Classical Love

Classical Love
Syukurlah



Hyerin Delaxa


“Selama ini aku tidak merasa punya musuh yang terlalu berbahaya. Kenapa hal ini bisa terjadi?”


“Berhenti bicara Dela. Biar Polisi yang mengurus hal itu.”


Aku mendengus mendengar perkataan manusia es.


Ini sudah 30 menit setelah keluarga kami datang dengan berbagai macam pertanyaan dan raut wajah khawatir.


Sekarang mereka sedang berada diluar ruangan sementara aku yang tidak terlalu mendapat luka serius menjeguk manusia es.


Aku tahu diruangan yang tidak jauh dari ruangan kami Neron dan Naira juga sedang bersama.


Aku sempat mengintip mereka sebentar. Sayangnya mereka tidak hanya berdua karena pasti akan ada salah satu kakak sepupu Naira atau bahkan keduanya sekaligus.


“Dasar tidak mengerti keadaan, tidakkah mereka merasa menjadi seorang penganggu?”


"Ya ampun. Mereka sedang mengkhawatirkan keadaan Dzrilla Dela."


Aku refleks memukul kepala. Kelakuan tersebut mengakhiri aktivitas mengintip ku.


“Sana temui dokter saraf.”


Aku seketika berhenti tersenyum. Dasar manusia es menyebalkan.


“Annoying.”


Dan dia malah tertawa.


“Kupaskan untukku buah apel.”


Aku melototkan mata sebelum akhirnya menggambil buah dan mengupas beberapa.


“Ini.”


“Suapkan untukku.”


“Aku sudah bersikap baik padamu tuan Cloriea. Jangan manja.”


Piring buah tersebut ku letakkan tepat dipangkuan manusia es. Enak saja minta disuapi.


“Aku sedang sakit, tidakkah kamu merasa kasihan?” Aku menghela napas.


Kurasa tidak ada salahnya perhatian padanya. Hanya saja aku tidak ingin dia ngelunjak jika aku bersikap manis.


Kepribadian ganda orang ini harus ku waspadai.


“Buka mulutmu.”


Satu potongan apel mendarat mulus dimulutnya.


Pada akhirnya hal itulah yang ku lakukan.


“Terima kasih.”


Aku tersenyum samar.


"Jangan sampai ketahuan Dela."


“Astaga. Maaf menganggu, aku akan keluar.”


“Tidak usah bersikap seperti difilm-film Hiery, masuklah.”


Aku masih bersikap biasa.


Kejadian itu tidak akan membuatku baper. Setidaknya tidak untuk sekarang.


“Berhenti tersenyum seperti itu.” Kataku masih dengan menyuapi manusia es.


“Aku sangat khawatir dengan kalian. Semoga setelah ini tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi.”


“Ku harap juga begitu.”


“Hiery bagaimana kabar kampus?”


“Stabil. Orang-orang tidak membicarakan hal buruk mengenai kalian.


"Hanya saja kabar penyerangan ini menjadi trending topic.”


Aku memijat kepala.


Hal inilah yang selalu ku hindari, menjadi pusat perhatian. Itulah mengapa aku bersikap biasa dikampus.


“Sudahlah, nanti juga hilang sendiri.”


“Oke."


“Selesai.”


“Belum. Itu.”


Manusia es melirik buah-buahan yang dibawa Hiery. Aku menatap kaget kearahnya.


Apa dia sangat suka makan buah-buahan? Atau bisa saja semua itu hanya kedoknya saja.


Bukannya sok percaya diri. Tapi sikapnya lah yang membuat ku jadi berpikiran begini.


“Hiery tolong bantu kakak sepupu jauhmu ini.”


“Turuti saja Dela.” Kata Hiery sangat polos.


“Dasar bayi raksasa.”


Niatnya aku ingin membuat manusia es kesal. Namun hal tersebut tidak terjadi. Malahan aku mendengar respon tak terduga darinya.


“Giant Baby. Lumayan.”


Aku mantap jengah.


“Ehem.., aku permisi keluar ya.”


