DARLA

DARLA
Terkabulnya Tuntutan



Di dalam kamar mandi, ibu mengguyur tubuhku dengan air hangat. Membersihkan semua darah dan lumpur yang melekat dari kepala hingga kaki. Setelah itu ditutupnya luka-luka yang kuderita dengan perban seadanya.


Kini, aku sudah berada di kamar, bersandar pada kepala dipan dengan tatapan mata hampa. Kelu akibat kepergian Menik seolah membuat otakku tak dapat lagi mengelola perintah dengan baik. Seluruh inderaku seakan tak berfungsi.


Sesendok makanan disodorkan ibu ke mulutku. Namun rasanya bibir ini tak mampu membuka padahal hari sudah malam, perutku seharusnya sudah terisi. Apalagi seharian tadi aku sudah berjibaku dengan pergumulan tenaga dan emosi yang menguras energi.


Air mata ibu jatuh setelah beberapa kali berusaha untuk menyuapi tapi aku hanya bergeming. Saat itulah aku tersentak. Kuusap air matanya lalu perlahan membuka mulut, membiarkan makanan yang disuapkannya masuk ke dalam rongga yang beralas indera pengecapku ini.


Suara ketukan pintu terdengar di depan rumah. Bapak yang membuka pintu. Tak lama kemudian ia masuk ke dalam kamarku.


"Bu ... Pak Dokter ini datang untuk memeriksa Darla," ucap bapak.


Di belakangnya sosok dokter itu perlahan masuk ke dalam kamar. Ibu menyambutnya dan mempersilakannya duduk di kursi yang ditempatinya tadi.


"Tuan Besar yang meminta saya untuk datang ke sini dan memeriksamu, Nona. Permisi ... akan saya periksa luka-lukanya," ujar dokter itu padaku.


Dokter itu mendekatkan tangannya ke dahiku, membuka perbannya lalu mulai memeriksa luka yang ada di situ. Setelah itu dia beralih ke luka-luka yang ada di tangan dan telapak kakiku. Membersihkan semua luka itu dengan alkohol, kemudian kembali menutupnya dengan perban yang lebih baik.


"Tekanan darahmu agak rendah, beristirahatlah dan makan minum yang cukup," ucapnya lagi setelah memeriksa diriku dengan stetoskopnya.


Tak lama kemudian dia mengeluarkan beberapa jenis pil dari dalam tasnya.


"Ini adalah beberapa obat, ada antibiotik dan vitamin serta penurun panas kalau sampai Nona ini terkena demam," ucapnya pada ibu sembari menyerahkan obat-obatan itu.


"Terima kasih, Pak Dokter," ucap ibu pada dokter yang sebaya dengan ibu dan bapak itu.


"Mengapa Tuan Besar mengirim Anda kemari, Pak Dokter?" tanyaku pada dokter itu.


"Tentu saja untuk memastikan kondisi kesehatanmu, Nona," jawabnya.


"Malam-malam begini, dan ... Anda datang jauh-jauh dari kota hanya untuk memeriksa saya?" sanggahku.


"Saya sudah menjadi dokter keluarga Tuan Anggoro sejak lama. Jadi melayaninya sudah menjadi bagian dari tugas saya," jawabnya.


"Tapi saya bukanlah bagian dari keluarga itu," sahutku.


"Mungkin ... Tuan Besar peduli padamu, Nona. Ya ... memang benar, selama ini, saya hanya melayani pengobatan keluarga beliau saja, dan baru kali ini saya ditugaskan untuk mengobati seseorang yang bukan bagian dari keluarga beliau." Dokter itu berucap sembari mengemasi peralatan medisnya.


Sesaat kemudian ia berdiri dan berpamitan pergi. Ibu dan bapak pun telah masuk ke dalam kamar tidur mereka untuk beristirahat.


