
Troli yang ku dorong sudah dipenuhi berbagai macam bahan mentah, minuman, buah-buahan dan bahan-bahan membuat kue. Aku tidak habis pikir, kami hanya akan menyambut kedatangan satu keluarga tetapi barang belanjaan ini membuatku berpikir ingin memberi makan orang sepanti asuhan.
Saat sampai dirumah yang paling membuatku kesal adalah bisa-bisanya Mama menyuruhku memasak semua menu makanannya. Beliau sendiri hanya bertugas membersihkan dan memotong bahan-bahan.
Aku tahu apa maksud Mama dibalik semua ini. Pasti beliau ingin keluarga Cloriea itu memakan masakanku.
Mama bilang, aku harus belajar menjadi menantu yang baik.
Aku mendengus kesal saat mendengar kalimat itu sedangkan Mama malah tersenyum. Sepertinya keluargaku sangat menginginkan perjodohan ini berlanjut.
Hal ini semakin membuatku penasaran siapa gerangan orang yang bisa mencuci otak kedua orang tuaku yang baik ini.
Terlepas dari kenyataan bahwa si Deri itu CEO muda, pintar, berbakat atau apalah.
Pasti ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Papa dan Mama merelakan anak satu-satunya ini dijodohkan. Aku tidak ingin bernasib seperti Siti Nurbaya.
Dan..., ping pong. Waktu yang paling menganggu pikiranku akhirnya datang. Aku sempat memijat kepala yang terasa berdenyut nyeri sebab perlakuan Mama. Setelah aku disuruh memasak tadi sekarang aku ‘dipaksa’ memakai gaun.
Aku bukanlah tipe orang yang suka memakai gaun, malahan aku risih jika hanya melihatnya saja.
Dan aku harus memakai benda ini!?
Gaun itu memang tidak terlalu berlebihan juga tidak terkesan seksi. Meski begitu tetap saja aku tidak merasa nyaman.
Aku turun dari kamar dengan extra hati-hati. Entah karena apa jantungku berpacu cepat. Apakah sekarang aku gugup?
“Wah! Dela semakin bertambah cantik.”
“Terima kasih Bi.” Kataku tersenyum sumringah.
Setelah itu mataku melihat sekitar. Sepertinya ada yang kurang. Seakan tahu arti tatapanku Mama langsung bersuara.
“Deri sedang pergi ke toilet sayang.”
Aku berusaha untuk tetap tersenyum dihadapan dua keluarga ini.
Jika aku tidak memikirkan image maka senyumku akan berubah menjadi tatapan menyeramkan.
Ya ampun aku harus berusaha mempertahankan image dan harga diri sekarang.
“Nah itu dia.”
Mataku tertuju kepada seseorang yang baru saja datang. Sesaat pandangan kami saling bertemu.
Baru dari cara menatapnya saja aku sudah bisa menebak kepribadian orang itu.
Dingin, tanpa ekspresi dan membosankan.
Sangat berbanding terbalik dengan parasnya yang rupawan.
Kami sama-sama mengalihkan pandangan saat mendangar deheman Mama dan Bibi Cloriea.
“Silahkan dimakan hidangannya. Semua makanan ini Dela yang memasakkannya.” Aku menatap Mama kesal melalui ekor mata. Baguslah, aku terasa seperti sedang dipromosikan.
Tidak banyak yang terjadi setelah itu. Kami segera menyantap makanan dan seperti yang Mama harapkan keluarga Cloriea langsung memuji masakanku.
Tapi tidak dengan orang yang berada dihadapanku ini. Ekspresi wajahnya masih saja datar dan sangat dingin. Sifatnya berbeda jauh dari kedua orang tuanya yang ramah.
Bagaimana bisa aku malah dijodohkan dengan orang seperti ini?
Rasanya aku ingin menenggelamkan wajah bekunya.
Atau..., jangan-jangan, ekspresinya itu mengisyaratkan bahwa ia juga tidak menyetujui perjodohan ini.
Aku langsung tersenyum saat memikirkan hal tersebut.
“Kenapa kamu tersenyum?” Aku langsung melihatnya.
Bagaimana dia bisa tahu kalau aku tersenyum?
Ku pikir dia orang yang tidak peka dan tidak peduli terhadap keadaan. Karena ulah perkataannya semua orang jadi menoleh kearahku.
“Ah..., bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan wajah lucu Adhie, dia benar-benar sangat menggemaskan.” Aku yang sempat syok hanya bisa bicara begitu.
Kenapa tiba-tiba aku malah membawa sepupuku yang berada diluar kota?
Aku meringis pelan menyadari perkataan bodoh tadi sementara kedua keluarga ini tertawa.
