DARLA

DARLA
Kepergian Menik



Criiittt ... Pintu terbuka.


Bunyi ketukan langkah kaki dari dalam ruangan itu membuat kami berpaling perlahan. Saat ini Bu Bidan masih memeluk tubuhku. Melihat sosok yang keluar dari ruang ICU itu isak tangisnya berhenti. Ia menghapus air mata lalu bergegas menghampiri wanita yang adalah dokter spesialis kandungan itu.


"Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan pasien?" tanya Bu Bidan.


Dokter itu menghela napas sesaat lalu menghembuskannya ringan.


"Maaf," sorot matanya nanar, "pendarahannya terlalu hebat, janinnya tidak bisa diselamatkan. Pasien mengalami abortus spontan," lanjutnya.


Aku menahan napas. Mendengar ucapan dokter itu membuat jantungku seakan berhenti memompa darah. Otakku seakan membeku.


"La- lalu ... bagaimana dengan ibunya?" tanya Bu Bidan lagi.


"Apakah suaminya ada di sini?" tanya dokter itu.


Bu Bidan menggeleng, "Tidak ada, gadis itulah yang awalnya menolongnya membawa ke rumah saya dalam kondisi yang seperti itu," jawab Bu Bidan.


"Apakah kalian tahu bagaimana itu bisa terjadi padanya?" tanya dokter itu lagi.


Bu Bidan kembali menggeleng. "Apakah pasien masih dapat diselamatkan, Dok?" tanyanya kemudian.


Dokter itu kembali menghembuskan napas. "Pasien kritis. Sampai sekarang stok darah masih belum tersedia, pendonor pun belum ada. Saat ini, kita hanya bisa pasrah pada kehendak Yang Kuasa. Untuk itu ... kami perlu bertemu dengan keluarganya, terutama suaminya. Ada hal penting yang harus kami sampaikan terkait hasil pemeriksaan. Ini ... bisa terkait kasus hukum yang mungkin terjadi."


"Suaminya lah yang melakukan penganiayaan itu." Aku melangkah mendekat pada mereka.


Dokter itu tercengang menatapku. Air muka kaget pun terpancar dari wajah Bu Bidan.


"Menik terus saja mengalami penganiayaan sejak hari pernikahannya. Ia tersiksa lahir dan batin. Seno ... laki-laki bedebah itulah pelakunya!" Aku melanjutkan kata.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Bu Bidan.


"Menik mengatakannya padaku sebelum dia pingsan," jawabku.


"KDRT?" Bu Bidan berucap lirih.


Aku mengangguk lemah.


"Bagaimana bisa? Mereka tinggal di rumah pak Kades," Bu Bidan kembali bertanya.


"Karena itu, mereka sekeluarga harus bertanggung jawab," gumamku.


"Dok ... Dok! Gawat, Dok!" Seorang perawat keluar menghampiri dokter yang masih berdiri di depan pintu.


"Kenapa?" tanya sang dokter.


"Ritme denyut jantung pasien melemah," ucap perawat.


Dokter segera berlari masuk ke dalam ruangan. Pintu kembali ditutup. Aku dan Bu Bidan hanya bisa mengintip dari celah kaca di pintu itu.


Mataku terpaku pada layar monitor yang menayangkan denyut jantung Menik. Garis-garis itu terlihat menurun. Dokter sedang berupaya melakukan pacu jantung.


Tapi ... Menik tak bereaksi. Hingga layar monitor itu hanya berbunyi dalam satu irama kini. Garis naik turun sudah tak lagi terlihat. Hanya garis lurus yang tertera di sana.


"Tidaaakkkk!" Aku memekik.


Bola mataku membesar. Napasku memburu. Tubuhku kembali bergetar, bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.


Dokter itu telah berhenti melakukan tindakan penyelamatan. Alat pemacu jantung sudah diletakkan. Kepalanya menggeleng mengikuti raut keputusasaan di wajahnya.


Bu Bidan kembali memelukku erat. Dia telah mengartikan apa yang terjadi kini.


"Bersabarlah ... ini sudah kehendak Ilahi," bisiknya padaku.


Pintu ruang ICU itu dibuka. Seorang perawat mempersilakan kami masuk. Bu Bidan melepaskan pelukannya, membiarkan aku melangkah.


"Maaf ... dia sudah tiada. Kami sudah berusaha melakukan upaya maksimal." Bu Dokter berucap lirih menyambut diriku yang kini sudah berdiri di sisi tempat Menik terbaring.


Aku hanya bergeming, menatap wajah Menik. Sampai beberapa detik kemudian kuangkat tangan mengusap wajahnya yang pucat pasi. Dingin.


'Anggap saja ... ini permintaanku yang terakhir ....' Aku menutup mata saat kata-kata Menik di hari ulang tahunku terlintas.


Suara isak tangis Bu Bidan terdengar di telingaku. Tapi sama seperti tadi ... tak kubiarkan setetes pun air mata jatuh.


Ini belum selesai. Aku tak boleh menangis dulu. Menik memang sudah pergi untuk selamanya, tapi keadilan untuknya harus tetap ditegakkan.


"Bu Bidan ... tolong ... uruslah semua hal di sini yang berhubungan dengan pemulangan Menik ke desa. Dan saya ... akan mengurus hal yang lain."


Selepas berucap aku langsung membalikkan badan, berlalu keluar ruangan tanpa menunggu persetujuan dari Bu Bidan. Beliau hanya menatap kepergianku dengan binar mata penuh tanya.


***