
“Terjadi masalah?”
“Iya.
"Kampus mendadak heboh dengan skandal foto aib aku, Naira, dan Neron. Banyak orang kampus yang mengira aku dan Naira perempuan murahan dan Neron playboy kelas kakap.
"Belum lagi amukan massa fans Neron yang berbalik membenciku dan Naira. Mereka berubah menjadi haters untuk kami.”
“Maksudmu foto ini kan?”
Aku melihat ponsel manusia es.
Foto itu bahkan sampai ke tangannya. Sekarang apalagi yang terjadi setelah ini?
“Maaf. Ini adalah pencemaran nama baik. Aku tidak tahu mengapa hasil fotonya bisa senatural itu.
"Neron sedang menyelidiki siapa pemilik No. orang yang mengirimkan pesan teror pada Naira.
“Dan ya, kejadian di foto itu memang benar terjadi. Hanya saja hasilnya sudah dimanipulasi. Ku harap kamu mengerti posisiku dan jangan salah paham.”
“Ini tidak semudah kelihatannya Dela.” Manusia es bicara serius.
“Lalu apalagi yang harus ku lakukan agar kamu percaya padaku. Dasar kekanakan, mudah sekali terpancing emosi.”
Pluk. Bunyi hasil sentilan manusia es dikeningku.
“Kamu ini kenapa sih?”
Aku mengoceh sambil memegang bekas sentilannya.
“Kamu yang kekanakan.
"Aku sedang membicarakan masalah yang menimpa kalian bukan salah paham apalagi cemburu.”
“Pikiranku sedang kacau Maes.”
“Kalau begitu tenangkan pikiranmu dulu.
"Aku akan turun tangan menyelesaikan masalah ini.”
“Baiklah, terima kasih.”
“Kamu tahu alamat rumah Neron, tolong berikan padaku.”
“Kamu ingin melakukan apa?” Tanyaku cepat.
Entah karena apa aku merasa khawatir jika manusia es menemui Neron.
Ini bukan masalah kemungkinan mereka akan bertengkar karena manusia es ‘cemburu’ sebab aku yakin ia tidak akan melakukan hal konyol seperti itu.
Aku hanya tidak enak menusia es menemui Neron sekalipun untuk menyelesaikan masalah ini.
Apalagi status perjodohan kami harus dirahasiakan.
“Membantu menyelesaikan masalah kalian.”
“Tidak harus menemuinya kan?”
“Aku tidak ingin berdebat Dela. Beri tahu saja alamatnya.”
“Sayangnya aku tidak tahu.”
*Pluk.
Pletak*.
“Rasakan.”
Kami sama-sama memegang kepala masing-masing.
☼☼☼☼☼
Deri Cloriea
“Maaf menganggu waktumu. Aku Deri Cloriea teman Dela dan Naira.”
“Tentu tidak masalah.”
“Aku tidak suka berbasa-basi jadi langsung saja.
"Apa kamu sudah menemukan siapa dalang dibalik peneroran itu?” Aku bicara seperti biasanya.
"Nomornya sulit dilacak. Untungnya aku masih bisa menemukan celah.
"Nomor ini milik orang yang tidak jelas asal-usulnya dan sepertinya dia orang suruhan.”
“Bisa kita lacak menggunakan GPS?”
“Tentu.”
Neron kembali fokus pada laptop.
Dilihat dari gerak-gerik orang ini dia berbakat menjadi seorang hacker.
“Find.”
“Kita temui sekarang. Kau ingin ikut?”
“Ya.”
Perjalanan yang memakan waktu 30 menit jadi tak terasa setelah kami menemukan sebuah rumah tua yang sepertinya sudah tak terpakai.
“Seorang peneror dan pencemar nama baik bermarkas ditempat seperti ini, kurasa mereka lebih dari itu. Ini jelas tempat komplotan gengster.” Aku langsung mengutarakan pendapat setelah memperhatikan rumah tersebut.
“Apa kita langsung menggerebek mereka?”
“Terlalu berisiko.
"Kita lakukan pengintaian terlebih dahulu.”
“Keduanya sama-sama berisiko bung.”
Aku tersenyum miring.
Orang ini benar-benar memiliki aura berbeda dari orang kebanyakan.
“Panggil aku kakak.
"Jika kamu seumuran dengan Dela dan Naira aku lebih tua tiga tahun darimu.”
