Classical Love

Classical Love
barbeque party



sial, aku merasa jadi orang idiot.


"Kalau begitu buktikan."


cukup, aku sudah tidak bisa lagi.


Aku segera menepikan mobil.


Menjemput seseorang, ku pikir lebih baik menggunakan mobil daripada motor.


"Dengan apa, aku harus melakukan apa?" tanyaku cepat.


Naira menggambil napas panjang dan menghembuskan perlahan.


Cukup lama kami saling beradu pandang satu sama lain.


"Cium aku."


Aku kaget. Benar-benar kaget.


"Kamu kaget kan. Kalau begitu sudah lupakan."


Aku ditolak?


Apakah begini cara Naira menolak seseorang.


Dia kembali menatap lurus ke depan.


Baru sepersekian detik orang tersebut melakukan hal itu, aku refleks menarik tengkuknya dan mencium. Tepat seperti yang ia katakan.


Bedanya tujuan ku bukan pipi apalagi bibir. Sebuah ciuman di kening.


***


~Naira Audzrilla~


"Cium aku."


Aku mengatakan itu karena tahu orang yang sedang ku hadapi adalah Neron Wardana. bisa dibilang bahwa aku menyimpan banyak kepercayaan pada orang ini.


Aku memang belum terlalu lama mengenal Neron. Tapi aku merasa nyaman saat berada didekatnya.


Aku tahu persis apa yang sedang ku katakan. Dia mengungkapkan perasaan padaku. Apa yang ku sebutkan tadi adalah ingin mengetahui apakah orang ini tulus atau tidak.


Permintaan ku adalah mencium.


Aku ingin melihat apa yang akan dilakukannya.


Mencium pada daerah mana.


Disamping panggilan dan segala perlakuannya, entah mengapa mengingatkanku pada Deri--yang sebentar lagi akan menjadi milik orang.


Aku tahu risiko apa yang akan ku dapatkan. Yaitu kehilangan first kiss ku.


Hal yang ku jaga baik-baik untuk suamiku nanti.


Mungkinkah rasa nyaman sampai membuat ku berharap lebih? Seperti Neron-lah yang akan menjadi suami ku nanti.


Aku tidak tahu. Perkataan itu sudah terlanjur keluar.


°°°°°°°°°°°°


aku, Hyerin Delaxa


"Aku ingin makan ini."


"Aku juga mau."


Nyam. Nyam.


Mereka semua--maksudku Naira, Hiery dan kak Drie sangat menikmati daging panggang. Sementara itu aku sibuk memanggangnya.


Hiery sudah cukup akrab dengan kak Drie. Buktinya sekarang mereka asyik bercanda sembari memakan daging hasil jerih payah ku.


Mereka keenakan makan.


Seharusnya ada satu orang saja yang peka atau setidaknya berbaik hati membantu ku.


Bukannya aku tidak ikhlas. Ini cukup melelahkan lho.


hah...


"Sini aku bantu."


Akhirnya. Hal yang ku tunggu-tunggu pun tiba. Meski agak terlambat yang penting pertolongan datang. Hanya saja bukan pertolongan itu bukan berasal dari Maes melainkan Neron.


tak apa-apalah. yang penting masih ada yang mau bantu saja aku sudah bersyukur.


"Terima kasih."


Orang itu tersenyum. Aku segera melihat Naira.


Dia terlihat baik-baik saja. Tentu, kami semua adalah teman. Interaksi kami tidak lebih dari hubungan pertemanan.


Selain itu masing-masing dari kami tahu bahwa Neron dan Naira berpacaran.


untuk itu aku pun juga akan memperhatikan diri sendiri mungkin. jangan sampai kesalahpahaman terjadi antara kami.


"Aku ingin minta lagi."


"Aw."


"Ops. Maaf Dela. Kakak tidak sengaja."


Kak Clari menjatuhkan daging sosis panas tepat mengenai tangan ku. Dilihat dari gerakannya kak Clari memang tidak sengaja.


"Biar aku obati."


"Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri Kak. Kakak lanjut bergabung bersama yang lainnya," kataku tersenyum.


"Kotak. Kotak. Dimana kotak P3Knya?"


Aku kebingungan. saat ini aku sudah pergi ke rumah untuk mencari kotak P3K.


Kami mengadakan pesta barbeque dirumah Naira. Ini baru pertama kalinya aku datang kesini. untuk wajar jika aku tak tahu letak kotak pertolongan pertama pada kecelakaan tersebut.


"Lho Dela. Kenapa kamu ada disini?"


Aku sontak melihat ke arah sumber suara. Ternyata Neron. Tadi dia memang pergi untuk menggambil persediaan daging dan sosis.