“Kak Drie berada diruangan VIP No. 202. Sekalian kamu jenguk Naira.”


“Oke.”


“Bagimana bisa dia tidak bersemu?”


Aku kecewa. Rencana ku ingin menggoda Hiery juga tidak berhasil.


“Kamu kesal?”


“Iya.”


Manusia es tersenyum meremehkan.


Pletak.


“Rasakan.”


Aku tertawa puas.


Sret.


“Sekarang siapa yang menang?” Lagi-lagi jantungku berdetak tak normal.


Hiery Mairy


“Terima kasih telah datang menjeguk Bonnie.”


Bonnie, panggilan yang menggemaskan.


“Tentu dia adalah temanku.”


“Lalu aku apa bagimu.”


“Teman juga.”


“Boleh aku berharap lebih?”


Aku melihat kak Drie bingung. Pasti ada yang aneh.


“Kakak tidak sedang menyatakan perasaan kan?”


“Baguslah kalau kamu tahu.”


Deg. Aku pasti sedang berhalunisani.


“Aku permisi ke Toilet.”


“Jawab pertanyaanku dulu nona Mairy.”


Aku menatap horor tangan kami yang berpegangan.


“Pikirkan baik-baik dulu Kak.


"Aku percaya cinta pada pandangan pertama tapi semuanya butuh proses. Jika Kakak benar-benar serius tolong berikan aku waktu. Aku minta maaf.”


Aku pergi meninggalkan kak Drie.


Toilet, aku butuh mencuci wajah.


Driean Audrikza


“Kasihan.”


Aku menatap malas kak Dinar yang berjalan mendekat.


Aku ingin membalas perkataannya namun suasana hatiku sedang tidak mendukung.


Tepukan hangat kak Dinar mendarat mulus dibahuku.


“Baru kali ini aku menyatakan perasaan pada seseorang. Dan ternyata tidak semudah difilm-film.”


“Jika kamu memang tulus padanya perjuangkan.


"Ada beberapa perempuan yang memegang teguh prinsip mereka. Ada juga yang butuh kepastian perasaan."


“I know. Tentu saja aku akan berjuang.”


Kak Dinar tersenyum lebar, begitu juga dengan ku.


Hyerin Delaxa


Hari Jum’at yang indah. Udara juga sangat bersahabat. Kupu-kupu beterbangan, air mancur mengalir tenang. Taman rumah sakit ini benar-benar bagus.


“Tempat ini bagus kan?”


Aku mengangguk sebelum mengajukan pertanyaan.


Sebelumnya aku sama sekali tak mengetahui orang yang bicara tadi.


“Hy, kamu juga keluar?”


“Aku bosan melihat ruangan putih itu. Lagi pula lukaku tidak terlalu parah. Jadi lebih baik jalan-jalan."


“Benarkah?”


Aku sengaja menyentuh sedikit luka Neron. Dan tentu saja hal itu membuat sang empu meringis. Aku hanya tertawa.


“Kamu atau Naira yang berhubungan dengan kak Deri?”


Aku spontan berhenti tertawa.


“Maksudmu?”


“Aku sudah bertanya pada kak Deri tapi dia tidak mau menjawabnya.


"Kalau bertanya pada Naira rasanya aneh sebab kami tidak terlalu dekat dan baru saja berteman. Sementara denganmu aku sudah tak terlalu merasa canggung lagi.”


Bagaimana ini.


Apa manusia es sudah mengatakan bahwa kami akan menikah?


Ah..., rasanya aku ingin pergi menghilang dari permukaan bumi.


“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu bolehkah aku mengajukan pertanyaan terlebih dahulu?”


Apapun hal yang ku pikirkan, nyatanya aku malah bicara begitu. Cepat atau lambat Neron pasti akan mengetahui hal ini.


Sebenarnya aku masih bisa mengelak sih.


Hal yang akan terjadi kedepannya tergantung dengan respon Neron saja.


“Boleh.”


Aku tersenyum. Sudah lama aku menyimpan satu pertanyaan mengenai Neron. Aku sungguh penasaran dan ini adalah waktu yang tepat.


