saja mungkin akan terancam gagal.


***