Classical Love

Classical Love
Sepakat dan Annoying



"Ini silahkan dibaca. Jika ada yang kurang atau dihilangkan katakan saja.”


Aku memberikan kertas ukuran A4. Didalamnya sudah ada peraturan dan kesepakatan dariku. Bagiku semua hal harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati. Apapun yang ku lakukan juga harus penuh perhitungan.


Lagipula tidak ada salahnya menulis perjanjian pernikahan pada kertas A4 kan?


Didalamnya tidak lupa ku berikan materai untuk melengkapi keabsahan berkas. Jika melanggar akan ada sangsi. Dengan demikian baik aku ataupun manusia es akan lebih terikat dan berusaha untuk menjaga diri.


Manusia es membaca kertas tersebut serius. Aku yang tidak ingin menganggu meminum jus pesanan. Aku sengaja mengajaknya ke kafe sekalian untuk mengisi perut.


“Apa maksudnya tidur pisah kamar?”


Aku tersedak minuman.


Bagaimana bisa mulut manusia es sefrontal itu?


Dan ‘pisah kamar’, tentu saja aku kan masih kuliah. Dia berpura-pura bodoh atau hanya ingin menggoda ku? Terlebih ini teman umum.


Tidak akan ku biarkan kau bersikap semena-mena manusia es.


“Aku masih kuliah. Jadi kita tidak bisa satu kamar.”


“Aku tidak setuju.” Mataku melotot mendengar perkataannya.


Apa yang sedang ia pikirkan sampai tidak menyetujui aturan dariku?


“Kenapa?”


“Sebab kita sudah menikah dan itu melanggar aturan pernikahan.”


Aku menarik napas panjang. Jangan sampai aku mengamuk ditempat umum seperti ini.


“Berhenti mempermainkanku tuan Cloriea.


"Terserah dengan aturan pernikahan atau apapun itu yang jelas aku masih kuliah. Pasti ada pengecualian untuk itu.”


“Tidur sekamar bukan berarti aku akan melakukan sesuatu padamu. Aku juga tahu kamu masih kuliah.”


“Kalau begitu kamu tidur dibawah.”


Sekarang giliran manusia es yang terkejut dengan ucapanku.


Jelas aku tidak bisa membiarkannya tidur didekatku. Suatu saat nanti baik aku ataupun dia bisa saja tak sadar melakukan hal-hal diluar batas.


“Baiklah.”


Aku menatap bingung manusia es.


Apa semudah itu ia mengatakan iya?


Ia kemudian melanjutkan bacaan kembali. Aku terus memperhatikan gerak-geriknya. Manusia es cukup aneh dimataku.


“Aku tidak setuju dengan tidak ada kontak fisik.”


“Tentu saja mana mungkin...”


“Aku belum selesai bicara Dela. Maksudku bukan itu.


"Aku masih ingin memelukmu, memegang tanganmu dan mencium keningmu. Itu saja.”


Itu saja?


“Kau yakin hanya itu?”


Dia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaanku. Bisa ku lihat ia benar-benar serius.


Masalahnya disini aku belum siap jika ada adegan ciuman, bahkan hanya dikening.


Sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar tidak terjadi hal menyusahkan tersebut. Aku tersenyum samar tanpa diketahui oleh manusia es.


"Apa ini. Melakukan pekerjaan rumah jika melanggar aturan?" Aku mengangguk.


"Tidak adil. Walau bagaimana pun tugas mu memang melakukan pekerjaan rumah. Untuk itu jika kamu yang melanggar aturan maka kamu harus mencium pipiku."


Dia sungguh gila.


Tidak ku sangka manusia es ternyata mesum juga.


Sebagaimana pun terlihat baiknya laki-laki pasti mereka pernah berpikir hal menjijikkan seperti itu.


"Tidak bisa. Dasar laki-laki mesum."


