Classical Love

Classical Love
Cemburu? dan Love Shot



"Antarkan makanan untuk ku. Jika tidak mau ataupun tidak sempat tidak apa-apa. Aku bisa sarapan di kantor," ujar manusia es hanya dalam satu tarikan napas.


Sekretaris manusia es sangat manis.


Apakah manusia es makan ditemani atau semua kebutuhannya diurus oleh sekretarisnya itu?


kalau sekretaris tak menutup kemungkinan akan mengurus semua kebutuhan atasannya. setahuku sih memang beginilah.


Aku pun spontan menggeleng. Apa yang terjadi padaku sampai pikiran ku malah melenceng kearah sana.


"Aku ikut kamu ke kantor. Kebetulan hari ini aku masuk siang."


Astaga. Akibat terlalu terbawa arus pikiran aku sampai tidak sadar mengatakan hal tersebut.


Kalimat sepanjang itu benar atau tidak kalau aku keceplosan. Atau jangan-jangan aku tidak mau berbagi?


tak ingin membiarkan kesempatan apapun didapatkan oleh siapapun?


entahlah, untuk hal yang satu ini aku benar-benar merasa sangat buruk.


"Kamu sudah mengatakannya. Sekarang kamu harus ikut."


Aku yang sebenarnya ingin memprotes sudah tak sempat lagi sebab manusia es langsung mengiring ku menuju mobil. Belum. Makanannya belum dibawa Maes.


"Tunggu. Aku harus membereskan makanan dulu. Aku juga harus mengganti baju," ujar ku cepat.


kami tidak bisa langsung main pergi begitu saja. aku merasa bodoh untuk hal yang satu ini.


"Biar Mama saja sayang. Deri kamu tunggu di mobil."


Baik aku dan Maes spontan melihat Mama. Orang tua itu tidak sendirian karena Papa pun juga berada di sampingnya.


Double kill.


apa kedua orang tua tersebut melihat apa yang ku lakukan terhadap calon menantu kesayangan mereka?


ah tidak tahu. aku benar-benar merasa bodoh dan gila untuk hal yang satu ini.


benar-benar merasa buruk!


Aku memang sempat memasak tapi tidak ikut makan bersama. Alasan ku adalah ingin mengerjakan sesuatu yang mendesak. Baru setelah itu makan.


Mama dan Papa juga tidak curiga saat manusia es tak ikut makan. Sebab dengan segala kekreatifan--atau bisa disebut otak pintar ku mengatakan bahwa Maes juga sedang mengerjakan tugas kantor.


Aku tidak bisa membiarkan mereka melihat manusia es babak belur. lalu sekarang tiba-tiba kedua orangtua itu sudah berada tepat dihadapan kami?


aku..., ketahuan. itu sudah pasti.


"Nanti ceritakan semua yang terjadi Dela. Sekarang kamu harus menebus kesalahanmu terlebih dahulu."


tuh kan, apa ku bilang.


mana malah aku lagi yang disalahkan.


Walaupun ku rasa itu ada benarnya juga. Pukulan ku menyebabkan luka lebam pada sudut kepala manusia es. Luka yang lain bersemayam pada siku dan lengan sebab menahan serangan ku.


aku ini manusia apa monster sih!?


rasanya benar-benar sangat tidak tahu harus melakukan hal seperti apalagi.


°°°°°°°°°°°°°°


"Pak, apa yang terjadi pada Anda?"


Saat kami baru saja sampai di ruangan Maes, sekretaris manisnya itu langsung mengajukan pertanyaan.


Tanpa membuang banyak waktu orang itu segera menggambil kotak P3K.


Wait. Itu adalah tugas ku. Dia tidak boleh melakukannya.


Itu tugasku?


menyebalkan! si sekretaris ini kelewat gesit atau bagaimana!?


"Tidak apa-apa Nessa ada..."


"Ah..., tidak perlu repot-repot Nona. Biar saya saja yang melakukan hal itu."


Belum sempat manusia es menyelesaikan kalimatnya aku sudah lebih dulu memotong pembicaraan.


Ibarat ibu-ibu rumah tangga takut ketinggalan diskon besar-besaran. aku cepat dan tak akan ketinggalan apapun.


aish..., aku juga bingung kenapa malah bersikap begini. satu hal yang pasti, hal itu terjadi begitu saja.


"Maaf Anda siapa?"


Baru aku tahu.


Ternyata di kantor Maes gosip tidak dibiarkan berkeliaran bebas. Mungkin saja manusia es sangat tegas terhadap karyawannya.


padahal kan, aku sudah pernah pergi ke kantor ini. ada beberapa karyawan yang tentunya melihat kedatanganku, terutama si nona resepsionis.


"Saya..."


"Dia Keluarga jauh ku."


Eh, baru saja aku ingin mengatakan 'calon istri' Maes sudah lebih dulu menyebut 'keluarga jauh'. Karena hal itu aku jadi teringat kejadian saat mengantarkan makanan ke kantornya.


