Classical Love

Classical Love
Barbeque Party dan Masalah Baru (Lagi-lagi)



ada yang salah


sebelum itu, akan ku sampaikan apa yang sedang ku pikirkan.


Kira-kira begini segala macam hal yang ku pikirkan selama melihat sesuatu yang tak seharusnya ku lihat.


"Hey jangan terlalu dekat-dekat."


Mereka sedang mendiskusikan laporan.


"Ya! Kamu tidak boleh melihat manusia es terlalu lama."


Mereka sedang membicarakan laporan-laporan tadi.


"Kamu! Jangan menegur jas kantor manusia es kurang rapi."


Cukup. Aku tidak bisa membiarkannya. Sekretaris itu hendak merapikan jas Maes. terlalu totalitas sampai sudah seperti orang yang sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Maaf. Nona, dia bisa melakukannya sendiri," kataku pada orang-orang itu.


rasanya aku terasa seperti obat nyamuk yang tak ada artinya. seorang yang malang dan tak berkesudahan.


Tangan sekretaris Maes yang sudah menyentuh jas langsung berhenti dan menarik tangan kembali.


Dia sudah melebihi batas totalitas tanpa batas!


aku tak terima!


baiklah cukup. sekarang mari kembali terhadap apa yang ku lakukan saja.


"Hiery apa aku bodoh?"


Hiery menggeleng.


"Apa aku posesif?"


Dia menggeleng lagi.


"Apa yang terjadi?"


"Dia membuat ku kesal karena terlalu dekat dengan sekretarisnya. Dengan begitu apa aku sudah mencintai Maes?"


Kali ini Hiery mengangguk.


dia benar dan salah secara bersamaan. aku..., rasanya juga ingin mengelamkan Hiery ke dasar bumi entah karena apa.


"Tidak. Kami akan menikah. Dia tidak mengerti situasi."


Aku bicara dengan berbisik. Ini masih dikampus. Aku harus extra hati-hati. kalau ketahuan kan akan jadi masalah besar yang tak berkesudahan.


aku tak mau terjebak dalam situasi yang seperti itu.


"Kamu sedang cemburu Dela."


aku pun sontak langsung melihat Hiery saat ia bicara begitu. apanya yang begitu?


aku benar-benar merasa sangat bodoh!


mirip orang idiot yang tak bisa melakukan apapun yang baik untuk hal ini.


Hua..., apa sih yang sedang terjadi ini!?


"Tidak," balasku cepat.


aku tak peduli terhadap apapun, yang jelas aku tak terima walau bagaimanapun.


"Iya," kata hiery.


Hua..., aku benar-benar merasakan buruk akan apa yang terjadi saat ini.


"Sudahlah, lupakan."


Hiery menatap ku tanpa ekspresi sedangkan aku yang tak ingin melakukan apapun lagi.


aku gila dan bodoh.


***


Neron Wardana


Aku berencana menemui Naira kerumahnya--maksudku menjemput. Jika ingin mendapatkan sesuatu maka harus berusaha. lalu hal ini sebut saja sebagai usaha ku.


aku ingin masa pendekatan atau mungkin langsung menyatakan...?


ah tidak tahu. untuk hal yang satu ini aku pun masih bingung harus melakukan hal seperti apa. rasanya benar-benar sangat buruk.


"Tinggal ketuk pintunya saja Neron. Tidak apa-apa. Ini adalah hal yang mudah. Lagi pula kau hanya perlu mengetuk pintu rumah bukannya pintu hati."


Aku tersenyum setengah dipaksakan.


Setelah memikirkan hal itu ku mantapkan hati dan pikiran mengetuk pintu rumah Naira.


ini adalah hal yang merepotkan. rasanya aku sedang sidang skripsi saja ketimbang orang yang sedang ingin berkunjung ke rumah teman perempuan.


"Selamat siang, Nek."


"Siang. Maaf Anda siapa?"


Aku hanya perlu memperkenalkan diri dan itu bukanlah hal yang sulit.


Apapun bisa terjadi.


Meskipun yang ku harapkan Naira yang membukakan pintu dan bukannya nenek ataupun orangtuanya.


"Saya teman kampus Naira. Apa dia sudah berangkat?"


"Belum. Kalau begitu silahkan masuk."


Apa hanya perasaan ku atau nenek Naira tiba-tiba berubah semangat?


Mungkin itu bukan semangat melainkan ramah. aku saja yang salah perkiraan. ah entahlah, apapun itu aku merasa buruk. jujur aku sedang grogi dan merasa khawatir saat ini.


"Neron. Ada apa datang kemari?"


saat ini aku sedang berhadapan dengan wajah bingung Naira. ah ya ku rasakan begitulah.


entahlah, untuk hal yang satu ini aku pun masih merasa buruk.


"Neron ingin menjemput mu Naira. Sekarang cepatlah bersiap-siap."