Kesabaran ku telah lenyap. Tanpa berpikir panjang lagi ku layangkan sebuah pukulan pada manusia es, manusia mesum.


"Aku lelaki normal nyonya Cloriea. Lagipula usulan ku hanya mencium di pipi bukan di bibir. Itu pun juga sebanding dengan melakukan pekerjaan rumah selama seminggu.


"Aku tahu kamu juga tidak berniat melanggar aturan kan?" Katanya sambil menahan serangan dadakan ku. Pergerakan ku ternyata terbaca olehnya.


Aku melepaskan pegangan tangan manusia es. Dengan setengah hati ku anggukan kepala menyetujui usulan hukuman darinya.


Lihatlah aku pasti akan membuat mu melakukan pekerjaan rumah selama seminggu manusia licik.


“Baiklah aku setuju dengan semuanya.


"Satu tambahan lagi, bersikap seperti orang dewasa sebab ini adalah hubungan orang dewasa.”


“Kamu pikir aku kekanakan?” Aku menatap manusia es tak suka.


“Entahlah emosimu masih belum stabil.”


“Aku masih dalam proses pematangan dan setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda.”


Manusia es memperhatikanku hingga aku jadi salah tingkah.


“Aku tidak menyangka anak kecil, cerewet dan keras kepala beberapa tahun lalu tumbuh menjadi seorang perempuan yang pintar dan cantik sepertimu.”


Aku mematung. Apa ini sisi berbeda dari manusia es?


Tidak. Dia sudah banyak menunjukkan sifat tersembunyi.


Dari sekian banyak aku paling tidak suka sifat mesumnya.


“Berhenti membual.”


“Aku serius.”


Aku kembali meminum jus untuk mengalihkan situasi, hal itu tentu saja membuat manusia es tertawa pelan. Astaga rasanya wajahku sudah berubah warna.


°°°°°°°°°°°°°°°


"Hari ini kamu memasak apa?”


Aku kaget melihat manusia es sudah berada dibelakangku. Ini sudah kedua kalinya ia menginap dirumah kami.


Aku tidak terlalu suka manusia es menginap. Setiap kali dia berada didekatku kinerja jantungku akan jauh dari kata normal.


“Nasi goreng, omelet telur dan sayur bayam. Terakhir aku membuat kue brownis cokelat.”


“Memangnya kamu bisa?”


“Tentu, kecuali membuat adonan brownis.” Aku tersenyum mendengar perkataan tersebut.


“Kalau begitu cepat persiapkan bumbu untuk sayur bayamnya.”


Oke kita lihat apakah manusia es benar-benar bisa memasak atau tidak.


Jaman sekarang jarang menemukan laki-laki yang bisa memasak kecuali mereka suka melakukannya.


Aku sesekali melirik manusia es mulai mempersiapkan bahan yang diperlukan. Ekspresi wajahku berubah melihatnya telaten mengolah bumbu tersebut. Sepertinya aku salah jika menganggap dia tidak serius.


“Berhenti mencuri pandang denganku.” Katanya masih dengan kegiatan melumatkan bumbu.


“Percaya diri sekali.”


Aku sengaja pura-pura bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Hitung-hitung sebagai balas dendam.


Akhir-akhir ini manusia es sering membuat wajahku merona dan aku tidak suka saat itu terjadi.


“Kamu yakin?”


Hampir saja aku terjungkal ke belakang jika saja manusia es tidak menahan tubuhku. Sekarang jarak kami sangat dekat, aku bahkan bisa merasakan napas hangatnya menerpa wajahku.


Ingat dia mesum.


“Ya!” Aku refleks mendorong manusia es. Pada akhirnya kami sama-sama terjatuh.


“Aw.”


Pantatku mendarat mulus dilantai sementara manusia es membentur lemari dibelakangnya.


Aku tidak tahu siapa diantara kami yang paling merasakan sakit. Namun saat melihat sikunya mengeluarkan darah aku langsung bertindak dan mencari kotak P3K.


