
Ujian nasional akhirnya tiba. Aku sudah cukup belajar dengan sungguh-sungguh. Rasanya nilai akhirku takkan mengecewakan. Dukungan dan semangat dari Menik dan Dayu menjadi energi tersendiri yang membuatku yakin akan lulus dengan nilai yang baik.
Sebulan sudah ujian nasional itu berakhir. Perjuangan kami selama tiga tahun ini akan diumumkan hari ini. Apakah kami akan dinyatakan tamat dari sekolah menengah pertama ini ataukah harus mengulang setahun lagi.
Aku, Menik dan Dayu saling berpegangan tangan saat menghampiri papan pengumuman itu. Menik yang terlebih dahulu menemukan nomor pesertanya sebagai murid yang dinyatakan lulus. Aku dan Dayu pun memeluk Menik sembari berlompat kegirangan.
Sejurus kemudian kami kembali menelusuri papan pengumuman itu. Dayu pun akhirnya menemukan nomor pesertanya. Kembali lagi selebrasi seperti tadi kami lakukan.
Kini tinggal nomor pesertaku yang belum ketemu. Jari kami bertiga masih tekun menempel di baris-baris daftar nomor itu. Sudah beberapa menit kami menelusurinya, tapi tak jua tampak yang sedang dicari.
Aku mulai putus asa. Wajahku mulai memucat, tangan pun terasa dingin. Apakah aku tak lulus seperti Menik dan Dayu?
Rasanya sudah tak sanggup mencari lagi, tanganku sudah melemas. Namun, sebuah jari tiba-tiba muncul dan menunjuk sebuah nomor. Mataku pun menurut ke arah telunjuk itu dan perlahan mengeja nomor yang tertera di sana.
"Astaga! Itu dia, itu nomor pesertaku! Saya lulus ... saya lulus!" Aku berseru sambil berlompat kegirangan.
Hingga tanpa sadar berbalik dan memeluk sosok di belakangku yang telah menunjukkan tempat nomor pesertaku berada tadi.
"Terima kasih ya ... terima kasih," ucapku sembari terus memeluknya pinggangnya erat.
"La! Darla ...." Terdengar suara Menik dan Dayu memanggil-manggil namaku dari arah belakang.
Oh Tuhan, bila mereka berada di belakangku. Lalu ... siapakah yang sedang kupeluk kini? Dengan segera kulepaskan pelukan itu dan mundur beberapa langkah.
"P- Pak Yudha? M- ma- maaf, Pak ...." ucapku perlahan.
Pria itu hanya tersenyum lalu berkata, "Selamat ya ... kalian bertiga lulus."
"Terima kasih, Pak," sahutku yang disertai anggukan kepala Menik dan Dayu.
Setelah itu, Pak Yudha pun berlalu meninggalkan kami.
"La ... tadi kamu memeluk pak Yudha," desis Dayu.
"Saya kan tidak tahu bila orang yang menunjukkan nomorku itu pak Yudha, Yu. Saya kira salah seorang dari kalian," gumamku.
"Tapi ... rasanya bagaimana, La?" tanya Menik.
"Maksudnya rasa apa, Nik?" Aku balik bertanya dengan bingung.
"Ya rasanya memeluk pria," gumam Menik.
"Ih ... apaan sih, Nik." Aku menggerutu.
"He-he-he ... he-he-he." Menik terkekeh.
"Pak Yudha kan jodohnya Dayu, Nik," ucapku kemudian.
"Apaan?" Dayu protes.
"He-he-he ... sudah-sudah ayo kita pergi. Kita harus pulang untuk memberi tahu kepada orang tua kita kalau kita lulus kan," ujarku seraya mengapit lengan kedua sahabatku itu.
***
Bapak dan ibu sudah datang dan menempati tempat duduk mereka. Begitupun bapak dan ibu Dayu. Tapi ... aku masih belum melihat bapak ataupun ibu Menik.
Aku pun segera mencari Menik di antara teman-teman lainnya yang sedang berkumpul di belakang aula. Kami memang akan tampil menyanyikan lagu perpisahan, sehingga diharuskan berkumpul si situ.
"Yu ... Menik mana?" tanyaku saat melihat Dayu sedang mengobrol dengan seorang teman.
"Saya belum ketemu dia, La," jawab Dayu.
"Mestinya Menik sudah datang, Yu. Sebentar lagi kan acara dimulai. Menik adalah orang yang selalu tepat waktu. Tapi ... tadi saya mencari di tempat duduk orang tua, bapak dan ibu Menik juga tidak tampak," ujarku.
