Classical Love

Classical Love
Dinar Audrikza



°°°°°°°°°


~Clarissa Mahendra~


Aku menatap pantulan di cermin.


Apa itu memang benar-benar aku?


Seminggu sudah setelah pertemuan dengan Dinar--mantan pacar ku.


Jujur aku masih bingung. Kenapa dia mau menerima ku setelah semua yang ku lakukan. Bahkan tidak hanya dia, keluarganya pun juga mau menerima kehadiran ku.


aku tahu Dinar pasti berusaha keras untuk ini.


benar, ia memang sangat berusaha keras.


Kesampingkan tentang tindakan kriminal yang ku lakukan. Lebih dari itu aku juga menderita gangguan bipolar.


Dinar benar-benar mengurus segalanya. Di persidangan dia berjuang membela ku. Aku tahu dia pasti mengalami banyak kesulitan demi mendapatkan permintaan maaf dari keempat orang yang menjadi korban atas rencana jahat ku.


Terutama Deri dan Neron. kedua orang itu bahkan sama sekali tak mau memaafkan ku. sangat sulit untuk meyakinkan orang seperti mereka.


Deri dan Neron, mereka sangat marah dan mungkin juga dendam terhadap apa yang ku lakukan.


Semua terjadi begitu saja, tahu-tahu aku sudah berada diruang riasan ini. aku bahkan lebih merasa gila dari apapun yang ku pikirkan.


aku benar-benar tidak tahu hanya saja sekarang malah berada disini.


lucu, bukan?


"Apa keluarga Dinar tulus menerima ku?"


Tuk tuk tuk.


tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Aku mengalihkan pandangan kearah benda tersebut. Segera ku hapus air mata menyebalkan ini.


aku menangis, lucu sekali. mungkin gangguan bipolar lah yang menyebabkan ku jadi begini.


"Halo Kak," sapa Dzrilla ramah.


"Halo." jawabku pada seseorang yang memanggil itu.


mereka adalah Dela, hiery dan tentu saja Dzrilla. ketiga orang tersebut memang kelihatan sangat cocok satu sama lain.


sebuah hubungan persahabatan yang membuatku iri.


kenapa aku tak bisa seperti mereka?


"Apa Kakak menangis?" tanya hiery.


dia yang paling bicara. lalu aku entah karena apa malah merasa sangat bodoh dihadapan mereka.


aku merasa sangat rendah.


"Tidak."


singkat padat dan jelas. ku pikir itulah yang harus ku lakukan. apapun itu..., aku tak tahu hanya mengikuti kata hati saja.


seperti apa yang terjadi terjadilah.


"Katakan apa yang Kakak pikiran. Kami bukan cenayang yang bisa membaca pikiran orang."


Aku tersenyum samar mendengar perkataan polos Hiery.


cenayang itu adalah istilah untuk orang yang bisa menebak ataupun membacanya pikiran orang lain.


seperti punya mata batin. begitulah.


Ketiga perempuan itu terlihat cantik dengan pakaian berwarna senada.


aku... aku akan menikah, rasanya sangat tak bisa di percaya.


"Terima kasih karena sudah mau memaafkan ku. Sungguh aku merasa malu dihadapan kalian. Aku benar-benar merasa tak pantas mendapatkan perlakuan baik."


adakah kalimat lain yang biasa ku keluarkan?


buruk dan sangat buruk dari apapun, seperti sedang berada pada sebuah tempat dimana aku adalah seonggok sampah yang tinggal dihancurkan di tempat pembakaran sampah.


"Jangan menyalahkan diri sendiri Kak. Semuanya memang rumit tapi segala sesuatu itu ada jalan keluarnya. Kakak dulu hanya terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan saja."


aku hanya mendengarkan, tak berani menatap wajah orang yang sedang bicara tersebut.


Naira Audzrilla adalah orang yang sangat baik.


"Sekarang Kakak harus tersenyum. Jangan biarkan perjuangan kak Dinar sia-sia. Seminggu terakhir ini aku kembali melihat senyum manisnya. Sekarang aku baru tahu apa yang membuat kak Dinar jadi seram dan datar beberapa tahun belakangan ini. Tolong selalu berada di dekatnya."


Aku tersenyum lebar.


Memaafkan adalah perlakuan yang menyejukkan jiwa. Setidaknya kita tidak dihantui oleh perasaan buruk setiap saat. Orang-orang dihadapan ku ini sungguh adalah orang yang baik.


hanya saja aku masih merasa rendah. sampai kapanpun aku akan selalu merasakan hal tersebut.


lalu juga ada rasa yang aku tidak tahu itu apa, dengan ini apa aku bisa bertahan?


mungkin juga tidak. aku tidak tahu.


orang yang bicara itu adalah hiery. orang itu memang cukup suka bicara.


menurut pengamatan ku begitulah dia


Kami kembali tertawa. Sementara Dela memasang wajah cemberut yang dibuat-buat. aku melihat ekspresi orang tersebut.


