Classical Love

Classical Love
Dia Sungguh Menyebalkan



Aku menatap dalam mata orang dihadapanku ini berusaha mencari keseriusan disana.


Aku menarik napas sebentar sebelum akhirnya memeluk manusia es--duluan. Harus ku akui aku rapuh dan lemah dihadapan orang ini.


Dia mengusap lembut rambutku.


“Maafkan aku. Meskipun kamu mengatakan aku tidak bersalah tapi tetap saja aku ingin minta maaf.


"Sungguh Dzrilla adalah orang yang baik dan aku suka berteman dengannya. Tolong jangan membuatku terlihat seperti perusak hubungan orang.”


Tanpa sadar aku menangis dipelukan manusia es. Ini jelas bukan aku tapi aku sungguh ingin mengatakan semuanya. Semua ini membebani pikiran ku.


“Baiklah. Aku akan berusaha mencari cara untuk mengatasi hal ini. Jangan menangis lagi Dela.”


“Terima kasih.”


Kami tenggelam dalam pelukan itu.


Aku memasak sarapan dengan bersenandung pelan. Suaraku tidak terlalu bagus akan tetapi bayangan kejadian kemarin membuatku tersenyum memikirkan perubahan sikapku ini.


Hari ini manusia es akan mengantarkanku kursus kesehatan. Jadwal kuliah juga sedang kosong sebab dosen kami sibuk. Kemarin aku dan manusia es sepakat membicarakan perjanjian pernikahan.


Kami memutuskan hal tersebut sebab aku masih kuliah dan baru menduduki semester empat.


Membicarakan beberapa aturan pernikahan adalah agar aku dan manusia es bisa saling mengendalikan diri.


Kalian tahu maksud ku kan?


“Ma, Pa, Dela pergi dulu.”


“Hati-hati sayang.”


Aku melihat manusia es menunggu didepan mobil dengan setelan santai. Dia sudah mengosongkan jadwal perusahaan untuk hari ini.


“Lho Maes kanapa kamu tidak masuk ke rumah?”


“Berhenti memanggilku Maes.”


Aku tersenyum mendengar tuturan tak suka tersebut. Orang dihadapanku ini tahu kepanjangan dari ‘Maes’ yang tidak lain dan tidak bukan Manusia Es.


Kami sangat terbuka bukan?


“Itu cocok untukmu.”


“Aku sudah bersikap baik padamu nyonya Cloriea.” Tawaku seketika terhenti mendengar ucapan tersebut. Aku bisa merasakan wajahku memanas.


“Ayo pergi.”


Deri Cloriea


Aku suka menggoda Dela. Melihat wajah salah tingkah, gugup dan merona itu membuatku gemas. Aku tahu dibalik sikap dinginnya terhadapku dia merupakan pribadi yang lembut.


Dia hanya masih belum bisa mengalahkan ego yang terlalu tinggi, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapanku selain itu dia juga tidak ingin dipermainkan. Hal itulah yang menjadi sebab sikap dingin, cuek dan kerasnya.


“Masuklah aku akan menanggumu sampai selesai.”


“Ingat kita harus membahas perjanjian pernikahan.”


“Tentu.


“Kita bisa berkencan setelah membahas hal itu.”


Dela yang sudah keluar mobil semakin mempercepat langkahnya. Dari jarak dua meter aku masih bisa melihat telinga gadis itu memerah sebab ia mengikat rambut.


Sebenarnya aku tidak suka melihat dia mengikat rambut namun gaya ikatan rambut seperti anak kecil membuat rasa tak suka ku berkurang.


Dia mengikat rambutnya dengan gaya kucir kuda. Rambut hitam panjang bergelombang itu sangat cocok memakai gaya apapun.


“Oh ya Hiery. Aku harus menghubunginya.”


“Halo Hiery.”


“Halo kak Deri.”


“Sudah lama kita tidak bertemu ya.”


“Banar kakak sudah melupakanku semenjak menjadi CEO dan akan menikah.” Aku diam.


Dari mana Hiery mengetahui aku akan segera menikah, sejauh ini aku belum memberitahukannya.


“Dari mana kamu tahu?”


“Calon istrimu.”


“Tentu saja dia temanku.


“Eee..., maksudku teman satu kampus.” Aku mendengar Hiery tertawa pelan. Tawa canggung saat ia sudah tidak tahu harus melakukan apalagi.


“Apa kalian dekat?”


“Maaf Kak aku sedang sibuk. Ngobrolnya kita lanjutkan lain kali saja ya.”


“Memangnya kamu sedang dimana?”


“Toko buku.”


“Oke. Kita lanjutkan lain kali saja.” Aku melihat gedung kursus yang dimasuki Dela.


“Pantas saja dia mengenal Dzrilla.”


Hiery Mairy


Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Aku memang bisa menghindari situasi tadi namun tetap saja aku masih khawatir. Itu membuatku memukul kepala sendiri.


“Habislah aku.”


“Kenapa bisa habis.”


Aku kaget dengan suara seseorang. Dari tipe suaranya jelas aku tahu bahwa ia seorang laki-laki. Aku menggelang pelan dan segera pergi dari tempat itu.


“Astaga ada orang aneh disini.” Aku segera membayar buku dikasir dan pergi menuju teman bermain.


Hari libur seperti ini rugi jika tidak digunakan untuk refleksing otak. Sebelum itu aku mampir sebentar di minimarket membeli beberapa cemilan dan ice cream.


Ku coba beberapa wahana permainan dan menggambil beberapa gambar.


Dari semua gambar yang ku ambil tidak ada wajahku disana. Berselfie bukahlah hobiku, aku lebih suka difoto oleh orang lain.


“Harusnya aku mengajak seseorang tadi.”


“Benar. Tidak enak pergi ke taman sendirian.”


“Kamu, bukannya kamu orang yang ditoko buku tadi?”


Dia hanya mengangguk sekilas kemudian melanjutkan aktivitas makan. Sedetik setelahnya aku menatap aneh pada orang disampingku ini.


Apa dia penculik?


“Kamu tidak mengikutiku kan?” Orang itu menatapku kaget. Harus ku akui wajah itu sangat menggemaskan.


Penculik zaman sekarang bertampang imut ya?


“Aku bukan penguntit. Aku hanya ingin menggembalikan gantunganmu yang terjatuh ditoko buku tadi.”


Aku menatap gantungan Doraemon yang disodorkannya. Aku tahu itu adalah milikku tapi aku tidak bisa percaya begitu saja pada orang yang baru saja ku temui ini.


“Terima kasih.” Kataku hendak pergi meninggalkan tempat tersebut.


Lari dan menyelamatkan diri, hal itulah yang ku pikirkan sekarang.


“Hey mau kemana?”


“Pulang.”


“Kenapa buru-buru kita kan belum berkenalan.”


Aku menghentikan langkah saat orang tadi tepat berada dihadapanku. Untuk orang yang baru bertemu dia cukup agresif. Itu membuatku semakin takut.


“Keluargaku sudah menunggu dirumah.”


“Perkenalkan namaku Driean Audrikza kamu bisa memanggilku dengan Drie saja.” Aku menatap orang ini bingung.


“Your name?”


“Hiery.”


“Oke silahkan pulang. Aku tidak ingin kamu dimarahi orangtuamu.”


Aku tersenyum setengah dipaksakan. Ku rasa dia memang orang aneh.


“Ku harap kita bisa bertemu lagi.” Aku semakin mempercepat langkah. Pulang. Ku harap tidak pernah bertemu dengan orang ini lagi.


☼☼☼☼☼