
"Dela ada apa?” Aku melihat Hiery menatapku khawatir.
“Kamu tahu, semenjak bertemu dengan sepupu jauhmu itu emosiku jadi tidak stabil. Moodku juga sering berubah-ubah.”
“Itu namanya jatuh cinta.”
Hiery terkekeh yang entah mengapa membuatku tersenyum samar.
“Hey. Apa kalian sudah lama menungguku?”
“Tidak. Ayo berangkat.”
Aku, Dzrilla dan Hiery pergi ke acara Seminar Bisnis. Hubungan persahabatan kami semakin bertambah dekat. Bahkan tidak hanya Hiery aku pun juga merasa nyaman bersahabat dengan Dzrilla.
Dia adalah orang yang menyenangkan. Hanya saja sewaktu-waktu rasa bersalah selalu menghantuiku.
“Aku kenal dengan pematerinya.”
“Oya.”
Dzrilla tersenyum Hiery juga melakukan hal yang sama. Aku pun turut tersenyum bersama mereka.
Kami memperhatikan penjelasan pemateri. Aku yang tidak tahu menahu mengenai dunia bisnis mengajukan pertanyaan. Senang rasanya bisa menambah ilmu disini.
“Wow ilmunya menarik.”
Sungguh. Menambah ilmu itu adalah sebuah pencapaian tujuan hidup menurut ku.
“Naira Audzrilla. Apa benar itu namamu?”
Mata kami beralih pada seorang yang menyebut nama Naira.
Pandanganku seketika menciut melihat orang berdiri tak jauh dari tempat kami. Aku tidak mengenal siapa orang itu, hanya saja dari tatapan matanya sudah ku pastikan dia adalah salah satu penggemar Neron.
Orang itu berjalan semakin mendekat.
“Ku peringatkan jangan mencari perhatian Neron dengan modus tidak berkelasmu.”
Nah kan.
“Memangnya kamu siapa?” Aku melihat Hiery. Sejak kapan dia jadi pemberani seperti ini?
“Tidak penting siapa aku. Hanya saja ingat, kamu dan kalian semua sudah ku peringatkan.”
Darahku sungguh naik. Ada apa dengan orang ini, datang dengan tiba-tiba dan seenaknya bicara begitu. Apa dia ingin membuat kerusuhan?
“Itu tidak baik Nona. Kamu pasti tahu tentang sopan santun kan?”
“Hyerin Delaxa. Aku tahu banyak tentangmu. Jadi jangan ajarkan aku mengenai sopan santun atau kamu akan berakhir menyedihkan. Kamu juga, tolong jaga sikapmu terhadap Neron.”
Orang itu langsung pergi setelah selesai mengatakan hal tersebut. Tidak lupa tatapan mengancamnya.
Kalau saja Hiery tidak mencegahku sudah ku pastikan wajahnya ku cakar.
Aku menarik napas gusar dan melihat tatapan syok Dzrilla. Hari ini benar-benar buruk.
“Jadi begitulah. Ku rasa orang tadi adalah salah satu penggemar Neron. Aku juga kaget ternyata salah satu dari mereka akan bertindak sejauh ini.
"Ku harap kamu berhati-hati. Banyak diantara mereka bisa berubah menjadi paparazi dan stalker tingkat akut.
“Aish..., padahal Neron bukan Aktor, Penyanyi atau bahkan Idol. Mereka kelihatan seperti fans fanatik.”
Hiery terus memperhatikanku dengan heran plus takjub sekaligus kemudian mengalihkan pandangan sebentar.
Sementara Dzrilla kelihatan berpikir.
“Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?
"Katakanlah sebelum aku mengetahuinya dari orang lain atau mencaritahunya sendiri.
"Meskipun itu sakit ku rasa lebih baik mengetahuinya dari kalian saja daripada melalui kedua cara tadi.”
Aku dan Hiery terpaku ditempat.
Apa lagi yang terjadi sekarang?
“Katakanlah, aku mendengarnya saat kalian bicara tadi.”
Ekspresiku berubah kaku. Hiery pun tak jauh berbeda.
“Apa yang kamu katakan, kami tidak menyembunyikan apapun.”
“Aku orang yang dijodohkan dengan Deri, mantan pacarmu.”
Hiery menatapku kaget berbeda dengan Dzrilla diam tanpa ekspresi.
Tindakan ku benar tidak?
“Sudah ku duga.
"Bisakah kita bertiga bertemu malam ini? Di kafe dekat rumahku, nanti akan ku kirimkan alamatnya. Katakan keputusanmu saat kita chat nanti. Sampai bertemu nanti malam.”
Aku melihat Dzrilla berjalan kian menjauh. Aku tak berniat mencegahnya bahkan saat Hiery ingin mengejar segera ku tahan.
Lagi. Tindakan ku benar tidak?
“Why Dela?”
“Aku juga pusing.