Dia terkekeh.
“Maaf Kak. Ku pikir kamu seumuran denganku.”
“Ayo.”
Pikiranku mengenai orang ini memang tidak meleset. Ternyata dia memang benar-benar berbakat menjadi hacker.
Taktik yang kami susun sangat cocok pada situasi seperti ini.
Sejak awal kami tahu jika pihak musuh bukanlah orang sembarangan. Dan dia sudah mempersiapkan semua kebutuhan untuk hal itu.
“Wow.”
“Ini tidak seperti difilm-film Kak, tapi aku berusaha melakukan yang terbaik.
"Sebelumnya apa kakak bisa bela diri?”
Aku tertawa setengah dipaksakan.
“Tidak terlalu.”
“Aku sudah mempersiapkan beberapa rencana. Sisanya ku harap kakak berhati-hati.”
“Aku mengandalkanmu.”
Misi pertama dimulai. Aku mengendap-endap memasuki lokasi musuh.
Jika memang benar sekumpulan orang-orang ini adalah gangster maka mereka tidak hanya sebatas mencemarkan nama baik.
Mereka pasti akan melakukan sesuatu.
Aku sampai dipusat markas. Sudah ku duga ‘si anak hacker’ itu sangat bisa diandalkan.
Aku bersembunyi dibalik drum.
Pengamanan disini tidak terlalu ketat. Apa kedatangan kami sudah terdeteksi?
“Hey apa yang kau lakukan disana?”
Tubuhku menegang. Akankah aku habis disini?
“Haha santai saja Jep.”
Aku menghela napas tertahan. Baguslah aku belum ketahuan.
Aku kembali memperhatikan pergerakan mereka.
“Pantas saja sepi. Ternyata mereka masih tidur.”
“Mari mulai perkumpulannya.”
Aku merekam habis pembicaraan mereka. Sayangnya tidak ada satu pun yang menyinggung mengenai rencana jahat terhadap Dela, Naira dan Neron. Mereka bahkan sama sekali tak menyinggung hal tersebut.
“Ini tidak semudah kelihatannya. Kita tidak mendapatkan apapun.”
“Sudahlah Kak yang penting Kakak bisa keluar dengan selamat.
“Ssttt, ada yang datang.”
Pengintaian pertama memang tidak membuahkan hasil. Pengintaian kedua juga tidak mungkin dilakukan, untuk itu kami meninggalkan alat penyadap suara dan camera disana.
Kami saling berpandangan.
“Apa kamu mengenal orang itu?”
“Tidak.”
“Kalau begitu kita ikuti mereka.”
Orang yang kami lihat memberikan uang pada ketua rombongan. Mereka lagi-lagi masih belum membicarakan hal yang kami harapkan. Namun hal tersebut tetap masih mengundang kecurigaanku.
°°°°°°°°°°
“Seberapa dekat hubungan Kakak dengan Dela dan Naira?”
Aku melihat sebentar kearah orang ini. Pertanyaannya cukup membuat pikiranku kusut. Apalagi sekarang kami sedang mengikuti orang yang diduga komplotan gangster.
“Kamu sendiri, bagaimana hubunganmu dengan mereka?”
“Aku menyukai salah satu dari mereka.” Aku tiba-tiba melihat kearahnya.
Hal tersebut membuat kami hampir kehilangan jejak mobil musuh. Jarak yang jauh sangat rentan membuat kami kehilangan target.
“Santai Kak aku hanya bercanda.
"Kakak terlihat seperti pacar salah satu dari mereka saja.”
“Itu benar.”
“Seriously?”
Aku merutuki mulut keceplosan ini.
Apa aku sebegitu terbawa perasaan sampai tidak bisa mengontrol ucapan?
“No I just kidding.”
“Siapa, Naira atau Dela?”
“Sudah ku katakan aku hanya bercanda.”
“Katakan agar aku tidak menyukai orang yang salah.
"Aku sudah cukup gila dengan hubungan kami akhir-akhir ini.”
Aku kembali melihatnya sementara orang ini tersenyum sambil mengangkat alisnya.
“Kamu bukan seorang playboy kan?
"Jangan berani menyakiti salah satu dari mereka. Aku akan menghabisimu jika hal itu terjadi.”
“Jangan serakah Kak. Itu berarti kau lebih rendah dari seorang playboy.”
