Classical Love

Classical Love
Teror



Naira Audzrilla


Tanganku gemetar melihat pesan di ponsel.


‘Aku suka mendengar tangisan, bagaimana denganmu?’


Pesan teror. Aku harus segera menyedikinya.


“Mungkinkah fans Neron kemarin?”


Aku langsung menggelengkan kepala.


Hari ini jadwal kuliah masuk siang untuk itu ku putuskan menemui kak Drie.


“Apa apa Bonnie?”


“Mari bicara.”


Kami saling tatap. Jika sedang serius kak Drie bisa mengurangi sifat kekanakannya. Hal inilah yang ku sukai dari kak Drie.


“Terlalu cepat jika fans temanmu ingin meneror.


"Begini saja, jauhi orang yang bernama Neron itu selama beberapa hari ini. Setelah itu kamu bisa bersikap biasa lagi. Kita lihat apakah orang kurang kerjaan ini masih menerormu atau tidak.


“Oya Bonnie masuk siang kan, tolong buatkan pancake untuk kakak.”


Aku menatap kak Drie tanpa ekspresi.


Sudah dua kali aku membuatkan pancake untuknya beberapa hari ini dan dia masih minta lagi?


“Ayolah..., pancake buatanmu sangat enak.”


“I’ts oke. Dengan satu syarat kakak harus menemaniku menemui teman sore nanti, bagaimana?”


“Call.”


Sesuai kesepakatan aku dan kak Drie mengunjungi rumah salah satu teman. Sudah lama aku tidak pergi ke rumah Hiery. Selain itu aku juga ingin mengajaknya mengunjungi rumah Dela.


“Halo Hier.”


“Halo, silahkan duduk.”


“Pull.”


Hiery kelihatan kaget.


Aku rasa dia tidak menyadari kehadiran kak Drie.


“Lho kamu orang aneh itu kan?”


Aku jelas kaget dengan perkataan Hiery. Alhasil kami bertiga saling berpandangan.


“Jadi orang ini memang benar kakak sepupumu.


“Astaga., aku benar-benar tidak sopan. Kalau begitu aku minta maaf.”


Hiery menunjukkan tatapan menyesal, aku jadi tidak enak melihatnya.


Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?


Walau bagaimanapun ku rasa kak Drie lah yang memulai masalah disini hingga Hiery menyebutnya orang aneh.


“Asal kamu tahu ku bukan orang aneh lho.”


Aku melotot kearah kak Drie. Disaat seperti ini aku tidak bisa membiarkan dia mempermainkan seseorang ditambah lagi itu adalah temanku sendiri.


Orang polos seperti Hiery sangat mudah digelabuhi.


Sayangnya peringatan dariku sama sekali tak berpengaruh. Orang itu terlihat santai meminum jus yang disediakan Hiery.


Sementara Hiery semakin terlihat menekuk wajah.


“Jangan menekuk wajah seperti itu.


"Bagaimana kalau kita melupakan masalah ini dengan berteman saja? Biar begini-begini aku orangnya cukup pemaaf.”


‘Dasar pencari kesempatan dalam kesempitan.’


Aku mendelik saat kak Drie memasang tampang bak malaikat. Tapi tetap saja wajah imut itu membuat secuil hatiku terasa tercubit dan tenang secara bersamaan.


“Baiklah, maaf atas perkataanku.”


“No prolem.”


Astaga.


Kami sedang diperjalanan menuju kediaman Dela. Aku terus memperhatikan kak Drie dan Hiery. Mereka keliatan akrab.


Padahal Hiery masih kelihatan canggung sangat berbanding terbalik dengan kak Drie yang ambisius mencari perhatiannya, sampai-sampai mengajak Hiery duduk disamping sementara aku dibelakang.


Aku rasa kak Drie tertarik dengan Hiery.


Entah apa yang terjadi pada pertemuan pertama mereka hingga orang sepolos Hiery sampai menyebut kak Drie ‘orang aneh.’ Mengingat sifat kak Drie bisa saja hal tersebut terjadi.


Aku sudah mengatakan itu tadi kan?


Aku memfokuskan diri ke ponsel daripada mendengar kak Drie yang terus mengoceh.


‘Bersiaplah sayang. Aku punya kejutan untukmu.’


Pesan teror lagi. Aku tidak bisa diam terus-terusan.


‘Jangan bermain-main denganku. Siapapun kamu lebih baik jangan mengangguku lagi. Kita adalah negara hukum, kamu pasti tidak ingin berakhir dimeja hijau kan?’


Setelah mengirim pesan tersebut ku alihkan perhatian pada jalanan kota.


Pemandangan sangat baik untuk menjernihkan pikiranku.


‘Kita lihat saja. Perlu ku ingatkan kau baru saja pindah kewarganegaraan. Jangan bersikap sok tahu mengenai negara ini.’


