Classical Love

Classical Love
Kencan!?



Saat sampai di tempat tujuan, ku sarankan untuk melupakan kata romantis karena manusia es memang bukan roman picisan.


Jika dirumah tadi aku menatap kosong, disini tatapanku tanpa ekspresi. Datar. Ku rasa aku sudah ketularan sifat anehnya. Manusia es menurunkanku ditempat yang bertuliskan toko buku.


Aku memang tidak mengharapkan agar ia mengajakku ke toko bunga, taman bunga, toko cokelat, atau bahkan restoran mewah. Tapi setidaknya dia bertanggung jawab karena datang kerumahku pada waktu makan siang hingga aku harus merelakan jatah makanku tidak terpenuhi.


Dua hari ini jadwal kuliah memang hanya sampai jam 11.30 WIB.


Ayolah, sekali lagi ku katakan tidak mengharapkan restoran mewah. Aku hanya ingin perutku terisi.


“Bisakah kita cari makan terlebih dahulu, aku sudah lapar. Buku-buku disini tidak akan mengeyangkanku.”


Lagi-lagi bukannya membalas perkataanku manusia es malah menarikku pergi ke sebuah bangunan.


Mataku mengerjap-ngerjap heran saat mendapati sebuah lorong yang didalamnya terdapat banyak bunga beraneka warna. Tepat ditengah lorong tersedia meja tertata rapi. Perasaan kesalku seketika hilang mendapati bunga-bunga itu seakan tersenyum menyambut kedatangan kami.


“Apa kamu akan terus berdiri disana? Ayo kita makan.”


Perhatianku teralih dan menangkap sosok manusia es sangat telaten menyusun makanan yang berada ditangannya.


Sejak kapan dia membawa bungkusan seperti itu?


“Ibuku memasakkan makanan ini sebagai ucapan terima kasih atas pertemuan keluarga semalam.”


Senyuman muncul diwajahku. Ternyata Ibu si manusia es suka memasak. Pantas saja Mama menyuruhku memasak seluruh menu tadi malam.


Aku sempat merasa geli, Mama terkesan memberi kode keras.


“Silahkan dimakan.”


Aku mengangguk dan mulai makan. Seluruh masakan ini mengingatkanku pada rasa makanan buatan Mama. Hanya saja terdapat perbedaan cita rasa yang membuat makanan ini sedikit berbeda.


“Waktu remaja dahulu Mamamu dan Ibuku sering memasak bersama. Itulah sebabnya rasa masakan mereka sangat mirip.”


“Kenapa karena orang tua kita berteman, kita malah dijodohkan seperti ini?”


“Entahlah. Mungkin mereka percaya padaku untuk menjaga orang keras kepala sepertimu.”


Pluk. Bunyi suara sendok yang ku letakkan dimeja.


“Keras kepala, dari segi mananya Anda menilai saya keras kepala?”


Aku mendengus kesal kemudian melanjutkan kegiatan makan. Rasa laparku tidak akan terpengaruh hanya dengan sifat menyebalkan manusia es. Bagaimanapun sikapnya perutku harus tetap terisi.


Kekehan menyebalkan pun terdengar.


“Sorry. Tapi waktu kecil dulu kamu memang keras kepala dan ingin menang sendiri.”


Waktu kecil, berarti dia masih mengingatnya.


“Itu kan dulu. Sekarang aku bukan lagi anak kecil berusia dua tahun. Setiap orang bisa berubah.” Senyumannya muncul.


Aku terpaku.


Senyum itu terlihat menenangkan. Sedetik setelahnya aku langsung mengalihkan pandangan.


“Habiskan makanannya. Setelah ini kita pergi ke toko yang tadi.”


Aku kembali melanjutkan aktivitas makan. Sesekali aku memperhatikan dia memainkan tablet. Ku pikir ia sedang mengerjakan tugas kantor, namun nama Dzrilla tiba-tiba terlintas dipikiranku.


Tanyakan, tidak. Tanyakan, tidak?


Aku punya hak untuk mengetahui kisah hubungan mereka. Tapi aku merasa tidak nyaman jika menyinggung hal tersebut.


Wajah sedih manusia es semalam menunjukkan bahwa ia sedang berusaha memutuskan hubungan itu dengan sebaik mungkin, pun juga mengenai perasaan keduanya.


“Kenapa?”


Aku merasa aneh. Jika sedang bingung tingkahku seperti orang gelisah. Dan manusia es menyadarinya. Tingkat kepekaannya membuatku harus extra hati-hati dalam menggambil tindakan.


“Bukan apa-apa.”


“Katakan saja. Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu.”


Skakmat. Ekspresiku persis seperti pencuri yang tertangkap basah.


