
“Dasar manusia es menyebalkan. Sejak ada dia aku jadi tidak tenang seperti ini, kepalaku pusing.”
Belum sempat aku menyelesaikan segala unek-unek mengenai manusia es suara ponsel menggambil alih atensiku. Sejak aku memutuskan akan membantu UKM Pers dan bertemu Dzrilla aku jadi berpikir untuk tidak lagi menghidupkan mode diam agar lebih mudah mengetahui jika ada orang yang menghubungiku. Ketika sedang dikampus, tempat kursus, malam hari dan saat ada pekerjaan saja aku mematikannya.
“Siapa sih?” Aku menatap tanpa ekspresi pada layar ponsel. Ternyata hanya pesan dari Axis yang memberitahukan bahwa status kartu sedang masa tengang.
“Iya nanti aku isi.” Kataku bicara pada ponsel ditangan.
Aku berencana menghidupkan mode diam sebab ingin mengerjakan tugas kuliah. Mataku terpaku pada layar ponsel kesekian kalinya saat melihat nama manusia es tertera disana. Aku sengaja memberikan nama itu pada nomor ponsel orang menyebalkan itu.
“Halo.” Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar suara husky. Aku tidak tahu mengapa jadi seperti ini tapi ada rasa aneh saat mendengar suara yang menganggu pikiranku akhir-akhir ini.
“Halo.
“Maaf menganggumu sore menjelang malam seperti ini Dela.”
“Tentu tidak masalah.”
Aku menjauhkan ponsel sebentar dan meringis pelan kemudian kembali mendekatkannya pada telinga. Aku menunggu manusia es bicara namun tidak ada satu suara pun yang terdengar. Hal itu membuatku jadi melihat apakah penggilannya masih tersambung atau tidak.
“Kenapa kamu menghubungimu?” Tanyaku akhirnya.
“Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu.”
“Tentang?”
Bukannya jawaban yang ku dapatkan melainkan sebuah deheman samar. Didengar dari suara itu ku rasa manusia es sedang bimbang ingin mengatakan sesuatu atau tidak. Kali ini aku memutuskan untuk tetap menunggu.
“Dzrilla, dia datang ke Indonesia. Aku tidak tahu bagaimana caraku menceritakannya padamu tapi..., ku harap kamu mengerti bahwa dia datang ke Indonesia bukan untuk mencariku melainkan karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarga besar dan belajar mengurus perusahaan keluarganya.”
Aku terdiam mendengar perkataan manusia es. Apakah mereka masih berhubungan hingga dia mengetahui alasan Dzrilla datang kemari?
“Kenapa kamu tidak menceritakannya pada Mama saat datang ke rumah?” Tanyaku ingin mengetes kepribadian si manusia es. Aku penasaran bagaimana ia akan menjawab pertanyaanku barusan.
“Aku tidak mungkin mengatakan hal itu pada Mamamu Dela. Beliau pasti akan berpikiran yang macam-macam.”
“Apa kamu takut jika orang tuaku berpikiran negatif tentangmu?”
Satu point untukku. Ku rasa diseberang sana manusia es sudah kesal setengah mati mendengar perkataanku.
“Maaf Dela. Aku hanya ingin masalah ini dibicarakan antara kamu dan aku saja. Bukankah kita yang menjalani hubungan ini? Jika waktu dan keadaannya tepat aku pasti akan membicarakan masalah Dzrilla pada kedua orangtuamu.
"Maaf juga jika aku menelepon malah membicarakan hal seperti ini padamu. Aku mau kita menjalin hubungan yang transparan dan dewasa agar tidak terjadi kesalahanpahaman.”
Deg. Sekarang malah aku yang terdiam dengan wajah masam. Perkataan manusia es benar-benar membuatku terasa seperti terkena serangan sendiri.
“Maaf jika aku lancang tuan Cloriea, tapi apakah kalian masih berhubungan hingga Anda mengatahui alasan dibalik kedatangan Dzrilla ke Indonesia?”
“Tidak. Dzrilla pernah mengatakan padaku bahwa ia ingin pindah ke Indonesia. Aku hanya tidak tahu kapan ia akan melakukannya. Aku juga kaget kalau hal itu ternyata datang secepat ini, yang ku tahu ia sudah sampai di Indonesia saat melihat statusnya.”
“Berarti kalian masih berhubungan tuan Cloriea.”
“Apa calon istriku cemburu dan ingin aku menghapus nomor telepon mantan pacarku?”