Aku langsung melayangkan tatapan tak suka pada si manusia es. Sedangkan dia masih setia pada ekspresinya tanpa ada perubahan.
Benar, sebaiknya aku memanggil dia dengan sebutan manusia es.
"Deri, Dela kalian akan menikah bulan Juni. Papa rasa dua bulan sudah cukup sebagai waktu kalian untuk saling mengenal.
“Oh ya..., sekarang silahkan kalian pergi ketempat lain untuk saling bertukar pikiran dan berkenalan lebih jauh.”
Aku yang tidak ingin mempermalukan diri lagi langsung beringsut pergi setelah menyatakan hormat pada mereka.
Ini terjadi bukan karena aku bersemangat, melainkan karena aku tidak ingin terlihat bodoh untuk kedua kalinya.
Aku terus menatap punggung si manusia es.
Aku tidak habis pikir, apa yang istimewa darinya sehingga Papa dan Mama sangat bersemangat ‘menyerahkan’ anak baik sepertiku.
Andai kata paman Nirwan--ayahnya manusia es masih muda lebih baik aku dijodohkan dengannya saja. Paling tidak ekspresinya masih normal tidak seperti manusia es ini. Tapi tidak. Bisa-bisa aku diamuk oleh tante Denia.
Aku berdecak kesal saat menyadari sudah berpikiran bodoh lagi. Semua ini gara-gara orang asing dan sok ini.
“Silahkan duduk.” Katanya masih dengan ekspresi yang sama.
Jika saja orang lain yang berhadapan dengan si manusia es dan bukannya aku, sudah ku pastikan orang itu akan lari ketakutan.
Aku segera duduk dihadapannya.
Sudah sekitar lima menit berlalu namun masih belum ada yang bersuara. Jangan tanyakan apa yang dilakukan si Deri. Sekarang dia malah asyik memainkan ponsel.
Kalau tahu begini aku juga akan memainkan ponsel jika saja benda itu tidak ku tinggalkan dikamar.
Dan kalau aku sudah memegang ponsel bukan hanya lima menit, sepanjang waktu yang berjalan aku akan terus menyibukkan diri dengan ponsel agar ia tahu bagaimana rasanya diabaikan.
Dasar laki-laki tidak punya perasaan, tega-teganya dia malah membuatku menunggu.
Tidak tahan dengan situasi ini aku pun langsung ingin menyemprotnya.
Terserah dengan image, harga diri atau apapun. Orang ini benar-benar membuat darahku naik 100%.
Baru saja aku ingin memarahinya habis-habisan ia sudah lebih dulu menunjukkan layar ponsel tepat dihadapanku.
Bola mataku melotot sempurna sampai-sampai aku takut jika ia akan terlepas.
Sebuah foto dua anak kecil yang sedang bermain bersama. Mereka kelihatan sangat bahagia.
“Kamu tahu siapa ini?”
“Aku tahu.”
Aku langsung diam setelah mengatakan hal tersebut. Dibalik sikap diamku adalah ingin mendengar perkataannya yang selanjutnya. Tapi yang ku lihat dia malah melihat taman di seberang sana.
Aku terpaku mendapati ekspresi datar orang ini terlihat sangat sedih, seakan-akan ada luka yang mendalam.
“Sebenarnya aku sudah punya pacar.”
Deg. Jantungku terasa seperti berhenti berdetak. Raut wajahku langsung berubah.
“Tapi aku memutuskannya setelah mengetahui tentang perjodohan ini.” Katanya yang sudah menatapku.
Aku merasakan ada sesuatu yang aneh saat melihat tatapan sendunya.
Setelah menghela napas panjang ku putuskan untuk bicara.
“Apa kamu masih menyukainya?”
Bukannya menjawab pertanyaanku, si manusia es ini malah kembali menatap bunga-bunga tadi.
Ya ampun aku sedang bersimpati padanya tapi sikap orang ini malah seperti itu. Moodku untuk bersikap baik seketika menghilang.
“Kalau kamu masih menyukai pacarmu itu, aku bisa membantumu mengagalkan perjodohan ini.”
Perkataanku sukses membuat manusia es ini kembali menatapku. Yang ku lakukan adalah tersenyum padanya.
Ayolah, tujuan utamaku adalah hal ini. Lagipula kasihan juga aku melihatnya terpaksa menikah tanpa ada perasaan apa-apa.
Aku yang tersenyum tulus sepersekian detik sama sekali tak menyadari bahwa sudah berada dalam kehangatan yang tiada tara. Aku yang syok hanya bisa mematung pada keadaan itu.
“Tidak perlu. Aku ingin berusaha melupakan Dzrilla dan belajar menerimamu, Dela."
Boleh aku meloncat ke tebing?
☼☼☼☼☼