Classical Love

Classical Love
Bagaimana dengan Orang-orang Ini?



“Em..., Hiery, menurutmu apa aku terlihat seperti perusak hubungan orang?”


Aku tidak tahu apa yang sedang ku pikirkan. Aku hanya ingin mendengar pendapat Hiery saja.


“Menurutmu sendiri?”


“Astaga. Aku bertanya padamu tapi kamunya malah nanya balik.” Kataku dengan mengerucutkan mulut.


Jika sedang kesal bibirku bisa maju beberapa senti.


“Kak Deri dan Dzrilla serasi. Tapi hubungan mereka hanya masa lalu.


"Disini kalian dijodohkan jadi kurasa kamu tidak salah. Kita lihat saja perkembangan selanjutnya.”


“Dia bilang keluarganya sudah tahu bahwa dia sudah punya pacar.


"Lalu kenapa mereka tetap menjodohkan kami? Hal itu justru akan membuat salah satu diantara kami terluka. Dan itu dimulai dari Dzrilla."


“Hey, kalau belum jodoh kan memang begitu. "Tenanglah tulang rusuk tidak akan tertukar.”


“Entahlah. Hubungan ini membuatku bingung dan takut. Kamu sih yang menyuruhku untuk sungguh-sungguh. Makanya cepat atau lambat pasti akan muncul perasaan yang aku tidak tahu itu apa.”


“Kalau begitu kalian memang ditakdirkan hidup bersama.”


“Apanya yang hidup bersama, aku masih ingin bebas.”


“Memangnya selama ini kamu dikurung?” Tanya Hiery dengan tatapan polos. Dia kelihatan menggemaskan hingga aku mencubit pipinya.


“Aw. Sakit Dela.”


Aku tertawa melihat kelakuan Hiery.


“Maksudku bukan begitu. Kalau sudah menikah kan harus menjadi istri yang baik. Kamu ini, tahu mengenai jodoh dan cinta tapi tidak tahu tentang kewajiban istri.” Kataku masih ditemani senyuman.


“Aku tahu Dela, jangan terus-terusan menganggapku seperti anak kecil.”


“Tidak boleh. Teruslah menjadi Hiery polosku ya. Lupakan tentang cinta dan jodoh. Aish..., dimana sih kamu belajar hal itu?”


“Waktu di Prancis. Kak Deri mengajakku bertemu Dzrilla dan liburan bersama mereka.” Aku langsung terdiam.


Liburan di Prancis, kota yang terkenal akan nuansa romantisnya. Mereka pasti sangat menikmati saat-saat itu.


“Berapa lama mereka pacaran?”


“Kalau tidak salah dua tahun.”


“Huh..., dua bulan banding dua tahun. Itu terdengar tidak adil.”


“Oh iya, benar juga.” Hiery malah tertawa sementara aku tersenyum kecut.


“Kamu lebih suka kalau menusia es dengan Dzrilla atau denganku?”


Suara tawa seketika terhenti.


Aku dan Hiery saling berpandangan. Aku sudah tidak sabar mendengar jawaban sahabat ku itu.


“Tidak tahu.”


Aku langsung menjatuhkan kepala diatas meja saat mendengar perkataan Hiery sedangkan dia terus mengelus pucak kepalaku. Kami terbiasa menenangkan diri satu sama lain.


Hyeri yang terlalu sulit memilih atau aku yang terlalu berharap ia menjawab lebih cocok aku dan Deri saja!?


☼☼☼☼☼


Sudah dua hari ini si manusia es tidak menghubungi ataupun menemuiku. Aku tahu kalau dia memang orang sibuk tapi tidak seharusnya ia memperlakukanku seperti ini. Dasar manusia tidak punya perasaan.


“Tunggu dulu, jangan-jangan dia malah menghabiskan waktu dengan Naira.


“Tidak.” Aku langsung menggelengkan kepala.


“Aish. Menyebalkan.”


Aku menghempaskan diri ketempat tidur dan melihat jam. Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB, biasanya aku sedang belajar jam segitu.


“Baiklah aku harus belajar.”


Ku ambil buku perkembangan anak dan mulai membaca. Baru sekitar dua halaman fokusku terganggu oleh suara ponsel.


“Yosh. Aku lupa mengaktifkan mode diam. Siapa sih yang menelepon dijam segini?” Keningku berkerut melihat nomor tidak dikenal. Namun tanpa membuang banyak waktu aku langsung mengangkatnya.


“Halo.”


“Halo, maaf ini siapa?” Merasa tidak familiar dengan suara si penelepon aku pun mengajukan pertanyaan.


“Ah, maaf menganggu waktumu. Aku Neron Wardana ketua UKM Pers Ziyath. Kamu yang bernama Hyerin Delaxa kan?”


Aku mengiyakan pertanyaan Neron. Hanya dengan mendengar namanya saja aku sudah sedikit tahu apa maksud dari teleponnya kali ini.


Popularitas mereka semakin melejit saat berhasil memenangkan penghargaan berita terlengkap dikampus dan menerbitkan redaksi penyaluran bakat menulis seperti novel, cerpen, puisi, dan karya-karya yang lain.


