DARLA

DARLA
Si Badung



"Huaammm ...." Aku menguap menahan kantuk.


Entah mengapa, setiap jam pelajaran ekonomi, rasa kantuk senantiasa menjalar di mataku.


"La ... fokus dong," ujar Menik di samping kiriku.


"Sudah tahu kan, saya tidak suka pelajaran itu, apalagi kalau sudah hitung-hitungan keuangan. Lha, duitnya tak ada, otak kita malah begah," sahutku.


"Katanya ingin kerja di perusahaan besar? Ilmu ekonomi ini yang akan dipakai, La," celetuk Dayu di samping kananku.


"Iya ... iya!" gerutuku.


Namun, bagaimanapun berusaha fokus, rasa bosan ini tak juga lenyap.


"Nik, Yu, kita bolos yuk." Kulontarkan ide yang seketika membuat Menik dan Dayu melotot.


"La, kita sudah kelas tiga lho. Sebentar lagi ujian. Kita harus fokus belajar sekarang. Kalau tidak, bisa-bisa kita tidak lulus. Apa kamu masih mau mengulang setahun lagi?" desis Menik.


"Nik, kamu kan pintar, selalu juara satu. Kamu pasti bakal lulus deh. Nanti pas ujian, saya kan bisa nyontek sama kamu," ujarku.


"Ya ampun, Darla! Ini ujian nasional, La!" Dayu memekik.


"Uhh ... iya saya tahu. Justru karena sebentar lagi kita lulus, kapan lagi bisa berbuat kenakalan? Ayolah ... janji deh ini terakhir kali kita bolos!" rayuku sambil mengangkat dua jari.


Menik dan Dayu saling berpandangan. Tak lama kemudian mereka mulai memasukkan buku dan alat tulis mereka ke dalam tas.


Yesss! Aku berhasil membujuk mereka.


Selanjutnya tinggal melancarkan aksi, berjalan mengendap-endap keluar ruangan. Pak Sunoto, guru ekonomi yang sudah cukup berumur itu pasti takkan menyadari.


Buktinya, ia masih menulis di papan tulis saat kami sudah berada di luar kelas. Pun teman sekelas yang lain hanya akan diam, tak berani mengadukanku.


Mereka tak mau mencari masalah karena keusilanku sudah terkenal di sekolah ini. Yang mencari perkara denganku pasti akan merasakannya.


"Ha-ha-ha ... ha-ha-ha ...."


Riuh suara tawa diterpa desiran angin yang bertabrakan dengan arah kayuhan sepeda kami. Tawa kemenangan karena berhasil kabur dari sekolah.


Dan kini, sawah adalah tujuan kami.


Setelah memarkir sepeda dan menyimpan tas, kami segera berlari melalui pematang sawah. Mengejar dan menangkap belalang. Sesekali saling melempar tawa, seakan tiada beban.


Tiba-tiba, lumpur sawah yang bergerak-gerak menarik keingintahuanku. Segera ku berjongkok untuk mengamatinya lebih seksama.


Wow! Ada belut di situ.


"Menik ...! Dayu ...! Ayo ke sini!" Aku memekik memanggil kedua temanku.


"Ada apa di situ, La?" tanya Menik dengan nafas tersengal akibat berlari.


"Belut, Nik. Ayo kita tangkap! Lumayan buat lauk," seruku girang.


"Tapi nanti seragam kita kotor, La," sahut Dayu.


"Ya sudah, biar saya saja yang turun. Kalian cari wadah saja sana ke gubuk itu," ucapku seraya menunjuk ke sebuah rumah sawah.


Menik dan Dayu mengangguk lalu bergegas menuju ke tempat yang kutunjuk tadi.


Aduh! Belutnya kabur. Kedua tanganku pun sudah berbalur lumpur.


Tapi ... bukan Darla namanya bila menyerah begitu saja! Kembali kulancarkan aksi.


Kali ini dengan kuda-kuda mantap, aku siap menerjang.


Hup!


Sial! Lompatanku membuat lumpur yang kudarati bercipratan di wajahku. Dan ... niat hati hendak membersihkannya dengan tangan, malah semakin membuat wajahku belepotan lumpur.


Entah seperti apa penampakanku kini. Yang pasti perjuangan belum berhenti bila yang diinginkan belum tercapai.


Lumpur yang meliuk-liuk itu kembali kususuri.


Dan ... hup!!!


Yeeee, dapat! Kupegang erat kepala belut itu sambil berlompat kegirangan.


Di saat bersamaan kudengar langkah kaki beberapa orang dari arah belakang. Itu pasti Menik dan Dayu, batinku.


Aha, ide menjahili mereka pun terlintas.


Dengan cepat aku melompat, berbalik arah dan melemparkan belut itu ke arah orang yang datang.


"Apa ini? Eh ...! Wuuuaaaaaa!!!"


Suara pria menjerit.


Bruk! Dia terjatuh ke sawah.


Astaga! Aku salah sasaran.


Dua orang pria tampak sedang berusaha menolong pria yang kulempari belut tadi untuk berdiri.


Ya ampun, seluruh pakaiannya sudah berbalur lumpur, begitupun wajahnya.


Kasihan sekali!


"Aduh, Neng. Kamu ini kenapa jam segini bermain di sawah? Pakai seragam sekolah lagi. Coba lihat, perbuatanmu sampai mencelakakan Tuan." Salah satu pria itu menghardikku.


Aku mengenalinya. Dia adalah Pak Jono, salah satu pemilik lahan pertanian di desa ini.


Seorang lagi masih berdiri bersisian dengan pria yang tercebur tadi. Dan ... sepertinya aku baru bertemu dengannya tadi pagi.


"La ... Darla, ini ketemu wadahnya." Menik dan Dayu berlari ke tempatku sembari menggendong sebuah bakul.


"Astaga, La? Kamu kok belepotan lumpur begitu?" Menik berkata dengan ekspresi kaget begitu melihatku.


"Astaga ... kok bisa jadi begitu, Pak?" Dayu turut histeris sambil menunjuk ke arah pria yang tercebur tadi.


"Tuh, gara-gara teman kalian melempar belut ke arah kami yang pas lewat. Tuan jadi kaget dan jatuh ke sawah," ujar Pak Jono.


"Tuan?!" Menik dan Dayu memekik bersamaan.


***