
Dela : Halo Naira. Ini aku Dela, orang yang bertemu denganmu tadi siang di toko peralatan sekolah. Apa kamu masih mengingatku?
Aku menunggu dengan jantung berdebar-debar. Aku jarang menggunakan media sosial apapun kecuali jika ada keperluan.
“Hah..., sudah ku duga ini cukup sulit. Aish, menyebalkan."
Keluh kesahku keluar setelah mengunggu sampai 15 menit. Sudah jelas-jelas Dzrilla sedang checklist tapi aku bersikeras agar jangan sampai ketinggalan balasannya. Aku mengerucutkan bibir.
“Tahu begini lebih baik aku membaca buku.”
Baru saja tanganku meraih buku obat-obatan herbal suara ponsel membuat pergerakanku berhenti.
Aku pun langsung meraih ponsel.
Naira Audzrilla : Hy Dela. Tentu saja aku masih mengingatmu. Baru saja aku berpikir lupa meminta No. handphonemu. Ternyata kamu sudah mendapatkan nomorku lebih dulu. Lantas bagaimana kamu bisa mendapatkannya?
Aku sudah menduga Naira akan menanyakan bagaimana aku bisa mendapatkan nomor ponselnya.
Baiklah, aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan satu itu.
Dela : Di salah satu temanku. Kebetulan dia suka menjelajahi dunia maya, jadi dia banyak menemukan nomor orang-orang.
Aku menahan napas. Naira sedang online.
Naira Audzrilla : Oya, kedengaran seperti Stalker. Lalu kenapa kamu menghubungiku?
Aku pun langsung mengetikkan sesuatu.
Dela : Besok apakah kamu sibuk? Jika tidak aku ingin mengajakmu bicara.
Naira Audzrilla : Maaf Dela. Rencananya aku akan pergi ke rumah pamanku dan kemungkinan aku akan lama disana.
Dela : Begitu ya. Baiklah tidak masalah. Nanti kita bisa bertemu dikampus. Terima kasih.
Naira Audzrilla : Dela, setelah ku pikirkan kembali kita bisa bertemu besok sekitaran jam 15.00 WIB bagaimana? Kita bertemu di restoran Brithdy.
Mataku langsung berbinar membaca chat Naira.
Dela : Oke. Sekali lagi terima kasih.
Naira Audzrilla : Sama-sama. Sampai ketemu besok.
“Yes!”
☼☼☼☼☼
Aku menunggu Dzrilla dengan gelisah. Aku merutuki diri sendiri sebab terlalu cepat datang ke restoran dan sekarang malah terlihat tidak tenang seperti ini. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Tenang Dela, tenang.”
“Halo Dela.”
“Astaga.” Aku kaget setengah mati mendengar suara orang yang baru saja datang.
“Are you oke?” Dzrilla memegang bahuku.
“Yes, l’m fine.” Mataku terpaku melihat seseorang yang bersama dengan Dzrilla. Wajahnya kelihatan sangat keren. Seakan mengerti arah tatapanku Dzrilla pun langsung mengenalkan orang tersebut.
“Dela kenalkan ini kakak sepupuku namanya kak Dinar.”
“Dela.” Kami saling bersalaman.
“Kenapa Dzrilla malah mengajak kakak sepupunya sih?”
Kakak sepupu Dzrilla kemudian memesan makanan. Aku yang menunggu selama 12 menit ditemani lima gelas cokelat panas yang sudah kosong sejak tadi. Rencananya tadi aku ingin memesan gelas keenam jika tidak teringat dengan jumlah gelas yang sudah banyak.
“Dela sangat suka cokelat ya.”
Aku tersenyum setengah dipaksakan pada kedua orang dihadapanku ini. Ku rasa ini bukan lagi suka melainkan rakus. Kalau pikiranku sedang kusut aku memang sangat membutuhkan cokelat.
“Oh ya kamu ingin memesan apa?”
“Jus apel saja.”
“Makanannya?” Tanya kakak sepupu Dzrilla lagi.
“Tidak, terima kasih.”
“Oya apa yang ingin kamu bicarakan?” Aku jadi sedikit tidak nyaman saat Dzrilla mengatakan hal itu.
“Em..., itu...,”
“Sepertinya kalian akan membicarakan sesuatu yang penting. Jadi kakak permisi pindah meja.” Aku menatap takjub pada kak Dinar. Aku tidak pernah berpikir jika ia akan mengerti situsi seperti ini.
“Jadi?”
Aku masih menatap kepergian kak Dinar sampai ketempat duduk.
“Besok.”
Aku mengangguk canggung. Kenapa rasanya jadi aneh seperti ini. Niat awalku bertemu dengan Dzrilla adalah untuk menanyakan soal dia dan manusia es. Akan tetapi setelah ku pikirkan kembali lebih baik tidak sebab itu terlalu cepat.
“Nama lengkapmu Naira Audzrilla kan?”
“Ya.”
“Apa yang membuatmu ingin pindah kampus?” Tanyaku bersungguh-sungguh. Sungguh aku penasaran dengan alasan Dzrilla memutuskan untuk pindah.
