Classical Love

Classical Love
Kami



Akhirnya aku sampai dikampus. Baru saja selesai memarkirkan sepeda aku langsung bergegas mencari Hiery. Kalau pikiranku benar Dzrilla adalah Naira berarti aku harus extra menjaga sikap dan menekan perasaan.


Naira akan pindah kuliah kesini. Aku tidak pernah membayangkan kalau dia akan secantik, sebaik dan seramah itu. Orang yang berpasangan dengannya sungguh sangat beruntung.


“Hiery!” Aku ngos-ngosan bagaikan orang sehabis lari sprint sejauh 25 KM.


“Hey kamu kenapa Dela?” Hiery langsung memberikan air minum untuk ku. Kerongkonganku jadi merasa lebih baik setelah dialiri air.


“Apa nama asli Dzrilla?” Hiery kaget dengan pertanyaanku yang tiba-tiba namun setelahnya ia segera menjawab.


“Maaf aku tidak tahu.” Aku terlihat lesu mendengar jawaban tersebut.


“Tunggu aku periksa di handphone dulu ya.”


Semangatku kembali. Dengan hati yang berdegub kencang ku tunggu Hiery selesai dengan ponselnya. Aku harap Dzrilla mencantumkan nama asli disalah satu akun ataupun situs-situs di internet.


“Ketemu. Naira Audzrilla.”


“Apa!?”


“Naira Audzrilla.” Kata Hiery mengulangi kembali nama tersebut seolah-olah perkataanku tadi adalah pertanyaan. Sebenarnya itu bukanlah pertanyaan melainkan pernyataan kaget. Dalam situasi kacau aku memang sering bertingkah membingungkan.


“Astaga Hiery.”


“Why Dela?”


“Aku bertemu dengannya. Aku bertemu dengan Naira Audzrilla.”


“Apa! Dimana?”


Aku memutuskan mengajak Hiery bicara dikelas. Bicara ditempat umum sambil berdiri membuat kami jadi pusat perhatian, baik aku dan dia tidak suka diperhatikan.


Hiery terlihat sedang memijat kepala sementara aku menunduk. Kami baru saja selesai membicarakan pertemuanku dengan Naira Audzrilla.


“Aku tidak pernah berpikir jika kalian akan bertemu secepat ini.” Hiery bicara masih dengan posisi memijat kepala setelah itu melihat kearahku.


“Setelah ini bagaimana?”


“Entahlah. Aku juga bingung harus bersikap seperti apa dengannya.”


Rencanaku yang ingin berbicara empat mata dengan Dzrilla alias Naira jadi meluntur saat aku bertemu dengan orang tersebut. Ini tidak semudah yang ku pikirkan.


“Wait. Bukannya kamu memang ingin bertemu dengan Dzrilla. Bukankah ini bagus?”


“Benar. Tapi tidak secepat ini.”


Tiba-tiba ponselku kembali mengeluarkan suara. Aku tampak gusar, kenapa akhir-akhir ini aku sering lupa menghidupkan mode diam?


Hiery menatapku bingung.


“Dela handphone mu berbunyi.”


“Aku tahu.”


“Lalu kenapa tidak diangkat?”


“Baiklah.” Mataku terpaku lama pada layar ponsel.


“Siapa?” Aku menatap Hiery serius.


“Neron.”


☼☼☼☼☼


Aku dan Hiery mendengar penjelasan Neron dengan saksama. Berdasarkan penjelasannya aku akan diwawancarai dengan diambil vidio.


Aku pikir aku hanya akan melakukan wawancara biasa. Jika pun memang harus memakai alat elektronik palingan hanya rekaman suara saja.


“Bagaimana apa kamu bisa?”


Hiery menyenggol tanganku saat aku masih belum menjawab pertanyaan Neron.


“Ner bisakah hanya direkam saja, atau difoto?”


“Maaf tidak bisa Dela. Rencananya vidio tersebut akan kami masukkan ke channel Youtube resmi Pers Ziyath.”


Ya ampun, Youtube. Aku tidak ingin wajahku sampai terexpose dimedia sosial.


“Bagaimana ya Ner. Sejujurnya aku tidak mau wajahku di post diinternet.” Aku tersenyum kikuk pada orang dihadapanku ini.


“Ayolah Dela aku sangat menghargai privasimu. Tapi tolong bantu UKM Pers ini.”


Aku terlihat sedang memikirkan permintaan Neron yang sudah terlihat seperti permohonan. Ternyata orang ini termasuk pembujuk yang cukup baik.


“Masih ada beberapa orang yang mengikuti lomba tersebut. Bagaimana kalau kamu meminta bantuan salah satu dari mereka?”


“Ah iya benar.”


