DARLA

DARLA
Diantar Pulang



Aku sudah berada si boncengan Endaru dengan posisi miring. Sepeda motornya melaju dengan kecepatan standar. Tangan kiriku berpegang kuat di behel belakang jok motor. Tentu saja aku memilih melakukan itu karena enggan berpegang pada pinggang Endaru.


Aku tak mau Endaru berpikir gadis yang sedang diboncengnya ini centil. Setidaknya agar tak begitu menampakkan bila aku menyukainya. Jadi kalau rasa tak berbalas, tak perlu menanggung malu. Cukup menyimpannya sendiri sebagai salah satu kenangan tentang hati.


Perjalanan kami sudah memasuki batas Desa Suraloka. Jalan-jalan dusun masih tampak sunyi di jam segini. Tentu saja, ini masih jam sekolah. Para pekerja pun masih berada di tempat kerja masing-masing.


Kini sepeda motor Endaru melewati rumah kepala desa. Pandanganku menyorot rumah itu, berharap bisa melihat Menik ada di depan rumah. Namun nihil, rumah itu tampak sunyi.


Akan tetapi ... sebuah suara teriakan tiba-tiba terdengar dari dalam rumah itu disertai dentingan bunyi barang yang berjatuhan ke lantai. Aku menghela napas berat. Perasaan tak karuan berontak dalam benakku. Rasanya sangat ingin turun dan memastikan bila itu bukan suara Menik. Namun, rasa pening di kepala masih saja berputar. Belum lagi rasa tak enak pada Endaru bila harus memintanya untuk menunggu.


Laju sepeda motor Endaru pun telah membawa kami berlalu jauh dari rumah itu dan kini telah memasuki halaman rumahku.


"Terima kasih, Kak ...." ucapku padanya setelah turun dari motor.


"Apa ... saya boleh mampir? Em ... apa boleh saya minta air minum? Saya haus ...." gumam Endaru.


Aku tertegun sejenak. Tak menyangka bila Endaru meminta mampir ke rumahku yang sederhana ini.


"I- iya ... boleh. Mari masuk, Kak," ujarku.


Endaru beranjak turun dari motornya lalu mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah. Sesaat kemudian aku masuk ke dapur dan mendapati ibu berada di situ.


"Lho ... Darla? Jam segini kok sudah pulang?" tanya ibu kaget.


"Tadi Darla pingsan di sekolah, Bu," sahutku.


"Lho kok bisa?" tanyanya lagi.


"Darla nonton permainan bola voli, lalu kena bola, terus pingsan deh," jawabku sembari menuang dua gelas air putih.


"Terus itu airnya kok dua gelas? Apa Dayu yang mengantarmu pulang?" tanya ibu heran.


Anggukan kepala ibu mengiringi langkahku menuju ke ruang tamu. Sesampai di situ segera kuletakkan gelas air di meja.


"Silakan diminum, Kak" ucapku.


Endaru tersenyum lalu meraih gelas itu dan meneguk habis isinya. "Terima kasih, Darla ...."


Suasana hening sejenak. Kebisuan itu membuatku salah tingkah. Tak tau harus berkata apa.


"Saya pulang dulu ya ...." ucap Endaru semenit kemudian.


"I- iya, Kak," sahutku sembari turut berdiri mengiringi Endaru.


Tak lama kemudian ia sudah kembali duduk di jok sepeda motornya. Setelah memakai helm dan menyalakan starter, Endaru kembali menatap ke arahku.


"Istirahatlah," ucapnya.


Aku mengangguk.


Sesaat kemudian Endaru sudah memutar motornya dan menginjak persneling. Namun, sebelum memutar gas ia kembali menoleh padaku.


"Sampai jumpa besok," tuturnya.


Aku kembali mengangguk tanpa kata. Hanya jemariku yang sibuk memilin-milin ujung baju seragam putih yang sudah menjuntai keluar dari rok abu-abuku.


Tatap mataku tak teralih darinya hingga benar-benar menghilang dari pandangan.


***