
Aku menunggu seseorang keluar dari gedung diseberang jalan.
Entah karena apa rasanya aku sudah tidak sabar bertemu orang yang membuatku rela menunggu seperti ini.
“Akhirnya dia keluar juga."
“Lama tidak bertemu.”
Dia menatapku kaget. Aku hanya tersenyum melihat ekspresi lucu itu.
“Dasar manusia es menyebalkan.”
Satu pukulan mendarat mulus dikepalaku. Aku yang tidak menyangka akan dihadiahi pukulan sehingga tidak sempat menghindar.
“Ya ampun. Maaf, maafkan aku manusia es.”
“Berhenti memanggilku manusia es.”
Rasanya lebih sakit saat ia memanggilku manusia es daripada bekas pukulannya tadi.
Akibat perkataanku itu ia malah menatapku bingung.
“Sudahlah ayo pulang.”
“Sepedaku bagaimana?”
“Aku sudah meminta tolong paman Dii menggambilnya.”
“Tunggu dulu bukannya kamu berada di Bali seminggu. Berarti dua hari lagi kan?”
“Bisakah kita pergi, kamu tidak kasihan melihat kepalaku?”
“Oh..., baiklah.”
Kami sudah berada dalam mobil.
Sesekali ku lirik Dela yang hanya diam melihat keluar jendela. Tidak ada percakapan antara kami.
Baru saja aku ingin berdehem memecah suasana hening Dela sudah lebih dulu bicara.
“Apa kepalamu masih sakit?”
“Tidak.”
“Maaf, lain kali jangan mengagetkanku lagi atau kamu akan terkena pukulan seperti tadi. Aku sering refleks melakukannya. Aku juga cukup tahu tekhnik karate.”
“Baiklah.”
“Kamu sudah pulang, maka dari itu ku rasa langsung saja.
“Kamu..., masih menyukai Dzrilla kan?” Tatapan lurusku pada jalan teralihkan akibat perkataan tersebut.
“Iya. Sekarang aku masih dalam proses melupakan. Kamu tahu tidak ada sesuatu yang instan kan apalagi mengenai perasaan.”
“Pria dingin sepertimu ternyata tahu juga tentang perasaan.”
“Tentu saja. Menurutmu bagaimana aku bisa berpacaran.”
Niatku hanya ingin menggoda orang tersebut namun hal itu malah membuat Dela kembali melihat keluar jendela.
Aku tidak ingin mengusik kegiatannya. Lagipula sebentar lagi kami sampai.
“Kamu tidak menawarkan aku masuk?”
“Memangnya kamu tidak lelah. Bukankah sekarang lebih baik beristirahat?”
“Apakah salah jika beristirahat di rumah calon istri sendiri?”
“Menyebalkan.”
“Kamu mengatakan sesuatu?”
“Masuklah.” Aku tersenyum. Ternyata menggoda Dela menyenangkan juga.
Hyerin Delaxa
Disinilah aku, bersama manusia es. Kami sedang duduk ditaman tempat pertama kali bertemu.
Keadaan tersebut membuat bayangan pelukan berputar-putar dikepalaku.
Rasanya seperti Dejavu.
“Minumlah.”
Aku tersadar dari pikiran sendiri. Wajahku pasti terlihat seperti orang bodoh. Tidak ingin berlama-lama dalam keadaan itu, ku putuskan untuk meminum cokelat buatanku tadi.
“Aku akan menginap disini.”
“Apa?” Aku hampir tersedak minuman jika saja cokelat tersebut belum ku telan seluruhnya.
“Aku sudah meninta izin pada Mamamu. Orangtuaku pun juga mengizinkan aku menginap disini.”
“Astaga, apa kamu juga sering menginap di rumah Dzrilla?”
Sebuah tatapan tajam langsung menyerangku. Dalam hati aku jadi menyesal sudah mengatakan hal tadi. Sekarang aku malah mengalihkan pandangan daripada beradu dengan tatapan tajamnya.
Manusia es ternyata lumayan sensitif.
“Ini oleh-oleh yang kamu inginkan.” Aku melihat bungkusan diatas meja.
“Terima kasih.” Kataku singkat dengan nada dibuat sedingin mungkin.
Hanya saja berbanding terbalik terhadap respon yang ku berikan—menatap isi bungkusan itu dengan tatapan takjub.
Diseberang sana aku sama sekali tidak menyadari manusia es sedang tersenyum.
“Jangan berpikir aneh-aneh tentangku dan Dzrilla. Baru kali ini aku menginap dirumah orang lain. Sudah ku katakan bahwa aku ingin mengenalmu lebih jauh.”
