
Hyerin Delaxa
Aku sedang membaca buku untuk persiapan lomba Perkembangan Zaman dan Anak saat ponsel diatas nakas berbunyi. Nama manusia es tertera disana.
Aku menyeryit heran, kenapa manusia es menelepon pagi-pagi seperti ini?
“Halo.”
“Halo.” Jawabku singkat.
“Ada yang ingin ku tanyakan padamu.”
“Tanyakan saja.”
“Apa kamu bertemu dengan Dzrilla? Ku dengar dia pindah ke kampusmu.” Aku kaget.
Bagaimana bisa manusia es selalu membicarakan Dzrilla padaku. Dia benar-benar menyebalkan.
“Kamu menghubungi Dzrillla kan?” Kini giliran orang diseberang sana yang diam tetapi tidak lama setelah ia kembali bicara.
“Iya, hanya sekedar beramah-tamah.
"Tolong jawab pertanyaanku tadi.”
“Apakah kamu tahu bagaimana perasaanku setiap kali kamu menghubungiku selalu membicarakan Dzrilla?”
Entah mendapat keberanian dari mana kalimat tersebut keluar begitu saja.
“Maafkan aku.”
“Sudahlah lupakan saja.
“Mengenai pertanyaanmu aku memang sudah bertemu dengan Dzrilla. Tidak, disini namanya bukan Dzrilla melainkan Naira.
"Dan kau tahu pendapatku pertama kali bertemu dia? Dzrilla ramah, baik dan menyenangkan. Sepertinya aku harus menyalahkan takdir sebab dia adalah mantan pacarmu hingga aku merasa ada sesuatu yang mengganjal jika kami berteman.” Diseberang sana bisa ku dengar manusia es menghela napas berat.
“Maafkan aku. Kalian malah terjebak dalam situasi ini.”
“Sudah ku katakan lupakan. Kau bilang perjodohan ini belum final jadi kau masih bisa berpikir sehingga bisa menjalani hubungan antara aku dan Dzrilla. Meski itu terdengar aneh, kau suka hubungan segitiga?”
“Dela tolong jangan salah paham aku dan Dzrilla hanya teman.”
“Terserah apa yang kau katakan. Bukankah sejak awal kau mempunyai dua pilihan sedangkan aku hanya berada disalah satu pilihan itu atau bisa kau sebut cadangan.”
“Dela ku mohon jangan berpikiran seperti itu.”
“Maaf tuan Cloriea aku harus pergi ke kampus. Mari bicarakan hal ini setelah Anda pulang nanti.”
“Tapi Dela...,”
“Anda sangat menghargai waktu kan?”
“Ini berbeda Dela.”
“Setelah Anda pulang. Tolong persiapkan argumen terbaiknya. Sampai bertemu.”
“Baiklah sampai jumpa.” Aku melihat layar ponsel dengan tatapan nanar.
“Aish..., aku pasti sudah gila.” Aku memijat kepala.
Waktu berjalan cukup cepat sebab sekarang tanpa terasa aku dan Dzrilla sudah berada di gedung terakhir kampus. Aku tetap berusaha bersikap biasa pada Dzrilla meski cukup sulit dilakukan. Dia memang mantan pacar manusia es tetapi hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membenci apalagi bersikap buruk padanya.
Hanya saja terkadang aku pernah bersikap canggung setiap kali bertemu pandang dengannya hingga secara tak sengaja membuatku jadi membayangkan hal yang tidak-tidak mengenai ia dan manusia es. Semisal seberapa dekat hubungan mereka waktu berpacaran.
Tunggu dulu apa manusia es bisa bersikap romantis?
“Ini adalah gedung Fakultas Hukum. Didalamnya terdapat 7 bidang studi. Ada prodi Hukum Perdata, Hukum Internasional, Hukum Ekonomi, Hukum Administrasi Negara, Hukum Pidana, Hukum dan Teknologi, dan terakhir Hukum Acara atau Peradilan."
Dzrilla mengangguk paham. Masih terpancar aura semangat dari matanya meskipun kami sudah berkeliling kampus yang notabene cukup luas dan tentu saja menguras tenaga ini.
“Dela!”
Mata kami tertuju pada seseorang yang baru saja memanggil namaku. Kaget dan heran bercampur sempurna saat aku mengetahui si pemilik suara.
“Maaf menganggu waktu kalian.” Aku masih kaget hingga tidak bisa membalas senyuman ramahnya.
“Lho kamu kan yang membantuku waktu itu.”
“Oh iya.”
Aku tersenyum samar melihat ekspresi wajah Dzrilla dan Neron. Jika sedang seperti ini aku jadi teringat adegan drama Korea.
Tidak, aku hanya bercanda. Aku tidak pernah menonton film seperti itu.
“Kalian saling mengenal?”
“Belum. Oiya, kalau begitu kenalkan namaku Neron Wardana biasa dipanggil Neron.”
