
Hawa dingin selepas hujan deras tadi masih terasa, tapi tak bisa menyejukkan hatiku yang sedang panas. Terbakar rasa marah dan benci.
Aku membenci diriku yang sudah gagal mendeteksi keadaan Menik lebih cepat. Aku marah pada diriku yang tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya.
Tapi ... aku lebih marah dan benci pada mereka yang menyebabkan dan membiarkan hal ini terjadi.
Langkahku pasti, menapaki setiap ruas jalan Desa Suraloka. Desa yang indah bagai nirwana. Layaknya tempat para malaikat bercengkrama. Karena itu, agar tetap menjadi surga bagi para penghuninya, iblis harus disingkirkan.
Sebilah parang yang tersemat di dinding bambu dapur rumah kutarik. Parang milik bapak yang setiap hari diasahnya. Hingga bisa dipastikan, matanya tajam dan mengkilap. Beruntung pemiliknya belum kembali sehingga aku bisa meminjamnya.
Aku kembali berjalan. Masih dengan pakaian yang kukenakan tadi. Tampak lusuh dan compang-camping setelah basah dan kering di badan. Juga masih tanpa alas kaki.
Namun, kali ini dengan sebilah parang di tangan kanan.
Beberapa orang yang lewat dan menengok ke arahku dengan raut wajah penuh tanya sama sekali tak kuhiraukan.
Rumah kepala desa adalah sasaranku. Persis di depan pagarnya yang tergembok aku berhenti.
"Senooo!!!" Teriakanku menggema.
Setelah memekik keras, deru embusan napasku memburu. Mataku menyorot tajam ke arah pintu rumah itu. Laksana serigala menanti buruan keluar dari sarangnya.
"Astaga! Neng ... kenapa teriak-teriak di depan rumah pak Kades? Itu kenapa bawa-bawa parang begitu?" Seorang wanita baya keluar dari dalam rumah.
"Panggil Seno keluar, Mbok," gumamku padanya.
"Hah, tapi anu ... itu kenapa bawa parang, Neng?" tanyanya lagi.
"Panggil!" teriakku, membuat wanita yang hampir sepuh itu tersentak.
Seorang pria dan wanita tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
"Ada apa, Mbok? Siapa yang teriak-teriak di depan rumah?" tanya pria yang adalah Pak Sugeng, sang kepala desa itu.
"Itu Pak ... Neng itu," sahutnya sembari menunjuk ke arahku.
"Siapa kamu?" teriak Pak Kades dari teras rumahnya.
"Buka gerbangnya, Pak. Dan bawa putra Bapak keluar!" seruku.
Pak Kades melangkah keluar, membuka pintu gerbang.
"Mau apa kamu mencari anak saya?" tanyanya lagi setelah pintu pagar terbuka.
"Menuntut keadilan!"
"Keadilan apa?" tanyanya.
"Bawa saja dulu putra Anda ke sini," gumamku.
"Lancang kamu! Berani kamu sama saya? Saya ini ...."
"Kepala desa?" sergahku memotong ucapannya.
"Heh! Mau apa kamu masuk?" tanyanya dengan mata mendelik saat tubuhku sudah melewatinya.
Aku tak menghiraukan dan terus berjalan. Di depan sana kulihat istri pak Kades dan pembantunya saling berpegangan.
"Heh! Anak kurang ajar!" Pak Kades mencoba menghampiriku.
Aku menoleh padanya. Sementara kepala desa itu akan menghampiriku.
"Anda tidak lihat saya memegang apa?" tanyaku padanya dengan suara lantang.
Alur mata pria paruh baya itu turun ke tanganku dengan parang yang terjuntai ke bawah.
"Kamu jangan main-main dengan benda itu! Katakan saja, apa maumu?" gumamnya.
Aku tak membalas dengan kata, melainkan kembali menoleh dan berjalan masuk. Kali ini langkah kupercepat. Memasuki rumah.
"Senooo! Keluar kamu!" Aku memasuki setiap ruangan di rumah itu.
Beberapa kamar sudah kudobrak tapi tak jua menemukannya.
Sampai akhirnya aku tiba di sebuah kamar yang terkunci. Saat hendak mendobraknya, suara dari belakang membuat upayaku terhenti.
"Tunggu! Lebih baik kita bicara baik-baik. Kamu masih muda, perbuatanmu yang seperti ini malah akan menimbulkan masalah untukmu dan keluargamu. Katakanlah apa yang telah dilakukan Seno padamu? Kalau kamu butuh pertanggungjawaban, saya jamin kamu akan mendapatkannya."
Aku menoleh ke samping, menyadari suara itu adalah milik pak Sugeng. Sepertinya dia memang tahu betul kelakuan anaknya. Sampai mengira aku adalah salah satu korbannya.
Tanpa bersuara kuangkat tinggi-tinggi kedua tangan sembari menggenggam erat parang tajam itu. Kemudian dengan cepat menghujamkannya ke bagian gagang pintu. Selanjutnya dengan sekali tendangan, pintu itu terbuka.
Aku masih mendengar pekikan kaget dari beberapa orang di belakangku saat kudapati pria yang sedang kucari berdiri di hadapanku kini. Seno berada di dalam kamar itu.
Matanya terbelalak. Aku yakin bila dia menyadari perbuatan yang baru saja dilakukannya pada Menik. Aku yakin saat ini dia memang sedang bersembunyi. Dan juga tengah disembunyikan oleh orang tuanya.
Tapi mereka tak pernah menyangka bila yang akan datang untuk menuntut pertanggungjawaban atas perbuatannya adalah diriku.
"Ma- mau apa kamu? Sa- saya tidak ada urusan dengan kamu." Seno terlihat pucat melihat parang tajam berkilap di tanganku.
"Membunuhmu!" Dengan cepat kulayangkan parangku ke arahnya.
Namun pria itu berhasil menangkis dengan sebuah kursi dan mendorongnya ke arahku. Tubuhku terhuyung, kepala membentur sudut lemari. Darah mengucur dari dahiku.
"Lari, Nak. Lari ...." pekikan orang-orang dari luar kamar kembali terdengar.
Benar saja, Seno menurut perintah itu. Dia berlari keluar rumah.
Aku kembali berdiri. Pak Kades yang awalnya berniat menghalangi kembali urung dan mundur melihat parang tajam yang kuhuyungkan ke depannya.
"Hati-hati, Pak. Gadis itu orang gila, Pak. Cepat telepon petugas keamanan desa. Dia harus cepat ditangkap, kalau tidak Seno bisa bahaya. Aduh Gusti ... kenapa bisa ada orang gila berkeliaran di desa ini." Masih kudengar suara Bu Sugeng disertai rintihan dan isak kekalutannya saat langkah kaki sudah kupercepat keluar dari rumah itu.
Mengejar Seno.
***