“Maafkan aku.”


Manusia es meringis kesakitan saat kapas alkohol itu menempel dilukanya.


Astaga luka orang dihadapanku bisa sebesar ini.


“Iya tidak apa-apa.”


Pletak.


“Hey kenapa kamu malah memukulku?”


“Sudah ku katakan jangan mengagetkanku lagi. Kenapa kamu masih melakukannya, lihatlah sekarang kamu terluka.” Manusia es menatapku intens, hal itu membuatku kembali merasa tak nyaman.


“Aku..., akan melanjutkan masakan tadi.” Kataku kikuk.


Aku langsung pergi dan menyebalkannya manusia es malah terkekeh pelan. Lihatlah bahkan sedang terluka saja dia masih saja menyebalkan.


Aku melepas kepergian manusia es ke kantor. Semua ini karena ulah Mama yang menyuruh kami bertingkah seperti sepasang suami istri. Aku menghela napas panjang, manusia es juga belum terbiasa.


Hanya saja bisa ku lihat dia cukup menikmatinya.


“Ma, Dela pamit menemui Hiery.”


“Iya sayang.”


°°°°°°°°°°°


“Hiery. What happen?”


Selama kami berada dikedai Hiery sama sekali tidak mengatakan apapun, ekspresinya terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Kemarin aku bertemu orang aneh.”


“Siapa. Katakan siapa yang berani menganggumu.”


“Dia tidak mengangguku secara fisik tapi dia menganggu pikiranku.”


Aku terdiam mencerna maksud perkataan Hiery. Seketika itu juga sebuah senyuman jahil terbit disudut wajah ku.


“Jadi kamu terus memikirkan orang itu?


“Apa kamu tahu siapa namanya?”


“Driean Audrikza. Kuharap aku tidak bertemu dengan orang itu lagi. Dia aneh tapi imut.”


“Laki-laki imut dan aneh, menarik.”


“Apa-apaan sih Dela?”


Hiery memukul pelan bahuku. Jika dia melakukan hal tersebut hanya ada satu kemungkinan yaitu salah tingkah.


Tanpa sepengetahuannya aku mengeluarkan senyuman jahil--lagi.


“Kapan dan dimana kalian bertemu?”


“Kemarin di toko buku dan taman.”


“Driean Audrikza. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.


"Oh iya kakak sepupu Dzrilla. Mungkinkah itu dia, apa dunia sesempit ini?” Hiery menatapku intens, terlihat kaget.


“Terserah. Aku berharap tidak bertemu dengan orang itu lagi.” Aku tertawa renyah.


“Apa kamu takut menyukainya?”


“Berhenti bicara begitu Dela.”


“Oke, aku berhenti.” Kami melanjutkan acara makan.


Teman yang baik akan berusaha membuat temannya mereka nyaman kan? Aku berpikir untuk melakukan hal itu. Namun tidak menutup kemungkinan akan ada saat-saat aku ingin menggodanya.


“Bagaimana hubunganmu dengan kak Deri?”


“Lumayan, jika sudah kenal cukup jauh dia tidak seburuk yang ku pikirkan. Aku hanya tidak suka aturan Mama yang menyuruhku aneh-aneh. Tapi tetap saja sih Maes masih menyebalkan."


"Dia juga mesum."


Ku urungkan niat untuk mengatakan hal tersebut. Jangan sampai pikiran polos Hiery ternoda oleh perkataan kurang ajar tersebut. Mungkin nanti saja aku memberitahukannya.


“Bibi pasti menyuruhmu bersikap manis didepan kak Deri. Aku jadi ingin tertawa membayangkannya.” Hiery tertawa lepas hal itu membuatku cemberut.


“Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan mengenai kak Deri.


“Ku harap belum terlambat.”


Suara tawa Hiery berganti dengan ekspresi serius.


☼☼☼☼☼