
Clarissa Mahendra
Hari ini ku persiapkan diri menjeguk Deri dan Neron.
Tujuanku bukan rumah sakit tetapi rumah mereka.
Aku sengaja tidak mendatangi keduanya ke rumah sakit sebab tidak suka suasana di tempat tersebut.
Kecelakaan beberapa tahun yang lalu membuat ku trauma hingga takut akan tempat dimana bayangan kelam itu terus mengganggu.
Aku sempat koma selama dua Minggu sampai pihak keluarga pasrah terhadap keadaan.
Mama bilang tidak ada satu orang pun yang menjenguk ku ke rumah sakit baik teman, kenalan bahkan pacarku sendiri.
Padahal aku berjuang keras untuk bisa berpacaran dengannya hingga rela mengubah penampilan dan kepribadian.
Aku terbiasa hidup enak dan selalu dimanjakan.
Aku terbiasa mendapatkan apapun yang ku inginkan.
Semua terasa mudah kecuali menaklukan hati seseorang yang lembut dan memiliki senyum manis itu.
Ditambah lagi sainganku sangat banyak.
Pada awalnya aku tidak benar-benar menyukainya.
Aku hanya penasaran mengapa ia sama sekali tak tertarik dengan orang-orang. Tidak sedikit perempuan sekolah mengagumi atau bahkan menyukai orang dingin itu.
Dia benar-benar menyia-nyiakan kesempatan.
Kalian tahu apa yang terjadi?
Aku bahkan ternyata juga bernasib sama seperti orang kebanyakan.
Aku jelas sakit hati. Sebab sama sepertinya aku pun juga memiliki banyak penggemar. Bukankah kami cocok?
Apapun yang terjadi aku tidak pernah putus asa.
Sudah ku katakan aku terbiasa mendapatkan apapun yang ku inginkan. Namun tetap saja aku tak pernah dihiraukannya.
Hingga pada hari kelulusan SMA dia akhirnya menyatakan perasaan padaku.
Aku sungguh kaget. Bagaimana bisa dia tiba-tiba mengungkapkan perasaannya padahal ia sendiri tidak terlalu meresponku.
Entah apapun alasannya yang jelas aku berhasil mendapatkan apa yang ku inginkan.
Kami berpacaran.
Lebih dari pada itu kami juga berkuliah ditempat yang sama.
Niat awalku setelah mendapatkan orang hangat sekaligus sok itu adalah sebuah ‘pembuktian semata’.
Lalu setelah itu aku berencana memutuskannya.
Dia memang cinta pertama dan pacar pertamaku, tapi aku tidak suka hubungan yang terlalu lama.
Kalian tahu aku mudah bosan.
Hanya saja pesona, kepribadian dan sikapnya sungguh membuatku mati gaya. Aku tenggelam dalam permainan yang ku mainkan sendiri. Aku merasa seperti menjilat ludah sendiri.
Bahkan aku menurut saja saat ia memintaku mengubah gaya berpakaian yang menurutnya terlalu terbuka.
Aku merubah kepribadian ponggah dan sikap yang lainnya.
Aku terlihat seperti seekor peliharaan yang taat pada majikannya.
Aku tidak peduli akan hal itu. Toh dia membuatku menjadi lebih baik. Aku suka itu.
Sampai suatu hari ia memergokiku berpelukan dengan seseorang yang sudah lama menyukaiku. Itu adalah sebuah kecelakaan. Aku hampir jatuh dan dia menolongku.
Aku tahu dia cemburu. Namun perkataannya membuatku benar-benar tersinggung. Kami bertengkar hebat. Aku keluar dari area kampus dengan perasaan kesal. Emosiku benar-benar meluap hingga ke puncak.
Dari sanalah kecelakaan itu datang.
Apakah ia sebegitu marah hingga tidak menjegukku?
Mulai saat itu aku sadar kalau kami sama-sama saling mempermainkan.
Dia br**gsek.
“Noonim kamu baik-baik saja?”
Aku tersadar dari lamunan.
Neron sudah ku anggap sebagai adik sendiri. Jadi aku tidak akan membiarkan dia sampai salah pilih pacar apalagi pasangan hidup.
Aku tidak ingin ia bernasib sama seperti ku.
“Noonim boleh aku curhat?”
“Of corse.”
“Aku menyukai seorang anak pindahan tapi belum berani mengungkapkannya. Menurut Noonim aku harus bagaimana?
