
“Oya lalu kalian dimana?”
Tepat saat Dzrilla mengatakan hal tersebut matanya tak sengaja melihat aku dan Hiery.
“Akan lebih baik kalau dia tahu kita berteman dariku secara langsung kan, daripada dia berpikiran yang macam-macam jika tahu kita berteman tanpa pengenalan sudut pandangku.”
Hiery mengangguk mengerti. Hanya saja masih terlihat jelas ekspresi linglung diwajahnya.
Aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. Hiery bersikap begitu sebab pikiran yang masih polos.
“Hy.”
“Hy.
"Nah ini dia teman yang ku bicarakan tadi.” Dzrilla menatap Hiery lama.
“Hiery. Kamu Hiery Mairy kan sepupu jauh Deri?”
Perasaanku jadi aneh mendengar Dzrilla menyebutkan nama manusia es sementara Hiery tersenyum ramah. Namun dengan cepat aku bisa mengubah ekspresi wajah.
“Baguslah jika kalian sudah saling kenal.” Keduanya tersenyum. Hiery juga terlihat sangat senang.
“Bagaimana kabarmu Hiery?”
“Baik. Kamu sendiri?”
“Aku juga baik.”
Aku melihat mereka tertawa bersama. Entah mengapa aku terasa seperti obat nyamuk padahal mereka bukan sepasang kekasih, hanya dua orang sahabat yang saling melepas rindu.
“Kalian sudah lama berteman?”
“Ah, lumayan. Kami sudah berteman selama kuliah.” Kataku yang baru saja tersadar dari kegiatan memperhatikan mereka.
“Hier apa kamu tahu bagaimana kabar Deri?” Aku melihat Dzrilla sekilas.
Apa dia baru saja menanyakan manusia es?
“Eee..., itu...,”
“Tenanglah Hier. Aku menanyakannya bukan karena masih mengharapkan Deri. Aku tahu dia sudah dijodohkan.”
Perkataan tersebut benar-benar membuatku merasa tak nyaman sampai-sampai ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi.
“Bukan begitu Dzrilla. Aku hanya tahu kak Deri sedang berada diluar kota. Tapi aku tidak tahu dimana.” Hiery terlihat tersenyum kikuk.
“Dia ada di Bali mengurus rapat sesama pemegang saham.”
Kedua orang itu langsung menatapku heran. Sementara aku sudah tidak tahu harus melakukan apalagi.
Aku tersadar dari lamunan sendiri. Sekarang yang kulihat adalah Dzrilla dan Hiery yang sedang membicarakan perihal kuliah.
“Sudah pukul 14.30, sebaiknya kalian masuk.
“Sampai jumpa Dela, Hier.”
“Da...!!!”
☼☼☼☼☼
“Ini buruk. Aku tidak pernah terbayang-bayang seperti ini.”
Tanganku memijat kepala yang terasa berdenyut nyeri. Aku sedang berada ditempat kursus. Baru kali ini jadwal kursusku diganti ke sore hari. Ini sudah hari kedua otakku tak bisa berhenti memikirkan Dzrilla dan manusia es sampai terbayang-bayang.
Perasaanku menjadi tidak enak dengan perkataan Dzrilla kemarin. Rasanya seperti ada beban emosional.
Bahkan hanya sekedar melihat wajah Dzrilla saja membuatku beribu-ribu kali merasa tak nyaman.
“Buku, dimana buku. Aku harus membaca.”
Pikiranku berangsur-angsur membaik setelah membaca beberapa kalimat dibuku. Aku tahu jika sedang pusing otakku hanya perlu melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiran.
Udara merupakan lambang kehidupan. Aku tahu manusia tak akan bisa hidup tanpanya dan aku juga cukup mengerti bahwa ia bisa membuat pikiranku menjadi tenang. Selain membaca buku berinteraksi dengan lingkungan bisa membuat otakku rileks.
Aku berhenti disebuah pelataran sawah. Disana terdapat air mancur dan batu untuk duduk. Pemandangan yang lebih menarik perhatian adalah hamparan lautan tumbuhan yang mulai menguning.
“Hah..., sudah lama aku tidak kesini.” Aku segera mencari posisi ternyaman untuk duduk.
“Lho Dela.”
Tanganku refleks memukul seseorang yang baru saja menghampiriku.
Dengan berbekalkan kemampuan karateku sudah dipastikan orang tersebut jatuh dari batu ini jika aku tidak menariknya.
“Neron. Aduh maaf, maafkan aku.”
Aku sungguh merasa tidak enak pada orang satu ini. Kalau saja dia benar-benar jatuh tidak hanya badannya yang akan kotor bahkan ia juga bisa terluka.
Jika itu terjadi entah apa kabar yang akan beredar nanti.
“Aku tidak pernah tahu kalau kamu bisa bela diri.” Aku tersenyum kikuk kemudian mengatakan permintaan maaf lagi.
“Sudahlah lagipula itu salahku.”
Sebuah senyuman terukir manis diwajahnya.
“Sedang apa kamu disini?”
“Aku ingin menyegarkan pikiran. Kalau kamu?”
“Mencari inspirasi untuk melukis.”
Aku mengerjap-ngerjap heran.
