Classical Love

Classical Love
Membicarakan dan Pesta Malam



"Kamu pasti tahu maksud ku, Nona. Katakan, apa kamu yang melakukan ini?" Kataku yang sudah tak terlalu terbakar emosi lagi.


Tenang..., Walaupun sedang murka marahku tetap harus berkelas. Apalagi sekarang di kampus.


Tidak.


Maksudku emosi hanya akan memperkeruh suasana.


Tangan ku cukup tenang menunjuk papan pengumuman kampus yang didepannya ada foto aib kami.


orang yang melakukan hal ini sungguh sudah gila!


"Jangan sembarangan menuduh. Memangnya kamu punya bukti?"


Aaa..., Bukti. Dia ternyata cukup pintar mengelak juga.


"Untuk sekarang aku belum memilikinya. Tapi Nona, setelah aku mendapatkannya jangan pernah berpikir kamu bisa lepas dariku."


Aku memasang wajah angkuh. Tangan bersedekap pada dada dan tatapan nyalang.


Anda yang menyatakan perang duluan Nona, maka aku harus meniup terompet peringatan.


"Kita lihat saja. Aku atau kamu yang salah."


Kerumunan semakin banyak.


Aku tidak terlalu suka jadi pusat perhatian, maka yang ku lakukan adalah mencopot habis foto-foto tadi dan beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Dasar cewek centil. Setelah dengan Neron sekarang sudah dapat yang baru. Seorang CEO lagi."


"Ha..., Lihatlah. Neron benar-benar dekat dengan anak baru itu."


"Tidak bisa dibiarkan."


Mereka yang tidak bisa dibiarkan.


Awas saja jika para penggemar itu berani berbuat macam-macam. Akan ku panggang hidup-hidup mereka.


"Kamu benar berpacaran dengan CEO, Dela? Bahkan menurut kabar yang ku dengar kalian juga akan segera menikah."


Lho. Kok kabarnya bisa seperti itu.


Sherlyn teman sekelas ku sedang menatap penasaran.


siapa yang telah menyebarkan kabar fitnah ini!?


awas saja, akan ku cincang habis mereka!


dasar orang-orang kurang kerjaan!


"Hahaha..., Tidak kok. Kami hanya berteman biasa. Jangan mudah termakan gosip," kataku pada teman sekelas tersebut.


sherlyn adalah orang yang kalem dan tidak mungkin bertanya kalau kabarnya tidak sedang hangat-hangatnya.


berita hot kampus memang membawa kesan yang sangat besar. banyak orang yang akan terpancing.


benar, ku rasa begitulah.


"Lalu, apa Neron benar-benar berpacaran dengan si anak pindahan itu? Dia sungguh beruntung."


Begini ya nasib seorang Most Wanted.


Hal yang masih sangat ku syukuri Sherlyn tidak berpikiran buruk mengenai Naira.


Belum. Masih belum bisa dipastikan.


Lebih buruk lagi. Fans Neron ada banyak.


orang-orang gila tersebut bisa melakukan apapun.


"Kami hanya teman," kataku yang berusaha memberikan penjelasan sekaligus penekanan.


benar, kami hanya berteman biasa, tidak lebih.


"Benarkah?"


Ini Sherlyn bercita-cita menjadi dosen atau reporter sih?


bertanyanya banyak sekali dan seperti tidak ada habisnya.


Dahulu saat pertama kali masuk kami diminta menyebutkan cita-cita masing-masing. karena itulah aku tahu cita-cita orang ini.


"Benar. Jangan terlalu dipikirkan. Sebentar lagi kita akan masuk."


"Dela. Apa kabar yang beredar itu memang benar?"


Baru saja aku ingin duduk tenang, beberapa teman kelas mendatangiku. Ini lebih mirip penyerbuan. Aku hanya bisa memijat kepala.


mereka datang dengan membawa berbagai macam pertanyaan gila. aku yakin akan hal tersebut.


***


Naira Audzrilla


Masalah baru kembali datang. Kali ini menjadi lebih serius. Menyebalkan. Sebentar lagi kami pasti akan dipanggil oleh pihak kampus.


Kesampingkan tentang semua itu. Hal yang lebih ku takutkan adalah kabar yang beredar.


"Tenanglah. Aku akan mengurusnya."


Begitulah pesan dari Neron.


Aku menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan. ini tak semudah kelihatannya, aku benar-benar takut.