Aku kembali mengingat ucapan dokter itu. Bila memang Tuan Besar peduli padaku, semestinya bukan hal ini yang kuinginkan. Tetapi terpenuhinya tuntutan yang telah kuajukan.


***


Pagi ini jenazah Menik dimakamkan. Ibu dan bapak akan turut serta mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Sementara aku, masih duduk meringkuk di tempat tidur. Menatap kosong tanpa arah.


"Apakah kamu tak ingin ikut mengantarnya, Nak?" tanya ibu sembari mengelus kepalaku.


"Ibu pergilah duluan. Saya akan ke sana saat semua orang sudah pulang," jawabku datar.


Tanpa mengucap kata lagi, ibu berlalu dari kamarku. Tak lama kemudian kudengar suara langkah mereka keluar rumah dan decitan pintu yang tertutup. Ibu dan bapak telah pergi.


Setelah hampir dua jam sejak kepergian mereka, aku memutuskan untuk menyusul. Saat ini, acara pemakaman pasti telah usai. Aku bergegas mengganti pakaian. Sebuah kaos lengan panjang dan rok lebar berwarna hitam kukenakan. Tak lupa selendang berwarna senada kusematkan di atas kepala, melingkari leher dengan ujungnya menjuntai di belakang bahu.


Dengan berjalan kaki, aku menuju ke tempat pemakaman umum yang ada di desa ini. Di sepanjang jalan terlihat orang-orang sudah keluar dari area makam.


"Darla!" Kudengar suara teriakan ibu memanggil namaku.


Dari arah depan, bapak dan ibu mempercepat langkah menghampiriku.


"Kamu sudah di sini, Nak," tanya ibu setibanya di hadapanku.


Aku hanya mengangguk.


"Masuklah, di sana masih ada Dayu," lanjut ibu.


Aku kembali mengangguk. Setelahnya ibu dan bapak kembali berjalan pergi. Demikianlah pula dengan diriku, melangkah maju memasuki area barisan makam.


Beberapa orang yang berpapasan denganku menyapa dan mengungkapkan kata-kata penenang padaku.


"Yang sabar."


"Yang ikhlas."


"Doakan saja."


"Percayalah, dia sudah tenang di sana."


Hanya anggukan dan tatapan nanar yang kuberikan sebagai jawaban pada mereka. Sementara langkahku perlahan masih menapaki jalan itu.


Hingga beberapa langkah kemudian, aku berpapasan dengan dua sosok pria. Mataku berpaut tajam dengan salah satu dari mereka. Pria yang lebih tua. Tuan Besar.


Langkah kami sama-sama terhenti. Terpaku di pijakan masing-masing dengan sorot mata yang saling mencengkeram. Namun, tak lama kemudian binar mata pria baya itu tampak menyendu. Tatapan kemarahan dalam sorot matanya seakan berubah menjadi pancaran sinar perlindungan. Penuh kasih padaku.


"Darla ...." Suara Tuan Anggoro bergetar.


"Ya, Tuan ...." jawabku.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya perlahan.


"Seperti yang Anda lihat, Tuan. Fisik saya baik-baik saja," jawabku lantang, lalu menarik sehela napas. "Tapi tidak dengan hati saya," tuntasku dengan suara yang lebih pelan.


"Semalam aku mengirim seorang dokter untuk memeriksa kesehatanmu," ujarnya lagi.


"Bukan dokter yang saya butuhkan, Tuan ...."


"Banyak luka di tubuhmu, kamu pun berhujan-hujanan, itu pasti-"


"Luka dan deman bisa disembuhkan dengan obat, Tuan. Tapi luka hati saya terlalu dalam. Saya sudah menyebutkan tuntutan saya kepada Anda. Yang bila terpenuhi, akan menjadi obat luka hati saya." Aku menyela ucapan Tuan Anggoro.


