DARLA

DARLA
Rumah Bidan Desa



Tanganku mulai terasa keram, begitupun kaki. Apalagi tarikan kuat antara laju langkahku dengan jalan yang lengket membuat sandal jepit yang kukenakan putus. Tak ada pilihan selain melepasnya dan melanjutkan perjalanan tanpa alas kaki.


Berbagai goresan di telapak kaki tak menyurutkan langkah untuk terus kupercepat. Pun tanganku yang terasa membeku tak putus asa untuk terus mendorong gerobak Menik. Hawa dingin yang menusuk hingga ke sum-sum tulang takkan merobohkan pertahananku.


Dan kini, rumah bidan desa sudah berada di hadapan. Segera kuketuk pintu rumahnya.


"Bu ... Bu Bidan, buka pintunya. Tolong, Bu, ada pasien!" seruku.


Beberapa saat kemudian pintu dibuka. Bu Bidan keluar dan tampak panik melihatku.


"Ada apa, Neng? Kamu hujan-hujanan ya?" tanyanya.


"Ada pasien, Bu," kataku sambil berlalu menuju gerobak.


Segera kuraih tubuh Menik, mencoba mengangkatnya. Melihat hal itu, Bu Bidan segera menghampiri untuk membantu. Kami berdua pun membopong tubuh Menik menuju ruang periksanya dan membaringkannya di atas ranjang.


"Dia pendarahan, Bu. Menik sedang mengandung," ujarku.


"Akan saya periksa," sahutnya.


Bu Bidan membuka rok Menik, dan benar saja darah masih merembes dari pangkal pahanya.


"Astaga! Pendarahannya hebat. Kita harus membawanya ke rumah sakit kabupaten," ucap Bu Bidan dengan mimik serius.


"Ya Tuhan! Bagaimana cara kita membawanya ke rumah sakit, Bu?" tanyaku.


"Menik ini menantu pak Kades kan? Saya akan menelepon beliau supaya datang ke sini dan memakai mobilnya membawa Menik ke rumah sakit."


Bu Bidan berulang kali berusaha menghubungi telepon kepala desa tapi tampaknya tak jua tersambung.


"Teleponnya tidak diangkat, saya beri pertolongan pertama dulu dengan infus lalu kita cari cara untuk membawanya. Saya juga akan mengganti pakaiannya dengan yang kering," ucap Bu Bidan.


"Bu ... tolong berikan pertolongan maksimal. Saya akan berlari ke jalan utama untuk mencari kendaraan," ucapku.


"Apa? Eh ... kalau begitu lebih baik kamu ke rumah Pak Kades saja untuk-"


Aku tak menunggu ucapan Bu Bidan tuntas. Tubuhku sudah memutar dan beranjak keluar rumahnya. Kembali menerobos derasnya hujan. Berlari tanpa alas kaki menembus setiap ruas jalan dusun. Rumah kepala desa sudah kulalui tapi tak sedikitpun pandanganku menoleh ke sana. Beruntung bila yang akan kudapati adalah Pak Kades, tapi bagaimana bila Seno?


Sampai di jalan utama, sembari mengatur deru napas, kucoba menahan angkot yang lewat. Hingga beberapa kali, tak ada yang berhenti karena angkot itu sudah penuh. Ada juga sopir angkot yang tak bersedia masuk ke desa dengan alasan beberapa penumpang yang sudah ada di dalamnya harus segera diantarkan.


Aku tak menyerah, kali ini kuhentikan sebuah mobil bak terbuka. Sengaja kuberdiri di tengah jalan agar pengemudi mobil itu mau menghentikan laju mobilnya.


"Aduh, Neng, apa kamu mau bunuh diri?" hardik si sopir padaku dengan mendongakkan sedikit kepalanya di jendela mobil.


Aku segera berlari menghampiri pintu mobilnya.


"Pak, tolong, teman saya sedang sekarat di rumah bidan desa. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit kabupaten. Tolonglah saya, Pak ...." Aku mengatupkan kedua telapak tangan.


Pengemudi mobil itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Naiklah!"


Aku mengurai senyum lalu segera memutari mobil menuju pintu sebelahnya. Kemudian duduk di samping sang sopir.


***