Classical Love

Classical Love
Pameran



Hyerin Delaxa


Aku menatap takjub seluruh lukisan yang berjejer rapi. Acara ini diikuti oleh banyak pelukis terkenal. Wajar saja hasil lukisannya bisa terlihat menakjubkan seperti ini.


setelah acara pesta pernikahan kak Clarissa dan kak Dinar kami pun tak lama setelah itu langsung mempersiapkan diri untuk acara ini.


kak Clarissa adalah orang yang sangat cepat tanggap. untuk itu aku merasa sangat takjub dengan apa yang beliau kerjaan. padahal pengantin baru lho, tapi sekarang sudah main langsung beraktivitas saja.


untuk saat ini mari kita lupakan hal tersebut, kalau sekarang mari kita lihat apa yang terjadi saja.


ku rasa hal itulah yang perlu dilakukan untuk saat ini.


Neron pasti merasa bangga bisa ikut serta pada acara yang didalamnya terdapat pelukis terkenal sekaligus berbakat. Aku yang hanya temannya saja bangga bukan main.


hebat. aku kagum dengan orang-orang yang ikut acara ini.


"Ehem."


Aku mengalihkan pandangan kearah manusia es. Disamping jadwal kantor yang super padat dia masih meluangkan waktu menghadiri--menemaniku ke acara ini.


perhatian dan aku merasa spesial, ku rasa juga sih sesuatu seperti hal itu. tapi entahlah, aku tak terlalu tahu dan mengerti akan hal yang satu ini.


yang penting ya kami datang dan menghadiri acara pameran lukisan Neron. kami memberikan dukungan untuknya.


"Biasa saja memperhatikan lukisannya."


Sebuah senyum jahil muncul di sudut bibir ku.


Manusia es menegurku setelah aku memperhatikan hasil lukisan Neron, padahal dia juga sama takjubnya seperti ku. kelihatan lho, aku pun sesekali juga melihat padanya.


lalu untuk sekarang ya aku pun jadi memikirkan sesuatu.


lihatlah saja apa yang akan ku lakukan.


"Wah..., Neron benar-benar berbakat. Dia belum menjadi pelukis terkenal saja sudah bisa mengikuti acara pameran ini. Ku rasa aku akan menjadi fans beratnya."


Biasanya kamu yang menggodaku manusia es. Sekarang bagaimana jika posisinya dibalik?


hahaha, ku harap kamu terperangkap.


"That's right. I also agree with you Sir."


Aku diabaikan.


Manusia es malah berbicara pada seseorang yang kelihatannya seorang client orang asing. sakit, ada yang sakit dari sudut hati dan pikiranku.


kalau begini apa yang harus ku lakukan?


ya sudah abaikan saja.


"Dela."


aku pun langsung mengalihkan pandangan dan melihat seseorang yang bicara tersebut. orang itu ternyata adalah Neron.


"Hey," kataku ramah.


Tak lupa sebuah senyuman pun segera terlihat pada wajahku.


Kedatangan Neron setidaknya membuat ku tak sepenuhnya diacuhkan.


Bagus sekali Neron. Kamu datang disaat yang tepat. Terima kasih banyak.


daripada jadi penonton pembicaraan manusia es dengan client, akan lebih baik kalau aku bicara dengan Neron saja.


"Wah..., Kamu kelihatan berbeda menggunakan dress ini Dela."


"Terima kasih."


tahu apa yang terjadi, aku dipuji oleh Neron.


Aku tersenyum sumringah. Meskipun Neron tidak menyebut ku cantik tapi setidaknya dia mengatakan sesuatu mengenai penampilan ku. Tidak seperti manusia es yang hanya diam dan tidak melakukan apapun.


"Kamu ingin minum sesuatu? Ayo kita menggambil beberapa. Noonim, Dzrilla dan kak Drie sudah berada di sana."


tidak ada hiery, aku merasa kesepian. tapi sudahlah, hiery pasti sedang sibuk juga. aku sudah memberikan kabar padanya. tapi ya dia tidak bisa datang.


sayang sekali, hiery hanya bisa memberikan semangat dan ucapan selamat dari ponsel.


baiklah, mari kembali terhadap apa yang kami lakukan saja.


"Ayo."


"Tidak mengajakku?"


aku pun sontak melihat pada manusia es, sejak kapan dia berada di sampingku?


perasaan tadi kan sedang sibuk bicara dengan seorang client asing. eh tiba-tiba sudah main datang saja.


"Oh., Kakak juga datang. Ku pikir Dela datang sendirian."


Neron tersenyum ramah. lalu aku menjelma menjadi seorang pengamat sosial. eh bukan maksudnya adalah pengamat keadaan.


aku tak terlalu mengerti tapi memang itulah yang ku lakukan.


"Biasalah, anak ini harus diawasi."


Diawasi?


Itukah alasan manusia es meminta ingin ikut?


Ku harap dia tidak posesif. sebuah sifat yang aku tak suka. siapa yang suka dikekang seperti hewan peliharaan?


aku pun juga bukan anak kecil tahu. tapi..., terserah dengan orang ini sajalah. mau bicara apapun juga aku tak akan terlalu peduli.


apalagi kalau posesifnya berlebihan lagi. kalau begini apa yang harus ku lakukan?


aku bahkan sama sekali tak tahu akan hal yang sedang terjadi ini.


hiks manusia es, tolong jangan posesif ya.


"Selamat siang kak Dinar."


nah kalau ini akhirnya kami pun sudah sampai pada tempat tujuan. baik aku dan Dzrilla kelihatan langsung ingin bicara bersama.


"Siang. Kamu juga datang, Deri?"


"Iya Kak."


"Halo nyonya Audrikza."


