DARLA

DARLA
Pingsan



Kentongan panjang akhirnya berbunyi. Pertanda waktu jam pelajaran berakhir untuk hari ini. Begitupun dengan hukuman kami.


Dayu dan Menik segera berlari menghampiriku.


"La, kamu tidak apa-apa kan?" tanya mereka.


"Tidak lah! Darla yang kuat ini mana mungkin kenapa-kenapa hanya karena berjemur," jawabku.


Tapi ... oh tidak! Mengapa wajah Menik dan Dayu seperti berputar-putar dan ... memburam.


"La ... Darla ...." Sayup-sayup masih kudengar pekikan mereka.


Juga sosok seorang pria yang berlari ke arah kami saat tubuhku terhuyung, ambruk ke tanah.


---


"La ... Darla ... kamu sudah sadar, La?" Suara-suara yang kukenali itu menggema di telinga.


Aroma minyak kayu putih yang menyengat telah mengantar perintah dari otakku untuk membuka mata.


Perlahan wajah Menik dan Dayu tertangkap oleh indera penglihatanku. Sesaat kemudian kuitari isi ruangan ini. Kotak P3K yang tergantung di salah satu sisi dinding menandakan bahwa saat ini aku sedang berada di ruang UKS.


"Berikan dia minuman ini," sahut seseorang yang muncul dari luar.


Pak Yudha datang dengan sebotol air mineral di tangannya. Dayu yang menerimanya kini menyerahkan padaku. Seteguk air sudah meluncur ke lambungku. Lumayan menyegarkan dan menambah kesadaran.


"Terima kasih, Pak," tuturku pada Pak Yudha.


"Sama-sama," ujarnya sembari tersenyum.


"Dan ... terima kasih juga untuk yang tadi," ucapku lagi.


Pak Yudha kembali tersenyum lalu berkata, "Berhentilah berbuat kenakalan."


Aku hanya mengangguk.


"Kalau kamu merasa belum kuat untuk pulang dengan sepeda, biar kuantar pakai sepeda motor," ucap Pak Yudha lagi.


Aku menggeleng, "Tidak perlu, Pak. Terima kasih sekali lagi. Biar saya pulang naik sepeda saja bersama mereka."


"Nik, Yu, ayo kita pulang," ujarku pada Menik dan Dayu yang dijawab dengan anggukan.


Sesaat kemudian aku sudah turun dari ranjang UKS. Diiringi kedua kawanku, berlalu menuju tempat sepeda kami terparkir. Meninggalkan Pak Yudha yang masih berada di ruangan itu.


"Pak Yudha kayaknya memang perhatian sama kamu deh, La. Rasanya tadi saya mau pingsan saat melihat dia mengelap keringatmu," ujar Dayu saat kami tengah menggiring sepeda keluar dari halaman sekolah.


"Ya mau pingsan lah melihat keromantisan seorang pria," sahut Dayu.


"Oh ... kamu suka cowok yang romantis to, Yu?" dengung Menik lagi.


"Cewek mana sih yang tidak ingin diberi perhatian dan kasih sayang oleh cowok romantis, Nik? Kamu juga pasti mau kan?" celetuk Dayu.


"Ya sudah, kalau begitu saya doakan dengan segenap hati, jiwa dan raga supaya kamu berjodoh dengan Pak Yudha, Yu," sahutku menimpali dengan semangat.


"Mana mungkin, La ... yang disukai oleh Pak Yudha kan kamu," guman Dayu.


"Memangnya Pak Yudha sudah pernah bilang kalau dia suka sama saya? Itu kan cuma perkiraan kalian berdua. Yang jelas, Pak Yudha itu cocoknya ya sama Dayu. Coba ... dari nama mereka sudah jodoh, Yudha dan Dayu. Nama mereka mirip kan? Cuma tinggal dibalik saja ejaannya," ucapku menggebu-gebu.


"Dari perhatian Pak Yudha ke kamu, sudah ketahuan kali, La, dia sukanya ke siapa," sahut Dayu.


"Kalau soal perhatian, yang menggendong Darla waktu pingsan tadi juga bisa dibilang perhatian kan? Buktinya dia rela lari menghampiri Darla waktu dia mau ambruk." Menik berargumen.


"Hah?! Memangnya siapa yang menggendong saya?" tanyaku.


"Tuan Muda, La. Tapi setelah membawamu ke ruang UKS dia langsung pergi, padahal kamu kan belum mengucapkan terima kasih padanya," balas Menik.


"Apa? Om-om itu menggendongku? Berarti ... dia menyentuh tubuhku? Ih ... kok kalian tega sih? Kenapa membiarkannya ...." Aku tak melanjutkan kata, hanya menyilangkan kedua tangan di dada.


"Ya ampun, La, tidak mungkin lah kami menghalangi orang yang mau menolongmu. Bahkan seharusnya malah mengucapkan terima kasih," ucap Menik.


"Apa?! Terima kasih? Saya pingsan juga gara-gara dia kan? Dan ... uh! Saya masih harus mencuci pakaian kotornya lagi. Dia itu benar-benar orang jahat. Hanya karena di desa ini keluarganya punya kuasa, dia merasa bisa semena-mena. Dasar pria angkuh! Saya benar-benar membencinya!" Aku menggerutu.


"Astaga, La! Kok malah membencinya sih? Hati-hati lho, benci bisa berubah jadi cinta," ucap Menik lagi.


"Iya lho, La. Dan ... nama kalian juga mirip kan?" timpal Dayu.


"Benci jadi cinta itu tidak ada dalam kamus hidupku. Pokoknya saya benci Tuan Muda itu. Titik! Memangnya namanya siapa sampai bisa mirip dengan namaku?"


"Namanya ... hmm kalau tidak salah Tuan Pras," gumam Dayu.


"Pras sama Darla itu miripnya di mana?" tanyaku dengan suara setengah melengking.


"Miripnya di nama panjangnya, La. Waktu pembagian sembako dari Tuan besar baru-baru ini dalam rangka syukuran kelulusan S2 Tuan Muda. Di dalamnya ada kertas bertuliskan nama Tuan Muda, yaitu Pras Dylano Anggoro. Nah, Darla Prisha berinisial DP dan Pras Dylano berinisial PD, mirip kan? Tinggal dibalik saja," terang Dayu penuh semangat.


Aku hanya memanyunkan bibir mendengar penjelasannya. Usaha untuk membalas ucapanku tentang kemiripan namanya dengan Pak Yudha memang luar biasa.


***