Classical Love

Classical Love
Dasar Manusia Es



"Malam.”


Orang yang baru bicara itu langsung menggambil alih atensiku. Dia adalah orang yang menyampaikan ide perluasan cabang perusahaan.


“Nona Clarissa Mahendra?” Orang tersebut tersenyum. Harus ku akui senyum itu mengingatkanku pada Dzrilla.


“Selamat atas pengangkatan Anda menjadi CEO yang baru.”


“Terima kasih.”


Kami membicarakan banyak hal mengenai pekerjaan. Benar apa yang dikatakan oleh sekretarisku Clarissa adalah orang yang sangat ramah dan mengalir sampai aku mengalami kesulitan mengimbanginya. Menurut pengamatanku dia sama ramahnya dengan Dzrilla.


“Oh ya Pak jika kita tidak sedang bekerja bolehkah saya memanggil Anda dengan Deri saja?”


Aku tersenyum sumringah sebagai jawaban atas pertanyaan Clarissa.


“Tentu. Aku juga akan memanggilmu Clari.”


“Oke, sepertinya hari sudah larut jadi saya izin undur diri.”


Aku dan Clarissa saling berjabat tangan. Orang itu ramah seperti Dzrilla akan tetapi keduanya memancarkan aura yang berbeda. Aku langsung menangkap kesan semangat dari orang tersebut.


Clarissa Mahendra


“Dia lumayan. Sayang sekali sebentar lagi akan menikah.


“Aku jadi penasaran siapa kira-kira orang yang dijodohkan dengannya.”


Aku tersenyum memikirkan hal tersebut.


☼☼☼☼☼


Naira Audzrilla


Aku sedang asyik membuat kue donat. Keahlian memasakku tidak terlalu bagus. Sejauh ini aku baru menguasai cara pembuatan beberapa kue salah satunya donat.


“Cantik.”


Aku tersenyum lebar melihat kue pertama yang baru saja ku berikan topping. Lapisan pertama adalah cokelat dan kedua misis berwarna-warni.


“Kak Drie jangan!” Terlambat sudah. Kue donat pertamaku dirampas oleh kakak yang suka usil ini.


“Lumayan. Bonnie-ku semakin pintar membuat kue.” Aku menatap ‘pencuri itu’ dengan kesal.


“Oh my god, cute. Quickly make it again.”


Pipiku terkena sasaran cubitan. Aku heren. Banyak orang yang mengatakan aku terlihat menyeramkan saat marah bukannya imut. Tapi kak Drie selalu mencubit pipiku seakan aku benar-benar imut dimatanya.


“Ya! Do not bother me Mr. Driean Audrikza.”


“Aku masih ingin makan donatnya Bonnie, tolong buatkan lagi.” Puppy eyes milik kak Drie seketika membuatku tersihir.


“Oke. Tapi tolong hentikan tatapan itu.” Kataku bermalas-malasan.


Sebenarnya aku iri, kenapa kak Drie dan kak Dinar memiliki mata bulat nan indah memesona sementara aku tidak? Menurutku anak perempuan yang seharusnya kelihatan lebih imut dibandingkan laki-laki. Yah meskipun banyak juga terdapat laki-laki yang memiliki paras imut seperti mereka.


Aku sangat menyayangkan sifat kak Dinar yang kebanyakan serius hingga seiring pertambahan usia parasnya yang imut perlahan-lahan berganti dengan garis wajah tegas. Hanya mata bulatnyalah yang masih bersisa.


“Bonnie-ku iri dengan mata imutku ya? Sudah ku katakan kamu lebih imut dariku.”


“Stop it kak Drie.”


“Oke.”


Aku bersyukur kak Drie akhirnya berhenti bergurau dan mulai duduk tenang sambil memperhatikan ku yang sedang menghias kue. Untuk beberapa alasan aku menyukai kak Drie memperhatikan apapun sebab ekspresinya akan terlihat seperti anak kecil.


“Wont you help me?”


“No, thank’s. I’m not interested in cooking.”


“Dasar hanya ingin makan saja.” Kataku kemudian memberikan satu buah donat untuk kak Drie.


“For me?” Aku menarik kembali donat yang baru saja ku sodorkan.


“Eit’s jangan marah dulu. Sini.


“Kamu bertemu dengan siapa kemarin?” Disela-sela kak Drie memakan kuenya ia mengajukan pertanyaan padaku.


“Teman, namanya Dela.”


“Dela, berarti perempuan. Kenapa kamu tidak mengajak kakak?”