Orang seperti Neron suka melukis?
Itu kedengaran aneh.
Saat ini sifat kerennya berubah. Bahkan auranya pun terasa berbeda. Aku mengalihkan pandangan.
“Besok apa kamu sibuk? UKM Pers Ziyath ingin mengajakmu latihan penggambilan vidio.”
“Tidak terlalu. Besok libur dan kebetulan aku berencana pergi ke kampus menemui teman. Jadi ku rasa aku bisa.”
“Baguslah.”
Aku melirik Neron yang mengeluarkan alat melukisnya. Aku sangat ingin melihat karya orang itu.
Apakah terlihat indah seperti paras sang pelukis?
“Dela bagaimana pendapatmu mengenai hasil lukisan ini?”
Entah Neron menyadari kegelisahanku atau tidak, tidak lama setelah aku melirik sebentar kearahnya lalu mengalihkan pandangan dia kembali membuka pembicaraan.
Dia peka atau aku yang terlalu kentara?
“Indah. Aku suka seseorang yang memancing disana dan suasana senja.”
“Ini lukisan pertamaku.”
“Really it’s amazing.” Kataku mendadak semangat.
Aku sudah menduga hasil lukisan Neron akan terlihat sangat bagus dan penuh warna. Tapi nyatanya ia hanya menggunakan warna hitam dan putih namun hasilnya membuatku terasa seperti bertemu seorang pelukis profesional.
“Thank’s.”
“Kenapa kamu tidak ikut lomba melukis atau pameran, atau tidak membuat galeri sendiri.”
“Aku punya galeri sendiri rumah. Mengenai lomba dan pameran aku berencana mengikutinya tahun ini.”
“Wah...! semangat. Aku yakin kamu pasti berhasil.”
Aku langsung tersenyum lebar. Tepat saat itu juga terlintas pikiran bahwa aku sudah terlalu dekat dengan orang yang memiliki banyak penggemar ini.
Astaga gosip. Aku tidak ingin terlibat dalam hal tersebut.
“Em..., sudah pukul 16.30 aku..., pulang dulu.”
“Oke hati-hati dijalan.”
Mataku menemukan sebuah sepeda terparkir dekat sepedaku. Aku tersenyum membayangkan Neron mengendarai sepeda tersebut sebab jika ke kampus ia menggunakan motor besar.
°°°°°°°°°°°°°°
Deri Cloriea
Aku sedang menikmati suasana pagi hari di apartement yang ku sewa selama satu minggu berada di Bali.
Sekarang waktu menunjukkan pukul 05.30 dan aku sudah rapi dengan pakaian santai.
Hari ini seluruh jadwalku kosong jika saja Nessa sekretarisku tidak mengabarkan ada cilent yang ingin bertemu.
“Apa yang sedang dilakukan Dela dan Dzrilla?” Aku tersenyum kecut saat otak ini memikirkan dua perempuan sekaligus.
Jujur saja aku masih belum bisa melupakan Dzrilla namun disisi lain aku tidak bisa memikirkan keduanya.
Itu sama saja dengan mempermainkan hati perempuan dan sikap seorang lelaki brengsek.
Aku melihat layar ponsel yang bertuliskan No. Dzrilla.
Apakah aku salah jika hanya sekedar menanyakan kabar?
Waktu putus dahulu aku mengatakan padanya agar tetap menjadi teman tapi aku sama sekali tidak pernah menghubunginya lagi setelah hari itu.
“Halo.”
“Halo. Apa ini Deri?”
“Iya.”
“Lama tidak bertemu.” Aku diam mendengar suara tawa yang diiringi kalimat ringan tersebut.
Ada sesuatu yang aneh setelah sekian lama tidak mendengar suara ceria itu semenjak aku memutuskan untuk menuruti permintaan Ayah dan Ibu.
“Ah iya, kamu kuliah dimana?”
“Universitas Namith. Disana aku bertemu banyak orang salah satunya Hiery sepupu jauhmu.” Aku kembali diam mendengar perkataan Dzrilla.
Univeritas Namith, kalau tidak salah itu merupakan tempat kuliah Dela.
Apa mereka bertemu?
“Oh ya kamu sedang berada dimana? Hiery bilang kamu sedang berada diluar kota.
"Apa kamu sangat sibuk hingga jarang memegang ponsel. Hiery sepupu jauhmu saja sangat sulit menghubungimu.”
“Ini tahun pertamaku menjadi CEO. Yah jadi begitulah.”
“Kamu membuatku takut terjun ke dunia Bisnis.”
“Tenanglah, aku hanya ingin bekerja maksimal.” Kataku kemudian terkekeh pelan.
Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari obrolan ringan sampai ke masalah pekerjaan. Basic sama-sama bergelut pada dunia bisnis membuat kami berbicara dengan mudah. Meski sekarang hubunganku dengan Dzrilla hanyalah perteman namun sikap ramahnya masih seperti yang dulu. Aku senang Dzrilla sama sekali tak membenciku.
“Oh ya sudah pukul 07.00. Aku harus segera bersiap-siap.”
“Baiklah.”
Aku kembali melihat layar ponsel. Kurasa aku juga harus menghubungi Dela.
°°°°°°°°°°