
"La ... Lihat ini! Tadi Nanik adik Menik mengantarkan buku ini ke rumahku," ujar Dayu saat menjemputku pagi ini sembari menunjukkan sebuah buku.
"Ini kan buku yang kita berikan padanya untuk hadiah pernikahannya, Yu," sahutku sembari meraih buku itu.
"Iya benar, La. Saya sudah melihat sekilas dan sudah banyak yang ditulisi oleh Menik. Tapi ... semua berupa puisi, dan saya tidak mengerti maksud tulisannya. Nanik cuma bilang kalau Menik memintanya menyerahkan buku ini pada kita," tutur Dayu.
"Tapi ... mengapa Menik tak menyerahkan langsung pada kiya, Yu?" tanyaku sembari membuka-buka isi buku itu.
Dan benar kata Dayu, isinya memang berupa puisi. Aku menyempatkan membaca satu halaman puisi itu.
Gerimis mengantar senja
Berbaris rapi menabur asa
Namun siapa sangka menjadi pertanda
Akan hadirnya petaka
Tubuh kecil beringsut
Nyaris penuh keriput
Luka karena pecut
Sampai berbau kecut
Aku segera menutup buku itu. Entah mengapa setiap kata yang teruntai dalam puisi itu menimbulkan perih di hatiku. Namun saat ini tak banyak waktu untuk memahami makna ungkapan kata Menik karena kami harus bergegas berangkat ke sekolah. Pun saat melewati rumah mertua Menik, tempat tinggalnya sekarang, pagarnya tampak terkunci rapat dengan gembok besar.
Di sekolah pun aku masih memikirkan Menik. Saat jam istirahat aku dan Dayu kembali membuka buku tadi dan membacanya sembari duduk di sebuah bangku bawah pohon yang ada di halaman sekolah. Sesekali kami saling melontarkan makna yang tersirat di balik puisi Menik.
"Apa Menik sedang sakit, La?" ungkap Dayu.
"Bisa jadi, Yu. Saya merasa Menik menderita, jiwa dan raga. Tapi ... saya juga tak berani mengira-ngira. Yang akan kita hadapi adalah anak kepala desa. Kalau sampai salah menebak, pun bisa juga berhadapan dengan bapaknya," sahutku.
"Benar, La. Bisa-bisa kalau kita salah menuduh, orang tua kita yang kena dampaknya," tandas Dayu.
Kami mengangkat kepala untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Rupanya dia lagi, gadis sombong yang selalu mencari perkara.
"Apa?" sahutku pada Rany yang sedang berkacak pinggang.
Seperti biasa ketiga temannya berada di belakang, melakukan gaya yang sama dengannya.
"Kamu itu jangan kegatelan ya! Kamu sengaja kan merayu dan bujuk Kak Endaru untuk mengantar kamu pulang kemarin? Apa kamu ini tidak punya otak buat mikir sampai-sampai tidak sadar diri? Kamu siapa dan Kak Endaru itu siapa?" bentak Rany lagi.
"Ya ampun ... jadi kamu datang marah-marah hanya karena itu?" balasku.
"Apa?! Kamu kok santai begitu? Ayo bilang, ngapain saja kemarin kamu sama Kak Endaru?" ujar Rany lagi.
Sifat penasaran Rany itu membuatku berpikir untuk semakin memanasinya. Bila aku membalas gertakannya dengan sikap keras maka bisa-bisa perkelahian fisik akan kembali terjadi. Sementara, aku sudah berjanji pada Menik untuk tak lagi berkelahi.
"Kemarin ... saya dan Kak Endaru ... em ...."
"Em apa? Ayo cepat bilang!" seru Rany tak sabar.
"Kami ... melakukan hal yang tidak-tidak ...." kataku dengan wajah polos.
"Apa?! Yang tidak-tidak bagaimana?" tanya Rany lagi.
Aku berdiri sembari menarik tangan Dayu. Mengusap-usap punggung tangannya dengan maksud memberinya kode untuk bersiap-siap. Lirikan mata Dayu menandakan bila ia mengerti maksudku.
"Saya dan Kak Endaru ...." Aku tak melanjutkan kata, hanya memberi kode dengan gerakan kedua tangan yang menyatukan jari-jari dan memperagakannya seperti dua moncong yang bertemu.
Rany terbelalak melihat kode yang kuberikan itu, mulutnya menganga lebar disertai tarikan napas panjang.
Dalam situasi itu aku dan Dayu segera berlari, masuk ke dalam kelas. Dia takkan berani mengikuti karena bel masuk sudah berbunyi. Kelas kami berbeda walaupun bersebelahan.
***