DARLA

DARLA
Pak Yudha atau Tuan Muda?



Teng ... teng ... teng ....


Kentongan penanda apel pagi sudah berbunyi. Setelah memarkir sepeda, aku, Menik dan Dayu segera berlari, bergabung dalam barisan.


Kepala sekolah sedang menyampaikan amanat. Pesan-pesan untuk kami murid kelas tiga yang sebentar lagi ujian.


"Dari mana kalian tahu kalau pria tadi Tuan Muda?" bisikku pada Dayu dan Menik.


"Pak Diman tadi sopir keluarga Tuan Besar," jawab Dayu.


"Iya, La. Pak Diman kan yang kadang membagikan sembako atas nama Tuan Besar ke warga," timpal Menik.


"Biasa yang mengambil sembako kan Ibu, jadi mana kenal saya dengan Pak Diman. Lagian kalian kan tahu, saya ini orangnya pelupa," gumamku sambil menggaruk-garuk kepala.


"Ngakunya cita-cita setinggi langit, tapi pelupa. Jangan-jangan nanti bisa lupa sama suami sendiri juga," celoteh Dayu.


"Ih ... jangan bilang begitu dong. Saya kan belum mau nikah. Darla Prisha harus jadi sarjana dulu!" seruku sambil melipat kedua tangan.


"Ehm!" Terdengar suara orang berdehem di belakang kami.


Spontan kami bertiga menoleh.


"Sudah datangnya hampir terlambat, sekarang malah pada asik mengobrol di belakang."


Rupanya Pak Yudha, guru olahraga yang menegur kami.


Kami pun serentak kembali menghadap ke depan dan berhenti berbicara.


Namun anehnya, Pak Yudha tak juga beranjak dari posisinya, berdiri di belakangku. Bahkan sampai apel pagi ini selesai.


Aku segera mengapit lengan Menik dan Dayu, mengajak mereka segera beranjak menuju kelas.


"Kenapa sih, Pak Yudha itu selalu saja berdiri di belakang kita kalo lagi apel?" gerutuku setelah menghempaskan pantat di bangku.


"Bukan di belakang kita, tapi di belakangmu, La. Ha-ha-ha ...." Dayu meledekku.


"Enak saja!"


"Iya, La. Pak Yudha kan kayaknya memang sudah lama naksir sama kamu." Menik membumbui.


"Apaan sih?!"


Pak Yudha memang masih bujangan. Umurnya sekitar dua puluh tujuh tahun. Wajahnya pun lumayan.


Sebenarnya banyak siswi yang suka menggodanya. Maklum, masa SMP kan masa gadis remaja sedang pubertas.


Namun entah mengapa Menik dan Dayu bisa mengambil kesimpulan bila Pak Yudha naksir padaku.


"Coba saja perhatikan kalau lagi pelajaran olahraga. Pak Yudha pasti sering menengok ke arahmu, La," ujar Dayu.


"Iya, La. Tapi ... kalau seandainya Pak Yudha ajak kamu nikah setelah kita lulus, kamu mau tidak?" tanya Menik.


"Ya, tidak mau lah! Memangnya saya gila apa? Menikah muda? Sama om-om pula?" Aku menggerutu.


"Om-om? Pak Yudha masih muda kali, La. Abang lah ...." sahut Menik.


"Tuan Muda ...?"


Aku berhenti sejenak, mengingat sosok pria yang kami jumpai tadi.


Seorang pria dewasa berusia sekitar tiga puluh tahun. Tadi adalah pertama kalinya aku melihatnya. Yang kutahu dari cerita yang beredar, selama ini dia bersekolah di kota dan mengambil gelar master di luar negeri.


Ya, segala sesuatu tentang keluarga Tuan Besar memang selalu menjadi topik pembicaraan di desa.


Dan Tuan Muda itu ... memang berparas rupawan. Ditambah lagi semua hal yang melekat di tubuhnya terlihat memukau.


"Ye ... kalau sama Tuan Muda, kamu mau kan?" tanya Dayu mengagetkanku.


"Ya ampun, Yu. Itu sih sama saja, om-om juga. Umurku baru mau enam belas tahun, Yu, masih kecil. Sedangkan dia kan sudah tamat S2," cecarku.


"Aduh, La ... mendingan mana coba, cowok dewasa yang tampan, kaya raya, bersih, wangi dan terawat dibandingkan dengan cowok berondong tapi ngenes kayak si Dodik itu?" tanya Dayu sambil sedikit menunjuk pada Dodik, teman sekelas yang barusan lewat di depan kami.


Glek! Aku menelan liur. Geli melihat Dodik yang sepertinya hari ini tak mandi lagi.


Spontan aku menggeleng-gelengkan kepala.


"Ha-ha-ha ...." Dayu dan Menik terkekeh.


"Aduh, sudah deh! Jangan berhayal pagi-pagi. Berhayal di dalam mimpi pun, menjadi istri Tuan Muda itu adalah hal yang tak mungkin," ujarku.


"Ceilah, La, mumpung berhayal masih gratis ya tak apalah," sahut Dayu.


"Iya, La. Mana tahu pas kita lagi ngobrol begini malaikat lewat dan mengamini," celetuk Menik.


"Malaikat juga tahu kali, mana yang masuk akal, mana yang tidak," timpalku.


"Ah kamu ini, La, kusumpahin nikah sama pengemis baru tahu rasa deh," gerutu Menik.


"Ih ... kok jahat begitu sih sumpahnya?" protesku.


"Habisnya ... sama Pak Yudha tidak mau, sama Tuan Muda enggan," balas Menik.


"Sudah ah ... lagian sudah berkali-kali saya bilang kan, setamat SMP mau lanjut SMA. Setelah lulus SMA pun akan lanjut kuliah. Kita bertiga akan jadi sarjana."


Menik dan Dayu tiba-tiba terdiam. Pancaran mata mereka membiaskan aura kesedihan.


"Yu, Nik ...." Aku menggenggam masing-masing satu tangan mereka.


"Saya mungkin tak akan lanjut SMA, La," gumam Menik.


"Kenapa, Nik?" tanyaku.


"SMA kan cuma ada di kecamatan. Tak bisa ditempuh dengan sepeda. Saya tidak ada biaya untuk ke sekolah dengan angkutan umum setiap hari. Bapak sudah sakit-sakitan, dan Ibu hanya jualan sayur. Tiga adikku masih kecil ...."


Aku segera memeluk tubuh Menik. Menenangkannya. Karena kutahu, sesaat lagi air matanya akan tumpah.


***