"Kau, anak baru itu kan?"


Mataku spontan melihat kedepan. Mendapati cukup banyak orang menatap ku sinis.


Apa aku akan ditindas?


korban bully?


mahasiswi pindahan kampus yang kena bully. sangat menarik.


"Selama ini kami hanya diam tapi sepertinya lama-kelamaan kamu ngelunjak juga."


"Apa maksud kalian?"


Aku tidak bisa diam saja diperlakukan buruk.


"Belum terlalu lama berita mengenai kalian jadi trending topic. Sekarang kamu sudah menciptakan berita baru lagi. Ku rasa kau sangat ingin terkenal."


"Bukan aku yang menciptakannya. Aku juga tidak berusaha mencari perhatian. Aku pindah kesini adalah untuk belajar. Sebaiknya kalian pergi. Jangan membuat keributan di kampus hanya karena sesuatu yang tidak penting."


"Berani juga. Baiklah, ayo kita pergi."


Bisa ku lihat mereka tersenyum meremehkan.


"Oya, ku dengar kalian akan dipanggil. Bersiaplah."


Aku terus melihat kepergian mereka sampai menghilang dibalik pintu.


astaga, aku benar-benar merasa sangat buruk melebihi apapun.


rasanya sudah ingin mati saja.


°°°°°°°°°°


Naira Audzrilla


Seminggu sudah setelah kabar tersebut berlalu.


Aku sungguh tertekan.


Kenapa?


Kami. Aku, Dela, Neron dan Deri terkena masalah. Deri memang tidak terlalu terdampak. Dia adalah CEO jadi terserah ingin melakukan apa saja.


Masalahnya disini terletak pada aku, Dela dan Neron.


pada saat-saat sulit kami saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Masalah selesai namun kabar burung tersebut masih terus ada bahkan sebaliknya semakin bertambah besar.


Seperti inikah rasanya memiliki pacar Most Wanted yang penggemarnya hampir semua gila.


Mereka tidak hanya meneror, membully, mencaci-maki, menghina, berkata jahat, akan tetapi juga menganggu secara fisik.


Sudah ku katakan kami saling menguatkan. Hanya saja hal yang kurang ku sukai adalah Neron terlalu baik terhadap Dela.


Kami memang teman.


Tapi harusnya dia tidak perlu terlalu mendalami perannya itu.


Oke, aku harus mengucapkan terima kasih pada Dela. Sangat berterima kasih banyak.


Dia dengan segala keberanian dan bakat bela dirinya membuat orang-orang berpikir dua kali jika ingin berhadapan dengan orang tersebut.


Dia selalu ada dan membantu ku.


Yang kurang ku suka adalah, kenapa Neron selalu saja mengucapkan terima kasih.


Asal kamu tahu Neron, aku pun juga tidak berhenti berterima kasih. Lalu kenapa kamu terus melakukannya?


Sudah sejak pesta Barbeque aku terus memperhatikan kedua orang itu. Tidak apa-apa, sungguh interaksi mereka adalah hubungan persahabatan, saling menolong begitupun dengan ku dan Deri.


Lantas apa yang ku lihat sekarang. Mereka sedang duduk berdua dengan alasan saling membantu--mengobati luka Neron akibat menolong ku dari fansnya.


Harusnya aku yang mengobati Neron, Dela. Aku kemari untuk melakukan hal itu. Tapi kenapa kamu malah mendahuluiku?


Aku tahu kamu hanya ingin membantu. Hanya saja aku masih ada disini. Akulah yang kekasih Neron, bukan kamu Dela.


Kamu sudah punya Deri--merebutnya dariku. Aku mengikhlaskannya.


Lalu apakah sekarang kau sedang berusaha mencari perhatian pacar ku sementara kamu sendiri sudah akan menikah?


Aku tidak bisa membiarkanmu, Hyerin Delaxa. Kita adalah teman.


teman yang saling mempercayai namun jadi terasa menjatuhkan satu sama lain.


"Ehem." Keduanya langsung melihat kearah ku. Aku tetap berusaha bersikap biasa.


"Oh Nai. Aku sedang mengobati Neron sebab kamu tadi masih ditoilet."


"Tidak apa-apa. Sekarang biar aku yang melanjutkannya."


"Oke. Kalau begitu aku permisi pergi duluan.


"Sampai jumpa."


"Hati-hati Del, dan terima kasih."