Kok rasanya seperti Dejavu?


ko rasanya seperti termakan ucapan sendiri?


Jangan tanyakan kenapa, aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya. Tidak lebih. Aku adalah orang yang jujur, hanya pada situasi tertentu saja aku mau tidak mau harus berbohong.


Aku pun refleks melihat Maes. Apapun yang ku pikirkan, aku tidak berencana untuk memprotes. Harga diri dan image ku masih lebih tinggi. Lebih tinggi.


Namun tetap saja masih ada selipan kesal disana.


aku tersinggung lho maea. apa yang sedang kamu lakukan ini?


"Baiklah. Kalau begitu saya akan menyiapkan minuman untuk Anda dan keluarga jauh Anda."


Ini sekretaris totalitas tanpa batas atau apa.


Memangnya disini tidak ada office boy, office girl, pembuat minuman atau apapun itu.


Dia terlalu semangat menjalankan tugas.


Hal itu membuat darah ku naik beberapa persen. Apalagi perkataan terakhirnya tadi. Ingin rasanya aku berteriak bahwa aku calon istri bukan keluarga jauh.


dasar menyebalkan!


"Ingat Dela, pertahankan harga diri dan image," batinku dalam hati.


untuk itu hal inilah yang ku katakan. lihat ya.


"Iya. Terima kasih." Kataku tidak lupa tersenyum--kaku.


lalu sekretaris tersebut menghilang dibalik pintu.


Aku sangat ingin mengunci pintunya agar dia tidak bisa masuk lagi. aish benar-benar!


mau ngamuk saja rasanya.


"Aku lapar. Bisakah kamu siapkan makanannya?"


Aku langsung melihat manusia es yang sudah duduk tenang di kursi kebesarannya. Ku lihat dia sudah mulai bergelut lagi dengan berkas-berkas.


Dia benar-benar perfeksionis serta mengutamakan pekerjaan. Mungkinkah dia juga gila kerja?


ku rasa begitu. lihatlah, seakan-akan satu detik saja sangat berharga bagi orang tersebut.


Bukannya melakukan hal yang diminta manusia es, apa yang justru yang ku lakukan adalah diam mematung ditempat.


Aku masih cukup kesal lho. Dia menyebut ku keluarga jauh dihadapan sekretarisnya sekarang malah menyuruh ku mempersiapkan makanan?


Padahal waktu itu dia langsung menyebut ku calon istri. Benar-benar bermuka dua. aku tidak suka dan marah.


"Tidak berselera. Ya sudah aku akan meminta bantuan kepada Nessa."


Menyebalkan.


Lagi-lagi, tidak adakah karyawan yang bertugas menyiapkan makanan dan minuman?


Kalaupun tidak ada dia bisa delivery saja kan. Maes sengaja melakukan itu untuk membuat ku kesal atau memang seluruh keperluannya dipersiapkan oleh sang sekretaris?


Aku kesal wajar kan?


"Tidak perlu. Aku yang akan melakukannya," kataku.


tidak cepat, ingat dan cacat itu. Aku tidak bersikap seperti orang yang takut ketinggalan kereta.


"Kalau begitu lakukan." Katanya yang masih terfokus pada berkas-berkas kantor.


Aku merasa jadi orang ketiga.


Orang pertama berkas kantor, orang kedua sekretaris dan orang ketiganya baru aku.


hiks, nasib, nasib. inikah yang namanya orang tak dianggap?


sedih dan kesal.


Tanpa membuang banyak waktu aku pun langsung mengerjakan apa yang Maes inginkan. Sedikit setengah hati.


Sebelum orang tersebut makan, ku lakukan hal yang sudah menjadi tugasku yaitu menyelesaikan tahap pengobatan yang sempat tertunda.


Aku orangnya sangat bertanggung jawab. Yang ku lakukan tidak lebih dari itu.


ingat dan catat!


°°°°°°°°


"Menyebalkan."


Sudah kesekian kalinya aku menyebut kalimat tersebut. Entah sudah berapa kali, aku tidak pernah menghitungnya. Maksud ku karena terlalu banyak aku sampai tidak terhitung lagi.


"Dela hentikan. Ini sudah sebelas kali kamu menyebutkan itu."


Aku tidak menghitung ternyata Hiery yang berhitung.


Sekarang kami sedang berada di perpustakaan kampus. hiery, ku rasa kamu lebih cocok menjadi seorang matematikawan dari pada psikolog anak.


Menyebalkan. Bagaimana bisa aku tidak menyebut kata itu.


Dikantor tadi Maes bisa-bisanya mengacaukan pikiran ku. Dia sangat santai menunjukkan betapa hebatnya kolaborasi pekerjaan antara atasan dan sekretarisnya. Terlepas dari kemungkinan dia sengaja atau tidak, namun harusnya dia mempertimbangkan keberadaan ku.


aku marah dan kesal itu wajar kan!?


awas saja, pasti akan ku balas!


******