Ayolah Dela..., dia hanya bilang ‘kamu sedang memikirkan sesuatu’ belum tentu ia tahu apa yang kamu pikirkan.


“Aku rasa menjadi CEO itu sangat merepotkan. Entah bagaimana caranya orang sepertimu bisa menjalani hal itu.”


Yes. Otak pintar dan eskpresi wajahku memang sangat bisa diandalkan.


"Tanggung jawab orang tua sangat besar. Aku sebagai anak mereka ingin membalas budi dan jasa tersebut.”


“Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk membalas budi dan jasa orang tua.


“Kamu tahu, perjodohan ini terdengar konyol.” Kataku akhirnya.


Melalui perkataannya itu aku sedikit bisa mengetahui kepribadiannya. Dia adalah orang yang rela berkorban demi kebahagiaan orang tua.


“Tidak terlalu juga, sama seperti orang tuamu. Ayah dan Ibuku juga memberikan keringanan untukku.


"Mereka sudah tahu kalau aku mempunyai pacar. Dua bulan ini adalah waktu bagi kita untuk mengetahui apakah kita cocok atau tidak.”


Kami saling berpandangan intens.


☼☼☼☼☼


Wow.


Aku tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi siang.


Kami makan bersama, bicara, dan membeli buku yang berhubungan dengan kesehatan. Aku sangat menikmati disamping juga galau memikirkan perkataan si manusia es.


Kalimatnya terdengar bijaksana. Tapi sebagai perempuan aku merasa seperti dipermainkan. Aku berpikir menjadi kelinci percobaan disini. Disamping aku juga merasa lega kedua belah keluarga bisa saling mengerti.


Mataku menatap buku yang masih terbungkus rapi. Malam ini aku bertekad membacanya. Besok ada tes kursus kesehatanku.


“Menyebalkan. Kenapa kamu harus sudah mempunyai pacar? Kalau selama waktu dua bulan ini aku memiliki perasaan terhadapmu, apa kamu akan memilihku?


“Arggh. Tidak bisa. Aku tidak boleh seperti ini. Aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan perasaanku. Ini harus dibicarakan dengan serius.


"Aku tidak ingin menjalin hubungan atas dasar untuk membahagiakan orang tua saja. Aku akan melihat apakah kita memang benar-benar cocok dan ditakdirkan hidup bersama.”


Aku membaringkan tubuh sejenak sebelum Mama datang masuk ke kamarku.


“Sayang, ayo kita makan.”


Aku refleks melihat jam. Karena sibuk memikirkan hal ini aku sampai melupakan jadwal makan keluarga.


Aku menatap aneh Mama yang tersenyum menggoda. Beliau pasti sedang berpikir yang bukan-bukan.


“Bagaimana jalan-jalan kalian tadi siang Dela?” Papa bertanya.


“Lumayan. Kami makan masakan Ibunya, bicara, dan pergi ke toko buku.” Kataku sambil memakan sop daging kambing.


“Deri orangnya baik kan?” Kali ini Mama yang bertanya.


Tunggu dulu, rasa sop kambing ini seperti tidak asing dilidahku. Rasanya memang mirip masakan Mama tapi ada rasa lain yang membedakannya.


Baiklah, ingatanku cukup kuat. Ini pasti masakan Ibu si manusia es.


“Belum tahu. Kami baru bertemu dua kali, jadi aku belum bisa menilai.


“Ini masakan Ibu manusia es ya?” Tanyaku dalam satu tarikan napas.


Sesaat setelah mengatakan hal itu aku langsung menatap tak nyaman pada Papa dan Mama. Yang ku dapati adalah, apalagi kalau bukan ekspresi kaget.


“Jangan panggil Deri dengan sebutan manusia es lagi. Papa tidak mau mendengar perkataan itu keluar dari mulutmu.” Aku menatap takut-takut pada Papa.


“Maaf, tapi..., sikapnya yang membuatku memanggilnya begitu.”


“Dela, kalian dijodohkan. Wajar jika Deri masih kaku diawal pertemuan.”


“Sudahlah Pa. Dela cepat habiskan makananmu, setelah itu belajar.”


Mama sudah tahu kalau aku akan ada tes besok. Dan peraturan sudah mendarah daging dikeluarga kami.


“Baiklah.”


Apa Papa dan Mama tahu bahwa si manusia es mempunyai pacar, yah meskipun mereka sudah putus.


Harusnya hal itu menjadi bahan pertimbangan apakah perjodohan ini bisa dilanjutkan atau tidak.


Aish..., siapa sih sosok orang yang bernama Dzrilla itu?


Aku jadi penasaran.


°°°°°°°°°°°