Aku terus memperhatikan keduanya. Kemudian membantu menyelesaikan pekerjaan Dela.


"Ku harap kamu tidak berpikiran macam-macam Ra."


Akibat mendengar perkataan Neron membuat ku refleks tak sadar menekan terlalu kuat lukanya.


"Ah..."


"Maaf."


Cukup lama kami diam. Sementara itu aku hanya fokus melakukan kegiatan ku.


"Aku dan Dela tidak lebih dari teman. Ku harap kamu mengerti hal itu Naira."


Tentu saja.


Aku tahu dan selalu mengerti.


Hanya saja secuil hatiku tersinggung Neron.


Aku tahu hubungan yang kita jalani ini mulai tumbuh perasaan tidak saling mempercayai, baik aku ataupun kamu.


"Selesai.


"Maaf. Aku akan segera masuk."


Neron memegang pergelangan tangan ku.


"Ra."


"Aku mengerti Neron. Sangat mengerti. Hanya saja sekarang tolong beri aku waktu."


"Kamu tidak meragukan ku kan?"


Aku menatap matanya jauh masuk kebagian terdalam.


"Entahlah. Hanya saja ku rasa kita sama-sama tidak mempercayai."


Aku berniat melanjutkan perjalanan. Melihat tatapan Neron malah semakin membuat suasana hatiku memburuk. Lebih tepatnya aku sedang butuh waktu sendiri.


"Ra."


"Tolong beri aku waktu."


Hal yang bisa ku lakukan adalah menunduk dalam.


Entah mengapa rasanya ingin menangis. Aku mengigit bibir bagian dalam guna menahan cairan bening tersebut.


Aku sangat berharap Neron segera melepaskan tanganku agar aku bisa cepat pergi dari tempat ini. Aku butuh waktu sendiri. Tolong mengertilah.


Sepersekian detik setelahnya hal yang ku inginkan datang. Aku sangat mensyukuri hal itu.


'Cup.'


Aku mematung di tempat.


Neron melakukan sesuatu yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya--tidak setelah ia menyatakan perasaannya pada ku.


Mataku membulat sempurna.


Neron menciumku tepat dibibir. Dari jarak sedekat ini bisa ku lihat ia sedang memejamkan mata.


°°°°°°°°


Hyerin Delaxa


Sudah tiga hari ini ia sama sekali tidak menemui ataupun menghubungi ku--secara langsung.


Iya. Dia sudah mengkonfirmasikan bahwa tidak bisa menemui ku dalam waktu dekat.


Mungkin saja saat ini ia sedang sibuk mengurus proyek baru perusahaan.


Aku pun juga berpikir untuk mengerti keadaan tersebut. Kami menjalani hubungan dewasa. Sikap saling mengerti dan mempercayai harus ada.


Hanya saja... mungkin tidak akan masalah jika aku menghubunginya. Harga diri dan image ku masih ada. Sepertinya harus ku kikis sedikit demi sedikit terlebih dahulu.


Selama ini hanya Maes yang selalu menghubungi ku lebih dulu. Sekarang adalah giliran ku.


"Telepon?


"Tidak. Aku ingin menemuinya langsung. Tapi dimana ya...?


"Aha., dirumahnya."


Aku tersenyum memikirkan hal tersebut.


Aku sudah pernah pergi ke rumah Maes. Dan sekarang pun tanpa terasa hari pernikahan kami tinggal 2 minggu lagi. Dua hari dari sekarang Ibu--maksudku ibu Maes mengabarkan untuk mengurus persiapan pernikahan seperti fitting baju pengantin dan memilih cincin pernikahan. Aku pun juga sudah terbiasa memanggil ibu Maes dengan sebutan Ibu.


Jujur saja sampai sekarang aku masih belum bisa memastikan perasaan ku. Apakah aku mencintai Maes atau tidak.


Aku menyukainya. Hanya saja suka belum berarti cinta.


Aku tahu akhir-akhir ini sudah mulai bersikap posesif. Semua itu karena aku tidak ingin--membiarkan dia bermain-main dengan sebuah hubungan. Apalagi hubungan pernikahan.


Itu adalah ikatan serius.


Aku ingin dia memahami dan menjalani hubungan ini dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Bukan hanya sekedar mengerti.


Awal mula hubungan kami karena sebuah perjodohan. Hal itu benar-benar menganggu pikiran ku.