"Pak Sugeng sudah menyerahkan surat pengunduran diri sebagai kepala desa. Seno sudah diamankan pihak kepolisian untuk ditindak secara hukum. Dan aku telah mengirim surat ke kantor desa agar setiap warga yang akan menikah harus diteliti usia dan kesediannya. Akan kupastikan bila tidak akan ada lagi pernikahan anak di bawah umur dengan paksaan di desa ini. Bila ada anak dan wanita yang tidak dilindungi dengan baik, saya sendiri lah yang akan turun tangan." Tuan Anggoro menatapku lekat. Seakan meyakinkan bila ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Mendengar perkataan itu, kaca-kaca di mataku mengembun. Tuan Besar telah mengabulkan tuntutanku.


"Terima kasih, Tuan. Anda sudah mengirim dokter untuk menyembuhkan luka di tubuh saya. Dan ... Anda pun telah menyembuhkan luka hati saya kini ...."


Sesaat setelah mengatakan itu, aku berbalik. Sekilas masih sempat kulihat putra tuan besar yang berdiri di sampingnya seperti mengulurkan tangan padaku.


"Tunggu!"


Benar saja, tuan muda itu memintaku berhenti. Aku kembali membalikkan badan ke arah mereka. Namun, kali ini dengan menjatuhkan pandangan pada si Tuan Muda.


"Ada apa lagi, Tuan?" tanyaku padanya.


"Kamu sudah mendengar bahwa ayahku mengabulkan tuntutanmu. Aku harap, setelah ini kamu akan fokus pada masa depanmu."


Aku sedikit menyimpul senyum, lalu berkata padanya, "Tentu saja, Tuan ... tapi saya tidak melakukannya karena perkataan Anda, tetapi karena Menik, mendiang sahabat saya sudah terlebih dahulu memintanya."


Kulihat ekspresi wajah tuan muda itu berubah. Wajahnya yang tampan memucat. Mungkin karena jawaban yang kuberikan tak sesuai harapan, atau mungkin justru menyakitkan baginya. Namun aku tak peduli. Segera kubalikkan badanku, kembali berjalan menuju makam Menik.


***


"Darla?" Dayu yang tadi berjongkok dengan cepat berdiri dan memelukku. Kulihat mata gadis itu sembab. Pipinya basah. Pun suara sesenggukan masih terdengar saat tubuh kami berpaut.


Perlahan rengkuhan kami melonggar. Dan kini kujatuhkan tubuhku bersimpuh di tanah. Kuusap nisan kayu yang bertuliskan nama Menik Rahayu. Tak lama kemudian kedua tanganku sudah bertumpu di tanah. Aku mencengkeram erat tanah itu, lalu mendongakkan kepala ke atas.


"Aggrrrggghhh!!!" Aku memekik keras.


Dayu segera memegang pundakku, berusaha menenangkan diriku.


"La ... Darla ...."


Sesaat kemudian kepalaku menunduk. Seiring dengan bulir-bulir bening yang tercurah keluar. Mengalir deras bagai arus yang menjebol bendungannya. Sebab memang, selama ini tak kubiarkan air mata ini jatuh.


Namun saat ini, tuntutan keadilan yang kupinta untuk Menik sudah dikabulkan. Mulai saat ini tidak akan ada lagi Menik yang lainnya.


Saking derasnya, kurasakan seluruh wajahku basah karena air mata. Tubuhku pun berguncang. Dayu yang tadi berniat menenangkan, kini turut bersimpuh di sampingku dan melakukan hal yang sama. Menangis sejadinya.


***


Kejadian ini memang menjadi titik awal dalam revolusi hidupku. Tak ada lagi Darla yang badung. Yang ada hanyalah Darla yang fokus meraih impiannya. Tak ada lagi Darla yang selalu dihukum karena berbuat kenakalan. Yang ada hanyalah Darla yang selalu disebut namanya saat pengumuman siswa berprestasi.


Namaku Darla Prisha. Itulah salah satu perjuangan hidupku.


***