“Kalau kamu menggunakan kesempatan itu, tidak menutup kemungkinan baik aku ataupun dirimu bisa terjebak dalam perasaan aneh. Jika saat itu terjadi, apa kau akan memilihku?
"Aku tidak mau dipermainkan. Aku juga tidak ingin bernasib seperti karakter tokoh dalam drama, novel atau sejenisnya. Kamu sendiri yang mengatakan ingin menjalin hubungan dewasa dan transparan kan.”
“Maaf aku belum bisa memutuskan hal itu. Tapi aku bersungguh-sungguh ingin mengenalmu lebih jauh.
"Itu berarti kamu dan Dzrilla berada di posisi yang sama. Aku sudah mengenal Dzrilla cukup jauh dan aku juga ingin mengenalmu.”
“Of course. Hanya saja ku peringatkan, jangan bermain-main denganku.”
Kami sama-sama tersenyum. Dari raut wajahnya ku rasa manusia es sudah siap terhadap kosekuensi yang didapatkannya jika berada dalam situasi yang ku sebutkan tadi.
☼☼☼☼☼
Clarissa Mahendra
Aku sedang membaca buku ditemani segelas jus buah. Belum lama aku tenggelam dalam bacaan pikiran mengenai Deri Cloriea menghampiri.
Aku tersenyum samar kemudian menggambil surat permintaan mengisi acara seminar bisnis.
“Deri, Dela, Dzrilla. Triple D, menarik.” Aku melanjutkan acara membaca.
Naira Audzrilla
“Nenek haruskah aku menghabiskan ini?”
Mataku menatap horor ramuan yang dibuat secara turun-temurun oleh nenek moyang keluarga.
Diseberang sana aku melihat kak Dinar dan kak Drie juga sama sepertiku berusaha menghabiskan jamu ini. Kak Drie kelihatan aneh dengan ekspresi menahan rasa pahit.
“Habiskan Naira. Itu jamu khusus turun-temurun keluarga kita. Tidak ada orang diluar sana yang mengetahui resep jamu ini.” Aku menggangguk pasrah.
Saat nenek mengalihkan pandangan aku menghabiskan jamu tersebut sekali teguk sambil menutup hidung setelahnya meminum air putih yang ku sembunyikan dibalik meja.
“Bonnie....”
“Nek, Bonnie dan Drie melanggar aturan. Mereka meminum air putih.” Aku dan kak Drie sontak melihat kak Dinar.
Astaga kenapa orang itu tidak bisa diajak kerja sama?
Bukankah seharusnya aku juga memberikan air tadi kepadanya. Hanya saja waktunya sangat tidak mendukung.
Mataku melirik gelasnya yang sudah kosong. ‘Hebat’ itulah yang ku pikirkan.
Alhasil karena ketahuan aku dan kak Drie diberikan jamu kedua dengan tingkat kekentalan bertambah secara otomatis rasa pahit juga menjadi lebih kuat.
“Minum sekali teguk seperti yang kalian lakukan tadi.”
“Nenek...,” Tatapan memelasku dan kak Drie diabaikan oleh nenek.
Merengek pun masih belum mempan. Padahal aku cucu perempuan satu-satunya Nek.
“Minumlah nenek akan melihat kalian.” Aku menatap kak Dinar kesal sementara orang itu malah tersenyum mengejek.
Mataku beralih ke jamu kesehatan ini. Ah sekarang habislah aku dan kak Drie.
“Itu adalah ganjaran untuk anak nakal seperti kalian.”
Sepuluh menit lamanya aku dan kak Drie berjuang menahan rasa pahit. Biasanya lima menit setelah meminum jamu itu nenek sudah membiarkan kami meminum air putih. Hanya saja saat meminumnya tidak boleh dicampur.
Sisa pahit dilidahku masih belum hilang. Ku rasa aku tidak bisa merasakan apapun selain pahit selama beberapa hari kedepan.
“Ini bukan ganjaran kak melainkan penyiksaan.” Kak Drie menggambil gula sesendok besar kemudian ditaburkan diatas lidah.
Aku sampai tertawa melihat kelakuan orang itu.
“Rasa pahit tidak akan hilang selama beberapa hari kedepan. Selama hari itu perbanyak minum air putih. Jangan terlalu berlebihan memakan yang manis-manis nanti kalian bisa diabetes.” Kak Drie menghentikan aktivitas menaruh sendok kedua ke lidahnya.
“Astaga lidahku yang malang.”
Aku kembali tersenyum melihat tingkah kak Drie. Namun sedetik setelahnya rasa pahit itu kembali terasa. Lagi-lagi aku meminum air putih.
“Lain kali jangan diulangi lagi. Hormatilah keinginan nenek.”
Aku terpaku, kak Dinar mengusap pelan kepalaku dan kak Drie. Aku tersenyum sumringah.
