
~Naira Audzrilla~
Mataku menerawang jauh. Kenangan dua minggu lalu menguasai pikiranku. Aku mengerti alasan dia melakukan semua yang terjadi. Saat ini..., aku hanya merindukan momen kebersamaan dengannya. Aku tahu ini tidak benar, tapi memori itu datang begitu saja tanpa bisa ku cegah. Aku kembali terlempar ke waktu beberapa hari yang lalu.
“Deri. Kenapa kamu tidak ingin memperjuangkan hubungan kita?”
Aku membayangkan hal yang membuat kami menjalin hubungan.
Waktu itu masih sebatas sahabat. Kami bertemu diperpustakaan. Aku yang seorang keturunan campuran Indonesia dan Amerika memiliki akses tersendiri untuk lebih akrab dengannya. Waktu itu dengan mudahnya dia mengatakan bahwa sudah bosan menggunakan bahasa asing, dia sangat merindukan bahasa tempat kelahiran. Lalu seiring berjalannya waktu kami menjadi lebih akrab hingga berlanjut ke tahap pacaran.
Aku tersenyum mengingat hal itu kemudian melihat foto kami.
“Selamat tinggal Deri. Semoga kamu bahagia. Mungkin lebih baik kalau kita berteman saja.”
Benar. Besok aku akan terbang ke Indonesia untuk belajar mengurus bisnis keluarga sekaligus pindah kampus. Aku akan menetap dan menghabiskan waktu dengan nenek dari pihak Daddy.
Mataku menatap takjub lingkungan sekitar. Hari ini pesawat kami mulus mendarat di Indonesia. Ini baru pertama kalinya aku datang kesini. Aku sudah tidak sabar mengunjungi tempat wisata Raja Ampat. Tempat itu benar-benar bagus. Aku bukan tipe orang yang suka travelling tapi Raja Ampat memang sudah lama menarik perhatianku.
“Nenek!” Aku langsung menghambur ke pelukan orang tua itu.
“Astaga..., dimana Daddy dan Mommymu?”
“Mereka belum datang Nek. Daddy masih ada pekerjaan jadi baru lusa datang kesini.”
Aku puas dengan penguasaan kosa kata bahasa Indonesiaku. Meskipun ini baru kali pertama aku menginjakkan kaki di kota kelahiran Daddy.
Saat berada di Amerika aku memang menggunakan bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris. Tapi jika sedang berada dirumah aku lebih suka menggunakan bahasa Indonesia sehingga menguasai bahasa tersebut.
Sejak kecil aku terus mewanti-wanti pada Daddy untuk mengajariku bahasa Ibu Pertiwi itu.
Pletak.
Nenek memukul kepalaku pelan. Kalau sedang marah nenek memang suka memukul orang. Aku tahu itu sebab kebiasaannya juga menurun padaku.
“Kenapa kamu tidak menunggu mereka, nenek mengkhawatirkan keadaanmu Naira.” Aku tersenyum kikuk pada nenek lalu mengucapkan kata maaf. Nenek menatap ku kesal sebentar kemudian tersenyum.
Sejak dulu nenek memanggilku dengan Naira. Nama itu adalah pemberian beliau. Hanya saja saat di Amerika orang-orang memanggilku dengan Dzrilla begitupun Mommy dan Daddy. Audzrilla sebenarnya adalah marga keluarga kami. Namun Mommy dan Daddy lebih suka memanggil ku dengan sebutan Dzrilla.
“Ya sudah. Cucu nenek pasti lelah. Oke, let’s go to home.”
Aku tersenyum lebar mendengar perkataan nenek. Selain aku anak tunggal dari Mommy dan Daddy, aku juga merupakan cucu perempuan satu-satunya.
Nenek memiliki dua anak laki-laki. Daddy anak tertua sedangkan Pamlie anak terakhir. Harusnya aku memanggil Pamlie dengan sebutan Paman, namun karena aku selalu dimanjakan olehnya jadi aku mengubah kata Paman menjadi Pamlie.
