Classical Love

Classical Love
Pikiranku



"Astaga. Dasar bodoh.”


Sudah kesekian kalinya aku merutuki diri sendiri.


Hiery yang kaget karena ucapanku langsung memegang dada.


“Kamu kenapa Dela?” Aku melihat kearah bola mata Hiery.


Aku sudah tidak peduli lagi tentang pikiran untuk menyembunyikan perjodohan tersebut. Sekarang aku butuh seseorang untuk ditanyai pendapat.


“Apa!?”


Aku langsung menutup mulut Hiery dan tersenyum canggung pada teman-teman yang sebelumnya sibuk dengan urusan masing-masing.


“Maaf.” Kata Hiery tersenyum tak nyaman. Sepersekian detik setelahnya dia kembali bicara.


“Siapa namanya?”


“Nama siapa?”


“Aish..., orang yang dijodohkan denganmu itu.”


“Oh..., Deri Cloriea.” Hiery langsung menutup mulutnya.


“Astaga Dela, dia adalah sepupu jauhku.”


“Tidak mungkin. Masa si manusia es itu sepupu jauhmu.”


“Aku serius.


“Dan apa, manusia es?”


“Maksudku Deri.” Kataku dengan tersenyum setengah dipaksakan.


Semenjak perjodohan itu mulutku sering berkata jahat. Tapi memang benar. Dia cocok disebut sebagai manusia es.


“Aku tidak pernah menyangka kalau kamu dan kak Deri berteman semasa kecil.”


Kekehan Hiery terdengar.


“Wait, setahuku kak Deri sudah punya pacar.” Hiery kembali menutup mulutnya seperti seseorang yang baru saja menceritakan sebuah rahasia besar.


“Aku sudah tahu. Nama pacarnya itu Dzrilla kan.”


“Lho, kenapa kamu bisa tahu? Apa kak Deri yang mengatakannya.”


Aku mengangguk.


“Aku tidak pernah menyangka kalau manusia es itu ternyata sudah punya pacar. Ku pikir orang seperti dia tidak mungkin bisa memiliki seseorang yang seperti itu.”


“Kak Deri adalah orang yang baik. Kamu beruntung dijodohkan dengannya. Ada banyak orang yang menyukai kak Deri tapi dia hanya berpacaran dengan Dzrilla saja.”


“Apanya yang baik? Orang baik tidak akan memeluk seenaknya.”


“Maksudnya, kak Deri memelukmu?”


“Ah..., tidak-tidak.”


Aku terlihat salah tingkah.


“Dzrilla seumuran dengan kita. Dia keturunan blasteran percampuran antara Indonesia dan Amerika.”


Aku memperhatikan setiap detail perkataan Hiery.


“Sekarang dia ada dimana?” Tanyaku.


“Tentu saja di Amerika. Akhir-akhir ini aku sudah jarang berkomunikasi dengan mereka.


“Dan ya, kenapa kak Deri bisa dijodohkan denganmu? Dia kan sudah punya pacar.” Hiery kelihatan sangat penasaran.


“Dia memutuskannya. Aku tidak terlalu yakin kalau dia adalah orang yang baik.”


Aku memproutkan bibir kesal.


“Karena kalian dijodohkan ya, mereka jadi putus?”


Aku langsung menatap aneh Hiery. Mungkin karena terlalu polos anak ini sampai tidak sadar telah ‘menyalahkanku’.


Dan lagi, memangnya orang yang bernama Dzrilla itu sangat perfect hingga wajah Hiery sebegitu kecewa bak melihat sepasang kekasih yang terpaksa berpisah sebab diusik oleh orang ketiga, si tokoh antagonis dalam sebuah drama.


“Karena perjodohannya ya, bukan aku.”


Aku mengalihkan pandangan.


“Ah..., Dela sensitif sekali. Aku tidak menyalahkanmu lho, aku hanya kecewa saja saat mengetahui kak Deri dan Dzrilla putus.”


Senyuman manis Hiery menggambil alih atensiku. Senyuman indah itu selalu menghangatkan hati orang lain yang melihatnya, tak terkeculi denganku.


“Memangnya Dzrilla sangat cocok dengan si manusia es, atau mungkin Dzrilla adalah orang yang perfect?”


Senyum manis Hiery terlihat lagi.


“Aku kasihan melihat Dzrilla. Kalau dia perfect kenapa bisa berpacaran dengan manusia es?”


“Dela..., kak Deri tidak sedingin yang kamu pikirkan. Dia orangnya ramah, perhatian dan merupakan pribadi hangat.”


Hiery menunjukkan tatapan meyakinkan. Sayangnya tatapan tersebut malah membuatku berpikir kalau Deri memiliki kepribadian yang sering berubah-ubah.


“Kamu tahu. Dia bersikap cuek, dingin, dan membosankan terhadapku. Belum lagi cara bicaranya yang super irit.


“Ku rasa dia mempunyai kepribadian ganda.”


“Kak Deri bersikap begitu. Pantas saja kamu menyebutnya manusia es.”