"Bapak Menik sepertinya masih sakit, La," sahut Dayu.
"Tapi ... ibunya kan bisa datang. Dan yang pasti, Menik harus hadir hari ini," balasku.
"Entahlah, La," gumam Dayu.
Aku dan Dayu terus menunggu Menik. Mata kami tak henti mencarinya sampai acara akhirnya dimulai.
Sudah terdengar suara pembawa acara membuka acara. Saat pengucapan salam dan penghormatan, kudengar nama tuan besar disebut sebagai tamu kehormatan. Dalam sambutan-sambutan pun tuan besar tampil untuk memberikan sepatah katanya. Setelah itu seluruh kelas tiga yang telah lulus pun dipanggil untuk tampil menyanyikan lagu-lagu perpisahan.
Aku memang tak berada di barisan depan. Namun dari tempatku berpijak, tamu yang hadir dapat terpantau dengan jelas olehku. Terlebih para tamu yang duduk di kursi depan.
Dan ... wajah tuan muda tertangkap olehku. Astaga! Rupanya dia pun menghadiri acara ini. Mungkin saja untuk mendampingi ayahnya. Padahal aku berharap untuk tak bertemu dengannya lagi. Tapi ... belum tentu juga dia melihatku di sini.
Setelah selesai tampil, kami pun diperkenankan untuk duduk bergabung dengan para tamu lainnya. Aku dan Dayu memilih duduk di bangku belakang sembari mengawasi pintu masuk. Berharap Menik datang walaupun terlambat.
Hingga akhirnya tibalah acara pengumuman lulusan terbaik. Dan ... nama Menik disebut sebagai pemilik nilai tertinggi. Aku dan Dayu sontak memekik gembira dan saling berpelukan. Namun ... kami tak dapat memeluk sang peraih kemenangan karena hingga kini dia belum juga ada di sini.
Pembawa acara mempersilakan Menik maju ke depan untuk menerima hadiah dan memberikan sambutannya. Namun karena tak jua naik, panggilan kembali diulang hingga dua kali.
"La ... bagaimana kalau kamu saja yang naik untuk menggantikan Menik. Nanti kamu tinggal sampaikan saja bila Menik berhalangan hadir hari ini," bisik Dayu padaku.
"Baiklah, Yu," ucapku sembari berdiri.
Langkah kakiku menapak menuju panggung. Semua orang sontak menatap ke arahku. Terlebih teman-teman yang bertanya-tanya mengapa aku yang naik ke sana.
Sesampai panggung aku berdiri tepat di depan tiang mikrofon dan mulai berbicara.
"Saya ... Darla Prisha, mewakili Menik Rahayu yang telah diumumkan sebagai lulusan terbaik tadi, karena saat ini teman saya, Menik berhalangan untuk hadir dalam acara perpisahan ini. Dan ... mewakili dirinya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru yang selama tiga tahun ini dengan penuh kesabaran telah mendidik kami. Tak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang selalu mendukung kami dalam segala hal sehingga bisa menamatkan jenjang ini."
Aku berhenti sejenak, menghela napas dan memandangi wajah orang-orang yang tengah terpaku menatapku.
Beberapa detik kemudian aku kembali melanjutkan, "Dan ... terakhir, saya akan menyampaikan pesan Menik yang selalu disampaikan kepada saya yaitu agar kita selalu fokus dalam belajar demi meraih cita-cita. Saya sendiri ... memiliki cita-cita untuk meraih gelar sarjana. Cita-cita yang jarang dimiliki oleh orang desa, terlebih kaum wanita. Di sini ... atas nama Menik, saya mengajak teman-teman semua untuk tidak patah arang mengejar mimpi. Kemiskinan tak boleh menjadi penghalang. Bila mau berusaha, akan selalu ada jalan yang ditunjukkan oleh Yang Kuasa."
Setelah itu aku pun mengakhiri sambutan dengan mengucapkan salam. Dan ... tak kusangka bila semua orang menyambut akhir kata-kataku dengan tepuk tangan, termasuk kepala sekolah, para guru dan tamu-tamu kehormatan.
Saat menuruni panggung, mataku beradu pandang dengan pak Yudha. Seperti biasa, dia meberiku senyuman. Dan saat kulempar pandangan ke arah yang lain, entah mengapa mataku harus mendarat pada tuan muda itu.
Namun ... berbeda dengan pak Yudha yang memberi senyum terbaiknya, kali ini yang kuterima adalah tatapan mata elang yang seperti hendak mencengkeramku. Dengan segera kualihkan pandangan dan mempercepat langkah kembali ke tempat duduk.
***