Keluarga Pamlie sering mengunjungi kami di Amerika, aku senang saat kedatangan mereka sebab Bibi selalu membawakanku makanan dari Indonesia. Yang paling ku suka adalah masakan rendang dan opor ayam.
Yah, aku senang dengan kunjungan mereka tetapi tidak dengan dua orang kakak sepupuku. Bagaimana tidak, yang satu suka menjahiliku sedangkan yang satunya lagi terlalu overprotektive. Apapun sifat mereka aku tetap sangat menyayangi keduanya. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka.
I’m Coming Indonesia!
☼☼☼☼☼
"Dela, Dzrilla datang ke Indonesia!”
Aku yang baru saja memarkirkan sepeda sontak terkejut dengan perkataan Hiery.
Beruntung aku tidak punya riwayat penyakit jantung. Kalau iya mungkin aku sudah terjungkal.
“Datang ke Indonesia, maksudnya?” Aku meringis pelan menyadari sistem otak yang bekerja lambat.
Otakku masih bekerja mencerna perkataan Hiery.
Jika baru selesai bekerja keras otakku memang sering tegang. Apalagi tes tadi sangat menguras kepala. Ini terjadi karena aku terlalu sering membaca buku.
“Dia ada disini? Baguslah. Aku memang ingin bertemu dengannya.” Kataku akhirnya.
“Kamu serius?” Hiery terlihat menatap ku kaget.
“Iya. Aku dan dia harus bicara empat mata.”
“Kamu bicara begitu seolah-olah sudah tahu saja dimana letak keberadaan Dzrilla.”
Hiery menatap penuh selidik.
“Tidak sekarang Hiery, tapi nanti. Sudah ayo kita masuk.”
Selama diperjalanan aku bertanya bagaimana Hiery bisa mengetahui bahwa Dzrilla datang kesini. Dia mengatakan bahwa sejak dua hari ini terus mengawasi status Dzrilla. Memang sudah sejak dulu Hiery memiliki kontak orang itu. Keduanya hanya jarang berkomunikasi. Aku jadi aneh sendiri mendengar penuturan Hiery.
Sejak kapan dia berubah menjadi seorang pengamat status? Bahkan aku sampai membayangkan jika Hiery menjadi seorang stalker. Lupakan. Aku memang terlalu berlebihan.
Lagi-lagi, baik aku maupun Hiery memiliki kesamaan yaitu tidak suka berselancar didunia maya. Aku tahu sejak pertama kali bertemu kami memang terlihat cocok.
“Em..., apa manusia es tahu Dzrilla datang ke Indonesia?”
“Entahlah. Kak Deri terlalu sibuk untuk ku hubungi.”
“Benar sekali, CEO memang sangat sibuk.”
Kami langsung memasuki kampus tidak melanjutkan pembicaraan lagi. Walau bagaimana pun kampus tetap nomor satu.
~Deri Cloriea~
“Dzrilla datang ke Indonesia. Apa yang harus ku lakukan?”
Aku memijat kepala yang terasa berdenyut nyeri. Pekerjaan kantor sedang menumpuk. Setelah ini juga akan ada meeting dengan client.
Kenangan dua minggu lalu kembali menguasai pikiranku.
“Maafkan aku Ra. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku.”
“I’ts oke. I understand.”
Aku terus melihatnya. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, yang ku tahu aku langsung menariknya kedalam pelukanku. Aku tidak pernah berpikir jika dua tahun hubungan kami malah berakhir seperti ini.
“I Love You."
“Me too.”
Aku bisa merasakan bahwa ia sedang menangis dan aku semakin mempereratkan pelukan kami seakan tidak ingin melepaskannya.
Haruskah berakhir seperti ini?
“Pak meetingnya dimulai lima menit lagi.”
Aku mengangguk pada sekretaris dan beranjak mengikutinya.
☼☼☼☼☼