Aku mencuri pandang pada manusia es melalui ekor mata. Dia sedang menggoda pengantin baru. Namun bukan itu yang ingin ku lihat. Aku hanya sedang mencari tahu seberapa dekat mereka selama menjadi rekan bisnis dengan melihat interaksi antara keduanya.


Sekarang siapa yang posesif?


Tidak kok, aku hanya penasaran.


pencitraan ya...?


ah tidak tahu.


"Hahaha."


Ketiganya tertawa. Yang ku dengar mereka sedang membicarakan bisnis. Lalu dimana letak lucunya?


yang ada bisnis itu sangat merepotkan.


"Ini."


Tanpa ku sadari Dzrilla memberikan ice cream rasa cokelat untuk ku. Wajahnya tersenyum lebar.


"Deri memang begitu. Dia sangat perfeksionis dan mendahulukan kepentingan bisnis. Ku harap kamu bisa mengertinya."


Aku tersenyum menyambut ice cream pemberian Dzrilla.


"Sekarang ayo kita lihat lukisan."


tak masalah, ku rasa itu lebih baik daripada aku yang hanya melihat interaksi yang terjadi antara manusia es dan kak Clarissa.


oleh karena itu aku dan Dzrilla pun segera menuju tempat pameran lukisan lagi. Daripada tidak melakukan apa-apa--hanya memperhatikan manusia es, lebih baik aku ikut Dzrilla saja.


Baik aku dan Dzrilla sama-sama memegang ice cream.


"Ini kelihatan cantik. Bolehkah aku menggambil fotonya?"


Sebelum masuk aku sempat melihat flag bertuliskan 'Dilarang Menggambil Gambar'. Namun sepertinya keindahan lukisan ini menghilangkan seluruh kesadaran ku.


Tanpa ku sadari aku malah bersikap seperti anak kecil.


Dzrilla tertawa pelan sebelum merespon perkataan ku.


aku ingat akan tetapi malah terpikirkan untuk mengambil gambar.


hiks, apa yang sedang ku katakan ini?


"Nanti kita beli saja lukisannya, Dela."


"Memangnya dijual?" Tanya ku dengan tatapan polos.


"Tentu saja," ujar Naira atau Dzrilla padaku.


wah..., aku sungguh benar-benar sangat bahagia. apa yang terjadi ini sungguh membuatku bahagia.


Mataku langsung berbinar!


"It's amazing, lukisan Neron benar-benar bagus."


Tatapan ku dan Dzrilla spontan beralih ke segerombolan orang yang langsung menyerbu lukisan Neron. Dilihat dari respon mereka sudah pasti gadis-gadis itu fans Neron di kampus.


Mereka stalker ya sampai bisa tahu mengenai pameran lukisan ini?


ku rasa memang itulah yang mereka lakukan. aish..., Neron yang malang kalau memang benar punya Sasaeng fans yang model beginian.


"Aku ingin membelinya."


"Tidak bisa. Aku sudah lebih dulu mendapatkan ini."


Aku berusaha untuk mengabaikan mereka. Namun hatiku memikirkan sesuatu yang lain. Lukisannya bisa rusak kalau diperebutkan seperti itu.


mana satpam, harusnya mereka dihentikan saat ini juga.


pak satpam!!!


petugas keamanan mana sih!?


"Hentikan. Kalian bisa merusak lukisan ini."


orang yang bicara itu bukan aku, melainkan Dzrilla. aku tak terlalu tahu akan apa yang sedang terjadi ini.


semua terasa sangat tak masuk akal. hanya itu saja yang ku tahu mengenai apa yang sedang terjadi saat ini.


mereka adalah orang-orang yang sangat merepotkan!


"Aku sudah lebih dulu mendapatkannya. Berarti ini milikku."


"Tidak bisa. Aku sudah berencana membeli lukisan Neron sejak lama."


Sebenarnya lukisan Neron ada banyak, sekitar sepuluh buah. Akan tetapi jumlah lukisan tersebut tidak sebanding dengan jumlah mereka yang berkisar belasan orang.


Jumlah mereka sampai membuat ku berpikir untuk membentuk sebuah grup cheerleader.


Ini masih belum seberapa. Masih banyak lagi orang-orang penyuka Neron yang lain.


Dengan begitu Neron Wardana, kamu sebenarnya bisa membentuk fanclub.


"Ku bilang hentikan. Tolong jangan buat keributan disini."


Rombongan itu akhirnya menghentikan aksi mereka. Salah satu dari mereka baru ku sadari--orang yang pernah menyerang kami. eeh..., orang-orang ini terlihat seperti orang yang kurang kerjaan.


aku merasa kesal akan sikap mereka. kalau begini mungkin akan segera turun tangan menghadapi mereka. kasihan juga Dzrilla hanya sendirian.


aku harus melakukan sesuatu.


"Bisakah kamu tidak menganggu. Kami bukan anak kecil."


Bukan anak kecil?


Memperebutkan benda atau seseorang pada usia mendekati matang bahkan lebih rendah dari anak kecil.


Haruskah mereka sebegitu gilanya memperebutkan sesuatu yang tidak sepatutnya diperebutkan?


Apakah permainan perasaan membuat mereka kehilangan akal sehat dan logika?


Terlebih lagi dengan cara seperti ini.


benar-benar ironis. gejolak marah dalam diriku pun langsung bicara saat ini juga


tidak bisa aku harus turun tangan.


"Ada apa ini?"


Kami semua pun serempak melihat seorang yang baru saja datang. Sang pelukis.


orang itu adalah Neron. Sekarang lantas akan berakhir seperti apa?


ayo kalian para fans fanatik bakalan kena semprot itu sama Neron. habislah kalian.


*****