Egoku tidak bisa ku kendalikan. Emosi ku meluap-luap.


Apapun yang terjadi aku butuh kepastian.


Aku bersiap pergi menemui manusia es. Pilihan pakaian ku adalah t-shirt berlengan pendek dipadu celana hitam panjang. Tidak ketat dan terlihat sederhana. Apapun itu yang jelas aku menyukai penampilan ku.


Ketika sampai ditempat tujuan hal pertama yang ku lihat tentu saja rumah manusia es. Tanpa membuang banyak waktu sebuah senyuman langsung terbit diwajahku.


Pergerakan ku seketika berhenti saat melihat Maes keluar dari rumah bersama sekretarisnya. Mereka kelihatan sedang membicarakan sesuatu.


Aku berusaha tidak peduli. Yang ku lakukan adalah ingin segera masuk. Cuek-cuek bebek.


Pergerakan ku kembali berhenti melihat mereka memasuki sebuah mobil.


Astaga, mereka ingin pergi lagi?


Maes benar-benar gila kerja.


Tanpa sepengetahuan mereka aku membututi kemana keduanya pergi.


Ternyata begini rasanya menjadi seorang stalker. Dag Dig dug.


Akibat percampuran perasaan antara takut ketahuan, penasaran, persiapan mental dan lain sebagainya.


Mataku seketika melotot melihat Maes menurunkan sekretarisnya di sebuah rumah.


Apa itu berarti Maes mengantarnya pulang?


Lebih dari pada itu keduanya juga masuk kedalam rumah tersebut. Urusan pekerjaan kah?


Aku curiga, maka dari itu terus ku ikuti mereka. Aku mengintip dengan extra hati-hati. Dibalik semua itu tak kan ku biarkan ketinggalan satu pergerakan pun.


Oke. Adegan pertama membuat kopi.


Adegan kedua minum bersama dan berbincang.


Adegan ketika si sekretaris Maes beranjak pergi. Eh., pergi untuk apa?


Lupakan. Lanjutkan pengintaian.


Adegan keempat jatuh. Si sekretaris Maes jatuh.


Jatuh! Menimpa Maes!? Saling tumpang tindih!


Aku langsung mengepalkan tangan kuat. Sekretaris itu harus diberi pelajaran.


Dari perspektif ku dia sengaja melakukannya.


°°°°°°°°°


Aku tersenyum membayangkan bagaimana aku dan Maes memilih baju pengantin beserta cincinnya.


Lucu.


Sifat lain manusia es keluar. Dia selain menyebalkan ternyata juga keras kepala. Dia sangat bersemangat memilih baju pengantin untuk ku dan dirinya sendiri.


Aku suka gaun sederhana sementara Maes suka yang elegan. Dia dan sifat keras kepalanya memintaku memakai gaun pernikahan mewah, terlalu banyak aksesoris, ribet, menyusahkan--bagiku.


Pernikahan itu sekali seumur hidup.


Saat aku mencoba beradu argumen tiba-tiba Meas malah menyinggung poligami. Aku dibuat kesal setengah mati, entahlah. Yang jelas fitting baju dan pemilihan cincin tak lepas dari perdebatan ilmiah antara aku dan Maes. Namun pada akhirnya kami memilih opsi pertengahan.


Aku segera memutuskan untuk turun kebawah. Menuju kebun taman bunga dibelakang rumah. Ditanganku sudah tersedia berbagai macam makanan dan minuman.


Oh My God.


Aku memijat kepala, Naira memakan kue ringan sementara Hiery menatap kosong ke depan. Satu persamaan kami, sama-sama sedang memikirkan jalan keluar dari apa yang baru saja kami bicarakan.


"Oke. Kita selesaikan satu-satu. Pertama kamu Hiery. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya terlebih dahulu.


"Apa kamu menyukai..., tidak maksudku mencintai kak Drie?"


Disamping ku ada Naira yang notabene adik sepupu kak Drie. Menghadapi permasalahan seperti ini saja kami sudah terlihat seperti sekelompok ilmuwan.


"Entahlah. Tertarik, menyukai, merasa nyaman memang adalah tahap dalam tumbuhnya rasa cinta. Aku bicara begini karena sudah membaca banyak buku Dela, Dzrilla. Hanya saja aku sungguh tidak tahu."


Entah buku novel atau buku ilmiah, yang jelas itu buku. Sumber informasi.