Aku menganggukkan kepala membenarkan sekaligus senang dengan perkataan Hiery.


“Tapi..., mungkin saja kak Deri bersikap begitu sebab masih menyukai Dzrilla.”


“Terserah dia ingin menyukai siapa. Aku pun juga tidak tertarik dengannya. Ku harap perjodohan itu tidak berlanjut. Hanya saja orang tua kami kelihatan sangat menginginkan perjodohan ini. Kalau hal itu sampai terjadi, aku tidak tahu harus melakukan tindakan seperti apa lagi.


“Aku tidak ingin merusak hubungan mereka. Selain itu aku masih ingin menikmati masa mudaku.


"Saat aku mengatakan ingin membantunya mengagalkan perjodohan ini, Deri malah mengatakan bahwa ia ingin berusaha melupakan Dzrilla dan belajar menerimaku.


“Aku rasa pasti terjadi sesuatu diantara mereka hingga dia bicara begitu. Disamping karena kami memang dijodohkan dan berteman semasa kecil.”


“Cara bicaramu seperti sedang menyinggung Dzrilla.” Kata Hiery dengan tatapan polos.


Kalau sudah begini aku terasa seperti seseorang yang sedang mengotori pikiran jernih orang lurus.


“Aku tidak bermaksud begitu, tapi memang itu yang ku pikirkan.” Kataku tersenyum setengah dipaksakan.


“Baiklah. Aku akan membantumu mengawasi hubungan kak Deri dan Dzrilla. Tapi selama waktu itu berjalan, kamu harus berjanji sungguh-sungguh menggunakan waktu dua bulan yang diberikan keluarga kalian untuk saling mengenal lebih dalam.


"Jika kamu tidak merasa cocok dengan kak Deri ataupun aku menemukan hal aneh dalam hubungan percintaan keduanya, aku akan bekerja sama denganmu menggagalkan perjodohan tersebut.”


Benarkah. Apa aku tidak salah dengar?


Hiery mau melibatkan diri dalam masalah ini dan menawarkan bantuan padaku.


Semuanya memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi perkataan tersebut membuatku merasa tak sendirian. Aku yang berpikir begitu saja masih tidak bisa menutupi rasa senang, kaget dan syok berlebihan.


Hiery memang adalah teman yang baik. Tapi ia sangat berhati-hati mencampuri hal yang berhubungan dengan keluarga. Itu merupakan problem yang sangat sensitif.


“Jangan lupa, nanti kita pergi ke perpustakaan.”


Aku tersenyum mendengar ajakan semangat dari seorang Hiery Mairy.


☼☼☼☼


Aku sampai dirumah.


Tangan yang semula memegang erat buku Organ Manusia beserta Penyakitnya mengendur secara perlahan. Mataku menatap kosong pemandangan yang berada didepan. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya.


Perjanjian antara aku dan Hiery menjelma menjadi mantra tersendiri bagi tubuh dan otakku.


Pada akhirnya ku mantapkan hati melangkah memasuki rumah setelah kedua orang yang sedang megobrol tersebut menyadari kedatanganku.


“Sayang kamu sudah pulang.


“Begini Nak, Deri datang kemari untuk mengajakmu jalan-jalan.”


Aku mengangguk patuh seperti robot yang sudah disetel. Senyuman Mama terlihat kemudian mengatakan salam perpisahan padaku dan Deri sebelum benar-benar meninggalkan kami.


Dan ya, seperti yang terdapat dalam drama dan adegan di film-film. Aku melihat Deri sebentar dan berakhir masuk ke kamar untuk mengganti baju.


Tidak ada percakapan yang terjadi selama aku dan Deri menelusuri jalanan kota. Sejak berada dirumah dan dalam mobil pun tidak ada satu patah pun yang keluar dari mulut kami.


Aku merasa seperti ditemani oleh mayat hidup saja. Tidak-tidak. Mungkin kata robot, boneka dan patung lebih cocok untuknya. Bagaimana caraku menghadapinya nanti?


Bosan. Mataku yang asyik melihat pemandangan dari luar kaca mobil nyatanya malah membuat aura canggung dan aneh semakin terasa. Aku harus melakukan sesuatu pada manusia es.


“Em..., apa kamu tidak sibuk. Setahuku CEO itu selalu banyak kerjaan.”


Aku melirik sebentar kearahnya dan kembali mengalihkan pandangan. Sampai saat ini aku masih menjunjung tinggi harga diri dan image.


“Lumayan. Tapi aku bisa mengerjakannya setelah ini.”


Baguslah nada bicaranya sudah terdengar sedikit berubah. Tidak sedingin semalam.


“Ngomong-ngomong kita mau kemana?” Tanyaku lagi.


“Nanti kamu akan tahu.”


Ralat. Nada bicara orang ini memang berubah tapi sifat menyebalkannya masih terasa. Tiba-tiba saja tanganku ingin sekali mengacak-ngacak wajah orang disamping ku ini. Tidak, aku tidak sekejam itu.


°°°°°°°°°