
Alamak! Licik sekali dia! Oh Tuhan ... betapa bodohnya aku mengapa menawarkan hukuman tambahan untuk diriku sendiri.
Ucapan tadi tak mungkin bisa kutarik kembali. Sekarang hanya bisa menuruti titahnya saja. Menanti hukuman utama yang akan dijatuhkan.
Kami bertiga pun mengayuh sepeda, menuju sekolah. Tuan Muda yang duduk di jok belakang terus saja mengawasi kami di balik kaca mobilnya. Itu yang kudapatkan saat mencoba melirik ke arahnya.
Tatapan tajam mata elangnya seketika meruntuhkan kekuatanku untuk melawan. Tak ada pilihan selain menerima hukuman darinya.
***
"Kalian ini sudah kelas tiga, sebentar lagi ujian, malah masih bolos!"
Dan berbagai omelan lainnya pun harus kami dengarkan dari Pak Budiman sembari berdiri di ruang kerjanya kini. Ruang kepala sekolah.
Sementara Tuan Muda, setelah menyerahkan kami sebagai tahanan, kini duduk santai di sofa yang ada di ruangan ini.
"Sekarang kalian berdiri dan menghormat bendera di lapangan sampai bel pulang sekolah berbunyi!" Sang Kepala Sekolah menjatuhkan vonisnya.
Sesaat kutengok ke arah lapangan. Terik matahari sangat menyengat. Berjemur di bawahnya pastilah sangat menyiksa.
"Pak ... ide untuk bolos adalah dari saya. Saya lah yang mengajak Menik dan Dayu untuk melakukannya. Karena itu, biarlah saya saya yang dihukum. Mereka tidak usah," ucapku perlahan.
"Tapi ... bagaimanapun mereka juga ikut bolos," sahut Pak Budiman.
"Kalau begitu, biarlah mereka berdiri di bawah rerindangan pohon, dan saya saja yang berdiri di tengah lapangan," ucapku lagi.
"Tidak bisa begitu! Kalian sama-sama berbuat ya harus diberi hukuman yang sama," balas Pak Budiman.
Pak Budiman terdiam sejenak. Tampak bila sedang berpikir. Sejurus kemudian beliau mengalihkan pandangan ke arah Tuan Muda.
Kulirik ke arah Tuan Muda itu. Anggukan kecil diberikannya pada Pak Budiman.
Anggukan yang menyetujui pembagian atas penjatuhan hukuman kami bertiga.
Aku sudah berdiri di tengah lapangan dengan gerakan tangan menghormat bendera. Pandanganku lurus ke depan, menatap Pak Budiman dan Tuan Muda yang berdiri mengamati.
Jauh di belakangku, Menik dan Dayu juga melakukan hal yang sama. Bedanya, mereka berada di bawah naungan pepohonan yang menghalau terik matahari.
Sudah setengah jam kami menjalani hukuman. Terik mentari sudah membakar lemakku. Peluh pun mencair, menggenangi dahi dan pelipis. Mengalir hingga ke pipi.
Namun aku tak bisa bergerak untuk mengelapnya. Tanganku harus tetap menghormat. Dua orang di depan ruang kepala sekolah itu masih mengawasi.
Hingga kurasakan seseorang datang. Berdiri di depanku. Menyapu keringatku dengan sapu tangannya.
"Berhentilah berbuat kenakalan," ucapnya lembut.
Setelah memastikan keringatku telah tersapu bersih, dia pun berlalu. Meninggalkanku untuk kembali melanjutkan hukuman. Dan aku hanya bisa menatap kepergiannya tanpa sempat mengucapkan terima kasih.
Sementara di depan sana, kulihat Tuan Muda yang tadi berdiri dengan bersedekap, kini tengah menatap ke arahku dengan meluruskan kedua tangannya ke bawah. Dahinya berkerut, entah sedang memikirkan apa.
***