“Apa kamu benar-benar tidak bisa membantu UKM Pers Ziyath Universitas Namith Zela?”


Ah..., Neron menyebut nama UKM Pers dengan kampus sekaligus. Aku jadi tidak tega mendengarnya. Selain itu aku yang sangat bangga dan mempunyi rasa memiliki terhadap kampus sangat tersentuh mendengar kalimat tersebut.


“Oke l will. Aku mohon bimbingan dan kesabaran UKM Pers Ziyath karena ini pertama kalinya bagiku.”


Hiery menatapku kaget. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bersikap seperti ini. Akan tetapi jika menyangkut nama kampus aku tidak bisa tarik ulur seperti tadi. Sejak awal ini memang adalah kegiatan kampus. Aku hanya terlalu kaget saat mendengar bahwa akan dibuatkan vidio.


“Thank’s Hyerin Delaxa.”


“You’re welcome.” Hiery menatapku takjub sekaligus kaget.


☼☼☼☼


"Dela, bagaimana mengenai hubunganmu dengan kak Deri?”


Aku menatap Hiery malas. Entah mengapa mendengar nama si manusia es membuat moodku menjadi buruk.


“Dia benar-benar tidak punya perasaan. Aku memang sudah biasa tidak berhubungan dengan banyak orang. Tapi baru kali ini aku merasa seperti diacuhkan."


“Itu berarti kamu mulai menyukai kak Deri.”


Aku langsung kaget mendengar perkataan Hiery. Apanya yang menyukai, yang ada si manusia es membuatku kesal setengah mati.


“Ini bukan rasa suka Hiery melainkan kesal. Aku masih cukup waras untuk tidak menyukai si manusia es. Dia kelihatan seperti patung manekin.”


“Hus Dela. Nanti kualat, yang ada kamu malah menyukai kak Deri. Lagipula kak Deri mungkin sibuk. Kamu kan juga tahu hal itu.”


Hiery terlihat tak terima aku mengatai kakak sepupu jauhnya. Untuk hal ini aku pun juga akan bertindak sama seperti Hiery.


“Iya, maaf. Aku hanya terlalu terbawa suasana.” Hiery tersenyum maklum.


Aku menaiki sepeda dengan hati-hati. Suasana hatiku sedang buruk aku tidak ingin sampai melamun ditengah jalan. Jadi lebih baik aku mengosongkan pikiran.


“Sayang kamu sudah pulang. Sini, duduk dulu.”


“Ada apa?”


“Tadi Deri datang kerumah. Dia bilang bahwa ia akan pergi ke luar kota selama seminggu untuk rapat pemegang saham perusahaan. Dia juga meminta maaf sebab tidak sempat menghubungimu tiga hari ini.” Aku menatap Mama serius.


Apa maksud si manusia es repot-repot datang ke rumah hanya untuk mengatakan hal itu kepada Mama?


Selain itu apa susahnya sih menghubungiku setidaknya satu kali?


Dia kan bisa melakukannya dengan ponsel.


“Kenapa sih dia repot-repot datang ke rumah padahal bisa melakukannya lewat handphone?”


“Itulah bedanya Deri sayang. Nanti kamu pasti akan mengerti.” Kata Mama dengan tersenyum penuh arti.


“Iya Ma. Dela pergi ke kamar dulu.”


Mama mengangguk. Sebelum sampai ke kamar aku masih sibuk mengoceh pada diri sendiri.


“Manusia es memang benar-benar. Dia membuatku jadi aneh seperti ini.”


Tidak sampai disana, saat sampai ke kamar pun aku masih menyempatkan diri bertarung dengan pikiran.


“Aish..., ini tidak benar. Aku harus melakukan sesuatu.” Sebuah ide terlintas dipikiranku.


Yes, aku menemukan ide yang cukup bagus.


“Halo, Hiery."


“Halo. Apa ini Dela, tumben kamu menghubungiku.”


“Tolong kirimkan No. Ponsel Dzrilla untukku.”


“Halo, Hiery?”


Aku kembali bicara saat Hiery tidak merespon permintaanku.


“Ah..., te-tentu. Tapi kalian tidak akan bertengkar kan?”


Aku tertawa renyah mendengar nada bicara sahabat ku itu. Sangat jelas bahwa ia sedang khawatir.


“Tenang saja Hiery. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.”


“Ha-ha-ha. Benar juga. Aku tahu kamu tidak akan melakukan tindakan ceroboh.”


“Em.”


Beberapa menit kemudian Hiery mengirimkan No. Ponsel Dzrilla. Aku menyimpan nama lengkapnya di ponsel milikku. Satu tarikan napas panjang menandakan bahwa aku siap menghubungi Dzrilla. Aku memilih WA sebagai obrolan dunia maya pertama ini.


°°°°°°°°°°°°°