"Menunggu itu menyakitkan. Apalagi setelah menunggu ternyata jawaban yang didapatkan; maaf. Tidak bisa, disertai alasan. Ingin menyampaikan alasan logis ataupun klise tetap saja sudah menolak."


Aku dan Hiery melihat Naira. Dia masih saja memakan keripik kentang. Namun ekspresi wajah orang itu terlihat serius.


"Lalu aku harus bagaimana?"


Aku menatap sendu Hiery. Sahabat ku itu sudah mengatakan alasan dibalik tidak bisanya ia menjalin sebuah hubungan pacaran.


Aku setuju Hiery. Pacaran itu rumit.


"Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk berpikir. Tentukanlah dari sekarang dan berpikirlah matang-matang.


"Kak Drie masih bisa menunggu kan?" Tanyaku kepada Naira.


Apapun jawabannya aku siap menerima. Karena hanya Naira-lah orang terdekat kak Drie.


"Setahuku Kakak orang yang tulus. Hanya saja aku tidak tahu apa Kakak bisa menunggu lama atau tidak.


"Baiklah akan aku tanyakan nanti."


"Jangan!"


Naira menatap bingung kearah ku dan Hiery.


"Kenapa, jika tidak tahu kan memang harus bertanya."


"Sudahlah, lupakan.


"Dan kamu Hiery segera pikiran hal yang ku katakan tadi."


Naira kembali memakan keripik kentang sementara Hiery juga ikut makan--akhirnya. Sejak awal pertemuan kami Hiery sama sekali belum menyentuh satu makanan pun.


"Kak Clari. Apa yang akan kita lakukan?"


Aku meringis pelan. Pandangan menuju bunga-bunga.


Kami tidak bisa menyimpulkan ataupun menggambil tindakan terhadap kak Clari. Ada banyak kemungkinan yang harus dipertimbangkan.


Selain itu hanya Naira-lah satu-satunya keluarga kak Clari. Meski begitu masing-masing dari kami tidak tahu menahu mengenai tindakan seperti apa dan pikiran bagaimana yang sedang hinggap pada orang yang sangat kami percayai itu.


°°°°°°°°°°


Nessa


"Harga diri ku sudah dijatuhkan. Apa keluarga jauh berhak bertindak seperti itu? Dia menyebut pak Deri dengan Maes.


"Aku jadi penasaran. Siapa kira-kira keluarga jauh itu."


Hyerin Delaxa


Malam ini akan diadakan acara makan bersama dikediaman Cloriea--maksudku calon mertua ku. Aku memang harus menyebutnya begitu kan?


Acara ini dibuat dan dipersiapkan untuk mempererat hubungan serta saling bertukar sapa sesama sahabat sekaligus rekan kerja. Keluarga Mahendra, Audrikza, Audzrilla dan Mairy juga turut diundang dalam acara makan besar ini.


Aku sempat berpikir Audzrilla adalah benar-benar nama Naira. Ternyata aku salah, Audzrilla merupakan panggilan untuk keluarga Naira. Sementara Delaxa--milikku sendiri bukanlah sebutan keluarga melainkan gabungan nama Papa dan Mama.


Aku sangat gugup. Pada acara ini tidak hanya dihadiri beberapa keluarga yang sudah ku sebutkan tadi tetapi juga rekan-rekan bisnis.


"Selamat malam Nona."


Aku melihat kearah sumber suara. Disana sudah ada sekretaris Maes.


Kenapa dia bisa ada disini?


Oh iya aku lupa. Dia adalah rekan kerja Maes. Wajar saja dia juga diundang.


"Malam."


Aku tersenyum canggung--setengah dipaksakan. Masih sangat ku ingat kelakuannya terhadap Maes.


"Anda calon istri pak Deri kan, bukannya keluarga jauh."


Aku kembali melihat sekretaris tersebut. Senyuman ramah yang terkesan mengejek langsung menghujam ku.


"Iya. Saya calon istrinya." Kataku setenang mungkin.


"Ku dengar Anda masih berkuliah. Tidakkah Anda merasa itu terlalu cepat?"


Itu terdengar seperti ancaman. Ekspresi ku seketika berubah menatap tajam.


"Tidak. Tidak ada larangan untuk itu. Lagipula saya sudah berkuliah bukan anak SMA."


Sekretaris itu mengangguk-anggukkan kepala. Jujur aku sangat tidak suka dengan responnya.


