Classical Love

Classical Love
Keluarga Modern Kah?



"Sayang setelah makan datanglah ke ruang keluarga.”


Aku mengangguk dan tersenyum pada Mama sementara mulutku masih sibuk mengunyah makanan.


Perkenalkan nama lengkapku adalah Hyerin Delaxa. Aku merupakan anak tunggal dalam keluarga ini. Sekarang aku sudah berkuliah dan berada di semester empat.


Aku bersyukur Mama dan Papa tidak terlalu memaksakan kehendak padaku. Itu terbukti saat aku mengatakan pada mereka ingin melanjutkan pendidikan di jurusan Psikologi Anak karena menyukai anak kecil.


Padahal kedua orang tua ku berharap agar aku menjadi seorang dokter sebab waktu SMA dahulu menggambil jurusan IPA dan termasuk murid berprestasi.


Tapi mereka menyetujui permintaanku dan tidak marah saat mendengarkannya. Hanya saja dengan satu syarat, aku harus menempuh dua jalur pendidikan. Selain berkuliah aku juga mengikuti kursus kesehatan.


Tidak masalah. Aku pun juga sangat menyukai Biologi sehingga tidak terlalu terbebani dengan syarat mereka.


Selain itu setelah lulus S1 aku berniat untuk melanjutkan pendidikan dibidang kesehatan.


Aku memikirkan untuk sekali melangkah dua pulau terlampui serta sambil menyelam minum air.


Mumpung usiaku juga masih muda. Tahun ini akan 19 tahun. Itu pun aku lahir ditahun penghabisan.


Dan disinilah aku. Menunggu Mama dan Papa selesai menelepon seseorang yang ku pikir adalah clien mereka.


Aku yang tidak ingin menganggu memutuskan untuk membaca buku Anestesia. Beberapa menit kemudian mereka duduk dan berdehem sehingga aku menyadari bahwa mereka sudah selesai dengan urusannya.


“Sayang ada yang ingin Mama dan Papa bicarakan padamu.” Dahiku berkerut.


Tidak biasanya Mama dan Papa bicara sambil menatapku dalam. Terakhir kali aku melihat tatapan itu adalah ketika mengungkapkan ingin berkuliah di Univeritas dengan menggambil jurusan Psikologi Anak.


“Baiklah.” Kataku membalas tatapan mereka.


“Begini Nak, kami akan menikahkanmu dengan anak teman Mama dan Papa.”


Deg. Wajahku seketika menjadi tegang.


“Apa maksud Mama? Kenapa tiba-tiba....”


Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Papa sudah lebih dulu memotong pembicaraan.


Ekspresi masam langsung mengusai wajahku.


“Dengarkan penjelasan Papa dulu Dela.” Aku menghembuskan napas jengah dan kembali menatap Papa.


Baiklah, beliau sangat jarang bicara dan memiliki sifat tegas. Aku jelas tidak bisa membantah ataupun melawan.


Tapi pada akhirnya aku mengangguk dan memperhatikan setiap kalimat yang Papa sampaikan. Aku sangat menghormati Papa.


“Jadi disini aku dijodohkan.


“Pa, Ma. Kenapa kalian malah melakukan hal itu. Aku bisa memilih calon suamiku sendiri. Selain itu..., aku masih kuliah. Aku tidak ingin fokusku terpecah.”


Serius. Hanya itu yang terlihat diwajahku. Tegas, nada bicaraku ditambah menatap intens keduanya.


“Mama tahu ini tidak adil bagimu Dela. Jika Mama berada diposisimu Mama bahkan juga akan menolak mentah-mentah.


"Ketahuilah Mama dan Papa sudah berusaha memberitahumu lebih awal tapi hal ini pasti akan menganggu pikiranmu.”


“Sekarang pun Dela masih merasa terganggu Ma. Bahkan hal ini juga membebaniku.” Mama menatapku lebih dalam dengan wajah sendunya sedangkan Papa memijat kepala kemudian bicara.


“Kita adalah keluarga modern Dela. Jangan pernah berpikir bahwa ini adalah perjodohan kolot, tradisi ataupun pernikahan paksa.


“Papa juga memikirkan anak Papa satu-satunya. Untuk itu setelah kalian bertemu nanti baik kamu dan anak teman Papa bisa memutuskannya. Apakah perjodohan ini bisa diteruskan atau tidak.”


Wajah yang semula tegang, khawatir dan kecewaku seketika berubah menjadi berbinar. ‘Bisa diteruskan atau tidak’, itu berarti pernikahan ini belum final.


Aku masih punya kesempatan untuk mengelak.


“Dengan satu syarat.” Aku menatap kedua orangtua ini dengan tatapan serius.


Astaga, lagi-lagi mereka mengajukan syarat.


“Kalian akan berada pada masa percobaan selama dua bulan. Anggap saja itu sebagai tahap perkenalan dan saling mengetahui satu sama lain.”


“Oke.” Kataku akhirnya.


Sungguh aku ingin menolak keras perjodohan ini. Tapi aku tidak ingin mengecewakan Papa dan Mama. Aku tahu sebagai orang tua mereka pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Karena itulah untuk saat ini aku menuruti semua keinginan mereka.


Dalam kamar. Aku masih terus memikirkan ucapan kedua orang tua itu.


Yah, aku memang sudah menyetujuinya tapi hal itu benar-benar menganggu pikiranku.


“Siapa sih orang yang sudah mencuci otak Papa dan Mama sampai mereka menjodohkanku seperti itu.”


Aku mengepalkan tangan sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur.


Aku pergi ke meja makan dengan langkah gontai. Biasanya aku selalu bersemangat jika berhubungan dengan makanan. Tapi sekarang, aku bahkan tidak berselera menatap ayam goreng extra pedas dihadapanku.