Aku mendengus.
Jika saja kami tidak sedang dalam misi pengintaian sudah ku pukul orang disampingku ini.
“Ku rasa aku menyukai Naira Audzrilla.
"Ini benar-benar menggelikan.”
Setelah cukup lama kami terdiam Neron kembali bicara.
Hatiku tersentil mendengar hal itu, namun mobil yang kami ikuti berhenti disebuah tempat yang sangat ku kenal.
Sebagian dari mereka berpencar dan pergi ke tempat lain.
“Mereka mengincar Dela dan Naira. Haruskah kita berpencar?”
“Tidak. Segera telepon mereka. Kakak menghubungi Dela dan aku Naira.”
Aku mengangguk mengerti.
“Baiklah.”
Aku menarik napas lega. Dela mengangkat teleponnya dan tidak banyak bertanya.
Aku bersyukur gadis itu cukup bisa melindungi diri sendiri sebab munguasai limu karate.
Dibalik kenyataan tersebut tetap saja Dela adalah seorang perempuan dan lawan yang dihadapinya sekitar belasan orang.
Impossible.
“Naira."
“Aaa!"
Terdengar suara teriakan dari ponsel Neron. Aku yang sedang menghubungi Polisi tanpa sadar melepas ponsel.
“Fu*king, kita terlambat.”
Aku mengusap kepala kasar.
Brak!
Aku langsung keluar dari mobil saat melihat orang-orang dalam mobil tadi menyerbu masuk kedalam gedung kursus Dela.
Saat aku sampai orang-orang itu sudah menyandra seseorang. Untungnya orang itu bukan Dela. Mereka membawa senjata tajam.
“Angkat tangan.”
Salah satu dari mereka mendekati Dela. Aku segera bertindak, namun sedetik setelahnya pergerakanku terhenti melihat Dela dengan mudahnya melumpuhkan orang tersebut.
Aku meneguk ludah.
“Wow.”
Dela kembali menyerang. Pergerakannya sangat lincah.
Aku sampai tak sadar malah menjelma menjadi penonton.
“Kita harus membantunya.”
Bahuku ditepuk oleh Neron.
“Astaga dengan tangan kosong?”
Aku meringis terkena pukulan.
Aku tidak terlalu berbakat bela diri kenapa harus terjebak dalam situasi seperti ini.
“Berhenti. Angkat tangan.”
Aku menghela napas tertahan.
Polisi datang disaat yang tepat. Setidaknya lukaku tidak akan bertambah parah.
“Are you oke?” Tanya Dela khawatir.
Aku tersenyum miring melihatnya bersikap begitu.
“Yes, don’t worry.”
Pletak. Lagi-lagi aku dipukul.
“Kita harus mencari Naira.
"Aku tidak akan memaafkan orang yang melakukan hal ini.” Dela mengepalkan tangannya.
“Ayo.”
Dan disinilah kami. Beberapa pasukan polisi kembali dikerahkan.
Kak Dinar dan kak Drie juga datang. Aku tahu mereka tidak suka dengan kehadiranku apalagi dengan kondisi seperti ini.
Aku merasa seperti 'pahlawan kurang berpengalaman alias amatir.’
Waktu penyelamatan ini memakan cukup banyak waktu.
Sekelompok gangster memang bukanlah lawan yang mudah tuk dihadapi. Namun pada akhirnya kami berhasil menyelamatkan Naira.
Semua itu karena pihak polisi mau menjalankan usulan taktik dariku dan Dela. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan manipulasi seorang hacker seperti Neron.
Orang ini berpotensi menjadi detektif terkenal.
Naira akhirnya berhasil keluar. Wajah pucat pasinya membuat kedua kakak sepupunya segera merengkuh tubuh gemetar itu.
“Tenanglah.”
“Aku pikir aku akan mati.”
“Itu tidak akan terjadi Bonnie. Tenangkan dirimu.”
Bahu Naira bergetar hebat. Sedetik setelahnya dia langsung menghambur kepelukan Dela.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa Dela. Mereka terus menyebut namamu dan berencana menyiksa kita.”
“Tenanglah aku baik-baik saja.”
Aku mengepalkan tangan. Akibat perkelahian tadi Dela mengalami luka ringan.
“Si*lan.”
“Kita kerumah sakit.”
☼☼☼☼☼