Kak Drie memasang wajah ngambek. Orang ini sudah terkenal dikampusnya tetapi masih saja ingin mengenal banyak orang terutama perempuan. Dia bilang untuk menambah relasi dan jawaban itu benar-benar ku ragukan.


“Aku sudah ditemani kak Dinar. Tidak mungkin kan aku mengajak dua orang sekaligus?” Jawabku jujur.


“Lain kali ajak kakak menemanimu. Kak Dinar itu tidak ramah yang ada temanmu bosan melihatnya.”


“Morning Kak.” Sapa kak Drie ramah.


Dahiku berkerut bingung, apa mereka sudah biasa saling mengatai seperti ini?


“Morning.”


“Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung Kakak.”


“Tentu tidak masalah. Hanya saja jangan terlalu sering mengejekku karena itu tidak baik.” Kak Drie tertawa kikuk mendengar perkataan kak Dinar.


“Bonnie cepat selesaikan kuemu setelah itu ke kampus. Kakak akan mengantarmu kesana.”


°°°°°°°°°°°°°


Dikampus.


Mataku menelusuri gedung pertama yang terlihat. Untuk Universitas yang berada di kota yang tidak terlalu besar kampus ini termasuk sangat bagus dan sudah maju.


Selain kampus yang memiliki karakteristik tersendiri kualitasnya pun tidak bisa diragukan. Hal itu merupakan salah satu alasan mengapa aku memilih tempat ini.


“Apa kamu hanya akan melihat kampus, tidak turun dan berpamitan dengan kakak?”


Aku melihat kak Dinar dan kak Drie.


Ekspresi hangat kak Dinar terlihat jelas berbeda dengan kak Drie yang menyebalkan ditambah senyuman mengejek. Kak Dinar mengantarku sebab kantornya satu arah dengan kampus ini, sementara kak Drie ingin melamar pekerjaan.


Kak Drie tidak tertarik dengan posisi di perusahaan dan untungnya Pamlie dan Bibi menyetujui niatnya untuk bekerja sebagai Konsultan Pajak.


“Oke. Terima kasih atas tumpangannya kak Dinar, dan kak Drie semoga berhasil.” Kataku tersenyum sumringah.


“Selamat hari kuliah pertama Bonnie.”


Aku tersenyum lagi.


Terlintas ingatan bagaimana usaha kak Drie mempromosikan kampusnya agar aku berkuliah disana. Seluruh keluarga besarku pun juga sangat merekomendasikan tempat tersebut. Hanya saja aku tidak ingin kuliah diluar kota.


Aku langsung pergi menuju kelas. Sepanjang perjalanan mataku tak henti-hentinya memperhatikan satu per satu gedung.


“Permisi, dimana gedung Fakultas Ekonomi?”


“Gedung paling ujung sebelah utara yang berwarna biru.”


“Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Sudah dua jam setengah berlalu untuk mata kuliah pertamaku. Perkenalan tadi berjalan lancar. Aku senang bisa mengenal lebih banyak orang Indonesia. Setahuku orang Indonesia memiliki sifat ramah.


“Ah..., senangnya. Oya Dela, aku harus menghubunginya.”


Hyerin Delaxa


“Itu kan Dzrilla.”


Aku mengikuti arah tatapan Hiery. Orang itu kelihatan sangat bahagia sampai membuat wajahnya berseri.


“Tolong jangan bicara apapun mengenai manusia es. Aku masih mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu dengan Dzrilla.”


Hiery menatap lama wajahku. Kami yang masih bertatapan segera dikejutkan oleh suara ponsel.


“Sebentar.


“Halo.”


"Halo Dela. Apa kamu ada jadwal hari ini?”


“Ada, tapi sebentar lagi kami masuk.”


“Wah sayang sekali. Rencananya tadi aku ingin memintamu menemaniku keliling kampus”


“Kirimkan saja jadwalmu padaku nanti aku akan mengecek kapan kita bisa melakukan hal itu.”


“Oke, thank’s.”


“Were welcome.”


“Kalau begitu aku tutup dulu.”


“Tunggu, kamu tetap disana. Masih ada 15 menit sebelum kami masuk. Aku ingin mengenalkan temanku padamu.” Bisa ku lihat Hiery melotot dan langsung hendak mengajukan pertanyaan, aku hanya mengangkat satu tangan memberikan isyarat agar mendengarkan terlebih dahulu.


“Memangnya kamu tahu dimana aku sekarang?”


“Tentu saja, kamu hanya berjarak sekitar 2 meter dari kami."


°°°°°°°°°°