"Apa kamu tahu letak kotak P3K, tanganku melepuh."


Seluruh orang dan keluarga Naira sedang menikmati pesta. Jadilah aku hanya sendiri.


"Harusnya tadi kamu bertanya dulu kepada pemilik rumah."


"Sudah tidak sempat lagi Ner. Luka ini sakit tahu."


"Untung saja aku tahu seluk-beluk rumah ini."


Perkataan Neron seakan menjelaskan bahwa ia sudah sering mengunjungi rumah Naira. Wajar saja sih, mereka berpacaran kan sudah semingguan lebih.


Ingatan Neron kuat ya sampai langsung hafal seluk-beluk rumah Naira hanya dalam waktu segitu.


"Sini aku obati."


"Hahaha. Tidak perlu. Aku bisa sendiri."


"Naira tidak akan cemburu jika aku membantumu. Kemarilah."


Lho, kok malah kesana. Tapi benar juga sih aku pun memikirkan yang sama.


ku biarkan Neron mengobati lukaku. Tidak apa-apa. Kami hanya saling membantu. tak lebih.


"Selesai."


"Terima kasih," kataku yang melihat hasil perawatan Neron.


tapi, untuk ukuran seorang laki-laki dia cukup bisa mengobati.


"Tentu. Sekarang ayo kita kembali."


Aku mengangguk dan mengikuti langkah Neron. Kami berjalan beriringan.


"Dela, tanganmu kenapa?"


Baru saja menginjakkan kaki, kedatangan kami langsung disambut pertanyaan oleh Naira.


Naira ya bukan Maes.


Apa aku mengharapkan Maes?


Tidak.


orang itu terlalu sibuk untuk ku harapkan.


"Tadi terluka saat memanggang sosis."


"Lain kali hati-hati, Dela."


Nah kalau yang ini Hiery yang bicara.


"Baiklah."


Kami kembali menikmati acara pesta. Manusia es pun juga sudah tidak membicarakan pekerjaan lagi, karena yang ku lihat sekarang dia sudah tertawa bersama yang lain.


Hal lain yang ku lihat adalah dia sedang membantu Naira menyusun balok permainan.


Lihatlah, mereka bahkan tidak mengajakku.


tega sekali sih.


"Hahaha."


Aku menatap kesal seseorang yang tertawa tersebut. Siapa lagi kalau bukan Neron. Padahal dia juga bernasib sama seperti ku, lantas kenapa malah tertawa?


"Wajahmu lucu jika sedang kesal. Mirip pakaian yang tidak diseterika selama sebulan."


Pletak.


Pukulan ku tepat mengenai sasaran yaitu kepalanya. Aku kembali bersikap biasa setelah melakukan itu. Akan tetapi sepersekian detik setelahnya Neron menarik telingaku.


"Ya, ya, lepaskan."


Bukannya melepas atau setidaknya melonggar tarikan, yang ada justru Neron malah semakin kencang menarik telingaku.


aku bukan anak kecil tahu!


Ini tidak bisa dibiarkan. Lama-lama telingaku bisa putus.


Bugh.


Aku menyerang perut Neron menggunakan siku.


Aduh terlalu kuat tidak ya?


Neron sampai meringis kesakitan. tanpa membuang banyak waktu aku pun segera membantunya.


"Aaa."


Kami spontan mengalihkan pandangan. Disana Maes merangkul Naira. Menahan tubuh tersebut agar tidak terjatuh.


Aku menatap nanar. Namun sedetik setelahnya segera membantu Neron.


°°°°°°°°°°°


Apa lagi ini!?


Kenapa akhir-akhir ini kampus sangat tertarik dengan gosip. Lagi-lagi aku, Naira dan Neron terseret didalamnya. lalu lagi-lagi juga, umpannya adalah sebuah foto.


Foto ku dan manusia es. Foto Naira dan Neron.


korban foto yang bertambah.


menyebalkan.


Ini pasti kerjaannya fans Neron. Iya. Aku 100% yakin.


Tidak bisa dibiarkan. Aku harus memberikan pelajaran hidup pada mereka. Bisa jadi pelajaran kampus masih kurang hingga mereka melakukan hal ini.


"Ya! Katakan apa kamu yang melakukannya?"


Kebetulan orangnya sedang berada disekitaran tempat ini. Aku yakin dia pasti menyebar pidato provokasi mengenai foto ini.


Aku sudah tidak memperdulikan apapun lagi.


Hiery masih belum datang. Dia bilang akan datang terlambat sebab ada pekerjaan yang harus diurus.


Lagipula ada atau tidaknya Hiery aku tetap harus menjelma menjadi guru.


sudah bersikap untuk mengamuk ini.


"Apa maksud mu?"