Walaupun nantinya mau tidak mau aku harus menjawab pertanyaannya, menuju terbongkarnya rahasia hubungan ku dengan manusia es. Maksudku hubungan yang lain.


“Sebelumnya kamu tidak pernah dekat dengan perempuan manapun termasuk teman seorganisasi.


"Lalu kenapa tiba-tiba kamu jadi dekat dengan kami?”


Pertanyaan ku seimbang dengan pertanyaannya kan?


Neron tersentak. Hal itu semakin membuatku penasaran.


“Aku menyukai salah satu dari kalian.”


Aku sungguh kaget. Apa aku tidak salah dengar?


Neron menyukai salah satu dari kami?!


“kalau boleh tahu siapa?” Tanyaku pelan.


“Tidak, kamu harus menjawab pertanyaanku yang tadi.”


Aku mengalihkan pandangan sebentar berusaha meyakinkan diri untuk menceritakan semuanya—semua kecuali perjodohkan, ku rasa begitu.


“Aku.


"Kamu bisa menyebut kami berpacaran atau semacamnya.”


“Baguslah.”


Aku menatap bingung Neron.


Dia tertawa pelan, itu berarti aku jelas keluar dari kandidat.


“Jadi siapa, Naira atau Hiery?”


“Karena kamu sudah jujur maka aku akan menjawabnya.”


Aku semakin melihat Neron. Cepat jawablah.


“Naira.”


Satu detik, dua detik, tiga detik.


“Good.


"Kamu benar-benar tidak salah pilih.


“Tapi kenapa kamu juga dekat denganku dan Hiery?”


Aku bertanya lagi.


“Aku penasan pada kalian terutama kamu.


"Jika saja aku tidak bertemu dengan Naira mungkin saja aku terjatuh dalam pesonamu, Dela.”


Aku sungguh kaget sampai lupa berkedip. Rasanya sangat aneh sampai seluruh sendiku tidak bisa digerakkan.


“Ehem.”


Kami mengalihkan pandangan masih dengan posisi tadi.


“Oh hy kak.”


Neron melambaikan tangan, ekspresinya terlihat ceria.


Berbeda denganku yang menjauhkan diri sesegera mungkin.


“Sedang apa kalian disini?”


“Hanya menghirup udara segar.”


Tangan Neron mendarat mulus dikepalaku. Bukan mengusap melainkan hanya menepuk perlahan.


Aku refleks memukul kepalanya.


Ku lihat manusia es tertawa lepas.


“Aish..., kenapa kamu tidak bisa bekerja sama. Aku hampir berhasil tadi.”


“Jangan melakukan hal itu lagi.”


Aku langsung membuang wajah kearah lain.


Saat sedang jatuh cinta Neron ternyata juga bisa berubah. Tapi ku harap dia tidak mesum seperti manusia es.


“Oke, sorry.


"Aku tinggal dulu ya. Tidak enak menganggu orang yang sedang berpacaran.


"Kak, ku sarankan kau berhati-hati.”


Aku menatap kepergian Neron yang kelihatan seperti anak kecil.


Cinta memang bisa membuat orang jadi aneh bahkan gila.


“Apa yang anak itu katakan padamu?”


“Kasmaran. Dia sedang dalam fase jatuh cinta. Otaknya jadi bergeser karena hal itu.”


“Dia tidak menyukaimu kan?”


“Tidak, dia menyukai Naira.”


Sebuah senyuman terpatri di wajah ku. Aku senang Neron menyukai orang seperti Dzrilla.


“Aku tidak akan membiarkan dia menganggu milikku ataupun menyakiti Naira.”


“Jika aku dan Naira dalam bahaya, siapa yang akan kamu selamatkan duluan?”


“Tentu saja Naira.”


Pletak.


“Sudah ku duga memang itu jawabannya. Aku kan bisa bela diri.”


“Dasar suka menyiksa.”


Aku tertawa kejam persis seperti seorang psikopat.


☼☼☼☼☼