“Itu karena aku akan belajar mengurus perusahaan keluarga disini, selain itu aku juga ingin menghabiskan waktu bersama nenek dan keluarga besarku.”
Aku hanya diam mendengar jawaban Dzrilla. Aku harap setelah ini giliran dia yang bicara sesuatu atau setidaknya menggantikanku mengajukan pertanyaan.
“Oh ya Dela besok bisakah kamu menemaniku berkeliling kampus?
“Aku ingin melihat-lihat sambil mengenal beberapa gedung.”
“Te-tentu.” Kataku tersenyum tulus. Ku rasa besok aku akan menjelma menjadi duta kampus sungguhan. Tidak lama kemudian makanan kami pun akhirnya datang.
“Terima kasih.” Pelayan itu mengangguk padaku dan Dzrilla yang mengucapkan terima kasih secara bersamaan.
“Bahasa Indonesiamu bagus.”
“Thank’s. Aku belajar banyak waktu masih di Amerika.”
“Kak Dinar kemari. Pesanannya sudah datang.” Kataku sambil melambaikan tangan. Sejak tadi aku memang tidak nyaman jika orang itu duduk sendirian dimeja yang berseberangan dari kami.
“Oh iya. Kita lupa meminta tolong pada waiters tadi untuk mengantarkan makanan Kakak.”
“Tenanglah, kan lebih nyaman seperti ini.”
“Sudah selesai?”
Kami mengangguk secara bersamaan. Ku rasa Dzrilla adalah orang yang menyenangkan. Tidak salah jika Hiery sangat menyukainya. Bahkan baru sebentar saja aku sudah merasa nyaman jika saja ia bukan mantan pacar manusia es.
Kami mengobrol ringan dan membicarakan banyak hal, sementara kak Dinar tidak terlalu mendominasi. Dia lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Semua terlihat jelas dari garis wajahnya yang tegas dan serius. Dari pembicaraan tersebut aku mengetahui bahwa Dzrilla mempunyai dua orang kakak sepupu.
Dengan riangnya ia mengatakan bahwa kakak sepupunya yang bermana Drie merupakan pribadi yang humoris. Tidak jarang kami tertawa bersama saat Dzrilla menceritakan kelakuan kak Drie yang seperti anak kecil padahal sudah semester tujuh dan sedang dalam penantian sidang Skripsi. Perkiraanku kakak sepupunya itu akan lulus tiga tahun setengah.
☼☼☼☼☼
“Menyenangkan. Ternyata Dzrilla memang baik. Meski begitu aku harus tetap membicarakan masalah manusia es dengannya. Aku tinggal menunggu waktu yang tepat.”
Aku meraih buku cara mengatasi anak marah dan mulai membaca. Buku ini menyajikan cara unik membujuk anak yang sulit dikendalikan. Terkadang aku jadi ikut membayangkan bagaimana berada disituasi tersebut. Jam menunjukkan pukul 16.30 waktunya mandi setelah itu makan sore.
“Sore Ma, Pa.”
“Sore sayang.”
“Dela bagaimana dengan kursus kesehatan mu?”
“Baik. Sabtu kemarin hasil testku sudah keluar dan nilainya 96.” Papa tersenyum mendengar perkataanku.
“Bagus. Pertahankan.”
“Sayang mulai besok kamu yang akan memasak untuk sarapan kita. Untuk makan siang dan sorenya biar Mama saja.”
Aku yang akan memasukkan suapan pertama ke mulut jadi terhenti oleh perkataan Mama.
“Kenapa Mama baru menyuruh Dela sekarang? Kan sudah sejak dulu Dela ingin masak untuk kita.” Kataku dengan wajah senang. Akhirnya aku bisa masak setiap pagi untuk sarapan kami.
“Kamu benar sayang. Harusnya memang dari dulu Mama menyuruhmu memasak untuk kita. Dulu Mama lihat kemampuan masakmu sudah bagus jadi Mama pikir lebih baik kamu fokus pada pendidikanmu saja.
“Kalau sekarang kan berbeda, kamu harus meningkatkan kemampuan masak agar tidak kaget saat menikah nanti.”
Aku tersedak makanan. Tanpa membuang banyak waktu ku raih air dan meminumnya.
“Hati-hati sayang.” Kata Mama sambil menggosok punggungku.
“Ma tolong jangan bahas pernikahan jika kita sedang makan."
“Kenapa sayang? Bukankah tidak ada salahnya?”
“Dela benar Ma. Kita bisa membahas itu jika sedang pertemuan keluarga saja.” Aku sangat menyukai perkataan Papa. Bahkan jika perlu tidak membicarakannya sama sekali.
“Baiklah. Kamu yang baik ya sayang."
“Tentu.”
Kami pun kembali melanjutkan acara makan yang sempat tertunda. Aku senang dengan situasi itu. Biasanya tidak ada yang menganggu acara makan kami selain pembicaraan mengenai pendidikanku saja. Dan pembicaraan ini membuatku ingin sekali menghancurkan seisi tempat makan.
°°°°°°°°°°