"Berikan dia waktu untuk menenangkan pikiran. Aku akan mencari alasan yang tepat agar ia mengerti.”
“Aish..., kalian terjebak dalam sebuah drama.”
☼☼☼☼☼
Manusia es mengenggam tanganku.
Tatapan hororku perlahan berkurang berkat perlakuannya. Aku menarik napas panjang sebelum melangkahkan kaki masuk ke restoran tersebut.
Sekedar informasi. Setelah baru saja mengalami insiden ketahuan tadi aku langsung menceritakannya kepada manusia es.
Aku hanya pasrah terhadap respon Maes.
Dia marah, aku tidak apa-apa. Dia mengatai ku ceroboh, itu memang benar. Dia kecewa, aku tidak bisa berbuat apapun.
Aku sangat takut.
Sahabat adalah orang yang sangat ku hargai. Kehilangan sahabat sama dengan aku kehilangan sesuatu yang berharga.
Bukannya aku diperbudak oleh rasa sayang pada sahabat. Hanya saja kehilangan seorang teman dengan cara seperti ini terasa 'memancing ikan di perairan tenang sementara aku tidak memakai umpan apapun.'
“Naira.” Suaraku terdengar lirih.
Orang yang sibuk memainkan ponsel itu mendongkrak menatap langsung pada tanganku yang masih berada dalam genggaman manusia es.
Ini terlihat seperti mengatakan aku seorang pemenangnya kah? Atau bisa disebut pelakor?
Mereka bahkan belum menikah, tapi aku langsung berpikir merebut hak orang lain.
Aku kejam.
“Silahkan duduk.”
Hatiku mencelos, suara ramah Dzrilla malah terasa seperti tusukan pedang.
Ku mohon Maes. Seberapa pun caramu meyakinkan ku mengenai sifat pengertian Dzrilla sebelum kita pergi kesini, tetap saja aku masih merasa khawatir.
Aku sungguh takut.
Aku menahan napas sebelum mendengar perkataan Dzrilla.
"Bersiaplah Dela. Apapun itu kamu harus menghadapinya."
“Aku sudah memikirkannya. Tidak ada yang salah diantara kita bahkan nasib dan takdir sekalipun. Keadaan ini terlihat buruk sebab perasaan mempermainkan kita. Tapi aku tidak akan membiarkan situasi menyebalkan itu menguasaiku.
"Aku senang bisa berteman denganmu Dela. Aku tahu kamu adalah orang baik jadi ku harap kamu selalu bersikap begitu.
“Aku tidak memintamu mempertahankan hubungan bersama Deri apalagi memohon kalian tetap bersama tapi aku juga tidak akan meminta kalian saling menjauh.
"Kita sama-sama sudah dewasa. Semua orang tahu jodoh itu di tangan Tuhan. Hanya saja kisah pertemuan ini saja yang membuat perasaanku kacau.
"Tapi sudahlah, kita tatap masa depan yang akan datang. Pikiran kacau juga tidak bagus untuk kesehatan. Jadi bersikaplah seperti biasanya terhadapku.”
Aku terus melihat Dzrilla.
Kenapa orang ini bisa bersikap begitu? Dia pasrah, terlalu baik atau memang tidak ingin berjuang?
Aku harus bersyukur atau menanggapinya seperti apa?
Walaupun dia berkata seperti itu, Dzrilla tidak dendam kan?
“Terima kasih Naira. Ku harap kamu bisa menemukan laki-laki yang lebih baik dariku.”
Perkataan manusia es menyadarkan pikiran ku.
“Dengan satu syarat.”
Kami menatap kaget Dzrilla.
Ku harap dia tidak mengajukan syarat yang sulit. Ku mohon.
Harusnya aku berhenti bersikap begini.
'Jodoh kan tidak bisa dipaksakan'
Perkataan Hiery terngiang-ngiang.
Hanya saja aku memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
Atau aku terlalu berlebihan?
Kita kan teman. Sesama teman tidak baik berprasangka buruk. Kecuali orang yang disebut teman itu melakukan sesuatu yang mencurigakan plus aneh.
Aku mulai gila.
“Jangan lupa mengundangku di hari pernikahan kalian.”
Aku tertawa canggung. Menghembuskan napas lega. Ingat menghembuskan napas lega, bukan napas terakhir.
Mataku tak henti-hentinya memperhatikan Dzrilla.
Dia orang baik, haruskah berakhir seperti ini?
Aku merasa seperti orang paling kejam.
Namun pada akhirnya ku putuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Dzrilla jelas orang terbaik yang pernah ku temui--bahkan lebih baik dari Hiery.
Kami membicarakan banyak hal. Aku sempat merasa canggung namun hal itu tak bertahan lama sebab Dzrilla masih ramah seperti biasanya.
Aku harus mensyukuri hal itu.
Terima kasih Naira Audzrilla. Terima kasih banyak atas pengertian mu.
☼☼☼☼☼