“Begini Dela, aku ingin meminta bantuanmu menjadi narasumber seputar acara perlombaan debat dengan tema Perkembangan Zaman dan Anak. Bagaimana, apa kamu setuju?” Aku masih diam.


Neron adalah Most Wanted dikampus kami. Siapapun yang dekat dengannya pasti akan menimbulkan gosip yang tidak sedap.


Dia memang tipe orang yang serius, cuek dan tidak tertarik dengan hal yang kurang penting. Tapi tetap saja tidak menutup kemungkinan jika aku membantu UKM Pers akan membuat kami terlihat seolah-olah dekat.


“Halo Dela, apa kamu masih disana?” Suara Neron membuyarkan pikiranku.


“Oh, iya. Maaf Ner, akan ku pikirkan nanti.”


“Dela aku benar-benar minta bantuanmu. Aku atas nama ketua Pers Ziyath berharap kamu bisa membantu kami.”


Aku tertawa setengah dipaksakan.


Aku tahu Neron tidak ada niat apapun kecuali hal yang dibicarakannya tadi tapi aku harus berhati-hati dengannya, maksudku orang-orang yang mengaguminya.


“Iya Ner, asalkan penggemarmu itu tidak membuat kabar yang aneh-aneh aku pasti akan membantu UKM Pers.” Aku berhenti sebentar, sepertinya aku salah bicara.


“Maksudku, kalau kita bisa mengatur waktu aku akan berperan serta.” Kataku dengan tertawa seadanya.


Ini jelas bukan aku yang seperti biasa. Kenapa aku bisa berubah seperti ini?


“Tentu saja Dela. Kami akan menyesuaikan jadwalmu. Terima kasih atas bantuannya.”


“Sama-sama.”


Dan panggilan pun dihentikan.


Aku meringis pelan. Semoga saja tidak akan ada kabar aneh-aneh setelah ini.


“Oh ya, aku kan bisa minta ditemani Hiery. Aish..., kenapa tidak kepikiran?” Aku tersenyum sebentar sebelum melanjutkan bacaan.


Kali ini aku bisa puas membaca buku. Tidak ada gangguan ataupun semacamnya. Ini adalah situasi yang ku suka. Tenang, nyaman dan sepi.


“Selesai. Waktunya ngampus.” Aku memasukkan beberapa buku dan turun kebawah. Disana aku bisa melihat Mama sedang membuat pancake.


“Ma, Dela pergi ke kampus dulu.”


“Iya hati-hati sayang.”


Aku bersenandung pelan untuk mengurangi rasa terik matahari. Pergi ke kampus pada siang hari benar-benar merepotkan, untungnya hanya dua kali jadwal kuliah yang seperti ini.


Aku berhenti sebentar di toko peralatan sekolah. Persediaan pena dan buku tulisku habis. Walaupun aku sudah kuliah kebiasaan mencatat di buku masih terus ku lakukan. Jika tidak menulis aku belum merasakan belajar yang sesungguhnya.


“Permisi.”


Orang dihadapanku tersenyum kemudian bergeser memberikan ruang untukku melihat-lihat jenis pena dan buku tulis.


“Maaf, bolehkah saya bertanya?” Mataku menatap bingung orang yang tiba-tiba berbicara tersebut, baru setelah itu aku mengangguk lemah.


"Apakah kamu tahu mengenai Universitas Namith?”


“Iya, aku adalah salah satu mahasiswinya.”


“Wah kebetulan sekali. Aku berencana pindah ke kampus itu.”


Aku terus melihat orang yang sedang bicara ini. Dia sampai menatapku heran sebab aku terlalu berlebihan memperhatikannya. Seketika itu juga aku tersenyum kikuk dan mengalihkan pandangan.


“Kenalkan namaku Naira.” Tanpa membuang banyak waktu aku langung menyambut uluran tangan dari orang yang baru ku temui ini dan menyebutkan namaku.


Aku tidak pernah menyangka jika kami akan terlihat sangat akrab diawal pertemuan. Bahkan selama berada ditoko peralatan sekolah, kami membicarakan banyak hal mengenai kampus tempatku berkuliah. Sifat ramah dan cara bicara Naira membuat kebiasaan canggungku terhadap orang baru jadi terlupakan.


Setiap pertanyaannya ku jawab dengan antusias sampai aku berpikir terlihat seperti duta kampus. Sejak dulu aku memang bangga berkuliah disana. Mungkin karena itulah naluriku senang saat mengetahui orang itu ingin pindah ke kampus kami.


“Kamu blasteran ya?” Tanyaku saat kami hampir akan berpisah.


“Em. Aku keturunan campuran Indonesia dan Amerika.”


Aku terpaku. Sontak pikiranku melayang pada pembicaraan Hiery mengenai Dzrilla.


Apakah ini dia? Secepat ini kami bertemu?


“Dela. Terima kasih atas informasimu. Aku pulang dulu.”


“Ah iya. Hati-hati dijalan.” Aku tersadar dan melepas kepergian orang yang baru ku kenal ini.


“Naira, Dzrilla.


“Aku harus menanyakan nama asli Dzrilla kepada Hiery.”


°°°°°°°°°°