“Naira Audzrilla. Panggil saja Naira.” Keduanya saling tersenyum dan tautan tersebut terlepas, mereka kelihatan cocok.
Ini tidak baik. Aku takut salah satu fans Neron sedang berkeliaran disekitar sini. Dalam hatiku yang paling dalam aku tidak ingin hari-hari Dzrilla menjadi buruk.
“Em maaf. Aku datang kesini ingin mengajak Dela latihan penggambilan vidio.”
Sekarang aku jadi mengkhawatirkan diri sendiri. Semoga saja tidak ada fans Neron yang suka menguntit.
“Bolehkan aku ikut, aku ingin belajar menggambil vidio.”
“Kalau begitu sekalian kamu masuk ke UKM Pers Ziyath.”
Aku melihat keduanya lagi, kali ini dengan tersenyum ramah.
☼☼☼☼☼
Deri Cloriea
Kepala berdenyut nyeri. Itulah yang ku rasakan. Aku tidak habis pikir akan mengalami hal menyulitkan berturut-turut. Pertama Dela dan kedua mengenai pertemuan client.
Orang yang tidak pernah ku duga kedatangannya. Aku yang biasa bersikap tenang saja tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget. Client itu adalah kak Dinar kakak sepupu Dzrilla.
“Apa ada masalah?” Aku menatapnya.
“Tidak.”
“Ku dengar Anda sebentar lagi akan menikah. Jadi saya ingin mengucapkan selamat.”
“Terima kasih.” Kataku sangat formal.
Semua itu karena rasa hormatku pada orang dihadapanku ini.
“Santai saja Deri. Aku tetap Dinar yang kamu kenal, jadi jangan sungkan padaku.”
“Iya Kak.”
“Karena kita sudah bertemu jadi kakak pikir lebih baik langsung mengatakannya saja.
“Tolong jangan hubungi Naira lagi. Disini ia adalah Naira bukan Dzrilla yang kamu kenal dulu. Begitupun sebaliknya. Biarlah hal yang dulu tetap dibelakang dan kalian harus menatap hal yang akan datang.”
Aku diam mencerna perkataan kak Dinar. Aku tahu persis sifat orang satu itu dan bagaimana sudut pandangnya terhadapku setelah tahu aku memutuskan Dzrilla.
Dibalik perkataannya ia hanya tak ingin Dzrilla semakin tersakiti.
“Kami berjanji menjadi teman. Jadi aku akan tetap menghubungi Dzrilla. Maaf aku tidak bisa kKak.”
Kak Dinar menatapku tajam namun beberapa saat setelahnya ekspresi itu melunak.
“Jangan bersembunyi pada sesuatu yang kamu sebut ‘persahabatan’ itu. Jangan bermain-main dengan hubungan atau kamu sendiri yang akan terjebak.
“Sampai bertemu lagi tuan Cloriea.”
Aku menatap kepergian kak Dinar.
Ia bahkan tidak bersalaman sebagai tanda perpisahan rapat. Itu adalah formalitas tapi aku tahu ia sedang kesal.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ini benar-benar diluar perkiraanku.
Pukul 07.30 WIB.
Aku segera bersiap pergi ke tempat penjualan aksesoris dan hiasan khas Bali. Mataku jeli melihat satu per satu hiasan dan gantungan kamar disalah satu kios.
Aku tidak tahu hiasan seperti apa yang disukai Dela, lebih dari pada itu aku bahkan tidak pintar memilih barang yang bagus.
“Deri. Kamu juga ingin membeli oleh-oleh?” Mataku menoleh ke sumber suara. Aku langsung tersenyum melihat orang tersebut.
“Hey nona Mahendra.”
“Clari.” Koreksinya cepat. Aku hanya tersenyum kikuk.
Aku melihat ia memilih hiasan tanpa menghabiskan banyak waktu dan kebingungan. Tidak sepertiku. Untuk memilih satu hiasan saja susahnya minta ampun.
“Kamu belum beli?
“Ya ampun dasar laki-laki. Kamu pasti kesulitan memilih hiasan mana yang harus dibeli kan?”
Aku menggaruk kepala menanggapi perkataan Clari. Dia kelihatan seperti ibu-ibu cerewet.
“Oke. I will help you.”
“Thank’s hanya saja tolong jangan kaget.”
“Untuk apa aku harus kaget?” Katanya sambil memegang satu gantungan.
Pada akhirnya aku dan dia tenggelam dalam acara memilih hiasan.
“50 buah!? Pantas saja kamu kesulitan memilihnya.” Clari langsung berkomentar setelah kami selesai memilih.
“Oya, apa kamu lapar. Bagaimana kalau kita makan disana?”
“Maaf Clari aku harus segera pulang.” Sebenarnya aku tidak enak dengan Clari. Jika saja hari ini aku tidak ingin segera pulang aku pasti menerima tawaran tersebut.
“Oke no problem. See you.”
“Terima kasih lagi.”
°°°°°°°°°