Apakah aku terlalu tergesa-gesa sampai dia menunjukkan ekspresi itu?


syukurnya ekspresi tersebut tidak bertahan lama, malahan sebuah senyuman segera terbit diwajahnya.


aku lega.


"Tunggu sebentar," ujar orang tersebut.


Aku langsung duduk diruang tamu. Tempat ini nyaman.


Mataku melihat-lihat seluruh ruangan. Ada banyak foto keluarga, itu membuat ku ingin melihat lebih dekat.


"Manis."


Seluruh foto Naira dari kecil sampai sekarang bisa dilihat dengan jelas. Tidak hanya foto keluarga, foto bersama teman-temannya pun ada.


Satu hal yang membuat pandanganku berhenti. Sebuah foto Naira dan kak Deri. Wajar. Mereka berteman.


Hanya saja kenapa foto ini terlihat sangat akrab--melebihi teman?


Foto yang ku lihat adalah mereka tersenyum lebar dilatarbelakangi menara Eiffel. Kak Deri juga berfoto bersama keluarga Naira.


sangat terlihat dekat satu sama lain. ada perbedaan ekspresi pada wajah Naira, aku bisa merasakan hal tersebut.


"Neron."


Aku mengalihkan pandangan.


"Kamu sudah selesai. Kalau begitu ayo kita berangkat," kataku yang tersenyum ramah.


ah entahlah, untuk hal yang satu ini aku masih saja merasa sangat buruk?


***


Dimobil.


"Ra. Boleh aku menanyakan sesuatu?"


"Boleh."


"Kamu pasti berteman baik ya dengan kak Deri. Aku melihat dari foto di rumah mu kalian kelihatan sangat dekat."


cukup lama Naira hanya diam saja. so kenapa?


"Iya. Bisa dibilang begitu."


Sekitar tiga menit berlalu. Baru setelahnya Naira mengatakan hal tersebut.


Didengar dari nada bicaranya pun Naira seperti sedang tak nyaman.


aku merasa ada yang salah. terlalu kentara.


"Apa pertanyaan ku tadi menganggu mu?" tanyaku pada orang tersebut.


"Tidak."


Kali ini dia menjawab cepat, lalu aku entah karena apa malah merasa ada yang salah. lagi-lagi terus saja seperti itu.


aku ingin memastikan sesuatu, benar aku harus melakukan itu.


"Eee...., Ra."


Lagi. Dia hanya diam. Itu jelas menunjukkan bahwa sedang memikirkan sesuatu.


aku saja di abaikan.


"Naira." panggil ku lagi.


kami sedang terjebak dalam situasi awkward. untuk itu aku benar-benar merasa tak nyaman. walau apapun yang terjadi aku benar-benar merasa sangat tak nyaman.


"Ya?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu."


Dia melihat ku.


aku masih bingung terhadap apa yang ku pikirkan namun inilah yang akan ku katakan dan lakukan.


"Ku rasa aku menyukai mu," kataku akhirnya.


ku rasa aku sedikit gila sekarang. ah entahlah.


Naira hanya diam. Ekspresi wajahnya percampuran antara syok, kaget, bingung dan linglung secara bersamaan. aku sempat melihat sebentar ekspresi wajahnya sebelum kembali fokus terhadap jalanan.


bisa gawat jika aku tak memperhatikan jalan. kecelakaan bisa terjadi kapan saja. untuk itu aku harus lebih berhati-hati untuk hal yang satu ini.


"Jadi bagaimana, apa kamu bersedia menjadi pacarku?"


Aku tahu ini terlalu tiba-tiba. Tapi aku sungguh sadar dan sudah memikirkan hal ini matang-matang.


setengah matang, entahlah. yang jelas sekarang kata-kata tersebut keluar begitu saja.


Awalnya aku ingin mengatakan hal ini setelah kami benar-benar dekat. Namun sepertinya perasaan ku tidak bisa menunggu.


Aku sangat ingin mengetahui banyak mengenai Naira. Kalau hanya sebatas teman aku masih ragu melakukannya. Untuk itu ku putuskan mengatakannya sekarang.


Lebih cepat lebih baik.


"Jangan bercanda Neron. Itu sama sekali tidak lucu."


Suasana mendadak berubah awkward.


Naira mengalihkan pandangannya ke jendela. Itu bukan salah tingkah. Sungguh.


Seorang Naira Audzrilla terlihat biasa-biasa saja.


lirikan mataku jadi tak bekerja sebagaimana mestinya. ku rasa aku harus segera menghentikan semua ini.


Aku tahu aku tidak romantis. Tapi aku tidak berbakat akting.


"Aku serius Naira."


Dia kemudian kembali melihat kearah ku. Hanya saja tatapannya kali ini tanpa ekspresi.


Apa aku melakukan kesalahan?


*****