Astaga..., padahal itu adalah menu kesukaanku sebelum pembicaraan semalam benar-benar menganggu moodku sepagi ini.


“Sayang, malam ini keluarga tuan Cloriea bertamu ke rumah kita. Kamu langsung pulang ya setelah selesai kuliah dan bantu Mama menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan mereka.”


Aku yang sedang makan dengan setengah dipaksakan refleks melihat Mama.


“Mereka akan datang malam ini, cepat sekali.” Aku meringis pelan saat menyadari apa yang ku katakan.


“Dela. Makanlah dengan benar. Papa tahu semuanya memang tiba-tiba. Tapi kamu tidak boleh bersikap seperti itu.”


Aku membeku mendengar perkataan Papa kemudian mengangguk. Semenjak pembicaraan semalam aku merasa beliau semakin banyak bicara.


“Ma, apa..., aku mengenal orang yang akan dijodohkan denganku? Dan apakah dia juga mengenalku?” Tanyaku setelah selesai menghabiskan makanan.


Aku bersyukur porsi makanku sama sekali tak berkurang. Perkataan Papa membuat selera makanku kembali.


Lagi pula kenapa aku harus kehilangan selera makan? Aku butuh banyak energi untuk memikirkan cara melepaskan diri dari perjodohan ini.


“Tidak.


“Kalian memang teman sepermainan sejak kecil. Tapi Mama yakin kamu belum bisa mengingatnya. Waktu itu usiamu baru dua tahun sedangkan Deri lima tahun. Mama juga tidak yakin apakah Deri masih mengingatmu atau tidak, sebab tidak lama setelah itu mereka pindah ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan.”


Dahiku menyeryit mendengar penjelasan Mama. Baru saja aku ingin mengajukan pertanyaan lagi tapi Papa sudah lebih dulu menggambil alih keadaan.


“Sekarang Deri sudah menjadi CEO pada salah satu cabang di perusahaan keluarga mereka.


“Untuk lebih detailnya kamu bisa bertanya langsung kepada Deri nanti malam.”


Wajahku langsung berubah masam. Apa-apaan sih, Papa malah menyuruhku bertanya langung pada orang yang bernama Deri itu?


Terlebih saat aku melihat Mama yang terkekeh. Ya ampun, mereka bersikap seolah-olah aku sangat penasaran dengan orang yang bernama Deri. Aku menggambil buah apel kemudian beranjak pergi meninggalkan rumah.


“Sayang jangan lupa pesan Mama tadi.”


“Iya.” Kataku bermalas-malasan.


Sepedaku mulus berhenti ditempat parkiran. Jarak antara rumah dan kampus tidak terlalu jauh. Kira-kira memakan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke tempat ini. Aku sengaja memilih kampus yang dekat dengan rumah begitupun dengan tempat kursusku.


“Hy Dela.


“Ada apa dengan wajahmu, kok cemberut?"


Aku tersenyum pada Hiery sebelum menjawab pertanyaannya. Hiery adalah temanku selama kuliah disini. Sedangkan teman-teman masa SMA-ku pergi melanjutkan pendidikan ke luar kota.


“Tidak apa-apa ayo masuk.”


Aku senang mendapatkan teman seperti Hiery. Dia adalah orang yang lemah lembut, manis, dan tentunya baik. Awal pertemuanku dengannya ketika ia hampir tertabrak sepedaku. Untungnya aku masih bisa mengelak. Alhasil aku terperosok kedalam semak belukar. Dan dia menolongku, tidak seperti orang-orang disekitar kami yang malah sibuk tertawa. Harus ku akui posisiku waktu itu memang memalukan.


“Hari ini kita hanya satu makul. Bagaimana setelah ini kita pergi ke perpustakaan?”


Kemanapun kami pergi, tempat tujuan utama adalah perpustakaan. Satu hal yang membuat aku dan Hiery cocok, yup kami sama-sama suka membaca buku. Tidak heran jika teman-teman yang lain menjuluki kami si kutu buku. Aku sih tidak masalah. Terserah apa yang orang-orang katakan. Pada kenyataannya buku-buku memang sangat menyenangkan. Apalagi jika menyangkut pelajaran yang ku sukai.


“Maaf aku tidak bisa Hiery.”


“Kenapa, kamu ada pelajaran kursus lagi ya?”


Aku menatap wajah penasaran Hiery, kelihatannya ia sangat ingin pergi ke perpustakaan. Jika tidak denganku ia jarang melakukan hal tersebut.


Hiery adalah orang yang pemalu sekaligus masih sangat polos. Ia bahkan belum pernah berpacaran meski aku juga sama sepertinya. Hanya saja aku tidak selugu Hiery.


Baru saja mulutku hendak mengatakan sesuatu tapi terhenti saat aku menyadari bahwa hampir saja keceplosan padanya. Aku tidak ingin perihal perjodohan itu diketahui oleh siapapun termasuk Hiery.


“Em..., aku harus membantu Mama belanja kebutuhan rumah."


Aku melihat wajah lesu Hiery.


“Begini saja, kita pergi ke perpustakaannya besok bagaimana?”


“Oke, terima kasih Dela.”


Aku membalas senyum manis Hiery. Dengan wajah cantik, senyum manis dan sifat lemah lembutnya banyak orang yang tertarik pada Hiery.


Hanya saja anak ini masih terlalu polos hingga tidak ingin berpacaran. Mengenai hal ini aku juga sependapat dengannya.


Perkulihan berjalan singkat. Baru saja aku menginjakkan kaki didalam rumah Mama sudah mewanti-wanti agar aku bergegas menemaninya berbelanja. Aku yang tak ingin membuat beliau mengoceh pun langsung menurut.


°°°°°°°°°°°