Aku menyimpan ponsel ke dalam tas. Kami akan mengunjungi rumah Dela. Aku harus bersikap tenang. Untuk sekarang ku putuskan untuk mengabaikannya.


Kunjungan tersebut berjalan lancar. Sama halnya dengan Hiery Dela pun juga terlihat kaget.


Selepas suasana canggung tersebut kami kambeli bersikap mengalir.


Sifat ramah dan penyesuaian diri sangat berperan besar.


“Kak, Dela adalah orang yang menjadi penyebab aku dan Deri putus. Mereka dijodohkan.”


“Apa!?”


Aku tersenyum kecut. Aku memang sudah merelakan hubungan mereka.


Hanya saja perasaanku kadang tak bisa diprediksi.


“Lalu bagaimana bisa kamu bersikap seperti tadi?


"Kalian kelihatan seperti teman pada umumnya. Atau mungkin kamu sudah pasrah terhadap keadaan?”


“Cinta tak harus memiliki. Deri bukan jodohku jadi aku harus mencari yang lain.


"Duniaku tidak akan berakhir hanya karena putus cinta.”


Aku bicara saraya memasang wajah bijaksana.


“Jangan bersikap sok dewasa. Kakak tahu kamu pasti patah hati.”


“Kalau begitu hibur aku.”


“Oke kita masak pancake.”


“Apanya yang menghibur? Itu sih kakak yang kepengen makan.”


Aku cemberut sedangkan kak Drie tertawa lebar.


Aku jadi bingung sebenarnya siapa diantara kami yang butuh hiburan?


°°°°°°°°°°


Hyerin Delaxa


Tanganku mencopot habis foto ‘aib’ aku dan Naira.


Semua gambar itu menunjukkan kedekatan kami pada satu orang yaitu Neron. Most Wanted kampus Namith sekaligus orang berpengaruh.


“Perempuan murahan.”


Cibir salah satu mahasiswi.


“Siapa yang berani mencemarkan nama baik kami dengan cara rendahan seperti ini?”


Aku mengepalkan tangan geram. Hiery segera menenangkanku.


“Lebih baik kita masuk dulu Dela. Nanti kita bicarakan lagi.”


“Apa mungkin penggemar Neron?”


“Dela nanti, ya, sekarang kita masuk dulu.” Aku mengangguk dan mengikuti Hiery.


Berita hoax tersebut menyebar dengan cepat. Pada era digital seperti ini tidak heran jika hal tersebut terjadi.


Hal itulah yang membuat kami harus berada di ruang Warek III.


Jika biasanya aku menemui beliau untuk mendengar pengarahan mengenai lomba ataupun dipercaya sebagai utusan Kampus untuk acara resmi, sekarang aku malah dipanggil akibat ‘skandal’ yang disebabkan foto aib tersebut.


Kami; aku, Naira dan Neron diintrogasi.


Helaan napas berat terdengar setelah Warek III berdebat cukup hebat dengan kami. Tentu saja kami tidak terima, ini adalah fitnah yang sudah direkayasa sedemikian rupa.


Sayangnya pembelaan kami masih harus diproses. Dan kami tetap harus diberi hukuman sebab walau bagaimanapun kampus mendapat dampak buruk akibat foto 'mesra’ kami bertiga.


‘Memangnya siapa orang yang akan menggumbar kemesraan mereka dipapan pengumuman Kampus yang terkenal sangat menjaga nama baiknya ini. Apalagi untuk orang seperti Neron, aku dan Naira yang notabene berstatus sebagai mahasiswa berprestasi.’


“Aku mendapat pesan teror, ternyata ini yang disebutnya sebagai kejutan.


"Tapi kenapa kalian juga terlibat. Apalagi kamu Neron.”


“Aku pikir bukan fans Neron pelakunya.


“Sudahlah, lupakan saja.”


Hiery sontak membuang wajah saat Neron menatapnya tajam.


“Fansku, siapa?”


“Seseorang yang tidak kami kenal.”


“Lantas bagaimana kalian bisa menyimpulkan kalau dia adalah fansku?”


“Dari kata-katanya. Dia melarang kami dekat denganmu.”


Kali ini giliran Naira yang bicara.


Aku sempat tak percaya ia akan bicara begitu. Mengingat situasi kami saat ini ku rasa itu adalah pengecualian.


“Itu berarti orang lain. Kira-kira siapa.


"Oya tolong berikan ponselmu.” Dzrilla memberikan ponselnya pada Neron.


“Bisa aku pinjam ponselmu sampai besok? Aku akan melacak pemilik No ini.”


Mataku langsung berbinar.


Neron adalah mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi yang bergerak dibidang IT. Melacak adalah keahliannya.


“Oke.”


“Kita harus berhati-hati. Ku rasa kita sedang diawasi.”


Kami saling berpandangan kemudian berpisah sebab harus masuk jam berikutnya.


°°°°°°°°°°°°°