"Hiery."


aku pun bicara untuk menyapa orang itu. terpikirkan sesuatu yang ada dalam kepalaku untuk orang sepertinya.


"Ya."


"Jangan biarkan Drie menunggu terlalu lama."


Wajah Hiery bersemu yang membuat kami kembali tersenyum melihatnya. aku benar kan kalau soal begini.


Acara akad nikah berjalan lancar. Tidak ada satu hal pun yang ku rasakan selain bahagia. semua orang menikmati sesi foto keluarga sesekali tertawa melihat kelakuan adik ipar ku dan Hiery. Mereka kelihatan seperti pasangan malu-malu kucing. Drie dan hiery itu adalah pasangan yang unik.


Mereka memang belum berpacaran, hal itulah yang membuat ku gemas. harusnya kan segera berpacaran saja.


Tingkah Deri dan Dela juga tak kalah lucu. Disaat sesi foto keluarga dan foto sesama teman masih sempat saja kedua orang itu memperdebatkan posisi. Aku tersenyum memikirkan panggilan khusus Dela untuk Deri. Maes.


lucu dan unik.


Selama perdebatan tadi Dela yang saking gemasnya sampai menggunakan panggilan tersebut didepan seluruh tamu tak terkecuali keluarga besar semua belah pihak.


Entah pihak keluarga mengetahui kepanjangan panggilan itu atau tidak, yang jelas kami hanya tertawa saja.


Wajah kesal Dela beradu dengan wajah merah padam Deri menjelma jadi hiburan tersendiri. mereka marahan saja gemasnya minta ampun.


Mungkin hanya Neron dan Naira saja yang masih terlihat seperti biasa. Meskipun keduanya sempat salah tingkah saat mendapatkan lemparan bunga dariku secara bersamaan.


Aku tahu Neron sedang mempertahankan sifat swag. untuk itu dia tak akan melakukan sesuatu yang mencolok. mungkin ku pikir begitulah.


Deri juga swag tapi seperti Neron dia menemukan sikap baru setelah dekat dengan Dela. Orang itu hanya suka menggoda Dela. jadi sikap swagnya pun jadi tersamarkan oleh hal tersebut.


"Kamu ingin memakan sesuatu?"


mataku beradu dengan wajah bahagia Dinar. aku pun juga sama bahagianya dengan orang itu. rasanya ingin terbang tinggi.


"Ice cream. Aku ingin rasa Chocolat mint," kataku cepat.


"Apapun selain ice cream. Nasi saja ya."


seketika itu juga wajahku pun langsung tanpa ekspresi. kesal, kenapa aku selalu saja kalah dengan Dinar?


selalu menuruti kemauan dan isi pikiran orang tersebut.


"Tidak aku hanya ingin ice cream," kataku tegas.


Dinar tersenyum kecut. Lalu beranjak menuju tempat sajian lce cream.


Aku tersenyum samar. Biasanya aku selalu kalah dari orang itu. Tanpa sepengetahuannya aku beranjak dari tempat duduk menuju beberapa jenis makanan. Dinar yang baik dan aku yang sedang mempermainkan oleh tersebut.


"Ingin makan apa Nona?"


"Tidak apa-apa biar aku saja."


Pelayan itu tersenyum ramah. saat aku kembali ternyata Dinar sudah sampai pada tempat ku yang tadi.


ini benar-benar sangat menyenangkan. mempermainkan.


"Dari mana saja kamu, aku mencari mu kemana-mana."


wajah Dinar kelihatan tak suka.


"Maaf. Aku menggambil makanan. Kamu juga belum makan kan, ini makanlah. Mana ice cream ku?"


"Dasar kekanakan."


"Kamu makanlah duluan nanti aku akan makan setelah menghabiskan ice cream ini."


lihatlah, aku merasa senang saat melihat orang tersebut kesal.


Resepsi selesai. Aku dan Dinar sah menjadi pasangan suami istri. Sekarang kami sedang berada di kamar pengantin.


Aku tidak menyangka akan sampai pada posisi ini. Sebelumnya kata pernikahan sama sekali tak pernah terlintas dipikiran ku. untuk hal yang satu ini, apa aku bisa melakukan sesuatu yang lebih?


"Teruslah berada disisi ku nyonya Audrikza."


"Terima kasih atas segalanya," kataku pada orang tersebut


Dia mencium kening ku.


tidak, ada yang salah. aku..., kenapa saat Dinar mencium keningku, aku merasa ada yang salah?


bayangan saat aku kecelakaan dahulu kembali menghampiri.


sial, aku merasa ingin marah.


sangat marah!


°°°°°°°°°°