Saat mendengar perkataan manusia es ingin sekali rasanya aku menenggelamkan tubuhnya ke dasar lautan. Akibat perkataan tersebut tidak bisa dipungkiri wajahku jadi memerah seperti kepiting rebus.
“Hentikan gurauanmu itu. Kamu sama sekali tidak cocok mengatakannya.” Lagi-lagi dia tertawa renyah yang membuatku merasa kalah dua kali lipat.
“Kamu ingin aku belikan apa setelah pulang dari Bali?”
Pikiranku langsung riang mendengar perkataan manusia es. Apa dia baru saja mengatakan ingin membelikanku oleh-oleh?
It’s oke. Aku memang senang dengan tawarannya sebab apalagi yang bisa ku harapkan dari seorang manusia beku dan pendiam seperti dia. Meski begitu menurutku manusia es masih sangat jauh dari kata swag. Dia tidak keren melainkan menyebalkan. Aku sendiri berencana untuk tidak ingin ‘kalah’ pada manusia sepertinya.
“Niatku tulus calon istriku. Kamu tenang saja aku dan Dzrilla sekarang hanya teman.”
“Ya! Berhenti bicara begitu.” Darahku kembali naik sementara wajahku memanas. Aku tidak pernah menyangka jika manusia es bisa bicara seperti itu juga.
“Maaf, lalu apa yang kamu inginkan?”
“Hiasan kamar yang terbuat dari kayu. Belikan seluruh jenisnya minimal 50 buah.”
“Apa kamu ingin menghias banyak kamar? Kalau hanya ditaruh dikamarmu kau akan kesulitan bergerak.”
“Sudah belikan saja.”
“Oke.
“Em..., maaf Dela aku harus memutuskan pembicaraan kita. Apa masih ada yang ingin kamu katakan?”
Dasar manusia es pembuat kesal. Perkataannya membuatku ingin sekali mengeluarkan segala macam ocehan. Otakku sudah panas karenanya.
“Tidak.” Kataku singkat.
“Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu. Sampai jumpa.”
Aku melihat layar ponsel dengan tatapan datar. Ternyata begini rasanya LDR dan berhubungan dengan orang sibuk.
“Huh..., oke, ku rasa aku harus mengerjakan tugas.
“Manusia es, jika kamu sibuk aku juga tidak kalah sibuk.”
Aku mengerjakan tugas kuliah. Apapun yang terjadi tugas tetaplah tugas bagiku. Lagipula terlalu banyak pikiran akan menganggu proses kinerja otakku. Aku, sangat jarang stres.
☼☼☼☼☼
Deri Cloriea
“Hiasan kamar 50 buah? Ku rasa dia sedang kesal.”
Aku tersenyum memikirkan permintaan Dela. Dia sangat berbeda dengan Dzrilla. Sejak dulu sifatku memang sudah seperti ini hanya saja waktu aku berhubungan dengan Dzrilla kegiatanku belum sepadat ini. Pikiranku hanya berpusat pada pendidikan saja.
Tahun ini merupakan tahun pertamaku menjabat sebagai CEO disalah satu perusahaan Ayah. Aku masih harus menyesuaikan diri pada perubahan tersebut. Aku masih sangat ingat saat beliau mengatakan akan menyerahkan posisi CEO padaku, seketika itu juga niatku yang ingin melanjutkan pendidikan S-2 harus ku tunda. Aku langsung mengatakan pada Ayah bahwa ingin melanjutkan S-2 tahun depan dan beliau setuju.
Aku memutuskan memeriksa laporan keuntungan bulan ini setelahnya bersiap-siap pergi meeting pemegang saham perusahaan.
“Pak salah satu pemegang saham terbesar kita bernama nona Clarissa Mahendra. Dia adalah putri sulung keluarga Mahendra. Selain berprofesi sebagai pebisnis beliau juga aktif menjadi narasumber kegiatan seminar, talkshow, workshop dan kegiatan yang lain.”
Aku serius mendengarkan perkataan sekretarisku ini. Dia memang selalu memberitahukan informasi apapun sebab ini adalah tahun pertamaku sebagai CEO.
“Dan satu lagi Pak, beliau terkenal sangat ramah dan suka bercanda.”
“Baiklah, terima kasih.”
Ketika aku sampai diruang rapat seluruh pemegang saham sudah datang. Aku membuka rapat seperti biasa. Suasana rapat kali ini juga mengalir tanpa ada perubahan berarti. Sejak berusia 19 tahun Ayah mengajakku ikut dalam rapat penting perusahaan, itulah sebabnya aku tidak terlalu kaget dengan suasana rapat.
“Selamat malam Pak.”
°°°°°°°°°°