"Terima kasih atas perbincangan singkatnya Nona. Saya permisi undur diri."


"Anda masih ingat apa yang saya katakan kan, saya harap Anda tidak berbuat macam-macam." Sebelum sekretaris itu pergi masih ku sempatkan diri memberikan sesuatu yang bisa disebut peringatan.


"Tentu saja. Nona adalah calon istri atasan saya. Maka dari itu saya pun juga harus menghormati Nona."


Sekretaris itu tersenyum lebar. Terkesan anggun namun menantang--menurut pandangan ku.


Dia berlalu pergi.


Aku menarik napas panjang kemudian beranjak pergi guna mencari Naira dan Hiery.


"Hy."


Aku tersenyum mendapati kedua orang yang sedang ku cari sedang berbincang bersama. Dengan begitu aku tak perlu mencari mereka satu persatu. Kami berbincang bersama sambil memakan hidangan yang tersedia. Sementara itu keluarga yang lain sedang berbincang mengenai urusan bisnis.


"Boleh aku bergabung?"


Aku langsung melihat orang yang baru saja datang itu. Dari suaranya aku sudah tahu bahwa itu Maes.


Aku tetap masih kaget. Disaat seperti ini biasanya ia hanya akan berinteraksi dengan para rekan kerja. Lalu kenapa malah kemari?


"Boleh." Hiery tersenyum.


Cukup banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari godaan Hiery terhadap ku dan Maes serta diimbangi sikap ramah Naira. Aku juga ikut bergabung dalam pembicaraan tersebut.


Satu persatu orang kemudian berdatangan. Seperti Neron, kak Drie dan sekretaris Maes.


Wanita licin itu kembali datang. Kali ini dia menjelma sebagai teman satu kampus kak Drie.


Orang ini bagaikan pemeran sampingan yang tiba-tiba hitz sebagai pelengkap sekaligus penyempurna kisah kami. Dalam pikiran ku dia berperan sebagai tokoh antagonis.


Aku tahu aku bisa saja salah. Menuduh orang sebab tidak ingin memberikan celah sedikitpun baginya. Menuduh yang akan menyebabkan berbagai kejadian jika aku salah. Hanya saja aku tidak akan membiarkan orang itu bertindak macam-macam.


Aku melirik Hiery. Wajah orang polos itu masih seperti biasa. Dibalik hal itu ia merasakan apa?


Aku bisa saja menduga dan menerka. Hanya saja ku rasa Hiery terlihat lebih bisa mengendalikan diri.


Tatapan ku beralih pada keluarga Audrikza dan Mahendra, tepatnya pada kak Clarissa. Dia kelihatan bahagia hingga senyuman selalu terpatri diwajahnya. Mendadak kepalaku jadi pusing. Semua tokoh yang ada dalam cerita ini membuat otakku kering.


"Kamu baik-baik saja?"


Aku melihat Maes. Jangan tanyakan orang lain, mereka sedang sibuk bicara dengan pasangan masing-masing. Kecuali sekretaris Maes. Aku hanya mengangguk.


"Jika pusing lebih baik masuk ke rumah."


"Tidak. Aku baik-baik saja."


Aku harus menyelidiki hal ini. Baik kak Clari maupun Nona Nessa. Jangan sampai hanya kami saja yang diawasi. Tidak apa-apa. Yang ku lakukan hanya akan menjelma menjadi detektif.


Kami kembali menikmati acara. Masing-masing dari kami berpencar berbaur dengan tamu undangan. Ada yang bersama keluarga dan ada yang dengan rekan bisnis.


Aku tidak henti-hentinya mendapat godaan sekaligus cobaan. Bukan apa-apa.


Cobaan maksud ku disini adalah godaan tadi. Aku merasa seperti gulali berhari-hari. Aku berusaha bersikap tenang. Pikiran ku langsung melayang pada cokelat.


Aish..., Para pelayan hanya membawa minuman dan makanan. Cokelat yang ku nanti-nantikan tidak kunjung datang. Untuk itu ku putuskan menggambilnya sendiri. Cokelat..., aku datang.


Byur.


Dingin. Seluruh tubuh ku rasanya dingin. Aku juga tidak bisa bernapas. Ku usahakan menggerakkan kaki, tangan, tubuh--apapun yang bisa ku gerakkan. Aku tidak tahu apa lagi yang terjadi--semua gelap.


°°°°°°°°°°