“Jangan perlakukanku seperti anak kecil kak Dinar....”
Tidak terasa sudah satu minggu aku berkuliah di Universitas Namith. Aku sungguh merasa bahagia. Tidak hanya itu aku pun juga mulai aktif di UKM Pers Ziyath meskipun masih berstatus sebagai calon anggota dalam masa training.
Aku mendapatkan banyak ilmu baru mengenai dunia penggambilan vidio, gambar dan beberapa skil. Selain itu aku juga sering terlibat dipenggambilan vidio Dela yang ku heran selalu ditemani Hiery setiap kali datang ke UKM Pers.
Lebih dari pada hal itu, aku juga merasa ada yang tidak beres dengan sikapnya akhir-akhir ini. Dia kelihatan seperti tidak enak terhadapku.
“Apa terjadi sesuatu Dela, kamu kelihatan seperti tidak enak denganku.” Aku melihat Dela gelagapan sebelum ia bersikap seperti biasa.
“Ah tidak apa-apa. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.” Dela tertawa renyah.
Hal itu membuatku memperhatikan gerak-geriknya menjadi lebih intens.
Tidak ada perubahan apapun yang terjadi, itu membuatku beralih ke Hiery.
“Hier, menurutmu Dela tidak kelihatan aneh?”
“Maksudnya?” Wajah Hiery menegang. Aku tersenyum tipis.
“Dia kelihatan tidak nyaman terhadapku. Bukankah begitu?” Hiery gelagapan. Tidak berselang lama ia kembali bicara.
“Tidak kok menurutku biasa saja.”
“Oh..., kamu benar. Mungkin aku memang terlalu perasa.”
Aku tahu mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
Ya mereka, Hiery dan Dela.
Mungkin Dela memang pandai mengatur ekspresi wajah tapi Hiery sangat mudah ditebak jika sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku juga merasakan Dela berusaha memberikan kode pada Hiery agar tidak mengatakan hal yang mencolok.
“Kalian ingin mengikuti acara ini?”
Neron memberikan selebaran bertuliskan Seminar Bisnis. Mataku langsung berbinar melihat itu.
“Tentu saja. Bagaimana dengan kalian?”
“Ini bukan basic kami tapi ku rasa tidak masalah.”
“Oke kalau begitu kita pergi bersama ya.” Kami saling menganggukkan kepala.
☼☼☼☼☼
Hyerin Delaxa
“Jadi begitulah. Menurutmu aku harus bagaimana?”
“Aku akan mengenalkanmu dengan Dzrilla. Kamu tenang saja.”
“Bukan itu maksudku, dasar laki-laki tidak punya perasaan.” Aku melemparkan tatapan kesal pada manusia es.
Sebagai perempuan aku sangat tahu apa yang akan dirasakan oleh Dzrilla.
Masalahnya aku juga perempuan, aku tidak suka berada dalam situasi seperti ini.
“Lalu kamu ingin terus seperti ini?” Aku menarik napas dalam.
Jujur saja aku tidak ingin hubungan persahabatanku dengan Dzrilla renggang karena kenyataan bahwa akulah yang menyebabkan mereka putus.
“Cepat atau lambat Dzrilla--maksudku Naira akan tahu.
"Jika dia sudah bertanya seperti itu berarti ia sudah mulai curiga dan kecurigaannya tidak akan hilang begitu saja. Dia akan terus mencari tahu.”
“Kau membuatku takut.”
“Aku hanya mengatakan apa adanya.”
“Hah..., aku tahu.” Kataku lemah.
“Tenanglah semua akan baik-baik saja. Aku tetap akan mengenalkanmu pada Naira.
"Dia adalah orang yang pengertian, percayalah padaku.”
Aku memejamkan mata. Sungguh aku tidak bisa membayangkan reaksi Dzrilla nanti.
“Terserahlah. Hanya saja tolong jangan dalam waktu dekat ini.”
“Ada yang menganggu pikiranmu?” Aku melihat wajah khawatir manusia es.
“Aku juga perempuan. Disatu sisi aku tidak ingin dipermainkan disisi yang lain aku tidak sampai hati pada Naira.”
“Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini bukan salahmu.”
Perasaanku membaik setelah manusia es menggengam erat tanganku menyalurkan kenyamanan melalui elusan pelan.
“Jangan lakukan itu lagi.” Aku yang sempat larut dalam keadaan tersebut langsung menarik diri.
Aku tahu posisi tadi tidak baik.
“Kamu ingin aku melakukan lebih?”
“Berhenti bicara yang tidak-tidak.” Samar-samar kulihat manusia es tersenyum.
“Aku serius. Aku ingin memelukmu sekarang."
°°°°°°°°°