“Dan ya bagaimana kabar pameran lukisanku?”
“Siapa nama orang yang kamu sukai itu?”
“Naira Audzrilla.”
“Saran Noonim jangan terlalu terburu-buru mengungkapkan perasaanmu sebab kalian baru saja dekat.
"Mengenai pameran tidak usah kamu pikirkan, Noonim sudah mengundurkan jadwalnya sampai kamu benar-benar sembuh.” Kataku menjelaskan.
“Noonim benar.
"Aku juga bingung kenapa bisa menyukainya.”
Aku tersenyum kecut.
“Cinta memang tidak bisa ditebak tapi Noonim harap kamu memilih orang yang tepat. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari.”
“Maksud Noonim?”
Dan yang lebih sulit lagi saat kita harus merasakan sakit akibat perasaan tersebut.
“Makanlah yang banyak. Semoga kamu cepat sembuh.”
“Terima kasih Noonim.”
Aku beranjak meninggalkan Neron. Tujuanku selanjutnya adalah rumah Deri Cloriea.
°°°°°°°°°°
“Maaf menganggu waktumu Deri.”
Aku terpaku ditempat. Dia sedang bersama tunangannya. Tapi bukan hal itu yang membuatku berhenti.
Ada seseorang yang sedang bersama mereka. Pandangan kami bertemu.
“Ara.”
“Kalian saling mengenal?”
Dela mengajukan pertanyaan yang semakin membuatku muak.
“Permisi.” Aku beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin.
“Ara.”
“Lepas.”
Ku tepis tangan orang yang seenak jidatnya memegang tanganku.
“Tolong dengarkan penjelasanku.”
Plak.
Aku menampar orang itu.
“Menjijikkan.”
°°°°°°°°°°
Aku kembali melanjutkan perjalanan akan tetapi lagi-lagi orang itu menarik tanganku.
Kali ini dia mencekal lenganku dan membawaku ke mobilnya.
Aku berusaha memberontak tapi tetap saja tenagaku kalah dari laki-laki itu. Sampai seseorang datang dan memisahkan kami.
“Ada apa kak Dinar. Kenapa bersikap kasar pada perempuan?”
“Aku ada urusan dengannya.”
“Kakak bisa membicarakannya dengan baik-baik kan?”
Aku tidak peduli dengan perdebatan mereka. Yang ku tahu hanyalah ingin pergi meninggalkan tempat ini.
“Jangan menghindar. Aku ingin bicara baik-baik denganmu.
"Aku mengetahui semuanya. Jika kau melangkah lagi, ku pastikan kau akan menyesal.”
Aku spontan menghentikan pergerakan.
Sejak dulu aku memang selalu kalah.
“Tolong biarkan kami bicara dulu. Nanti aku akan menjelaskannya padamu.”
Setelah dia mengatakan hal tersebut kami kembali melanjutkan perjalanan menuju mobil. Sebelum masuk aku masih sangat jelas mendengar perkataan Dela.
“Baiklah, tolong jangan kasar lagi padanya Kak.
"Aku percaya pada kalian.”
Aku benci hal ini.
Kenapa takdir malah mempertemukan kami?
“Apa kau sudah gila?”
Orang dihadapanku ini bicara tenang namun tatap saja terasa menusuk dengan tatapan tajamnya.
“Jadi akhirnya kau sadar juga.”
Aku bersmirik.
“Berhentilah melakukan hal-hal gila Clarissa Mahendra. Kau tahu benar akibat perbuatanmu ini.”
“Ini baru permulaan tuan Dinar Audrikza”
“Hentikan Ara, kamu hanya akan merusak dirimu dan keluargamu saja.”
“Ku anggap kita impas tuan Dinar Audrikza.
"Terserah kau ingin melaporkanku ke Polisi atau tidak.
"Hanya saja ku peringatkan jangan main-main denganku.”
Aku kembali menunjukkan senyuman menyeramkan melebihi seorang psikopat.
“Menikahlah denganku.”
Aku seketika berhenti tersenyum. Yang ku lakukan adalah diam ditempat. Sedetik setelahnya ku langkahkan kaki mendekatinya.
Plak.
“Sepertinya aku salah sasaran. Haruskah aku membunuhmu sekarang?”
Aku meraih vas bunga. Dalam hitungan detik pukulanku berhasil mengenai kepalanya.
Sret.
°°°°°°°°°°°